Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Mengikhlaskan


Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Suara tangisan mulai terdengar, hingga ruangan itu penuh dengan air mata kehilangan. Bahkan baby Al dan baby El tiba-tiba menangis dengan kencang membuat siapapun yang mendengarnya sungguh akan terluka.


Tidak, tolong selamatkan istriku.-Varel


Varel benar-benar merasakan bahwa tubuhnya lemas bahkan untuk berdiri pun ia tidak sanggup. Bagaimana tidak? Baru saja ia bertemu sang istri setelah beberapa bulan tak pernah berkomunikasi dan baru saja ia melihat istrinya berjuang demi kedua anaknya yang ingin melihat dunia. Dan sekarang? Ia melihat istrinya berbaring, tertutup kain putih dan tidur dengan tenang membuat Varel sangat amat merasakan kesakitan yang dalam.


“Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku lagi?” lirih Varel dengan rasa sakit yang amat luar biasa ia rasakan


Semua orang yang ada di ruangan hanya bisa diam dan menangis melihat sosok wanita yang berbaring tertutup kain putih, yang baru saja memberikan hadiah yang sangat luar biasa untuk mereka semua


“Permisi, Tuan. Nona Muda akan kami bawa ke ruangan pemandian jenazah” ucap dokter Ryan dengan sopan


Varel berusaha untuk berdiri dengan dibantu oleh Daniel. “SIAPA? SIAPA YANG KAU SEBUT JENAZAH?! ISTRIKU BAIK-BAIK SAJA” teriak Varel dengan kencang membuat tangis semua orang semakin terdengar


“Rel, tenanglah..”. Bas mendekati Varel seraya menepuk pelan bahu sahabatnya tersebut


Papa Lyno langsung mengambil alih perintah dengan meminta dokter Ryan dan para perawat membawa Vania ke ruangan pemandian jenazah karena ia tau jika Varel tak akan pernah bisa menerima semuanya


“Nak, Papa yang akan mengurus semuanya” ucap Papa Lyno pelan


“Tidak, Pa. Vania baik-baik saja dan bahkan ia tadi masih bisa tersenyum kepada Varel”


“Hidup dan mati tidak ada yang tau. Ikhlaskan Vania”


Setelah mengucapkan itu, Papa Lyno dan beberapa orang keluar ruangan dengan mengikuti dokter Ryan yang akan membawa Vania ke ruangan pemandian jenazah meninggalkan Varel yang masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa istrinya sudah pergi.


Karena terlalu sibuk berperang dengan pikirannya, tanpa sadar Varel mendengar tangisan keras yang keluar dari mulut kedua anaknya yang baru saja lahir. Tangisan yang sangat keras dan membuat semua orang akan merasakan kesedihan ketika mendengarnya.


Perlahan, Varel berusaha untuk berjalan mendekati baby Al dan baby El yang digendong oleh Mama Kusuma dan Mama Melinda. Varel menjulurkan tangannya seakan meminta untuk menggendong baby El yang ada di pelukan Mama Kusuma.


“Nak, bagaimana bisa Mommy meninggalkan kita?” lirih Varel pelan seraya menatap lekat wajah baby El yang mempunyai mata yang indah seperti mata istrinya


Melihat hal itu, Lista dan Varo langsung berlari mendekat dan memeluk kaki Varel, berusaha untuk saling menguatkan satu sama lain dan berusaha untuk belajar menerima semuanya.


“Daddy..”


“Iya, Sayang?”


Hati Varel benar-benar sakit mendengar isak tangis Lista dan Varo ditambah lagi tangisan baby Al dan baby El yang tidak berhenti sejak tadi membuat Varel semakin merasa sakit.


Apapun akan ku lakukan, aku hanya ingin istriku.-Varel


*****


Beberapa saat kemudian, hanya tersisa Varel dan Daniel di dalam ruangan bersalin karena semua orang sudah bersama-sama menemui Vania di kamar jenazah. Terlebih baby Al dan baby El yang sudah dibawa oleh perawat agar memindahkan mereka di ruangan khusus bayi.


“Rel..”


“Apa kesalahanku sungguh tak bisa dimaafkan, El?” tanya Varel menghela nafas kasar


Ada jeda beberapa saat sebelum ia melanjutkan ucapannya. “Tuhan sepertinya sedang menghukumku sekarang. Apa dengan aku berpisah beberapa bulan saja tidak cukup untuk menebus semua kesalahan yang pernah ku lakukan? Apa dengan harus kehilangan Vania, semuanya akan cukup menebus kesalahanku?”


Daniel hanya bisa diam tanpa tau harus melakukan apa. Saat ini keadaan Varel benar-benar kacau dan lebih kacau dari beberapa bulan yang lalu hingga membuat Daniel merasa bersalah terhadapnya


“Rel, maafkan aku.. Maaf karena aku belum bisa menjaga gadis kecil kita..”. Ucapan Daniel membuat Varel menoleh seketika


“El, akulah yang bersalah disini. Andai saja.. andai saja aku tidak meminta anak dari Vania, pasti ia baik-baik saja sekarang..”


“Maaf, aku tidak bisa menjaga Vania dengan baik..”


Keduanya terdiam dengan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hanya helaan nafas yang terdengar beberapa kali menandakan bahwa kedua pria yang terduduk di ruangan bersalin tersebut sedang tidak baik-baik saja.


Varel yang terdiam dengan perasaan bersalahnya karena dalam pikirannya, jika ia tidak meminta Vania untuk melahirkan anak untuknya, maka semuanya akan baik-baik saja dan Vania tidak akan meninggal karena persalinan. Varel benar-benar menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi sekarang. Ia benar-benar merasakan kehilangan, kehilangan yang sangat tidak ingin ia rasakan sejak dulu.


Sedangkan Daniel terdiam dengan perasaan bersalahnya juga, dimana andai saja ia tidak egois beberapa bulan terakhir ini, maka Vania akan memiliki banyak kenangan bersama suami dan anak-anaknya. Namun, dengan bodohnya ia menyembunyikan Vania dan tidak mengijinkan siapapun untuk menghubungi sang adik membuat Daniel semakin merasa bersalah sekarang.


Bagaimana aku bisa hidup dengan perasaan bersalah ini, aku tidak ingin apa-apa, aku hanya ingin meminta istriku agar bisa kembali bersamaku. Tuhan, tolong aku.. Aku memohon kepada-Mu untuk kembalikan istriku padaku. Aku selalu berjanji bahwa akan menjaganya namun lagi-lagi aku mengingkar janjiku sendiri. Saat ini, aku tidak bisa menjanjikan apa-apa, hanya saja aku akan berusaha untuk membahagiakannya. Aku tidak berjanji, tapi aku sungguh ingin membuktikannya. Tolong, kembalikan istriku..-Varel


Berkali-kali Varel berteriak dan meminta dalam hatinya, meminta bahwa kabar yang ia dengar hanya mimpi buruk yang terjadi. Namun, saat ia kembali membuka mata, ruangan itu masih sama. Ruangan yang jelas dimana beberapa saat yang lalu ia bisa mengingat bahwa istrinya berjuang melahirkan kedua anaknya karena ingin anak-anaknya bisa melihat dunia. Ruangan yang menjadi saksi bisu bagaimana ia selalu meneriakkan para dokter dan perawat jika mendengar keluhan sang istri. Dan ruangan yang dimana saat ini hanya tersisa dirinya dan Daniel juga kenangan yang sangat amat menyakitkan untuknya.


Varel tidak tau bagaimana kehidupannya kedepan nanti jika istrinya pergi meninggalkannya seperti ini. Banyak pikiran yang melintas sehingga ia tidak sanggup untuk memikirkan apa-apa. Hanya kosong dan hampa seperti ruangan bersalin tanpa ranjang rumah sakit. Begitulah yang Varel rasakan saat ini. Untuk menangis pun rasanya ia tidak sanggup, hanya bisa mengeluarkan helaan nafas yang berat yang menandakan bahwa dirinya sekarang tidak baik-baik saja.


Mengapa kau pergi meninggalkanku?-Varel


*


*


*