My Naughty Boss

My Naughty Boss
MNB BAB 44 - Berduka


Suara decitan dua mobil memekik di parkiran basemen sebuah gedung apartemen, dua mobil itu melaju kencang kemudian mengerem mendadak saat di parkiran.


Kemudian keluar sosok dua pria dengan saling memandang satu sama lain. Mereka segera menuju apartemen itu setelah mendapat pesan dari sahabat mereka.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Sebastian.


"Entahlah, tidak biasanya Tessa pergi tanpa Keenan," sahut Luke.


"Jadi apa kita akan benar-benar mengikat Tessa?" tanya Bastian lagi.


"Kau gila ya, Bass. Tentu saja kita hanya menahannya saja," balas Luke tak habis pikir. Tidak mungkin dia akan menuruti perintah konyol Keenan.


"Memangnya kau tahu berapa nomor unit apartemen Tessa?"


"Kita tanya saja pada resepsionis,"


Keduanya kemudian menuju meja resepsionis dan menanyakan unit apartemen Tessa tapi mereka justru mendapati kenyataan bahwa Tessa telah meninggalkan unit apartemennya beberapa jam lalu.


Bahkan unit apartemen itu dijual dan uang hasil penjualan akan didonasikan untuk panti asuhan.


"Tessa, pergi kemana!?" Bastian dan Luke berteriak bersama karena tidak bisa membayangkan hidup Keenan tanpa Tessa.


_


_


_


_


Keenan menggerutu dalam hatinya saat keluar dari bandara. Dia kesal pada Axe dan Flo yang justru berbulan madu di Pulau Borgia akhirnya dia pulang sendiri ditambah terlambat dari perkiraan.


Begitu sampai Keenan langsung menghubungi Bastian dan Luke untuk menanyakan keadaan Tessa.


Tapi justru kedua sahabatnya itu meminta bertemu di klab langganan mereka.


"Apa mereka membawa Tessa ke klab?" gumam Keenan kebingungan.


Keenan akhirnya menuju ke klab dan berharap Tessa ada di sana. Sepanjang perjalanan hatinya begitu berdebar, dia bingung harus bereaksi seperti apa, marah, senang atau dia akan mengungkap cintanya di tempat klab itu.


"Bodoh kau, Kee!" Keenan mengumpati dirinya sendiri.


Saat sampai, Keenan mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum masuk.


"Di mana mereka?" Keenan mencari keberadaan kedua sahabatnya. Ternyata mereka ada di tempat yang biasa mereka pakai nongkrong.


Keenan mendekat tapi tidak mendapati Tessa di sana.


"Di mana Tessa?" tanyanya.


"Minumlah dulu!" Bastian memberikan satu gelas minuman pada Keenan tapi lelaki itu menolaknya.


Keenan terus menuntut dan bertanya keberadaan Tessa.


"Lebih baik kau jelaskan dulu, apa yang sebenarnya terjadi," ucap Luke kemudian.


"Kalian tidak akan mengerti dan pasti akan menertawakan aku!" ketus Keenan.


"Bagaimana mau mengerti kalau kau tidak cerita," timpal Bastian.


"Baiklah, pasang kuping kalian dan dengarkan aku baik-baik!" Keenan sepertinya harus memberitahu dua temannya itu.


Bastian dan Luke menganggukkan kepala mereka tanpa sepatah katapun, mereka tidak sabar mendengar apa yang akan dikatakan oleh Keenan.


"Aku..." Keenan berusaha setenang mungkin. "Aku jatuh cinta pada Tessa!"


Kalimat Keenan itu membuat Bastian dan Luke saling memandang kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.


"Oh my God! Apa aku tidak salah dengar?"


"Bukankah Tessa selama ini yang membelikan pengaman?"


"Tessa juga yang mengatur kencannya?"


"Ditambah Tessa selalu menunggunya bercinta!"


"Hahaha... Ini memalukan!?"


Sudah Keenan duga kalau dia akan ditertawan seperti ini.


"Teruslah gunakan mulut kalian untuk menertawakan aku!" Keenan berbicara dengan nada penuh ancaman.


Bastian dan Luke menghentikan tawa mereka kemudian menatap Keenan sambil berkata. "Tessa sudah pergi!"


"Apa!?" Keenan kaget setengah mati.


"Dia bahkan mendonasikan apartemennya, sepertinya kau ditolak, Dude!"


"Kami ikut berduka!"