Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Kemeja Couple


Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Varo mendengus kesal ketika melihat Vandi yang berteriak saat ia menepuk pundak sang Ayah.


"Ayah, Koko bukan hantu" ucap Varo dengan wajah kesalnya.


Vandi hanya bisa mengelus dada saat tau yang dihadapannya bukan hantu melainkan sang anak. "Hei, kau ini mengejutkan Ayah saja" gerutu Vandi kesal.


Varo hanya terkekeh pelan.


"Kalian kemana saja? Mengapa pergi dari rumah saat Ayah kembali?"


"Koko bermain basket bersama Tian."


"Yang lainnya mana?" tanya Vandi heran.


Varo menggeleng pelan. "Entahlah, Koko pulang sendiri menggunakan sepeda."


Terdengar helaan berat yang membuat Varo hampir tidak bisa menahan tawa.


"Ayah, karena tidak ada orang di rumah, bagaimana jika kita berenang malam?" usul Varo yang membuat Vandi menatapnya dengan heran.


"Kau lupa sedang berbicara dengan siapa?"


"Oh, Koko lupa kalau Ayah sudah sombong."


"Astaga anak ini, baiklah ayo Ayah juga sedang kesal."


Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pergi ke kolam renang yang dimana sudah ada banyak orang menunggu termasuk Sandra, kekasih Vandi.


"Hei, ini kenapa gelap sekali?" tanya Vandi sedikit panik.


"Koko tidak tau, ayo cari saklar lampu nya."


Mereka pun berjalan dengan sangat pelan untuk mencari saklar lampu hingga tiba-tiba tangan Vandi memegang sesuatu.


"Aaaaa!"


Teng.


Lampu menyala dengan semua dekorasi simpel dan beberapa orang yang sudah berkumpul. Vandi menatap semuanya dengan tatapan tidak percaya, ia sendiri bahkan tidak menyadari bahwa akan diberikan kejutan seperti ini.


Semua orang benar-benar menyempatkan waktu untuk bersama menikmati pesta kecil-kecilan yang diadakan dadakan oleh keluarga Varel. Sandra, Angeline dan dokter Hendra, Tika dan Sebastian, Alea, Clara dan Reza, Sekretaris Dim dan Anna, bahkan ada beberapa teman kuliah Vandi yang turut hadir.


Vandi tersenyum, akhirnya ia sadar bahwa kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika kita bisa menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kita sayangi.


Sesibuk apapun dirimu, luangkanlah sedikit waktu untuk sekedar bertanya kabar dengan keluarga. Karena tanpa keluarga, kau tidak akan bisa ada di titik yang sekarang.


"Dasar! Hampir saja aku mengamuk" ucap Vandi yang membuat semua orang tertawa.


"Makanya kalau keluar kota itu harus sering mengirim pesan. Membuat orang khawatir saja" gerutu Varel seraya menatap sang adik dengan tajam.


"Sudah, jangan berdebat. Sekarang ayo nikmati pestanya" ucap Mama Melinda menengahi.


Vania tersenyum tipis. "Harusnya anak bungsu yang sudah dewasa memberikan beberapa ucapan."


"Hei, aku tidak tau harus mengatakan apa. Jangan membuang waktu, lebih baik makan saja" ucap Vandi yang mengundang gelak tawa semuanya.


Akhirnya, pesta dadakan tersebut bisa dinikmati oleh semua orang.


"Ngomong-ngomong, kita lama tidak girls time" bisik Alea kepada Vania.


"Hei, kau benar. Setelah Tika dan Clara hamil, suami mereka sangat menyebalkan."


"Aku mendengarnya, Van" ucap Sebastian tiba-tiba.


"Eh—Kak Bas dengar ya?" ucap Vania tertawa.


Clara yang melihat mereka sedang berkumpul pun ikut mendekat. "Jadi kapan kita girls time?"


"Loh? Alea juga baru saja membicarakan itu."


"Ah, aku rindu kita berkumpul bersama."


"Mbak, Tika punya ide" bisik Tika pelan.


Mereka pun langsung mendekat.


"Bagaimana jika kita membelikan baju yang sama untuk para lelaki dan meminta mereka memakainya di hari kita jalan-jalan bersama?"


"Ah aku tau, kau pasti sedang mengikuti trend itu" ucap Angeline tertawa.


"Tika benar, tapi apa kalian tidak kasihan denganku?" gerutu Alea kesal.


Mereka sepertinya lupa bahwa hanya sahabat mereka itu saja yang masih sendiri.


"Tidak masalah, Kak El akan pulang minggu ini."


"Aku tidak bisa membayangkan mereka semua menggunakan pakaian yang sama."


"Hei, jangan lupakan kekasih Anna."


"Sekretaris dingin itu."


Ah, akhirnya malam ini para wanita berkumpul bersama.


*****


Dream Catcher


Hei, cepat katakan apa ukuran baju suami kalian.-Alea.


Sial, jangan membuatku emosi. Aku sudah malu disini.-Alea.


Apa bajunya jadi berwarna peach..?-Anna.


Hahaha tentu saja. Cepat katakan ukuran baju suami kalian.-Alea.


Dimas L.-Anna.


Reza XL.-Clara.


Bas XL.-Tika.


Vandi L.-Sandra.


Hendra XL.-Angeline.


Varel dan Kak El L. Apa Alea membelinya sendiri?-Vania.


Alea mengirimkan foto.


Aku tidak sabar melihat mereka memakainya.-Clara.


Kalian tau? Karyawan tokonya mengira aku ibu-ibu beranak 7.-Alea.


Sepertinya Daniel memang harus segera menikahi mu.-Angeline.


?-Alea.


Vania hanya tersenyum tipis saat membuka room chat mereka. Sebenarnya, ia masih selalu menjodohkan keduanya namun baik Daniel maupun Alea tidak pernah menanggapi godaan dari orang-orang. Mereka benar-benar tidak peduli.


"Apa yang kau lihat?" tanya Varel kepo saat melihat istrinya yang senyum-senyum sendiri.


"Hei, jangan kepo. Oh ya, apa Kak El belum sampai?"


"Belum. Sepertinya El akan sampai malam nanti."


"Sayang, apa kau sibuk weekend ini? Aku berencana untuk jalan bersama yang lainnya."


"Ingin berpacaran?" tanya Varel yang membuat Vania tertawa.


Vania mengangguk pelan. "Dating with seven couples?"


"Anything for you, baby."


"Terima kasih, Sayang."


*****


Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba dimana pagi ini semua wanita sedang berdebar karena sebentar lagi akan memulai perang besar dengan para pria.


Sejak tadi, room chat bersama ramai dikarenakan Alea tiba-tiba panik saat mendengar Daniel benar-benar sudah berada di Indonesia. Siapapun akan mengerti mengapa wanita itu panik, bagaimana tidak? Daniel dengan wajah dingin dan acuhnya pasti akan marah besar ketika tau rencana mereka.


Dream Catcher


Hei, apa aku bisa tidak jadi ikut? Aku takut melihat wajah arogan Daniel.-Alea.


Apa yang kau takutkan? Daniel masih sama-sama manusia yang memakan nasi.-Angeline.


Elin benar, sepertinya Daniel juga tidak mau memakan daging mu.-Sandra.


Sial. Aku tidak ikut campur jika dia marah.-Alea.


Tenang, ada adik kesayangannya.-Anna.


Hahaha kau benar. Vania akan selalu bisa membujuk para pria arogan.-Sandra.


Kita jalan sekarang?-Clara.


****. Sebentar, aku ingin pipis.-Alea.


Astaga, Mbak.-Tika.


Varel menatap sang istri dengan tatapan aneh terlebih ketika Vania memberikannya kemeja berwarna peach. Seumur hidupnya, ia sendiri tidak pernah memakai kemeja seperti ini.


"Sayang? Sepertinya ada yang salah" ucap Varel pelan karena takut istrinya marah.


Vania yang masih duduk di depan meja rias pun hanya menatap sang suami lewat cermin besar. "Apa kau tidak suka dengan warnanya? Baiklah, aku akan menggantikannya."


"Eh—tidak, bukan seperti itu maksudku. Hanya saja ini pertama kalinya aku memakai kemeja warna ini" ucap Varel sedikit panik.


"Ah, aku hanya ingin kita memakai pakaian yang senada.."


Bagus Vania, lanjutkan akting mu. Lihat kan? Suami mu saja tidak tega untuk menolak kemeja ini.


"Tentu, Cantik. Aku akan memakainya."


Cup.


*****


Restoran


Sepertinya, pasangan suami istri ini adalah yang pertama datang di tempat janji hingga tak lama pasangan Clara-Reza dan Angeline-Hendra pun datang bersamaan.


Baik Varel, Reza, maupun Hendra sama-sama terkejut melihat kemeja mereka yang benar-benar sama hingga tak lama kemudian, pasangan lain pun berkumpul.


"WHAT?!"


*


*


*