My Naughty Boss

My Naughty Boss
Bonchap 14 - Ditutup


Sesampai di rumah, Keenan begitu bersemangat. Dia mengambil beberapa buku dongeng di perpustakaan pribadinya, Keenan ingin membacakan dongeng untuk kedua anak kembarnya yang ada di perut.


"Membaca dongeng?" tanya Tessa.


"Hm, supaya anak kita bisa mendengar suaraku sayang, jangan hanya Keesa saja," jawab Keenan.


Tessa tergelak, dia membaringkan kepalanya di paha Keenan kemudian suaminya membacakan dongeng dengan sesekali mengelus perutnya.


Beberapa menit berlalu, Keenan selesai membacakan dongengnya. Bayi-bayi di perut istrinya terus bergerak tapi tidak dengan Tessa yang sudah terlelap.


Keenan mengecup kening Tessa lalu menarik selimut dan menjauh. Dia masih kepikiran dengan Pedro yang begitu mudahnya mengajak perempuan menikah.


"Apa Ped tidak mengalami gejala komplikasi itu?" gumam Keenan.


Untuk memastikan, Keenan menghubungi Pedro, beruntung panggilannya langsung diterima.


"Ped, apa perlu aku ke apartemenmu?" tanya Keenan tanpa basa-basi.


"Kenapa bos kemari? Tidak perlu," tolak Pedro mentah-mentah.


"Kau pasti butuh seksi!" Keenan merasa cemas Pedro yang akan bernasib sama sepertinya.


"Aku tidak sepertimu, Bos,"


"Baguslah kalau begitu tapi apa kau tahu caranya?"


"Tentu saja tahu, dulu nilai biologiku tinggi, Bos,"


"Yang benar? Aku takut kau menangis keenakan,"


TUT!


Panggilan itu dimatikan secara sepihak oleh Pedro, Keenan akan merusak malam pertamanya.


"Awas kau, Ped!" Keenan jadi kesal sendiri.


...***...


Keesokan harinya, Keenan menyetir sendiri campervan yang tujuannya ke tempat kemping, tempat yang memang biasa digunakan untuk liburan keluarga.


"Masih memikirkan, Ped?" tegur Tessa saat mereka masih dalam perjalanan.


"Aku penasaran kenapa dia tidak menghubungiku sama sekali," gerutu Keenan.


Tessa tergelak mendengarnya. "Jangan ganggu Ped lagi, bukankah kalian akan bertemu hari senin nanti!"


Mendengar itu, Keenan berusaha fokus saja pada acara baby moon bersama istrinya.


Tessa menyiapkan makanan selagi suaminya memasang tenda, Tessa cukup memasak di dalam campervan.


Bersamaan dengan tenda berdiri, masakan Tessa sudah siap.


"Biar aku saja!" Keenan mengambil meja dan kursi lipat yang berada di campervan kemudian menyusunnya di depan tenda.


Masakan Tessa tersaji di meja dan mereka memakan bersama-sama.


"Sepertinya dokter meminta untuk mengurangi dosis obatmu, Kee," ucap Tessa disela makannya.


"Dan sepertinya paranoidmu memang banyak berkurang!"


Keenan mengangguk. "Sebenarnya aku masih merasakannya tapi aku selalu mengalihkannya ke hal lain, dari sini aku belajar sesuatu!"


"Apa itu?" tanya Tessa.


"Bahwa setiap pernikahan itu pasti akan mempunyai masalah dan semua masalah tidak ada yang tidak bisa diselesaikan jadi aku memilih untuk menghadapi semua masalah sebagai laki-laki," jawab Keenan.


Tessa langsung menopang dagunya dengan kedua tangannya. "Ah, aku selalu jatuh cinta dengan suamiku yang mode serius begini!"


"Oh iya? Apa aku akan mendapatkan sesuatu?" Keenan mulai tersenyum nakal.


"Tentu saja!" Tessa mengerlingkan matanya.


Dan saat malam tiba, Keenan dan Tessa masuk ke dalam tenda karena udara luar sangat dingin.


"Aku tidak tahu jika akan sedingin ini, kita tidak boleh lama-lama di luar," ucap Keenan seraya menutupi tubuh Tessa dengan selimut.


"Tunggu dulu, aku melupakan sesuatu!" Tessa mengambil pouch yang dia bawa ke dalam tenda, dia membuka pouch itu dan mengambil sebuah salep.


"Apa itu sayang?" tanya Keenan.


"Salep untuk stretch mark, perut bagian bawahku sudah mulai ada peregangan kulit apalagi aku hamil anak kembar," jelas Tessa.


Untuk memastikan Keenan membuka baju Tessa dan mengecek apa yang dimaksud istrinya. Perut yang biasanya rata itu sudah membuncit dan terdapat guratan merah di bagian bawahnya.


"Ini normal, okay. Jangan berpikiran apa-apa, kata dokter aku hanya perlu memberinya salep," ucap Tessa yang takut jika Keenan akan panik.


Keenan tidak mengatakan apapun, dia justru membantu Tessa memberi salep pada stretch mark di perut istrinya.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Kee? Kalau kau diam, aku jadi takut," ucap Tessa cemas.


"Bukan apa-apa." Keenan kembali memasang baju dan membungkus istrinya dengan selimut. "Ayo tidur, aku akan menutup pabrik Keesa sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan!"