Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Honeymoon 8# (Menahan Hasrat)


Maaf ya author kadang telat update karena kesibukan author sebagai mahasiswa baru🙏..


Terima kasih buat para readers yang masih menunggu dan ingin membaca novel author❤😘..


Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


"Ayo kita ke pantai"


ucap Vania saat ia dan Varel sedang duduk di sofa di balkon kamar


"Apa? Ke pantai? Ini masih siang sayang"


ucap Varel menatap sang istri dengan heran


"Memangnya kenapa jika masih siang? Lihat orang-orang saja sudah banyak berada di pantai"


rengek Vania dengan mengerucutkan bibirnya


Cup.


"Kau-"


Cup.


"Varel"


Cup.


Cup.


Cup.


"Varel hentikan"


teriak Vania dengan kesalnya membuat Varel terkekeh pelan


"Kau selalu mencari kesempatan dalam kesempitan"


ketus Vania dengan lagi-lagi mengerucutkan bibirnya namun dengan cepat ia menutup bibir dengan tangannya agar Varel tidak kembali menciumnya


"Kau menggemaskan sekali"


ucap Varel terkekeh pelan


"Astaga aku masih bergidik ngeri melihat perubahan mu yang seperti ini"


ucap Vania pelan yang membuat Varel tak bisa menahan tawa sehingga kamar mereka penuh dengan gelak tawa si Tuan Muda


"Apa yang lucu? Aku semakin yakin bahwa jiwamu sedikit terganggu dan otakmu tergeser"


gumam Vania pelan


"Astaga kau memikirkan apa? Coba ulangi sekali lagi"


"Tidak ada. Ayo kita ke pantai"


"Sayang ini masih panas dan sekarang masih jam satu siang"


"Memangnya kenapa? Jelas saja panas karena hari masih siang. Mengapa kau tidak memakai helm dan jas hujan agar tidak panas"


ketus Vania kesal lalu berjalan menuju tempat tidur meninggalkan sang suami yang menatapnya heran


Salah lagi. Marah lagi.-Varel


"Sayang"


panggil Varel pelan seraya berjalan mendekati sang istri


"Apa?"


ketus Vania dengan kesalnya


Marahnya membuatku bergidik ngeri.-Varel


"Jangan menyumpahi ku"


Lagi-lagi Vania menatapnya dengan kesal


"Sayang aku tidak menyumpahi mu"


ucap Varel lembut lalu duduk disebelah Vania


"Tidak bisakah kau berjauhan sedikit? Di sana masih ada banyak ruang"


ketus Vania kesal


"Tentu saja tidak bisa karena aku ingin selalu berdekatan dengan istriku dan tidak ingin berjauhan"


jawab Varel dengan santainya


"Huh dasar kau menyebalkan"


ketus Vania lalu berbaring membelakangi Varel


"Sayang berbalik lah". Hening


"Sayang apa kau tega menyuruhku berbicara dengan rambut dan punggungmu? Mereka tidak bisa menjawab ucapan ku". Hening


"Sayang-"


"Astaga kau bisa diam tidak?"


ketus Vania lalu berbalik menghadap sang suami


Tentu saja dengan cepat Varel memeluknya erat


"Aku tidak bisa bernafas"


rengek Vania dengan kesal


"Astaga maafkan aku"


"Huh sok merasa bersalah, bilang saja kau ingin membunuhku agar kau menjadi duda muda, Hot Daddy"


ketus Vania dengan kesalnya


"Apa Nona Muda Fernandez sedang cemburu?"


goda Varel tersenyum seraya tangannya mengelus pelan wajah sang istri


"Untuk apa aku cemburu? Tidak ada gunanya"


jawab Vania malas


"Loh mengapa seperti itu?"


tanya Varel mengerutkan kening


"Aku cemburu pun kau bahkan tidak mengetahuinya. Kau selalu menyakitiku"


gumam Vania pelan


"Sayang-"


"Diam. Aku ingin tidur"


"Kau tidak ingin ke pantai?"


tanya Varel mengerutkan kening


"Jika aku ingin ke pantai maka aku akan bersiap-siap bukannya berbaring disini"


ketus Vania dengan kesalnya


"Astaga jangan marah-marah sini peluk aku"


ucap Varel mendekati sang istri


"Tidak, aku tidak mau memelukmu"


jawab Vania dengan malas


"Kenapa?"


"Malas"


Tiba-tiba Varel mendekat dan kembali memeluk Vania dengan erat mengira bahwa Vania akan memberontak namun perkiraannya salah, Vania hanya diam dan membenamkan wajahnya di dada sang suami membuat Varel mengerutkan kening


"Mengapa kau tidak memberontak ataupun marah?"


"Untuk apa?"


"Kau bilang tidak mau memelukku kan? Lalu mengapa kau sangat nyaman saat ku peluk?"


"Aku tidak pernah mengatakan aku tidak mau dipeluk olehmu kan?"


tanya Vania mengangkat wajahnya


Cup.


Dengan segala keberaniannya, Vania mencium singkat dagu sang suami dan kembali membenamkan wajahnya di dada Varel


"Diam lah, aku ingin tidur"


ucap Vania singkat


"I know My Wife"


jawab Varel mengelus pucuk kepala sang istri dan juga ikut memejamkan katanya.


*****


"Astaga jam berapa ini?"


ucap Vania pelan dengan suara khas bangun tidur


"Jam tiga sore?"


gumamnya pelan saat melihat jam dinding


Lalu pandangannya beralih menatap sang suami yang sedang tidur dengan wajah damainya


"Damai sekali tidurnya, apa aku tega membangunkannya?"


ucap Vania pelan


"Sayang". Hening


" Sayang bangunlah hari sudah sore". Hening


"Sayang hei ayolah bangun kita kan akan berjalan-jalan mengelilingi pantai Busan"


rengek Vania yang menggoyangkan lengan sang suami sehingga Varel menggeliat


"Astaga susah sekali membangunkannya"


ketus Vania dengan kesal lalu hendak berdiri namun tiba-tiba Varel menarik tangannya sehingga ia terjatuh tepat di atas sang suami


"Sayang"


ucap Vania terkejut


"Hem"


"Kau sudah bangun?"


"Menurutmu?"


tanya Varel dengan mata yang masih terpejam namun tetap memeluk erat sang istri yang berbaring diatasnya


"Ayo kita ke pantai"


"Malas"


"Yasudah jika kau tidak mau, aku bisa pergi sendiri"


"Heh siapa yang mengijinkan mu?"


"Tidak ada"


"Lalu?"


"Aku ingin ke pantai ayolah"


rengek Vania dengan menampilkan puppy eyes nya


"Manis sekali"


ucap Varel terkekeh pelan


"Ayo sekarang siap-siap"


"Aku tidak bilang jika aku mengijinkan mu pergi ke pantai"


jawab Varel santai yang lagi-lagi memejamkan matanya


Tentu saja hal itu membuat Vania kesal dan dengan sengaja Vania mengantuk kan keningnya pelan di kening sang suami


"Aww"


ringis Varel pelan


"Ayo bersiap-siap"


rengek Vania dengan wajah kesalnya


"Baiklah"


jawab Varel malas.


*****


Pantai Haeundae, Busan


"Astaga sayang ini indah sekali. Terima kasih ya"


ucap Vania tersenyum seraya memeluk sang suami dari belakang


"Anything for you baby"


jawab Varel tersenyum kecil


Entah mendapat ide dari mana Vania tiba-tiba ingin sekali mengerjai sang suami dengan tangannya yang mengelus pelan dada Varel membuat suaminya menggigit bibir bawahnya menahan hasrat


Lalu Vania membalikkan tubuh Varel dan kembali mengelus dada sang suami seraya jari-jarinya berlarian dan menari di atas dada suaminya membuat Varel menatap Vania dengan penuh nafsu


"Balik ke kamar yuk"


ucap Varel pelan seraya menggigit bibir bawahnya dan lagi-lagi berusaha menahan hasrat


"Tidak mau"


jawab Vania santai lalu tertawa kencang dan berlari menjauhi sang suami yang menatapnya dengan mengerutkan kening


"Jika kau bisa menangkap ku akan ku berikan bonus"


teriak Vania seraya berlari menjauh dan meninggalkan Varel yang tersenyum melihatnya


Membuatnya tersenyum sangatlah sederhana.-Varel


"Hei sayang tunggu aku"


teriak Varel


"Tidak mau. Kejarlah jika kau bisa"


ucap Vania membalas teriakan Varel


Tidak menunggu waktu yang lama akhirnya Varel juga berlari untuk mengejar sang istri yang semakin menjauh dari pandangannya.


*


*


*


Jangan lupa untuk di vote ya readers😘..


*


*