
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
“Bas..”
Terdengar Varel memanggil nama Sebastian dengan sedikit bergetar karena menahan keras air mata yang ingin jatuh
“Rel, sebelum terlambat carilah Vania atau kau akan menyesal seumur hidup”
“Dimana aku harus mencarinya sedangkan Daniel menutup akses sejak hari itu?”
“Vania tidak akan pernah berada jauh dari Tante Kusuma terlebih ia sedang hamil besar jadi Tante Kusuma dan Om Lyno tidak akan mengabaikan anak mereka”
“Amerika?”
“Aku bahkan bisa melacak ponsel Vania”
“Bagaimana bisa?”
“Dua bulan terakhir mungkin Daniel meminta Vania untuk mematikan ponselnya tapi beberapa hari yang lalu tepat disaat Tika mengirim pesan sekaligus undangan pernikahan kami, tiba-tiba terlihat bahwa Vania membacanya yang bisa ku pastikan bahwa Vania sempat mengaktifkan ponselnya hanya beberapa saat namun aku bertindak cepat sehingga mendapat titik lokasi Vania berada saat itu”
“Apa dia baik-baik saja?”
gumam Varel pelan seraya menatap Sebastian
Bukan, tatapan itu bukan tatapan dingin dan acuh seperti biasanya. Tatapan yang lagi-lagi Sebastian lihat jika berhubungan dengan Vania. Tatapan rapuh yang seolah berkata “aku tidak baik-baik saja, tolong kembalikan istriku karena aku membutuhkannya”.
”Tante dan Om tidak akan pernah membiarkan Vania sendirian dan aku yakin istrimu adalah wanita yang kuat dan hebat karena bisa bertahan dengan kedua bayi kembar kalian.”
“Bas, bagaimana jika aku tidak bisa bertemu dengannya lagi? Bagaimana jika aku bahkan tidak akan pernah bisa menatap hasil bibit ku? Bagaimana-“
“Varel.. Sebelum kau berpikir yang tidak-tidak, lebih baik kau cari Vania secepatnya. Aku akan membantumu”
“Tuan Muda.. Sebulan kemudian saya dan Mas Bas menikah, mungkin tidak ada sesuatu yang pasti yang membuat kita bisa mengetahui bahwa Mbak Vania akan berada disana. Tapi, saya yakin bahwa Mbak Vania akan hadir walaupun hanya sebentar”
“Benar, Rel.. Vania tidak mungkin mengabaikan pesan Tika dan aku yakin bahwa Vania akan berada di pesta sebulan kemudian. Namun sebelum itu, carilah Vania dimana pun dan aku akan membantu mu”
*****
Hari ini, Vania ingin mengutarakan keinginan yang sejak seminggu yang lalu ia pikirkan namun belum bisa tersampaikan karena ia ragu untuk membicarakan itu kepada keluarganya
“Pa..Ma..”
ucap Vania pelan saat mereka baru saja selesai sarapan bersama
“Ada apa sayang?”
“Vania boleh berbicara sedikit?”
tanya Vania pelan
Jika ditanya bagaimana perasaan Vania sekarang, seperi anak kecil yang ragu untuk menyampaikan kehendaknya karena takut tidak akan diizinkan oleh kedua orang tuanya.
Seolah tau bahwa anaknya takut untuk menyampaikan sesuatu, Mama Kusuma memberikan keberanian dengan mengelus pucuk kepala Vania dan tersenyum seakan senyum itu memberikan semangat kepada sang anak
“Apa Vania bisa kembali ke Indonesia sekarang?”
tanya Vania yang membuat semua orang terkejut
“Tidak”
Tentu, yang menjawab dengan tegas adalah Daniel
“Nak, kita belum menanyakan perasaan Vania. Jadi diam dan dengarkan saja apa alasan adikmu”
ucap Mama Kusuma memberikan pengertian kepada Daniel
“Bisa Papa bertanya mengapa anak Papa sudah ingin kembali ke Indonesia?”
“Satu bulan lagi anak-anak akan lahir, Vania hanya ingin melahirkan di tanah kelahiran Vania, Pa”
“Hanya itu?”
“Tidak, Vania sudah memikirkan ini sejak lama namun hanya berani mengatakannya sekarang. Dua bulan terakhir bahkan sampai sekarang, Vania masih sah menjadi istri Varel, kan? Vania bahkan tidak bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga kecil Vania bahkan Vania menelantarkan anak gadis Vania”
“Tapi bagaimana jika respon Varel sungguh di luar dugaan?”
“Di luar dugaan seperti apa maksud Kak El? Vania tidak pernah bermimpi dan berharap akan kembali lagi dengan Varel. Yang Vania inginkan hanya menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi lalu menerima apapun keputusan Varel, entah akan kembali atau akan berpisah. Semua orang tidak ingin berpisah, kan? Tapi Vania tidak bisa apa-apa dan tidak bisa memaksa jika nantinya keputusan Varel tetap ingin berpisah”
“Baiklah jika itu yang Vania inginkan, Papa Mama mendukungmu. Jadi, kapan rencananya kau akan kembali ke Indonesia?”
“El akan ikut”
“Kak El, itu tidak peru-“
“Tidak, Kakak akan selalu menemanimu hingga kau melahirkan mereka. Pa, izinkan El mendapat cuti dalam waktu yang lama untuk menemani Vania di Indonesia. Kami akan tinggal di rumah Kakek”
“Baiklah, Papa akan meminta tambahan pengawal jika terjadi sesuatu karena rumah itu memang lumayan jauh dari pemukiman warga”
“Terima kasih, Pa, Ma, dan Kak El”
“Bersiaplah, besok kita akan kembali ke Indonesia”
“Apa Varo sudah tau?”
“Belum, tapi dia pasti akan senang karena sebentar lagi akan menginjakkan kakinya di Indonesia. Dia selalu mengatakan kepada Papa bahwa dia merindukan bakso di taman dekat sekolah”
“Astaga anak itu. Bukannya merindukan Lista tapi malah merindukan bakso”
“Loh? Kata siapa Pa? Varo merindukan Lista hanya saja rindu makan bakso lebih banyak”
Tiba-tiba Varo berjalan mendekati mereka yang ternyata masih berkumpul di meja makan karena Varo memang tidak terbiasa sarapan pagi jadi ia hanya akan sarapan dengan roti dan susu lalu menghabiskan paginya di perpustakaan Daniel
“Hahaha..Tau saja Opa sedang membicarakanmu”
“Tadi ada yang berbisik seperti itu, “Varo, turunlah cepat Opa sedang membicarakanmu” lalu Varo turun dan mendengar Opa memang membicarakan Varo”
“Katakan saja bahwa Varo turun karena sudah habis sarapannya”
ucap Daniel yang membuat Varo mendengus kesal
“Papa memang tidak bisa diajak kerja sama.”
*****
Keesokan harinya, saat ini Varel sedang sibuk mengotak-atik laptopnya karena memang ia sedang diperhadapkan dengan berkas yang begitu banyak hingga menumpuk. Varel sudah mulai kembali bekerja ke kantor seperti biasanya hingga membuat waktunya akan sedikit berkurang bersama Lista karena memang semua karyawan di Fernandez Group bekerja keras untuk mengembalikan saham yang anjlok tentu dengan mengembalikan nama baik perusahaan sehingga banyak dari mereka akan lembur setiap harinya namun tetap bergantian dengan karyawan yang lain
“Anna, bisakah kau bawakan berkas Kerjasama dengan perusahaan IY Group ke ruanganku?”
ucap Varel saat tangannya menekan telepon yang otomatis akan tersambung ke ruangan Anna
Hingga tak lama terdengar ketukan pintu dari luar dan masuklah Anna dengan membawakan berkas yang dimintai oleh Varel
“Terima kasih, Anna. Kembalilah ke ruanganmu, jangan terlalu lembur dan minta Dimas untuk mengantarmu pulang”
“Baik, Tuan Muda”
Setelah mengatakan itu, Anna pun berpamitan dengan Varel yang sudah sibuk membaca berkas
Tak lama terdengar suara dering ponsel yang menandakan bahwa ada sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya hingga membuat Varel menghentikan pekerjaannya
Sebastian
Mereka baru saja mendarat di bandara Indonesia.-
*
*
*