
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Sayang bagaimana dengan sarapan mu?"
tanya Vania menatap sang suami
"Dimas akan segera kesini"
jawab Varel santai namun matanya tetap fokus melihat ponsel
Tak lama kemudian pintu terbuka dan muncullah sekretaris Dim membawa beberapa paper bag
"Ini sarapannya Tuan Muda"
ucap sekretaris Dim sopan
"Hem"
"Eh ada Dimas, bagaimana kabarnya?"
tanya Sebastian tersenyum
"Baik kak"
jawab sekretaris Dim tersenyum kecil
"Dim, kok kamu masih betah sih jadi atasannya dia? Kan kamu tau sendiri dia itu Tuan Muda yang acuh dan dingin"
tanya Sebastian mengerutkan kening
"Sialan, dikasih makan tetap aja mulutnya bocor"
ketus Varel kesal membuat Sebastian tertawa
Vania pun berjalan ke arah sofa membantu sekretaris Dim untuk mengeluarkan beberapa makanan dari paper bag
"Nona Muda tidak perlu biarkan saya saja"
ucap sekretaris Dim datar
"Tidak masalah"
jawab Vania tersenyum
Setelah mengambil bubur, Vania pun berjalan mendekati Varel
"Sayang makan dulu"
"Hem"
Dengan telaten Vania menyuapi sang suami sedangkan Varel hanya diam dan masih fokus menatap ponsel sesekali melirik ke arah istrinya
"Vania, yang sakit itu perutnya bukan tangannya, dia masih bisa kok makan sendiri"
sindir Sebastian
"Ganggu aja"
gerutu Varel
"Manja banget jadi cowok"
"Biarin, manja sama istri juga"
ucap Varel tak mau kalah membuat Sebastian mendengus kesal
"Dim bagaimana keadaan kantor?"
"Keadaan kantor stabil Tuan Muda"
sekretaris Dim menunduk sopan
"Rel kau masih belum mencari sekretaris lain?"
Sebastian berbicara disela-sela sarapannya
"Dimas masih bisa ku andalkan lalu untuk apa aku mencari sekretaris lagi?"
tanya Varel mengerutkan kening
"Ya ya ya aku tau tapi bagaimana jika Dimas ada urusan mendadak dan hendak ijin namun perusahaan dan kau juga sedang membutuhkannya?
Setidaknya cari sekretaris yang bisa kau andalkan untuk keperluan lain, jika kau dan Dimas sedang ada urusan di luar kota bahkan luar negeri, dia bisa diandalkan untuk mengurus perusahaan"
ucap Sebastian panjang lebar
"Hem benar juga, Dim kau cari sekretaris yang bisa diandalkan"
"Tuan Muda ingin sekretaris pria atau wanita?"
"Wanita saja"
ucap Varel tersenyum penuh arti sedangkan Vania sejak tadi hanya diam mendengar percakapan mereka
"Heh ingat istrimu bodoh"
ketus Sebastian kesal
"Kenapa? Ini hanya masalah pekerjaan"
Varel pun tak mau kalah
"Terserah".
*****
"Bas didepan mu ada musuh"
"Mana?"
"Mata dipakai bego"
"Dimana bodoh?"
"Sial, musuh didepan saja kau tidak melihatnya"
bentak Varel menatap Sebastian tajam sedangkan Vania hanya tersenyum mendengarnya
Saat ini Varel dan Sebastian sedang bermain game online dan Vania sedang menonton drama korea, namun aktivitas Vania terganggu karena berbagai macam ucapan kekesalan sang suami karena kalah bermain
"Kenapa lagi kau ganti karakter? Kalah bukan karena karaktermu tidak becus tapi karena kamu tidak punya mata"
"Terserah"
"Sayang kau sedang apa?"
"Kau lihat kan aku sedang ganti karakter"
"Aku tidak bertanya denganmu bodoh, lagian sejak kapan aku memanggilmu sayang"
bentak Varel menatap Sebastian tajam sedangkan Sebastian hanya terkekeh
"Aku sedang menonton drama korea"
"Apa judulnya?"
"Moon Lovers-Scarlet Heart Ryeo, penampungan oppa-oppa tampan, ada Lee Joon-gi, Kang Ha-neul, Hong Jong-hyun, Baek Hyun, Nam Joo-hyuk, Ji soo.
Genrenya romance, drama, fiksi, fantasi.
Ini seru banget sayang, ceritanya si IU tenggelam di sungai tapi pas bangun tau-taunya udah di pemandian para pangeran, dia kembali ke kehidupan sebelumnya.
Dia juga jadi rebutan para lelaki, sukanya sama Lee Joon-gi tapi karena dia ingin keluar dari kerajaan dan hanya ada satu cara akhirnya dia nikah sama Ji soo"
jelas Vania bersemangat membuat Varel maupun Sebastian mengerutkan kening
Aku tadi hanya bertanya judul kan? Lalu kenapa dia menjelaskan semuanya? Dari nama pemeran, genre, bahkan alur ceritanya.-Varel
*
Tak berapa lama kemudian ponsel Vania berdering menandakan ada panggilan masuk
"Tika?"
gumamnya lalu mengangkat panggilan
"Halo Tik?"
"................."
"Mba masih di rumah sakit, kenapa?"
"........................."
"Bisa, kita ketemu di cafe depan aja ya"
"......................"
"Sayang aku ke depan dulu ya, ada perlu dengan Tika"
"Suruh dia kesini aja"
ucap Varel singkat
"Tik, kata Varel ke rumah sakit aja, nanti kalau sudah sampai kabari mba, nanti mba turun jemput kamu"
Panggilan pun terputus
"Ada perlu apa?"
"Katanya mau bahas pekerjaan, mungkin penting sih sampai-sampai dia harus kesini"
Beberapa menit kemudian ponsel Vania kembali berdering
"Sudah didepan?"
"................."
"Oke mba turun ya"
*****
"Masuk Tik, Rudi"
Lalu Tika dan Rudi pun masuk ke ruangan Varel mengikuti Vania yang menuju ke sofa kecil.
Saat sedang berjalan, tiba-tiba tatapan Tika terkunci saat ia menatap Sebastian yang juga menatapnya namun dengan cepat Tika mengalihkan pandangan
"Aw"
ringis Sebastian pelan membuat Varel menoleh, seketika Varel tertawa kencang karena mengetahui adik kecil Sebastian bangun saat ia menatap Tika
Sial kenapa sih si Jerry malah bangun cuma gara-gara liat bibir mungil tuh cewek.-Sebastian
"Aw"
Varel pun meringis karena merasakan perih diperutnya
"Kenapa sayang?"
tanya Vania khawatir lalu berjalan mendekati suaminya
"Ini tadi tertawa kencang lupa kalau luka tusuknya belum sembuh"
"Apa yang lucu?"
"Jerry bangun"
bisik Varel terkekeh
"Jerry? Siapa? Dimana?"
tanya Vania dengan polosnya
"Lanjutkan saja pekerjaanmu nanti ku jelaskan"
Vania pun kembali ke sofa kecil dan membahas pekerjaan bersama Tika dan Rudi
"Gini mba kemaren ada pelanggan yang minta didekorasi pestanya, Tika udah bilang kalau toko kita gak pernah menerima orderan itu tapi si pelanggannya tetap ngeyel dan dia juga pengen ketemu mba"
"Kalau menurut kalian gimana?"
"Kalau menurut Rudi sih mending kita ketemu dulu mba sama dia, mba jelasin semuanya mungkin aja dia percaya sama penjelasan mba tapi kalau dia tetap mau ya terserah keputusan mba aja lagi"
"Tika juga udah bilang mba di rumah sakit mengurus suami mba, katanya ketemu didekat rumah sakit juga boleh"
"Rudi, Tika kalian ada waktu kapan?"
"Loh kok nanya kami mba?"
"Mba perlu kalian untuk menemani mba, Rudi dan Seto kan yang suka mendekorasi toko, bagaimana kalau kita ketemunya besok aja di cafe depan?"
"Boleh mba, nanti Tika kabari pelanggannya, untuk jamnya nanti Tika kabari di grup aja ya"
"Yasudah kalau gitu Rudi dan Tika balik ke toko lagi ya mba"
"Oke hati-hati ya"
*****
"Itu siapa Van?"
"Karyawan Vania kak"
"Namanya Tika ya?"
"Iya kak"
"Oh iya sayang tadi siapa yang bangun? Oh iya Jerry ya, Jerry siapa sih?"
"Itu loh burungnya Bas"
"Ya Tuhan"
"Tadi burungnya bangun liat Tika"
"Astaga udah-udah kok jadi ngomong itu, lagian ada namanya segala"
"Kan kamu nanya sayang"
"Aku bingung deh biasanya Jerry bangun tunggu digoda dulu, itu juga sekitar setengah jam, eh pas liat si Tika tadi apalagi pas liat bibir mungilnya si Jerry bereaksi malah bangun dia"
jelas Sebastian lemah
"Astaga kak Bas udah ya ngomongnya"
"Kenapa? Kan kalian udah nikah jadi wajar dong, gimana Varel? Liar gak di atas ranjang?"
"Jelas dong"
Bukan, itu bukan suara Vania melainkan Varel yang menjawab dengan santainya membuat Vania menunduk malu
"Berapa jam tahan?"
Gila ini benar-benar gila, dengan santainya mereka membahas itu.-Vania
Varel dan Sebastian pun sama-sama menatap kearah Vania yang menunduk malu, seketika mereka tertawa kencang membuat Vania mengerutkan kening
"Kenapa malu sih sayang?"
goda Varel mengelus pucuk kepala Vania
"Vania mengapa kau sangat polos?"
ucap Sebastian disela-sela gelak tawanya.
*
*
*