Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Honeymoon (Tetap Dikamar)


Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Dua hari kemudian


Di pagi hari yang cerah Vania terbangun pukul 05:00 WIB ia merasakan nafasnya terasa sesak ternyata karena Varel memeluknya erat.


Dilihatnya wajah tampan milik sang suami, wajah yang selama delapan bulan ini selalu ia tatap saat bangun tidur


Cup.


Entah keberanian darimana Vania mencium pelan dagu Varel yang sedang mendengkur halus lalu dengan hati-hati ia memindahkan tangan suaminya dan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena pagi ini mereka akan berangkat menuju Korea untuk pergi berbulan madu.


*****


Beberapa menit kemudian, setelah selesai mandi Vania pun berjalan mendekati jendela dan membuka tirai sehingga cahaya matahari masuk kedalam kamar namun tidak membuat tidur Varel terganggu


Tumben sekali dia tidak menggeliat? Apa dia sangat lelah?-Vania


Dengan perlahan Vania mendekati tempat tidur dan mulai membangunkan sang suami


"Sayang bangun yuk". Hening


"Hei sayang"


ucap Vania mengelus pelan pucuk kepala Varel namun lagi-lagi Varel tidak meresponnya


"Sayang ayolah bangun sekarang kau sudah berjanji kita akan terbang ke Korea hari ini"


rengek Vania seraya tangannya menggoyang pelan lengan Varel


Tanpa dia sadari Varel sudah bangun sejak ia membuka tirai namun entah mengapa Varel ingin sekali menggodanya dengan berpura-pura tidur tanpa merespon setiap ocehannya di pagi hari


Astaga dia hanya merengek untuk pergi ke Korea.-Varel


"Hello Daddy, apa kau tidak ingin bangun? Huh sayang ya padahal Mommy ingin mandi bersamamu"


ucap Vania menggoda yang membuat Varel dengan refleksnya membuka mata dan membulatkan nya


Karena saking gemasnya melihat ekspresi Varel, Vania tidak bisa menahan tawa hingga gelak tawanya memenuhi kamar utama di pagi hari


"Mengapa kau tertawa?"


tanya Varel mengerutkan kening


"Karena ekspresi mu lucu sayang, mendengar ingin mandi bersama saja kau dengan cepatnya membuka mata.


Dasar Tuan Muda mesum"


ejek Vania seraya berjalan menuju meja rias


"Beraninya kau mengatakan ku mesum"


ketus Varel kesal


"Sayang mandilah"


"Kau tadi mengajakku mandi bersama kan?"


tanya Varel tersenyum penuh arti lalu berjalan mendekati Vania


"Sayang aku sudah mandi dan aku akan pergi ke kamar anak-anak"


Cup.


Vania mencium singkat bibir Varel dan berlari keluar sebelum Varel menerkamnya


Astaga dia benar-benar menggemaskan disaat sudah berani menggodaku. Lihatlah nanti aku tidak akan dengan mudah melepaskan mu.-Varel


Lalu Varel pun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya agar Vania tidak mengomel lagi.


*****


Kamar Anak


"Astaga kalian sudah rapi ingin kemana?"


tanya Vania mengerutkan kening saat masuk ke kamar anak dan mendapati kedua anaknya sudah mandi bahkan sedang bersiap ingin pergi


"Kami ingin menemani om Dimas mengantarkan Daddy dan Mommy"


ucap Lista bersemangat


"Mengapa Lista bersemangat sekali?"


tanya Vania lagi-lagi mengerutkan keningnya


"Dede ingin jalan bersama om Dimas Mom"


bisik Varo tepat ditelinga Vania


"Mengapa gadis Mommy ingin jalan bersama om Dimas?"


goda Vania menatap sang putrinya


"Mommy tidak lihat om Dimas itu sangat tampan"


ucap Lista dengan cadelnya


"Astaga anak Mommy ini sudah besar ya sekarang, sudah bisa naksir om Dimas"


ucap Vania tersenyum membuat Lista cengengesan sedangkan Varo mendengus kesal


"Mom lihat abang Varo marah karena Lista ingin jalan bersama om Dimas"


"Bagaimana Varo tidak marah Mom? Lista masih kecil tapi sudah bisa naksir om Dimas"


ketus Varo kesal


"Astaga anak-anak Mommy ini pagi-pagi jangan berantem oke. Sekarang Varo dan Lista tunggu dibawah ya, Mommy mau mengambil barang-barang dulu"


ucap Vania tersenyum


Varo dan Lista pun berjalan keluar menuju lantai bawah


Mereka benar-benar seperti anak kembar, bahkan pakaian yang dipakai pun sama.-Vania


*****


Saat ini mobil yang ditumpangi Varel dan keluarga baru saja keluar dari halaman rumah keluarga Fernandez, mengantarkan Varel dan istri menuju bandara tempat dimana jet pribadi Varel sudah menunggu untuk membawanya dan Vania terbang menuju Negeri Ginseng


"Dad lihat Lista"


bisik Varo yang duduk ditengah-tengah Varel dan Vania sedangkan Lista dengan antengnya duduk di kursi depan bersama sekretaris Dim yang menyetir mobil


"Memangnya adikmu kenapa?"


tanya Varel mengerutkan kening


"Dia naksir om Dimas Dad, lihatlah dia selalu tersenyum menatap om Dimas"


lagi-lagi Varo berbisik agar Lista tidak mendengarnya


"Benarkah?"


tanya Varel terkejut


"Iya Dad setiap malam dia selalu menceritakan om Dimas pada Varo, Varo sampai sering tertidur mendengarnya"


Vania hanya tersenyum melihat suami dan putranya yang sedang menggosip sang putri yang tak henti-hentinya menatap kearah asisten pribadi Daddy nya, siapa lagi kalau bukan sekretaris Dim.


*****


"Daddy dan Mommy berangkat ya, Varo dan Lista jangan nakal"


"Siap Daddy"


jawab Varo dan Lista bersamaan


"Dad boleh tidak Lista pergi ke mall diantar om Dimas?"


tanya Lista dengan manjanya membuat Varel tersenyum


"Anak Daddy ingin jalan bersama om Dimas ya?"


goda Varel terkekeh


"Tidak, Lista hanya ingin bermain dengan abang Varo juga makan ice cream"


ucap Lista menggeleng pelan


Astaga didepan Dimas saja dia sok-sokan menolak. Apa Dimas mau menunggu Lista dewasa? Hahaha aku tidak bisa membayangkan setua apa Dimas saat benar-benar menikahi Lista.-Varel


"Dim bawa anak-anak jalan sebentar lalu pulang"


"Baik kak"


Setelah berpamitan, Varel dan Vania pun berjalan menuju jet pribadi yang sedang menunggu mereka.


*****


Incheon International Airport


14:00 waktu setempat


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tujuh jam akhirnya Varel dan Vania sampai di bandara Korea Selatan


"Sayang siapa yang akan menjemput kita?"


Belum sempat Varel menjawab, tiba-tiba datanglah kedua pengawal mendekati mereka


"Selamat siang Tuan Muda dan Nona Muda"


ucap salah satu pengawal dengan sopan


"Dika dan Ziva?"


ucap Vania terkejut


"Mari Tuan Muda dan Nona Muda, kita akan menuju hotel"


Tanpa mengatakan apapun, Varel berjalan dengan Vania dibelakangnya yang masih menatap Dika dan Ziva dengan heran sedangkan Dika dan Ziva membawa barang-barang majikannya tentu dengan bantuan beberapa pengawal yang lain.


*****


Four Seasons Hotel Seoul


16:30 waktu setempat


"Sayang ayo keluar, aku ingin berjalan-jalan"


ucap Vania bersemangat sedangkan Varel masih berbaring ditempat tidur


"Siapa yang menyuruhmu berjalan-jalan?"


tanya Varel yang membuat Vania mengerutkan kening


"Lalu untuk apa kita jauh-jauh kesini jika hanya duduk diam dan tetap dikamar?"


tanya Vania cemberut


"Kita berbulan madu karena ingin berusaha memberikan adik kepada anak-anak"


jawab Varel santai


Apa? Maksudnya kami bahkan jauh-jauh ke Korea tidak melakukan apa-apa selain tetap berada dikamar? Apa dia sudah tidak waras?-Vania


"Sayang ayolah aku ingin sekali berjalan-jalan"


rengek Vania dengan manjanya


"Tidak"


jawab Varel singkat


"Sayang"


lirih Vania menundukkan kepala namun Varel tidak melihatnya karena Varel sedang memejamkan mata


Karena tidak mendapat respon dari sang suami, akhirnya Vania berjalan menuju sofa dan membaringkan dirinya membelakangi Varel


Varel yang tidak lagi mendengar rengekan sang istri pun membuka mata dan terkejut melihat Vania yang tidur di sofa, dengan cepat ia memindahkan Vania ke atas tempat tidur membuat mata Vania perlahan terbuka


"Untuk apa kau memperdulikan ku?"


ketus Vania yang meronta-ronta di pelukan Varel


Astaga mengapa dia berani sekali memarahiku?-Varel


"Aku mau turun"


ucap Vania dingin sedangkan Varel seakan tidak mendengar, ia masih menggendong Vania dan membaringkannya dengan lembut di atas tempat tidur


Dengan cepat Vania membalikkan badan membelakangi Varel yang hendak berbicara kepadanya


"Aku tidak ingin berbicara denganmu"


ucap Vania dingin yang membuat Varel mengerutkan kening


Dasar keras kepala, apa dia tidak lelah setelah perjalanan? Merengek ingin jalan seperti anak kecil saja.-Varel


Varel hanya diam tanpa tau harus melakukan apa sedangkan Vania sudah terlelap ke alam mimpi hingga tak lama kemudian Varel menyusul sang istri untuk tidur.


*****


19:30 waktu setempat


Masih di Four Seasons Hotel Seoul


Saat ini Vania baru saja terbangun dari tidurnya karena merasakan lapar tanpa ia sadari Varel lagi-lagi hanya berpura-pura tidur disebelahnya


"Astaga aku lapar sekali"


gumam Vania yang terdengar oleh Varel


"Apa aku harus membangunkannya? Huh tidak-tidak aku tadi sudah memarahinya. Tapi jika aku tidak membangunkannya aku bisa mati kelaparan disini"


lagi-lagi Vania hanya bergumam yang membuat Varel hampir saja kelepasan tertawa karenanya


"Mengapa dia tidur dengan nyenyak sekali? Padahal istrinya sedang sangat kelaparan"


ketus Vania karena saking kesalnya


"Sayang". Hening


"Sayang bangunlah ayo kita makan". Hening


"Jika aku memakan mu apa kau akan bangun?"


ucap Vania pelan dengan wajah yang mendekati wajah suaminya membuat Varel lagi-lagi dengan refleksnya membuka mata


Cup.


Tidak ingin melewatkan kesempatan, Varel pun mencium singkat bibir sang istri


"Aku lapar"


rengek Vania dengan manjanya


"Tadi kau memarahiku"


ucap Varel kesal


"Itu karena kau menyebalkan"


"Apa kau bilang?"


"Ayolah aku ingin makan"


lagi-lagi Vania merengek membuat Varel mengerutkan kening


Mengapa dia sering merengek kepadaku? Ada yang aneh.-Varel


"Aku ingin memakan mu"


"Kau tidak bisa memakan ku malam ini jika kau tidak memberiku makan"


Karena mendengar ancaman sang istri akhirnya Varel dengan cepat menelfon pihak hotel untuk mengantarkan makan malam mereka


Huh saking mesumnya kau, sehari saja tidak memakan ku membuatmu frustasi.-Vania


*****


"Apa yang kau lakukan?"


teriak Vania saat Varel tiba-tiba menggendongnya menuju kamar mandi


"Kau harus menepati janjimu sayang"


bisik Varel pelan


"Astaga untuk urusan itu saja kau selalu ingat"


gumam Vania yang membuat Varel tersenyum


Lalu malam itu, malam pertama mereka di Seoul mereka habiskan untuk melakukan hubungan suami istri.


*


*


*