Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Tolong, Maafkan Aku


Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Sudah seharian berlalu, namun Lista masih enggan untuk membuka mata sehingga membuat Varel semakin khawatir dengan putrinya tersebut


Saat terlalu lama bergelut dengan pikiran, tiba-tiba Varel mengambil ponselnya dan mulai menelpon seseorang berharap yang diseberang sana akan segera mengangkat panggilan itu. Namun, nihil.


Berkali-kali, ah bukan bahkan sepertinya sudah berpuluh-puluh kali ia menelpon ke nomor yang sama dan hasilnya tetap sama. Tak ada yang mengangkat panggilan tersebut bahkan ponsel yang dituju tidak aktif


Varel menatap layar ponsel yang sedang memperlihatkan nomor ponsel seseorang,


“My Wife❤️”


Bahkan nama kontak itu tidak pernah ia ganti sejak kejadian beberapa bulan yang lalu.


Sayang..kembalilah-Varel


Kembali, setelah bergelut dengan pikirannya lagi, jari-jari tangan Varel mulai menari diatas layar ponsel untuk mengirimkan pesan kepada istrinya itu


Hei, bagaimana kabarmu dan anak-anak kita sekarang? Ah, apa aku terlihat sangat canggung? Vania..maafkan aku, maafkan suami jahat mu ini, maafkan perkataan dan ucapan ku yang tentu menyakitimu. Maaf, aku sungguh tulus ingin meminta maaf padamu. Tolong..kembalilah, aku membutuhkanmu, anak kita membutuhkanmu, semuanya membutuhkanmu. Tolong, kembalilah di sisiku sebagai istriku dan Nyonya Fernandez. Aku sungguh merindukanmu. Berbulan-bulan aku hidup dengan sangat kacau dibawah pikiran kebencian terhadapmu dan Bas hingga suatu saat dimana putri kita mendandaniku agar kembali menjadi Daddy nya yang tampan dan Bas yang menjelaskan semuanya padaku. Saat itulah, hidupku berubah menjadi semakin kacau setiap harinya, aku selalu dihantui rasa bersalah kepadamu, aku selalu merindukanmu setiap harinya, dan aku selalu memikirkan mu. Setiap hari, aku hidup dengan rasa ketakutan, aku takut suatu saat mendapat surat perceraian yang kau ajukan, aku takut tiba-tiba mendengar kabar bahwa kau sudah melupakanku, aku takut jika kau pergi meninggalkanku selamanya, aku takut jika aku tidak bisa lagi menatap wajah cantikmu, dan aku sungguh takut kehilanganmu. Sayang, tolong kembalilah padaku.-Varel


Tanpa sadar, Varel mengetik semua pesan itu dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya hingga saat pesan itu terkirim terdengar suara isak tangis yang mati-matian ditahan agar tidak ada siapapun yang akan mendengarnya walaupun memang hanya ia dan Lista yang ada di ruangan tersebut


Isak tangis itu semakin lama semakin cukup nyaring terdengar, tangisan yang berusaha ditahan, kesedihan yang hanya dipendam, dan rasa sakit yang dirasakan sendiri tanpa ingin melibatkan orang lain didalamnya


Varel menangis, menumpahkan semua perasaannya saat ini, menggenggam erat ponsel yang sejak tadi ia genggam, menunduk dengan isak tangis yang perlahan menghilang dan tatapan kosong yang sedang menatap layar ponselnya yang menampilkan foto keluarga kecilnya


Hening. Tak ada lagi suara isak tangis yang terdengar, hanya ada deru nafas yang begitu berat dan bahu yang bergetar hebat menandakan bahwa ia kembali menangis dalam diam. Tangis yang sangat amat menyakitkan


Tak ada yang mengerti tentang perasaan apa yang Varel rasakan sekarang karena memang ia selalu menyembunyikannya tanpa ingin menceritakan dan berbagi cerita dengan orang lain.


Varel, ia merasa gagal menjadi seorang ayah dan seorang suami. Ia merasa gagal menepati janjinya dihadapan makam orang tua Vania dan dihadapan makam Papa. Ia merasa gagal membahagiakan menantu kesayangan sang Mama. Ia merasa gagal menyembuhkan luka masa lalu Vania. Dan, ia merasa gagal menjadi pasangan yang baik.


Varel menatap sendu layar ponselnya yang kembali menampilkan room pesan dimana pesan yang ia kirimkan beberapa menit yang lalu hanya centang satu alias tidak terbaca oleh si penerima


Putri kita sedang sakit. Aku gagal merawatnya dengan baik, aku tak bisa merawatnya tanpa mu. Tolong, kembalilah.-Varel


Lagi. Mengirim pesan yang ia tau akhirnya tidak akan terbaca oleh sang istri


Apa begitu bencinya kau padaku hingga tidak ingin membalas atau sekedar membaca pesan ini? Maafkan aku, Sayang. Tolong, maafkan kesalahan fatal yang aku lakukan. Aku berjanji, ah tidak-tidak aku sudah sering berjanji dan tetap mengingkarinya. Kali ini aku tidak ingin berjanji lagi, aku ingin membuktikan padamu bahwa aku benar-benar menyesal dengan apa yang aku lakukan dulu. Tolong, maafkan aku.-Varel


Pesan terakhir yang Varel kirimkan ditutup bersamaan dengan helaan nafas berat dan mata yang tak lepas dari layar ponselnya


Air mata itu tiba-tiba kembali menetes saat Varel membaca pesan-pesan mereka yang sudah berlalu. Isak tangis mulai terdengar, tatapan mata yang kosong yang masih menatap layar ponsel dengan lekat. Ingatan itu kembali pada beberapa bulan yang lalu


Flashback on


Varel sedang duduk di kursi nya dengan tangan yang menari diatas keyboard komputer. Sepertinya, sang pemilik perusahaan sedang sibuk dengan tumpukan berkas-berkas yang ada diatas meja.


Saat sedang menyeruput kopi, tiba-tiba ponselnya berdering beberapa kali yang diyakini bahwa istrinya sedang mengirimkan beberapa pesan kepadanya. Senyuman langsung terukir jelas di wajah si penerus Fernandez Group itu


Dengan cepat ia mengambil ponsel dan membukanya


[send a picture]


Lihat, Yeontan sedang galau karena tidak memiliki kekasih.-Vania


Varel yang membaca pesan diseberang sana hanya terkekeh pelan karena ia tau setelah ini ada banyak hal random yang akan Vania ceritakan padanya


Tiba-tiba ponselnya kembali berdering


[send a picture]


Apa aku harus membeli anak anjing lagi sebagai kekasih Yeontan?-Vania


Betapa terkejutnya Varel saat Vania tiba-tiba mengirimkan foto yang diperkirakan bahwa Vania sedang berada di toko peliharaan. Dengan cepat jari itu mengetik sesuatu


Astaga, Sayang. Kau dimana? Dengan siapa? Kenapa tidak memberitahukan ku?-Varel


[send a picture]


Hahaha..Aku hanya bercanda-Vania


Ternyata Vania hanya mengirimkan gambar yang ia dapat dari internet, mencoba mengerjai sang suami tanpa sadar bahwa suaminya disana sudah ketar ketir


Sayang, kau mengejutkanku. Aku kira kau benar-benar pergi ke toko peliharaan.-Varel


Rileks, Varel. Jangan terlalu serius.-Vania


Hei, mengapa kau memanggil suami dengan sebutan nama?-Varel


Aku lupa, aku harus memandikan Yeontan.-Vania


Varel tertawa karena tau bahwa itu hanya akal-akalan sang istri agar menghindar dari Varel yang sedang marah


Flashback off


Senyuman tipis terukir jelas di wajah Varel saat mengingat dan membaca kembali pesan-pesan random yang dikirimkan Vania saat berjauhan dengannya


Tanpa sadar, sang putri yang sudah bangun menatap Varel dengan heran tanpa berani berbicara apapun


Daddy sedang menangis? Apa yang Daddy pikirkan? Ini pertama kalinya aku melihat Daddy menangis.-Lista


Lista menatap lekat pria yang tak jauh darinya, yang sedang fokus menatap ponsel dan tak sadar bahwa ia sedang diperhatikan oleh sang anak


Apa Daddy merindukan Mommy?-Lista


Saat melihat Varel mulai berdiri, Lista dengan cepat menutup mata agar dikira masih belum sadarkan diri.


Terdengar suara langkah kaki mendekat membuat Lista takut jika ketahuan pura-pura tertidur dan tertangkap basah oleh Daddy nya


“Nak, Daddy merindukan Mommy mu..”


*


*


*