Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Lista Cerewet


Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Lista yang mendengar kabar dari Cherry bahwa Bryan dan Billy mengajak Varo jalan-jalan sore pun kesal lalu pergi menuju kamar kedua orang tuanya untuk meminta mereka mengajaknya jalan-jalan juga.


Memang, setelah mereka sampai di rumah Richard, mereka belum sempat berjalan-jalan bersama mengelilingi kota tersebut.


Lista segera membuka pintu dan matanya terbuka dengan sangat lebar ketika melihat kedua orang tuanya yang saling berciuman.


"Daddy! Oh My God! My Eyes are Stained!"


Tentu saja setelah mendengar suara putri kecilnya, Vania benar-benar terkejut hingga mendorong kasar sang suami sampai terjatuh ke lantai.


"Hahaha." Tawa Lista pecah ketika melihat Varel yang terjatuh di lantai.


"Astaga, Sayang!" ucap Vania panik sedangkan sang suami hanya bisa mengelus pelan bokongnya yang sakit.


"Kunci lah pintu untuk berjaga-jaga. Ini rumah Uncle Richard" gerutu Vania pelan seraya menatap sang suami dengan kesal sedangkan Varel hanya terkekeh.


"Ada apa, Cici?" tanya Varel lalu menatap anak perempuannya.


"Koko diajak jalan-jalan oleh Uncle Bry dan Kak Billy. Mengapa Cici tidak diajak?!" tanya Lista dengan wajah kesalnya seraya duduk di pangkuan Varel.


Varel terkekeh pelan seraya mengelus pucuk kepala anak perempuannya. "Mungkin karena Cici berisik" jawab Varel pelan.


Lista segera menatap Varel dengan tajam. "Daddy! Lista kemari bukan untuk mendengar Daddy mengejek Lista."


Sedangkan Vania hanya tertawa mendengar obrolan kecil suami dan anak perempuannya tersebut.


"Oh ya? Lalu, untuk apa princess Daddy kemari?"


"Memergoki Mommy dan Daddy berciuman?"


Uhuk uhuk


Vania yang sedang meminum pun langsung tersedak mendengar ucapan sang anak.


"Mom, Cici hanya bercanda" ucap Lista terkekeh pelan sedangkan Vania sudah malu karenanya.


"Cici ingin jalan-jalan berburu kuliner disini" ucap Lista dengan manjanya.


Varel terkekeh pelan seraya tangannya mengelus pucuk kepala sang anak berkali-kali. "Daddy tidak punya uang" ucap Varel yang membuat Lista benar-benar terkejut.


Dengan segera Lista turun dari pangkuan Varel lalu menatap Daddy nya dengan tatapan terkejutnya. "Really?! Oh My God! Cici harus meminta Papa untuk mentransfer uang. Bagaimana bisa Daddy kehabisan uang?! Apa kita tidak bisa kembali ke Indonesia?! Aaaa tidak!! Om Dimas! Kak Tian!"


Vania dan Varel hanya menggeleng pelan melihat kelakuan anaknya yang benar-benar menyebalkan sekaligus menggemaskan.


Bagaimana bisa ia masih memikirkan Sekretaris Dim atau Tian saat mendengar Daddy nya kehabisan uang? Astaga, Lista. Tidak diragukan lagi bahwa kau memang anak Varel.


*****


Hari ini adalah hari minggu dimana Sekretaris Dim sudah berjanji untuk mengantarkan Anna membeli beberapa buku. Dan disinilah Sekretaris Dim berada, di sebuah mall besar milik Tuan Muda.


Untunglah hari ini adalah weekend sehingga pekerjaannya tak terlalu banyak. Sebenarnya sih tidak, Sekretaris Dim memang sengaja mengosongkan jadwalnya hari ini hanya untuk menemani Anna berbelanja.


Hubungannya dengan Anna pun semakin membaik namun masih tetap pada tanpa status. Sekretaris Dim sungguh ingin segera mempersunting gadis pujaannya namun ia belum berani berbuat apa-apa mengingat semua kesalahan fatal yang pernah ia lakukan di masa lalu.


Saat sedang memainkan ponselnya, tiba-tiba ponsel Sekretaris Dim berdering menandakan sebuah pesan masuk dari Bram, tangan kiri Tuan Muda Varel yang memfokuskan dirinya pada geng mafia yang dikelola oleh Varel.


Bram Mandika


Bram mengirimkan foto.


Tuan, hadirlah. Pestanya akan dilaksanakan dua minggu yang akan datang seraya menunggu Tuan Muda pulang.-Bram.


Ah, ternyata itu adalah undangan pernikahan Bram yang sempat tertunda.


Sial.-Dimas.


"Mengapa mereka semua ingin menikah?" gumam Sekretaris Dim pelan.


Ia masih belum mengerti ada apa dengan semua orang yang seolah-olah ingin secepatnya menikah seperti Sebastian dan Tika juga Clara dan Reza yang sudah melangsungkan pernikahan. Bram dan calon istrinya juga akan melangsungkan pernikahan. Dan, dengar-dengar juga Dokter Hendra ingin secepatnya menikahi Angeline. Bagaimana dengan Vandi? Dia pasti akan menikah setelah wisuda.


Yang tersisa hanya dirinya dan Daniel. Ah, Daniel.. Entah kapan ia akan mempercayai cinta lagi?


"Hei, Dim!"


Panggilan tiba-tiba itu membuat lamunan Sekretaris Dim buyar seketika. "Kau sudah lama menunggu?" tanya Anna yang langsung duduk dihadapan Sekretaris Dim.


Aku? Kapan menikah?-Sekretaris Dim.


"Dim?! Mengapa melamun?"


"Ah, tid— aw!"


Tiba-tiba Sekretaris Dim menggigit lidahnya sendiri.


****, siapa yang sedang membicarakan ku?-Sekretaris Dim.


*****


Malam ini, Lista tiba-tiba merengek meminta berjalan-jalan diluar. Karena melihat cucunya yang menangis, akhirnya Richard pun memutuskan untuk mengajaknya berjalan-jalan juga bersama sang istri.


Sebenarnya, Varel ingin sekali mengajak istri dan anaknya pergi ke luar namun entah kenapa tiba-tiba cuaca malam ini sangat dingin sehingga Varel memutuskan untuk tidak jadi pergi mengingat mereka akan membawa kedua bayi yang berusia lebih satu bulan.


"Daddy, ayo kita pergi" ucap Lista untuk yang kesekian kalinya.


Varel berkali-kali menghela nafas berat. "Sayang, cuaca sangat dingin dan Daddy tidak mungkin membawa kedua adikmu keluar" ucap Varel yang memberikan penjelasan namun tetap tidak didengar oleh anak perempuannya.


"Besok saja bagaimana?" tawar Varel yang membuat Lista menggeleng tegas.


Vania yang saat itu sedang menyusui baby El yang rewel pun menghela nafas ketika mendengar rengekan Lista yang belum selesai hingga akhirnya ia keluar dari kamar membawa bayi dalam pelukannya.


"Sayang, pergilah bersama Cici" ucap Vania yang membuat Varel mau pun Lista terkejut.


Varel tidak ingin keluar menikmati pemandangan malam yang indah namun meninggalkan istrinya yang sedang kesusahan mengurus kedua anaknya. Maka dari itu, Varel menolak keras untuk pergi tanpa sang istri.


Richard pun berjalan mendekat. "Lista, bagaimana jika jalan-jalan bersama Grandpa dan Grandma?" tawar Richard yang membuat Lista segera membulatkan matanya.


"Benarkah?" tanya Lista dengan senang.


Ketika melihat anggukan Richard, Lista pun segera berlari kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.


"Uncle, tidak perlu. Daddy nya akan membawanya keluar" ucap Vania yang merasa tidak enak karena merepotkan Richard.


Richard menggeleng pelan. "Varel tidak bisa keluar tanpa mu. Tenang saja, Uncle akan menjaganya."


Vania hanya bisa menghela nafas berat ketika melihat punggung Richard yang semakin lama semakin menjauh. Ia benar-benar tidak tau apa yang terjadi pada Lista sehingga menjadi sangat cerewet.


"Kak, i am sorry" ucap Bryan tiba-tiba yang membuat Vania menoleh.


"Hei, mengapa kau meminta maaf, Bry?" tanya Vania tertawa.


Bryan menghela nafas. "Karena aku tidak membawa Lista pergi tadi" ucap Bryan pelan.


Vania tersenyum tipis. "Tidak masalah. Kak Vania mengerti mengapa kau tidak membawanya karena Lista akan sangat cerewet dan ia pun tidak akan berani bersepeda jauh" ucap Vania.


"Mengapa Lista menangis sejak tadi? Aku baru kali ini melihatnya begitu cerewet."


"Entahlah, Kak Vania juga tidak mengerti apa yang terjadi padanya" jawab Vania seraya menghela nafas berat.


*


*


*