
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Beberapa tahun kemudian
"Mommy, where is my phone?!"
"Mom, dasi Koko mana?!"
"Mommy?!"
Teriakan-teriakan yang tidak pernah asing ketika mereka akan pergi ke sebuah acara.
Vania yang saat itu sedang merapikan dasi Varel pun harus bergegas mendatangi anak-anaknya yang sudah berteriak mencarinya. Anak-anak Vania benar-benar selalu menyusahkan nya saat mereka sedang bersiap-siap seperti ini.
Diketahui bahwa hari ini mereka akan menghadiri acara perpisahan kelulusan Varo di International School. Dan seperti biasanya, akan ada begitu banyak teriakan-teriakan sang anak yang membuat Vania harus bolak balik mendatangi kamar mereka satu persatu.
Keempat anak Vania mempunyai sifat dan karakter yang sangat berbeda hingga membuatnya terkadang cukup susah memahami karakter masing-masing.
Seperti sekarang dimana Varo yang akan selalu panik jika dasi nya sedikit miring, jas nya sedikit kusut, atau rambutnya sedikit berantakan. Atau seperti Lista yang akan selalu membutuhkan waktu tiga puluh menit hanya untuk sekedar berdiam diri menatap lemari pakaiannya untuk mencari outfit yang akan ia pakai. Atau seperti Al yang pasti akan selalu kehilangan barang-barang berharganya saat hendak berangkat. Bagaimana dengan El? Bocah itu benar-benar ajaib. Ia tidak perlu waktu lama untuk bersiap-siap dan akan menunggu di meja makan untuk memakan ice cream nya. El bukan tipe anak yang ribet soal outfit dan gaya, katanya mau memakai apapun wajahnya tetap tampan. Ia juga bukan anak yang rewel, berikan saja ice cream padanya, ia akan siap menunggu berjam-jam.
"Hei, cucu Oma sendirian saja" ucap Mama Melinda saat melihat cucunya sibuk memakan ice cream seraya menatap ikan peliharaannya di akuarium.
"Seperti biasa, Oma" jawab El seadanya.
Mari kita pindah ke keluarga yang lain.
Bagaimana kehidupan Sebastian selama beberapa tahun terkahir ini? Kau tidak akan percaya bahwa dirinya akan mempunyai seorang anak perempuan yang sangat mirip dengan sifatnya, pecicilan, genit, blak-blakan, dan selalu tebar pesona dengan siapapun. Sebastian dan Tika mempunyai seorang putri yang bernama Joyline, seumuran dengan si kembar.
Sedangkan keluarga Angeline dan Hendra, mereka dikaruniai dua orang anak, Lorra dan Nathan yang dimana Lorra juga seumuran dengan si kembar dan Joyline sedangkan Nathan lebih muda tiga tahun darinya.
Clara dan Reza pun kembali dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Ricko. Ricko berusia tidak jauh dari Joyline hingga membuat Clara wanti-wanti jika kedua anak lelakinya akan mengambil sifat playboy Reza.
Begitu juga dengan Vandi dan Sandra yang saat ini dikaruniai calon dua orang anak dengan anak pertama mereka yang bernama Sheila yang juga seumuran dengan Nathan. Sandra pun diketahui sedang hamil lima bulan. Saat mendengar kabar bahwa anak Vandi perempuan, betapa senangnya Lista karena bertahun-tahun akhirnya ia mempunyai teman bermain selain Echy.
Dimas dan Anna pun dikaruniai seorang anak lelaki yang menuruni sifat Dimas. Dingin, acuh, kutu buku, dan mayat hidup. Anna bahkan harus selalu mengelus dada ketika melihat Dimas dan Lucas sedang bersama.
Daniel. Ah, akhirnya setelah bertahun-tahun ia menetapkan pilihannya pada Alea. Hubungan mereka cukup banyak drama yang menghiasi. Bertahun-tahun berperang dengan diri sendiri, akhirnya Alea pun memantapkan hatinya untuk menerima seorang pria dengan setengah hati karena setengahnya lagi sudah dibawa pergi jauh. Mereka dikaruniai seorang anak lelaki yang bernama Xavier, bocah yang menuruni kepintaran Daniel dan menuruni kecerobohan Alea.
*****
"Aunty Dewi!" teriak El senang ketika melihat keluarga Paman Bram baru saja sampai. Dengan segera bocah itu berlari menghampiri Dewi.
"Astaga, kenapa belepotan seperti ini? Dasar cemong" ucap Dewi seraya mengambil tissue dari dalam tasnya dan mengelap wajah El yang belepotan karena ice cream.
"Ayo, kita makan ice cream." El segera menarik tangan Dewi dan Dita lalu membawa mereka ke meja makan agar menemaninya memakan ice cream seraya menunggu kedatangan yang lain.
Tak lama kemudian, satu persatu keluarga mereka pun sampai dan mulai membuat rumah utama menjadi ramai.
"Hi everyone, where is my lover?!"
Semua orang pun tau bahwa itu suara cempreng Joyline yang akan selalu mencari keberadaan Al.
"Anakmu tidak pernah bisa diam" ucap Mama Melinda yang membuat Sebastian hanya bisa pasrah.
Ia tidak tau lagi harus menutup mulut anaknya menggunakan apa. Dalam hatinya, Sebastian sangat menyesal dulu pernah nakal karena ternyata kenakalannya malah diturunkan kepada sang anak perempuannya.
"Untung saja Sheila tidak seperti itu" ucap Vandi ketika melihat sang anak yang berlari menghampiri El di meja makan.
Sheila sepertinya akan menuruni sifat si kembar yang tidak terlalu suka keramaian. Ia akan pergi mencari tempat di pojokan yang menurutnya sangat nyaman.
"Tidak terasa semuanya sudah menjadi Ayah" ucap Paman Bram yang membuat semua orang tersenyum tipis.
"Aku bahkan tidak menyangka ketiga pria aneh itu menikah akhirnya. Aku kira hanya El yang akan hidup normal."
Mama Melinda mengangguk. "Benar, diantara kalian memang hanya El yang normal, kau dan Varel kan memang aneh."
Tentu saja ucapan Mama Melinda membuat semua orang tertawa.
"Shalom."
Terdengar suara dari luar yang bisa dipastikan itu adalah keluarga Dimas. Sepertinya, hanya Lucas dan Xavier lah yang sedikit normal dari yang lain.
"Hei, cucu Oma. Bagaimana kabarnya?" tanya Mama Melinda saat melihat Lucas berjalan mendekatinya.
Lucas mencium punggung tangan Mama Melinda dengan sopan. "Baik, Oma."
"Anak ini pintar sekali" puji Mama Melinda yang membuat Joyline kesal.
"Joy kenapa tidak dipuji? Memangnya Joy tidak pintar?"
"Astaga, Sayang. Itu anak siapa?" bisik Sebastian kepada Tika.
Joyline yang mendengarnya pun mendengus kesal. "Hei, ini Joy anak Papi. Anak yang dibuat dengan sepenuh hati."
"Bagaimana cara membuatnya?"
Celetukan Xavier membuat semua orang panik. Tolong siapapun jauhkan Xavier dari Joyline.
*****
Acara kelulusan pun berjalan dengan lancar dimana Varo mendapatkan nilai tertinggi diantara teman seangkatannya. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa memang sejak kecil, Varo selalu mendapatkan juara bahkan dua lemari besar tidak cukup menyimpan piagam, piala, dan mendali yang ia dapatkan selama bersekolah.
"Jadi, mau had—"
"Koko tidak mau apa-apa" ucap Varo memotong pembicaraan Papa Lyno.
Varo tau arah pembicaraan Papa Lyno kemana sehingga ia harus cepat-cepat menyudahinya.
"Jangan bilang Papa mau membelikannya mobil lagi?" tebak Daniel tepat sasaran.
Papa Lyno hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Daniel.
"No! Papa, jangan lakukan itu lagi. Mobil Varo saja sudah lebih dari lima.." ucap Vania mengingatkan.
Bagaimana tidak? Setiap Varo mendapat juara saja baik Papa Lyno, Daniel, maupun Sebastian pasti akan memberikannya hadiah yang sangat mewah termasuk mobil.
"Koko baru saja lulus SMA sudah mempunyai mobil banyak. Mau dipakai untuk apa?" ucap Varo yang mengundang gelak tawa semuanya.
Semua orang pun kembali fokus menikmati pesta yang diadakan oleh Varel dalam rangka ucapan syukur atas kelulusan Varo yang mengundang teman-teman seangkatan sang anak, tetangga, dan anak-anak panti asuhan.
Vania tersenyum tipis ketika melihat seluruh keluarganya berkumpul bersama. Tak pernah sedikit pun ia berpikir bahwa hidupnya akan berubah 180 derajat. Yang awalnya ia mengira penikahannya hanya akan bertahan beberapa minggu saja ternyata Tuhan Maha membolak-balikkan hati manusia. Nyatanya, ia bahkan sudah mempunyai empat anak.
Tak pernah terbayangkan oleh Vania yang saat itu sedang berjuang mencari nafkah untuk menghidupi dirinya sendiri bisa menikah dengan seorang pria yang sangat kaya. Pria yang jauh berbeda darinya, yang jika dipikirkan dengan akal sehat manusia, semua itu benar-benar mustahil.
Vania bersyukur atas semua yang terjadi dalam hidupnya, suami yang begitu mencintainya, keempat anaknya yang tidak bisa jauh darinya, mertua yang memperlakukannya dengan sangat baik, sahabat dekatnya yang selalu ada untuknya, dan teman-teman suaminya yang baik padanya.
Terima kasih Tuhan.-Vania.
Tidak ada yang tau dimana perasaan bisa berlabuh, tidak ada yang bisa menebak bagaimana hari esok, dan tidak ada yang bisa memaksakan hatinya.
"Echy, kita akan menikah. Aku tidak menerima penolakan."
Benar kan? Siapapun tidak pernah bisa menebak dimana hatinya memilih sang pemilik.
End.
*
*
*