
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Setelah pembicaraan yang cukup serius selesai, akhirnya Varel dan sekretaris Dim keluar dari ruang kerja lalu bertemu Vandi yang sedang melewati ruang kerja
"Kak, om Lyno ingin berbicara dan sedang menunggu di teras depan"
"Sejak kapan Papa Lyno memintaku berbicara dengannya?"
"Hemm sekitar 5 menit yang lalu"
"Mungkin masalah berita kak"
ucap sekretaris Dim pelan
"Oh iya masalah itu, kak Varel kenapa sih tidak mengurusnya sekarang? Bagaimana jika kak Vania membaca dan mengetahuinya?"
ketus Vandi kepada sang kakak
"Kakak sudah menangani nya"
"Menangani? Bagaimana caranya?"
tanya Vandi mengerutkan kening seraya menatap Varel dan diikuti oleh sekretaris Dim yang juga menatap Varel dengan tatapan penasaran
"Hei mengapa kalian menatapku seperti itu? Seakan-akan ingin memakan ku saja. Tenanglah, aku sudah mengamankan ponselnya"
ucap Varel dengan santai nya membuat sekretaris Dim dan Vandi terdiam seketika lalu
"Bukan kah kak Vania mempunyai iPad dan laptop di kamar? Apa kak Varel juga menangani nya?"
tanya sekretaris Dim seraya menatap Varel bingung
"Astaga, aku melupakannya"
ucap Varel menepuk kening nya kuat membuat Vandi menggeleng kepala melihat sikap sang kakak
"Ini kenapa kak Varel semakin bodoh? Bagaimana jika kak Vania sudah mengetahui berita itu? Vandi pastikan kak Vania akan menangis melihatnya terlebih membaca semua komentar netizen"
"Kakak akan membicarakan ini padanya nanti setelah kakak berbicara dengan Papa"
"Huh terserah kak Varel saja. Pastikan untuk menyelesaikan masalah ini"
"Kakak tau, kau kira kakak bodoh?"
"Kak Varel memang bodoh. Untuk mengamankan iPad dan laptop saja tidak bisa"
cibir Vandi lalu berjalan dengan santai nya melewati Varel yang menatapnya tajam
"Astaga anak itu mengapa berani melawanku?"
gumam Varel pelan lalu berjalan menuju teras depan dimana sang Papa mertua sudah menunggunya
"Maaf Pa, Varel jadi membuat Papa menunggu lama. Tadi Varel sedang ada pekerjaan bersama Dimas"
"Tidak masalah nak"
jawab Papa Lyno tersenyum tipis
"Papa ingin membicarakan apa?"
tanya Varel seraya menatap Papa mertuanya
"Kau pasti sudah bisa mengetahuinya nak"
"Masalah berita?"
"Bagaimana kau menyelesaikannya?"
"Varel tidak ada rencana untuk menyelesaikannya Pa"
ucap Varel santai yang membuat Papa Lyno terkejut mendengarnya
"Apa yang kau bicarakan Varel?"
"Varel mengerti itu menyangkut nama baik keluarga Papa juga, tapi Varel tidak ingin mengurus hal yang tidak penting Pa. Biarkan saja berita itu menghilang dengan sendirinya"
"Bagaimana dengan istrimu yang sedang dihujat oleh semua orang Indonesia?"
"Vania belum mengetahui hal ini"
"Sampai kapan kau ingin menyembunyikan nya nak?"
"Semampu Varel Pa, jika perlu sampai berita itu benar-benar hilang dari media"
ucap Varel yang membuat Papa Lyno menghela nafas berat
"Kalau begitu untuk hal ini Papa serahkan kepadamu, kau atur bagaimana menurutmu baiknya"
jawab Papa Lyno seraya menepuk pelan bahu sang menantu.
*****
Kamar Utama
Baru saja Varel membuka pintu kamar, terlihat lah sang istri yang sedang nangis di atas tempat tidur namun setelah melihat kedatangan nya, Vania seakan menyembunyikan air mata yang sempat dilihat oleh Varel
Maaf.-Varel
"Hello bagaimana kabar anak-anak Daddy?"
tanya Varel tersenyum seraya mengelus perut sang istri
"Mandilah"
ucap Vania namun menolak untuk menatap mata elang suaminya
"Baiklah"
Sampai kapan kau akan menutupinya dariku bahkan disaat aku sudah mengetahui semuanya?-Vania
*****
Beberapa menit kemudian, keluarlah Varel dengan menggunakan jubah mandi dan tidak menemukan istrinya di kamar tersebut
"Kemana dia pergi?"
gumam Varel pelan seraya berjalan menuju walk in closet
Setelah selesai memasang pakaian, Varel pun berjalan menuju kamar anak karena ia memastikan bahwa Vania sedang berada di sana untuk menghindarinya
Kamar Anak
"Hei mengapa kau disini?"
tanya Varel mengerutkan kening saat melihat Vania sedang duduk dipinggir tempat tidur Lista dan menatap kedua anaknya yang sedang tertidur lelap
"Hanya ingin melihat anak-anak"
jawab Vania singkat
"Kembali lah ke kamar. Apa kau tidak lelah? Beristirahatlah"
"Aku ingin tidur bersama anak-anak malam ini"
"Bisakah kita berbicara berdua? Kembali lah ke kamar dahulu"
ucap Varel pelan lalu Vania pun menurutinya dan berjalan menuju kamar utama.
*****
Kamar Utama
"Mengapa kau selalu menghindari ku? Apa aku berbuat salah?"
tanya Varel seraya menatap sang istri intens sedangkan Vania hanya menggeleng pelan
"Jangan memancing emosi ku Vania"
Tentu saja Vania terkejut mendengar ucapan Varel yang seperti menahan amarah
"Apa maksudmu?"
"Aku bertanya baik-baik ada apa denganmu yang menghindari ku sejak tadi tapi kau tidak ingin memberitahukannya"
"Aku tidak apa-apa dan aku tidak menghindari mu. Aku hanya merindukan tidur bersama anak-anak"
"Mengapa kau tidak berani menatap mataku?"
tanya Varel yang lagi-lagi menatap sang istri terus-menerus dan membuat Vania kembali menunduk tanpa tau harus menjawab apa
"Bicarakan ini baik-baik Vania"
bentak Varel dengan suara meninggi
Ya, Varel tau bahwa ia salah karena sudah membentak sang istri tapi karena Vania yang hanya diam dan tidak ingin menjelaskan membuat Varel juga terbawa emosi
"A-aku sudah melihat berita yang kau sembunyikan"
lirih Vania pelan seraya berusaha menahan keras air mata yang hendak keluar
Astaga, apa dia mendengar pembicaraan ku dan Dimas?-Varel
"Lalu?"
Apa? Dia hanya mengatakan lalu?-Vania
"Aku tidak perduli jika semua orang Indonesia mencaci maki bahkan menghujat ku ataupun mereka membalikkan kebenaran. Aku hanya sedih karena nama baik keluarga Papa Lyno dan nama baikmu jadi ikut terancam karena berita ku"
"Biarkan saja, untuk apa kau mempermasalahkan nya?"
Dia benar-benar tidak punya hati.-Vania
"Rel, apa kau tidak melihat dan membaca semuanya? Aku dihujat, dihujat oleh semua orang dan kau menyuruhku untuk membiarkannya? Kau benar-benar jahat!!"
"Makanya jangan memikirkan berita sampah seperti itu"
"Berita sampah kau bilang? Itu berita sampah yang membuat perasaanku down Varel. Berita tanpa kebenaran yang menjelekkan diriku kau suruh untuk tidak memikirkannya? Jangan memikirkan perasaanku, aku hanya minta kau pikirkan anak-anakmu. Aku benar-benar stres karenanya"
"Mengapa kau malah membawa tentang kehamilan mu? Jangan katakan omong kosong bahwa itu semua karena hormon kehamilan"
"A-aku tidak percaya ini, kau benar-benar tega"
"Jangan terlalu lebay hanya karena berita sampah"
"Aku akan tidur di kamar anak-anak. Cobalah untuk tidak bertegur sapa hingga pikiran masing-masing sudah tenang"
ucap Vania lalu berjalan keluar namun ucapan Varel menghentikan langkahnya
"Berani kau melangkahkan kaki mu keluar dari kamar ini, lebih baik jangan pernah kembali lagi"
"Untuk apa aku bersama di suatu ruangan yang sama dengan orang yang bahkan tidak pernah memikirkan perasaanku disaat aku sedang hamil anaknya?"
ucap Vania dengan suara yang gemetaran karena menangis
"Baiklah jika itu keputusanmu. Jangan pernah kembali tidur di kamar ini"
"Bahkan jika kau mengusirku dari rumah ini pun aku tidak masalah"
"Jangan bermimpi"
Tuhan, ini benar-benar sakit bahkan aku tidak dapat menahannya. Ada apa dengan suami ku? Mengapa ia berubah secepat ini? Bahkan ia tidak meminta maaf setelah membentak ku. Astaga, aku benar-benar merasakan ada jarak yang lebar di hubungan ini.-Vania
*
*
*