Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Persiapan


Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Ruang VVIP no.1


"Akhirnya aku kembali ke rumah besok"


ucap Vania senang karena beberapa jam sebelumnya dokter Ryan memeriksa dan mengatakan bahwa dirinya sudah boleh pulang ke rumah besok pagi


"Mengapa kau sangat bersemangat?"


tanya Varel yang baru saja keluar dari kamar mandi


"ASTAGA, KAU BENAR-BENAR SEKSI!!!"


teriak Vania heboh saat melihat Varel yang hanya dililit handuk sampai pinggang dengan dada bidang yang terekspos dan rambut basahnya


"Ceh, hormon ibu hamil"


ucap Varel terkekeh pelan lalu berjalan menuju lemari pakaian


"Apa jantungku masih aman setelah tinggal denganmu?"


gumam Vania pelan seraya mengelus dada nya


Astaga, bagaimana bisa dia sangat seksi? Aku benar-benar ingin menerkamnya hihihi.-Vania


"Kau memikirkan apa huh?"


tanya Varel lalu menyentil pelan kening sang istri


"Pikiran mesum hinggap sebentar"


ucap Vania terkekeh pelan


"Benar-benar menggemaskan"


ucap Varel tersenyum tipis


"Sayang, kau belum menjelaskan tentang berita itu"


"Astaga ini sudah malam dan kau mengajakku untuk bergosip?"


"Bukan bergosip, tapi bercerita"


"Padahal sama saja"


gumam Varel pelan


"Berhenti mengalihkan pembicaraan dan ceritakan lah"


"Hei mengapa ibu hamil sangat penasaran?"


"Entahlah, semua tentang wanita di masa lalu mu membuatku begitu penasaran. Apa hanya aku saja yang begitu?"


"Aku tidak mempunyai wanita di masa lalu"


"Hanya Nona Dinda?"


tanya Vania menyelidik dan Varel pun mengangguk pelan


"Lalu? Siapa Cindy? Lisna? Aurora? Bahkan Hasley?"


tanya Vania menatap Varel dengan tajam


"Ha? Siapa mereka?"


tanya Varel mengerutkan kening karena memang tidak mengingatnya


"Cindy, wanita yang dulu pernah dijodohkan denganmu.


Lisna, teman sekelas mu saat sekolah menengah atas yang tergila-gila padamu.


Aurora, rekan bisnis mu yang wanita saat kau baru saja memegang jabatan sebagai Presdir.


Hasley, teman kuliah yang pernah menjebak mu.


Dan kau melupakan mereka? Bagian dari masa lalu mu?"


ketus Vania dengan kesalnya


Astaga, bagaimana dia bisa mengetahui semuanya? Wanita benar-benar sulit di mengerti.-Varel


"Sayang, aku tidak mengenal mereka"


jawab Varel apa adanya


"Cih dasar buaya. Pembohong sekali"


ketus Vania lalu membalikkan badannya memunggungi Varel


Salah lagi.-Varel


"Sayang?". Diam


"Hei sayang?". Diam


"Sayang, ayolah aku tidak berbohong. Aku benar-benar tidak mengenal mereka"


"Lalu, bagaimana menurutmu aku bisa mengenal mereka?"


tanya Vania lalu berbalik dan sangat terkejut saat melihat wajah Varel benar-benar dekat dengannya


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Varel pun langsung memeluk sang istri dengan sangat erat


"Hei aku tidak bisa bernafas"


ketus Vania dengan kesalnya


"Hehehe...Maafkan aku cantik"


ucap Varel terkekeh pelan lalu merenggangkan pelukannya


"Sekarang jawab aku, apa kau melupakan mereka?"


"Astaga sayang, aku tidak pernah mengingat orang yang tidak penting"


"Lalu mengapa mereka masih sering penasaran dengan media sosial mu?"


"Entahlah"


"Kau pasti juga sering membuka media sosial mereka?"


tanya Vania curiga


"Tidak sayang"


"Jawab yang jujur"


Aku sudah menjawabnya dengan jujur, jawaban apa lagi yang dia inginkan?-Varel


"Serius sayang, aku bahkan tidak mengetahui akun media sosial mereka"


jawab Varel seraya mengelus pucuk kepala istrinya


Shit, dasar Daniel kurang ajar. Berani sekali dia mengotori pikiran Vania dan membuatnya memarahiku.-Varel


"Berhentilah memikirkan mereka sayang"


"Bagaimana bisa aku berhenti memikirkan mereka? Mereka sangat cantik dan kaya, sangat jauh berbeda dari ku, mereka juga sepertinya masih ingin berusaha mendekatimu. Lalu, bagaimana jika kau tergoda oleh salah satu dari mereka? Bagaimana aku dan anak-anak? Kau akan meninggalkan kami bukan? Kau benar-benar jahat jika sampai berani meninggalkan dan menelantarkan istri mu yang sedang hamil dan kedua anakmu. Bahkan jika sampai kau berpikir untuk merespon mereka pun, aku tidak akan memaafkan mu, mungkin aku akan pergi dan menghilang darimu"


ucap Vania panjang lebar yang membuat Varel terkekeh pelan melihat wajahnya yang sangat menggemaskan


"Mengapa kau tertawa hah?"


ketus Vania kesal lalu memukul lengan sang suami


"Aku benar-benar menikmati momen dimana Nona Muda Fernandez sedang cemburu"


jawab Varel jujur


"Apa? Aku tidak cemburu, hanya memikirkan nasib anak-anak ku saja suatu saat nanti dimana Daddy mereka akan meninggalkan mereka karena tergoda dengan wanita cantik diluar sana"


"Astaga, tidak sayang. Aku tidak akan tergoda"


"Bagaimana kau bisa memastikannya?"


tanya Vania menyelidik


"Hidupku sudah dipenuhi dengan bidadari cantik"


jawab Varel seraya mencium punggung tangan istrinya


"Aku bahkan kalah jauh dari mereka, dari segi fisik dan materi"


gumam Vania pelan


"Tidak-tidak, siapa bilang kau kalah jauh? Kau bahkan lebih cantik dari mereka"


"Lalu mengapa kau bisa melupakan mereka? Padahal mereka wanita dari masa lalu mu"


"Aku tidak menganggap mereka bagian dari masa lalu ku sayang, aku bahkan tidak mengenal mereka hanya tau namanya saja"


"Lalu hanya Nona Dinda yang kau anggap bagian dari masa lalu mu?"


"Ya, hanya Dinda"


ucap Varel seraya menatap langit-langit membuat Vania curiga bahwa Varel sedang mengenang kenangan manis mereka


"Dan kau bangga?"


ketus Vania lalu kembali berbalik memunggungi suaminya


"Astaga sayang, tidak aku tidak bangga. Yang membuatku bangga adalah karena bisa memilikimu"


Ucapan Varel yang membuat Vania tersenyum tipis


"Terserah"


jawab Vania malas walaupun tak bisa menahan senyum nya.


*****


Kamar Utama


"Mommy"


teriak Lista yang baru saja masuk ke dalam kamar Mommy dan Daddy nya


"Hei sayang, ada apa? Mommy baru selesai mandi. Oh iya, apa Lista melihat Daddy?"


"Mom, cepatlah pakai ini"


ucap Lista lalu memberikan paper bag yang ada di tangannya


"Ini apa sayang?"


tanya Vania mengerutkan kening lalu membukanya


"Astaga, mengapa Mommy harus memakai gaun yang cantik ini?"


"Mommy, kata Daddy kita akan pergi ke suatu tempat"


"Kemana sayang?"


tanya Vania mengerutkan kening


"Pesta rekan bisnis Daddy"


ucap Lista bersemangat


"Astaga, mengapa Daddy tidak mengatakan apa-apa ke Mommy?"


"Daddy sedang di ruang kerja Mom, Daddy bahkan sudah siap sejak tadi. Ayo Mommy cepat bersiap"


ucap Lista dengan gemasnya


Vania pun menuruti sang putri dan mulai bersiap dengan memakai gaun navy yang sangat indah di tubuhnya


Tak lupa dengan riasan natural yang semakin membuatnya tampak sangat cantik ditambah sepatu heels yang tidak terlalu tinggi dengan warna senada membuat Vania malam ini terlihat seperti Tuan Putri


"Astaga, mengapa gaun ini terlihat sangat indah? Aku merasa seperti akan menikah lagi hihihi"


gumam Vania saat menatap dirinya di cermin besar


Tiba-tiba pintu terbuka


"Sayang, apa kau-"


Ucapan Varel terhenti saat ia melihat sosok bidadari dihadapannya


"Mengapa kau melihatku seperti itu? Apa aku tidak cocok memakainya karena perut buncit ku?"


tanya Vania saat melihat Varel tak berkomentar tentang penampilannya


"Kita tidak jadi pergi saja ya?"


pinta Varel lalu berjalan mendekati sang istri


"Apa aku terlihat sangat jelek? Yasudah kalian saja yang pergi, aku dirumah saja"


"Aku tidak rela jika banyak rekan bisnis ku menatapmu karena kau sangat cantik"


ketus Varel dengan wajah kesalnya membuat Vania tak bisa menahan tawa


"Ceh, jangan menggoda ku Tuan Muda"


"Tapi serius sayang, kau terlihat sangat cantik"


"Ya ya ya terserah kau saja. Jadi bagaimana? Apa kita tidak jadi berangkat?"


"Tidak-tidak, jika kita tidak jadi berangkat putri cadel mu akan memusuhiku berbulan-bulan, dia kan sangat pendendam. Tapi kau harus tetap berada di sisiku"


"Baiklah"


*


*


*