
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Pagi ini tepat pukul 05:00 WIB, Vania bangun dari tidurnya dan menatap lama pria yang tertidur di sebelahnya. Siapa lagi kalau bukan Varel
Entah kenapa sejak kasus penculikan hingga terlukanya Varel, membuat Vania setiap hari memandang lama wajah pria tampan itu dan mensyukuri hidupnya yang sekarang hingga membuatnya sangat ketakutan jika suaminya akan meninggalkannya karena terlukanya Varel saat itu membuat ketakutan Vania menjadi-jadi
"Nak, jadilah anak-anak yang baik dan pintar seperti Daddy kalian"
lirih Vania pelan seraya mengelus perut buncitnya
"Terima kasih Tuhan Yesus, sungguh aku selalu bersyukur setiap hari karena Engkau memberikanku kebahagiaan yang tiada tara dengan suami dan anak-anak yang sangat ku sayangi tentu dengan bayi kembar ini"
ucap Vania pelan seraya mengelus wajah tampan suaminya
"Astaga, dia benar-benar tampan. Bagaimana jika ada wanita yang menggodanya dan merebutnya dariku? Haruskah aku memintanya bekerja dirumah saja? Aku harus ekstra menjaga pria ini, dan akan ku patahkan tulang wanita-wanita ganjen diluar sana yang masih menginginkan suami orang.
Tapi bagaimana jika dia juga tergoda? Apalagi setelah melahirkan tubuhku mungkin saja akan melebar. Apa dia akan tetap bersamaku sedangkan banyak wanita diluar sana yang lebih seksi yang bisa saja menggodanya? Astaga, tidak-tidak aku tidak akan membiarkannya, akan ku sunat dia jika berani macam-macam"
Tentu saja semua ucapan Vania terdengar oleh Varel yang sudah bangun namun pura-pura tertidur hingga dirinya tak bisa menahan tawa dan jadilah kamar itu dipenuhi gelak tawa Varel
"Kau sudah bangun rupanya"
gerutu Vania kesal karena suaminya mendengar semua ucapannya pagi ini
"Istriku sangat lucu jadi aku tidak mungkin melewatkan cerewetnya di pagi hari"
"Kau bilang ap-"
Cup.
"Good morning"
"Ceh, kau berhasil membuatku tidak jadi memarahi mu"
ucap Vania tersenyum tipis
Lalu Varel pun bangun dan berjongkok dihadapan istrinya seraya mengelus perut buncit itu
"Good morning anak-anaknya Daddy. Sehat-sehat ya, Nak"
ucap Varel seraya sesekali mencium perut istrinya membuat Vania mengelus pucuk kepala Varel pelan
"Sayang, mereka merespon"
ucap Varel senang karena merasakan tendangan anak-anaknya dari dalam sana
"Setiap pagi mereka selalu merespon ucapan mu"
jawab Vania terkekeh pelan karena melihat wajah suaminya yang selalu senang jika bayi kembar merespon ucapannya
"Astaga mereka sangat pintar. Sayang, cepatlah keluar Daddy sudah tidak sabar dan kalian akan Daddy ajarkan cara menembak"
Plakkk
"Aw"
ringis Varel pelan karena Vania memukul bahunya
"Kau ini"
"Aku serius, sayang. Mereka harus bisa bela diri dan menembak agar bisa menjaga diri dan menjaga Mommy nya"
"Jika mereka perempuan?"
"Tentu, mereka juga harus belajar"
"Aku juga ingin belajar"
"Kau pengecualian"
ucap Varel yang membuat Vania cemberut
"Sayang, biarkan aku dan anak-anak yang menjagamu"
"Tapi aku juga ingin menjaga keluargaku"
"Doa dari seorang wanita yang menjadi istri dan ibu sangat indah, sayang. Tuhan akan mendengarnya dan kau cukup berdoa untuk kami"
"Baiklah"
jawab Vania pelan yang membuat Varel tersenyum
"Tapi apa kau serius ingin mengajarkan anak-anakmu menembak?"
"Astaga, kenapa kau meragukan ku lagi? Aku sangat serius, sayang, di umur mereka ke 8 tahun akan ku ajarkan bela diri dan menembak"
"8 tahun masih sangat muda, sayang"
"Tidak, itu sudah cukup untuk mereka belajar. Seperti halnya aku dulu yang diam-diam minta diajarkan oleh Paman di umur 8 tahun dan Papa mengetahuinya saat itu juga tapi Papa tidak menghentikan ku karena Papa tau alasan ku belajar bela diri dan menembak adalah untuk melindungi Mama"
ucap Varel pelan yang membuat Vania mengelus pucuk kepalanya lembut
"Papa nya sekretaris Dim?"
"Ya, Paman Denis yang mengabdi pada keluarga Fernandez. Di umur Paman yang ke 4 tahun, Paman sudah menemani Papa hingga mereka menutup mata bersama"
lirih Varel pelan
"Sayang, jangan dilanjutkan"
ucap Vania khawatir karena mendengar suara suaminya yang bergetar menahan tangis
"Seperti halnya Dimas yang mengabdi berpuluh tahun padaku, begitu juga Paman yang tidak pernah mengkhianati keluarga ini dan mengutamakan kebahagiaan keluarga Fernandez daripada kebahagiaannya"
"Dulu, Dimas membenciku karena aku merebut mainannya saat berumur 3 tahun, hingga Paman memintanya untuk menjadi pengawal ku seumur hidupnya dan aku masih ingat bagaimana penolakan Dimas kecil saat itu. Dia benar-benar berteriak seperti orang gila dan menunjukku seolah aku sangat jahat hingga dia tidak ingin mengabdi padaku"
"Lalu? Bagaimana bisa sekretaris Dim seperti sekarang?"
tanya Vania yang antusias mendengar cerita pagi suaminya
"Aku selalu mendekatinya dan meminta maaf, berbagi makanan dan mainan padanya tapi dia tetap tidak mau memaafkan ku bahkan tidak mau berbicara pada ku tapi anehnya dia selalu ikut bermain dan makan bersama ku"
ucap Varel terkekeh pelan membuat Vania tersenyum tipis
"Apa Varel kecil juga dingin dan angkuh?"
"Bahkan sangat tampan"
"Ceh, kau selalu membanggakan wajahmu"
"Bukankah tadi ada wanita yang mengatakan bahwa wajahku benar-benar tampan?"
goda Varel yang membuat Vania tertawa
"Sudahlah berhenti menggodaku. Aku mau mandi"
"Kau ada kelas pagi?"
"Tidak ada. Aku ingin ke kantor mu"
"Tumben"
"Ingin bertemu sekretaris Dim"
"Apa?"
"Mendengar ceritamu membuatku ingin mengelus wajahnya"
"Sayang"
rengek Varel dengan wajah memelasnya
"Hahaha...Aku bercanda, tapi serius ingin pergi ke kantormu"
ucap Vania lalu pergi ke kamar mandi meninggalkan Varel yang kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
*****
Ruangan Presdir
"Sayang, kau tidak bosan? Ingin berjalan-jalan ke luar?"
tawar Varel karena melihat istrinya yang duduk di sofa sedang membaca majalah
"Nanti saja"
jawab Vania singkat membuat Varel kembali fokus pada pekerjaannya
"Oh iya dimana sekretaris Dim?"
"Sayang"
"Hahaha...Tidak, aku hanya bertanya saja"
"Aku memintanya menemui klien dan sepertinya dia akan kembali beberapa menit lagi"
"Bisakah aku melihat cctv di lobi bawah?"
Tanpa menjawab, Varel pun berjalan mendekati istrinya dan membawa iPad ditangannya
"Itu sekretaris Dim"
ucap Vania senang
"Kau tidak akan mengelus wajahnya, bukan?"
"Sayang, Anna pindah ruangan ke ruangan sekretaris wanita mu kan hari ini?"
"Ya, dia sedang bersiap-siap"
"Aku ke bawah sebentar dan tonton lah pertunjukan di lobi bawah, tangga darurat, dan ruangan Anna"
ucap Vania lalu pamit pergi mendatangi sekretaris Dim di lobi bawah
Beberapa menit kemudian, sampailah Vania di lobi dan beruntung langsung bertemu sekretaris Dim yang berjalan mendekatinya
"Sekretaris Dim, kau sedang apa disini?"
"Baru selesai bertemu kilen, Nona Muda"
"Astaga, apa kau tidak tau beritanya?"
"Maaf, berita apa, Nona?"
"Anna pindah hari ini"
ucap Vania yang membuat sekretaris Dim terkejut lalu berlari ke arah tangga darurat membuat Vania tertawa seketika tak lupa melambaikan tangannya pada cctv
Kembali ke sekretaris Dim, saat ini hati dan perasaan sekretaris Dim benar-benar campur aduk mendengar kabar Anna akan pindah kerja dari kantor ini bahkan sekretaris Dim tanpa lelah berlari di tangga darurat hingga akhirnya ia sampai di lantai dimana hanya ada ruangan Presdir, ruangannya, ruangan sekretaris wanita, dan ruangan Anna
Dengan cepat sekretaris Dim berlari ke ruangan Anna dan membuka pintu melihat Anna yang sedang berkemas
"Anna, kau pindah?"
tanya sekretaris Dim ngos-ngosan
"Dim, ada apa denganmu?"
tanya Anna khawatir
"Anna, tolong berikan aku kesempatan sekali saja untuk memperbaiki semuanya. Aku mohon, aku sungguh mencintaimu. Tolong jangan menghindari ku dengan keluar dari kantor ini"
ucap sekretaris Dim pelan yang membuat Anna menatapnya heran
"Apa maksudmu, Dim? Aku hanya pindah ruangan ke ruangan Mba Eva, bukannya keluar dari kantor"
ucap Anna yang membuat sekretaris Dim melongo
"APA??!!"
Astaga, Nona Muda.-Sekretaris Dim
*
*
*