
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Astaga jam berapa ini?"
tanya seorang wanita yang terbangun gara-gara suara hujan deras disertai petir
"Jam tiga pagi?"
gumamnya lalu duduk
Aku tidak bisa terus menerus seperti ini. Aku harus belajar untuk bisa tidur sendiri tanpa takut apapun termasuk petir dan mati lampu karena akhirnya aku akan ditinggalkan dan menyendiri.-Vania
"Ya Tuhan aku takut sekali"
lirih Vania lalu memeluk lututnya
Apa dia mencari ku? Tapi itu sangat tidak mungkin, dia akan segera bertunangan dengan Nona Dinda. Aku menjadi wanita yang sangat bodoh karena terus memikirkannya.-Vania
*****
"Astaga aku kesiangan"
ucap Vania terkejut karena cahaya matahari masuk ke jendela dan mengganggu tidurnya
Vania terbangun pukul 05:37 WIB karena sekitar pukul 04:25 WIB ia baru saja tertidur nyenyak setelah terbangun gara-gara suara petir
Setelah membereskan tempat tidur, Vania pun berjalan keluar menuju dapur membantu memasak untuk keluarga Paman Tono
"Maafkan aku Bi, aku terlambat bangun"
ucap Vania saat melihat Bibi Merry sedang memotong bahan masakan
"Selamat pagi cantik, kau sudah bangun rupanya"
ucap Bibi Merry menatap Vania
"Bi maaf aku terlambat bangun"
"Hei tidak masalah untuk gadis sepertimu bangun saat jam-jam seperti ini wajar saja"
ucap Bibi Merry terkekeh
"Tapi aku bukan gadis Bi"
jawab Vania pelan tersenyum kecil
"Apa kau sudah menikah?"
tanya Bibi Merry terkejut karena mendengar ucapan Vania sedangkan Vania hanya mengangguk pelan serta tersenyum
"Ya Tuhan nak, bagaimana bisa kau meninggalkan suamimu?
Bagaimana jika dia mencari mu?"
lagi-lagi Bibi Merry bertanya dengan raut wajah khawatir
"Hatiku sedang tidak baik Bi"
jawab Vania menunduk
"Apa kau ingin berbagi cerita bersamaku?"
tanya Bibi Merry lalu berjalan mendekati Vania dan mengelus pucuk kepalanya
"Bi kita harus memasak, aku akan membantumu"
ucap Vania tersenyum yang membuat Bibi Merry mengerti bahwa Vania tidak ingin menceritakan kesedihannya dan hanya akan menutupinya sendiri
Mereka pun memasak bersama untuk sarapan pagi, setelah selesai Bibi Merry meminjamkan dress berwarna navy yang sangat pas ditubuh Vania
"Bi ini tidak perlu, aku sungguh merepotkan mu"
tolak Vania saat Bibi Merry memaksanya memakai dress tersebut
"Lihatlah ini sangat pas ditubuh mu"
ucap Bibi Merry senang
"Apa tidak masalah jika aku memakai pakaian Bibi?"
tanya Vania ragu
"Tentu saja tidak, kau sudah Bibi anggap seperti keluarga Bibi.
Kau tau ini dress pertama yang Bibi pakai saat mengetahui bahwa ada kehidupan Gara di rahim Bibi"
ucap Bibi Merry bersemangat
"Astaga benarkah Bi? Apa aku boleh memakainya?"
"Tentu saja, kau sangat terlihat cocok memakai dress itu"
ucap Bibi Merry senang
"Terima kasih Bi sudah meminjamkan ku pakaianmu"
"Tidak masalah. Ayo kita ke dapur untuk sarapan"
Vania dan Bibi Merry pun berjalan menuju dapur karena Paman Tono dan Gara sudah menunggu untuk sarapan bersama
Dapur
"Kakak cantik sekali"
ucap Gara senang saat melihat Vania
"Terima kasih sayang, Gara juga tampan sekali. Mau berangkat sekolah ya?"
"Iya kak, Gara berangkat sekolah bersama ayah"
"Oh ya? Kita sama-sama dong, kakak juga nanti pulang ke rumah diantar paman"
"Kakak sudah ingin pulang?"
tanya Gara menunduk sedih
"Kakak harus pulang sayang, nanti kapan-kapan kakak kesini lagi membeli mainan buat Gara"
ucap Vania mengelus pucuk kepala Gara
"Benar kak?"
tanya Gara mengangkat wajahnya
"Tentu saja, jadi Gara jangan sedih ya jaga Bibi dan Paman juga ya, Gara kan anak kuat nanti kak Vania beli mainan yang banyak untuk Gara"
"Hore terima kasih kak"
ucap Gara senang
"Yasudah sekarang Gara makan ya"
Gara pun kembali memakan sarapannya membuat Bibi Merry dan Paman Tono tersenyum melihatnya
"Tidak perlu membelikannya mainan nak"
bisik Bibi Merry pelan agar Gara tidak mendengarnya
"Tidak masalah Bi, aku sudah menganggapnya seperti adik kandungku sendiri"
ucap Vania tersenyum kecil
"Kau wanita yang baik hati nak"
ucap Paman Tono tersenyum
"Begitu juga Paman Tono, Bibi Merry dan Gara"
*****
Kamar Utama
"Vaniaaaaaaa"
teriak Varel dengan nafas yang memburu dan keringat dingin yang bercucuran
"Astaga aku bermimpi buruk"
gumam Varel seraya berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya
"Ya Tuhan bahkan sudah pagi tapi istriku belum kembali, bagaimana ini?"
lirih Varel pelan seraya menatap bayangan dirinya
Aku sepertinya sudah gila tanpamu. Kembalilah ke pelukanku sayang.-Varel
*****
"Kak Varel sarapa-astaga kak kenapa kak Varel sangat pucat?"
teriak sekretaris Dim terkejut saat melihat Varel yang hanya termenung dan duduk di sofa didalam kamarnya
"Aku tidak membutuhkannya"
"Tapi kak, kak Varel sangat pucat sepertinya kakak demam dan luka di tangan kak Varel juga belum diobati"
"Cari istriku sampai ke ujung kota ini"
ucap Varel penuh penekanan
"Baik kak. Kak Varel harus sarapan ya"
ucap sekretaris Dim mengalah lalu meninggalkan Varel sendiri di kamar utama.
*****
Halaman Rumah Paman Tono
"Bibi Merry terima kasih karena Bibi sangat baik terhadapku. Aku janji kapan-kapan aku berkunjung kemari"
ucap Vania saat ia hendak kembali ke rumah suaminya diantar oleh Paman Tono yang akan bekerja
"Sama-sama cantik, Bibi sangat senang denganmu karena kau sangat sopan dan baik"
"Aku pamit ya Bi"
Setelah berpamitan Vania pun menaiki taksi yang akan membawanya kembali ke rumah keluarga Fernandez
Beberapa menit kemudian setelah mengantarkan Gara ke sekolah, Vania meminta Paman Tono untuk berhenti sebentar di salah satu supermarket
"Apa Paman ingin membeli sesuatu?"
tanya Vania saat hendak keluar dari mobil
"Tidak perlu nak"
"Aku kedalam dahulu ya Paman"
Vania pun berjalan masuk ke supermarket dan mulai membeli sesuatu, Vania membeli banyak snack dan makanan ringan untuk keluarga Paman Tono
Untunglah aku masih menyimpan uang kas di dompet, jika tidak Varel akan mengetahui keberadaan ku. Entahlah saat ini rasanya aku ingin menghindar darinya, semoga saja dia sudah pergi ke kantor hari ini.-Vania
Tak lama setelah membayar, Vania pun berjalan menuju taksi dimana Paman Tono sedang menunggunya
"Paman bawalah ini saat kembali ke rumah nanti"
"Astaga ini banyak sekali nak"
"Ambillah Paman dan jangan menolak"
Mau tak mau Paman Tono mengambilnya dari tangan Vania.
*****
Halaman Rumah Keluarga Fernandez
"Sayang"
ucap Varel terkejut saat melihat Vania ingin membuka pintu utama
Astaga mengapa bisa berpapasan sih?-Vania
*
Terima kasih Tuhan, Engkau menjawab doaku.-Varel
"Kau kemana saja?"
tanya Varel lalu memeluk Vania erat sedangkan Vania hanya diam tanpa meresponnya
"Berangkatlah kau sudah terlambat"
ucap Vania pelan lalu menunduk tanpa ingin bertatapan dengan sang suami
"Tidak, aku ingin selalu di dekatmu"
tolak Varel cepat
"Kau salah paham, aku bisa menje-"
"Tidak ada yang perlu dijelaskan Rel"
Vania pun berjalan menuju lantai atas setelah memotong pembicaraan sang suami
"Kak sabarlah, kak Vania pasti akan mendengarkan mu nantinya"
ucap Vandi menepuk pelan bahu sang kakak
"Dim cari tau tentang supir taksi itu"
perintah Varel lalu berjalan mengikuti istrinya
*****
Kamar Utama
"Kita harus bicara"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan"
ucap Vania pelan yang masih tak ingin berbalik menatap sang suami
"Vania"
bentak Varel yang membuat Vania terkejut
"Kau salah paham sayang, aku tidak pernah ingin bertunangan dengan Dinda. Dia hanya ingin meracuni otakmu"
ucap Varel pelan lalu memeluk Vania dari belakang sedangkan Vania hanya menunduk dan menangis terisak
"Jangan pergi dariku aku bisa gila tanpamu"
lirih Varel pelan tanpa terasa air matanya jatuh membasahi bahu Vania
Apa? Dia menangis? Drama apa lagi yang ia perankan?-Vania
"Kau tau prinsip hidupku? Jika aku sudah serius menjalin hubungan dengan seseorang, tidak mudah untukku melepaskannya karena pernikahan hanya dilakukan sekali seumur hidup"
"Kau percaya padaku? Aku tidak bisa tanpamu"
lagi-lagi Vania merasa bahunya basah karena air mata Varel
Dengan meruntuhkan ego akhirnya Vania ingin berbalik dan menatap mata elang milik sang suami seakan mencari kebohongan didalamnya namun nihil, yang terlihat hanyalah kejujuran
"Kenapa kau menangis?"
tanya Vania khawatir lalu menghapus air mata Varel dengan jarinya
"Percayalah padaku sekali ini saja. Aku benar-benar tidak pernah berhubungan lagi dengan Dinda"
ucap Varel seraya memegang tangan Vania yang masih tertempel diwajahnya
Lagi-lagi aku tidak bisa menemukan kebohongan dari matanya. Ya Tuhan apakah aku harus mempercayainya? Satu sisi jika aku percaya aku takut terluka lagi tapi disisi lain aku tidak melihat kebohongannya.-Vania
"Aku percaya"
ucap Vania tersenyum kecil
"Terima kasih telah percaya kepadaku"
Varel pun memeluk erat sang istri menyalurkan kerinduannya
"Ada apa dengan tangan mu?"
tanya Vania terkejut saat tak sengaja melihat tangan Varel
"Terluka"
"Astaga kenapa tidak diobati?"
"Karena aku menunggu kau yang mengobatinya"
"Varel kau tidak bisa seperti ini"
Vania pun mencari kotak P3K dan mulai mengobati luka di tangan suaminya
"Jangan seperti ini lagi, mengapa kau melukai tanganmu sendiri?"
tanya Vania saat masih mengobati tangan Varel
"Jika kau tidak ingin aku melukai diriku, jangan menghilang"
Deg
Satu kalimat yang membuat jantung Vania berpacu sangat cepat
Ya Tuhan mengapa aku sangat senang mendengarnya mengatakan hal itu?-Vania
*
*
*