
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Disaat sedang berbincang-bincang dengan Nyonya Park dan kedua anak gadisnya, tiba-tiba mata Vania menangkap pemandangan yang membuat hatinya mendidih, apalagi jika bukan Varel dengan wanita lain
Ya, Varel saat itu sedang berbincang dan sesekali tertawa renyah dengan anak dari seorang rekan bisnisnya, wanita muda berwajah cantik dan tentu saja bertubuh seksi bahkan dress yang ia kenakan sedikit terbuka membuat Vania menatapnya tajam
Setelah melihat pemandangan yang tidak mengenakkan Vania pun membuang muka bahkan ia tidak sadar bahwa Nyonya Park sejak tadi mengajaknya berbicara
Saat tidak mendengar satu patah kata pun yang keluar dari mulut Vania terlebih Nyonya Park berhasil menangkap perubahan raut wajahnya, akhirnya Nyonya Park menatap sekitar hingga ia menangkap sosok Varel yang sedang tertawa renyah dengan seorang wanita membuat Nyonya Park tersenyum kecil melihat raut kecemburuan dari wajah Vania
"Nona apa anda baik-baik saja?"
tanya Nyonya Park seakan tidak tau apapun
"Memangnya aku kenapa Nyonya?"
tanya Vania yang telah mengangkat kepalanya dan menatap manik mata Nyonya Park
"Jika tidak suka datangi dan katakan kepada Tuan Varel"
ucap Nyonya Park tersenyum kecil
"Apa yang tidak suka?"
tanya Vania sedikit terkejut dan berhasil menutupinya namun tidak terhadap Nyonya Park yang sudah tersenyum sejak tadi
"Oh iya aku lupa bahwa kau mengetahui apapun"
gumam Vania pelan yang tentu saja membuat Nyonya Park tidak tahan untuk tidak tertawa
"Nona anda sangat lucu"
ucap Nyonya Park disela-sela gelak tawanya
"Apa akan terlihat berlebihan jika aku melarang Varel mendekati wanita lain yang merupakan anak dari rekan bisnisnya?"
tanya Vania menatap Nyonya Park
"Tentu saja tidak Nona karena anda mempunyai hak atas itu terlebih Tuan Varel adalah suami sah anda. Saya dan suami saya sudah lama berada di dunia bisnis jadi saya sedikit mengerti tentang dunia bisnis terlebih banyak yang suka menjodohkan anaknya dengan rekan bisnis. Bahkan kedua anak gadis saya sudah sering mendapat perjodohan dari rekan bisnis suami saya namun saya maupun suami saya tidak pernah menginginkan itu karena kami menyerahkan masalah hati kepada anak kami"
ucap Nyonya Park tersenyum menatap kedua anak gadisnya yang sedang asyik menikmati camilan
Dan akulah contohnya Nyonya Park, aku dijual hanya untuk menebus hutang Pamanku dan untuk membantu perusahaan Pamanku yang diambang kebangkrutan. Dulu aku sering berpikir bahwa pernikahan ini tidak akan berlangsung lama dan aku akan dibuang tanpa dianggap sebagai istri, tapi aku salah besar bahkan pernikahan yang kujalani ini sudah berbulan-bulan lamanya, terlebih saat ini suamiku sangat menginginkan anak dariku.-Vania
"Jika anda ingin mendatangi Tuan Varel datangi lah Nona karena anda harus ekstra ketat dengan suami anda terlebih Tuan Varel masih muda, tampan dan sangat kaya tentu saja hal itu membuat para wanita memikirkan banyak cara untuk mendekatinya"
ucap Nyonya Park tersenyum kecil
"Tidak Nyonya Park, aku tidak harus melakukan itu. Biarkan saja selagi itu masih wajar, aku juga tidak cemburu"
jawab Vania tersenyum seraya menatap Varel yang masih asyik bercanda gurau dengan wanita seksi itu
"Hati dan mulut itu bertolak belakang Nona"
Vania tidak mendengarkan lagi ucapan Nyonya Park karena ia masih memperhatikan Varel dari jauh
Saat melihat tangan wanita itu merangkul lengan Varel, hati Vania benar-benar mendidih tanpa sadar ia sudah berjalan mendekati Varel dengan tatapan tajamnya membuat Nyonya Park yang ditinggalkannya tanpa permisi hanya tersenyum kecil
"Katanya tidak cemburu namun tanpa sadar sudah mendekat dan sepertinya ingin mencakar wanita itu"
gumam Nyonya Park tertawa kecil
*****
"Sayang?"
panggil Varel terkejut saat melihat Vania berjalan mendekatinya
Dan untuk wanita itu? Tentu saja ia masih dengan tanpa malunya merangkul lengan Varel mesra membuat Vania menatapnya tajam
Melihat tatapan tidak bersahabat dari sang istri, Varel pun sekuat tenaga melepaskan rangkulan dari wanita itu
"Mengapa kau kemari? Apa sudah bosan?"
tanya Varel lembut seraya mencium pucuk kepala sang istri
"Tidak, aku hanya ingin memastikan jika kau benar-benar sudah bosan hidup"
jawab Vania santai yang membuat Varel, wanita itu bahkan Tuan Park dan ayah dari wanita itu terkejut
"A-apa maksudmu?"
tanya Varel terkejut
"Tidak apa-apa"
jawab Vania singkat lalu berjalan pergi namun Varel menahan lengannya hingga langkahnya terhenti
"Nona apa aku boleh berbicara berdua dengan Tuan Varel?"
Tiba-tiba wanita itu berbicara dengan tanpa malunya membuat Vania berbalik dan tersenyum manis kepadanya, tentu saja itu membuat Varel bergidik ngeri
"Silahkan saja, jika kau ingin membawanya pulang juga silahkan karena aku tidak membutuhkannya lagi. Jaga dia dengan baik karena banyak wanita penggoda yang suka merebut suami orang"
"Benarkah aku boleh mengajaknya pulang bersamaku?"
tanya wanita itu dengan senang
"Nona Kim tolong bersikap sopan, dia adalah istri saya jadi tidak akan mungkin anda bisa membawa saya pulang bersama anda"
ucap Varel penuh penekanan yang membuat wanita itu dan ayahnya terkejut
"Apa? Istri? Ja-jadi Tuan Varel sudah menikah?"
tanya ayah wanita itu tanpa sadar
"Ya saya sudah menikah dan ini istri saya, jika Tuan Kim masih belum bosan berada di perusahaan sebaiknya jangan ikut campur urusan pribadi saya"
Dan ancaman itu tentu saja berhasil membuat Tuan Kim maupun Nona Kim sang anak terdiam seribu bahasa
"Nona Kim? Bawa saja dia"
ucap Vania dingin lalu berjalan menjauh setelah menepis kasar tangan Varel yang menahan lengannya.
*****
"Apa sudah selesai Nona?"
tanya Nyonya Park menahan senyum
"Astaga aku benar-benar malu sampai tidak bisa mengendalikan diriku seperti itu"
ucap Vania yang tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri membuat Nyonya Park bahkan Dika dan Ziva yang tak jauh darinya menahan senyum
"Nona Muda makanlah ice cream ini karena kata orang makanan yang manis bisa membuat hati lebih tenang"
Tiba-tiba Ziva datang membawa satu buah cup ice cream dan memberikannya kepada Nona Muda
"Iya pengawal anda benar Nona, dulu saat saya sering menangis ibu saya selalu memberikan cokelat maupun ice cream untuk menenangkan saya"
ucap Nyonya Park terkekeh pelan
"Wah benarkah? Terima kasih Ziva kau memang sangat bisa diandalkan"
ucap Vania tersenyum senang lalu memakan ice cream yang diberikan Ziva kepadanya
"Ziva ini benar-benar nyata sekali, aku merasakan ketenangan hati setelah memakannya. Apa ice cream ini didalamnya ada obat penenang?"
tanya Vania terkekeh pelan
"Nona anda bisa saja, didalam ice cream itu tidak ada campuran apapun Nona, perasaan dan ketenangan itu alami"
ucap Nyonya Park yang juga terkekeh pelan sedangkan Ziva hanya tersenyum kecil
Astaga dia sudah bisa tertawa seperti itu disaat tadi menatapku tajam? Mengapa moodnya selalu berubah-ubah?-Varel
"Sayang"
ucap Varel yang hendak mencium pucuk kepala sang istri namun Vania menolak dan membuat Varel terdiam lalu duduk tepat disebelah istrinya
"Kau sudah lelah?"
tanya Varel lembut
"Kau ingin pulang? Sudah berpamitan kepada wanita mu?"
tanya Vania dengan ketusnya membuat Varel menghela nafas berat
Lihat lagi-lagi saat aku mengajaknya berbicara ia selalu memarahiku namun saat aku tidak ada tadi ia tertawa bahagia bersama Nyonya Park dan Ziva.-Varel
"Kau cemburu?"
bisik Varel pelan yang membuat Vania menatapnya tajam
"Untuk apa aku cemburu dengan suami yang jahat sepertimu? Sana pergi datangi wanita mu, aku tidak ingin melihat wajahmu"
ketus Vania dengan kesalnya
"Sayang kita kembali ke hotel ya, besok kita jalan-jalan mengelilingi Seoul"
bujuk Varel dengan wajah memelasnya membuat Vania menoleh seketika
"Benarkah?"
tanya Vania dengan senangnya
"Tentu saja asalkan kita kembali ke hotel sekarang untuk beristirahat"
"Kau yakin setelah sampai hotel kita langsung beristirahat?"
tanya Vania menatap Varel dengan penuh curiga membuat Varel terlihat gugup terlebih Vania menanyakannya didepan banyak orang
Astaga mengapa dia dengan santainya menanyakan itu? Lihat Nyonya Park bahkan tersenyum melihat kami.-Varel
*
*
*