Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Gelagat Aneh


Jangan lupa untuk VOTE ya🥰..


Happy Reading Guys😘!!!!


*****


Pagi ini Vania terbangun dari tidurnya pukul 05:00 WIB karena ia akan kembali berkuliah dengan jadwal pagi pukul 07:00 WIB


Setelah membuka tirai jendela, Vania pun keluar dari kamar menuju dapur karena entah kenapa ia ingin sekali rasanya membuat bekal untuk kedua anaknya


"Nona Muda perlu bantuan?"


tanya Bi Ijah yang melihat Vania berjalan mendekatinya


"Tidak Bi, aku hanya ingin membuat bekal untuk Varo dan Lista"


"Nona Muda biarkan saya saja yang membuat bekal untuk Tuan Kecil dan Nona Kecil"


ucap Bi Ijah sopan


"Tidak perlu Bi, biarkan aku saja"


ucap Vania lalu memulai kegiatan masaknya dan tetap dibantu oleh Bi Ijah


Ditengah-tengah kesibukan membuat bekal untuk kedua anaknya, tiba-tiba Bi Ijah mengeluarkan suara


"Maaf Nona Muda jika saya lancang, apa saya boleh tau umur kandungan Nona Muda?"


tanya Bi Ijah yang sukses membuat Vania menghentikan aktivitasnya


"Aku tidak hamil Bi, mengapa Bi Ijah bisa mengatakan bahwa aku hamil?"


tanya Vania mengerutkan kening


"Apa Nona Muda pernah memeriksanya?"


"Pernah sekali, dengan menggunakan test pack di malam hari tapi hasilnya negatif Bi, tolong rahasiakan ini dari Varel"


"Nona Muda cobalah untuk memeriksanya ke rumah sakit agar lebih akurat. Maaf saya lancang jika sudah berkata demikian karena saya melihat perubahan sikap Nona Muda setelah kembali berbulan madu terlebih perut Nona Muda terlihat membesar. Jika umur kandungan Nona Muda masih muda berarti kemungkinan besar Nona Muda akan mengandung anak kembar. Maaf saya berbicara panjang lebar Nona Muda karena anak saya juga pernah seperti Mona Muda yang tidak mengetahui bahwa dirinya hamil"


"Benarkah? Astaga aku bahkan tidak tau bahwa perutku terlihat membesar. Terima kasih nasihatnya Bi aku akan mencoba memeriksanya kembali"


ucap Vania yang sangat antusias


"Sama-sama Nona Muda, saya senang melihat perubahan sikap Nona Muda sejak kemarin"


"Apa aku terlihat sangat merepotkan Bi?"


"Tentu saja tidak Nona Muda"


"Terima kasih banyak Bi. Aku akan membangunkan suami dan anak-anakku"


ucap Vania yang berpamitan lalu berjalan menuju lantai atas.


*****


Kamar Anak


"Wah ada apa ini? Tumben sekali semuanya sudah rapi dan siap?"


ucap Vania saat melihat kedua anaknya sedang memasang sepatu


"Mommy cepatlah mandi"


"Mengapa terburu-buru sayang? Mommy akan berangkat setelah mengantarkan kalian"


"No, hari ini kita berangkat bersama dan Daddy mengatakan hal itu"


"Daddy? Apa Daddy sudah bangun?"


"Daddy sedang bersiap Mom, ayolah Mommy siap-siap dan kami menunggu di bawah"


ucap Varo dan Lista lalu berlari ke lantai bawah


Ada apa dengannya? Tumben sekali.-Vania


*****


"Astaga sayang maafkan aku yang belum menyiapkan pakaianmu"


ucap Vania yang melihat Varel sedang mengancingkan kemejanya


"Tidak masalah. Mandilah karena aku akan mengantarkan kalian"


"Ada apa denganmu? Mengapa wajahmu sangat pucat sekali?"


"Entahlah sejak bangun tadi perutku sangat mual dan aku bolak balik toilet namun tidak memuntahkan apapun"


"Jika kau sakit, tidak perlu bekerja dan urungkan saja niatmu untuk mengantarkan kami"


"Sayang aku tidak bisa memudarkan senyuman di wajah anak-anak kita pagi ini"


ucap Varel lembut


"Baiklah Tuan Muda yang keras kepala"


cibir Vania lalu berjalan menuju kamar mandi.


*****


Baru saja rasanya Vania hendak memasang pakaian, tiba-tiba ia melihat Varel berlari terburu-buru menuju kamar mandi


Hoekkk...Hoekkkk..Hoekkkk


"Sayang apa ada denganmu? Apa yang sakit?"


tanya Vania yang berlari mengikutinya dengan khawatir lalu mengelus dan memijat pelan punggung sang suami


"Tidak apa-apa"


ucap Varel tersenyum lemah


"Istirahat saja dan jangan memaksa untuk bekerja jika kau sedang tidak enak badan"


"Berhenti mengoceh Nona Muda dan bersiaplah karena anak-anak sudah menunggu kita"


ucap Varel terkekeh pelan


"Aku serius"


"Aku tidak apa-apa. Bersiaplah"


"Baiklah"


*****


Meja Makan


Baru saja rasanya Vania dan Varel berjalan menuju meja makan, tiba-tiba lagi-lagi Varel berlari menuju wastafel untuk memuntahkan semua isi perutnya


"Sayang-"


"Aku tidak apa-apa"


ucap Varel memotong pembicaraan sang istri


Varel pun berjalan menuju meja makan dan meminum kopi hitamnya tanpa menyentuh sarapan pagi yang tiba-tiba membuatnya mual


"Oma dimana?"


"Oma sedang dikamar Dad, ditemani kak Nike"


"Apa Mama sakit Bi?"


tanya Varel kepada Bi Ijah


"Nyonya Besar kurang enak badan Tuan Muda"


"Baiklah anak-anak setelah sarapan pergilah ke kamar Oma dan berpamitan"


"Siap Daddy"


*****


Setelah sarapan dengan Varel yang tak menyentuh sedikitpun sarapan dimeja makan, mereka pun menuju kamar Mama Melinda untuk melihat keadaannya


Kamar Mama Melinda


"Apa Mama sedang sakit?"


"Tidak, Mama hanya kelelahan saja"


ucap Mama Melinda tersenyum tipis


"Varel akan menelfon Hendra agar kemari dan memeriksa Mama"


"Vania sayang?"


"Iya Ma?"


ucap Vania lalu mendekati Mama mertuanya


"Apa yang dimakan suamimu pagi ini? Mengapa dia sangat cerewet sekali?"


ucap Mama Melinda lalu terkekeh pelan


"Ma berhentilah menggoda Varel"


gerutu Varel kesal


"Sebentar, mengapa wajahmu pucat sekali? Sepertinya yang harus diperiksa itu kau Varel"


"Tidak Ma, Varel tidak apa-apa hanya saja perut yang sedang bermasalah"


"Ada apa dengan perutmu?"


"Tidak bisa menerima sarapan apapun dan selalu mual jika mencium aroma makanan"


ucap Varel lemas seraya memegang perutnya


"Vania apa kau sudah datang bulan?"


tanya Mama Melinda tiba-tiba yang membuat Varel maupun Vania terkejut


"Mama mengapa menanyakan hal itu?"


tanya Varel mengerutkan kening


"Jika Vania sudah lama tidak datang bulan, periksalah ke dokter kandungan"


"Tapi Vania tidak merasakan gejala apapun Ma"


"Itulah maksud Mama, gejala tanda-tanda awal kehamilan berbeda-beda, bisa saja suami mu yang merasakannya. Jadi agar lebih akurat segeralah periksa, kau tidak kasihan dengan wajah pucat suami mu yang tidak tau apa penyakitnya?"


ucap Mama Melinda terkekeh pelan


"Selalu saja menggodaku. Baiklah Ma, Varel akan membawa Vania dan memeriksanya. Kami berangkat sekarang"


Setelah berpamitan, Vania dan Varel pun keluar dari kamar Mama Melinda dan disambut dengan wajah jutek kedua anaknya yang menunggu lama dihalaman depan


"Huh Daddy dan Mommy lama sekali, bagaimana jika kami terlambat?"


cerocos Lista saat melihat kedua orang tuanya berjalan mendekati mereka


"Maaf princess, Oma mu tadi marah-marah ke Daddy"


ucap Varel seraya mengelus pucuk kepala sang putrinya


"Marah-marah kenapa Daddy?"


"Itu karena Daddy nakal"


jawab Varo lalu berjalan santai menuju mobil.


*****


Setelah mengantarkan anak-anak, Varel pun meminta sekretaris Dim untuk melajukan mobilnya menuju kampus sang istri


"Sayang kau sudah tidak waras? Bagaimana jika ada yang melihatmu?"


gerutu Vania sepanjang jalan yang membuat Varel terkekeh


"Siapa yang akan melihatku?"


"Orang-orang, dan itu akan menimbulkan berita"


"Apa jika aku seperti ini didepan mereka akan menimbulkan berita juga?"


tanya Varel lalu tiba-tiba mencium singkat bibir sang istri


"Varel"


ketus Vania dengan kesalnya yang membuat Varel semakin senang karena berhasil menggoda sang istri.


*****


Baru saja sekretaris Dim mematikan mesin mobil karena sudah sampai di kampus, Vania pun bergegas untuk keluar dari mobil namun sayang Varel lebih dahulu menahan lengannya


"Sayang apa kau ingin ada berita hari ini?"


ucap Vania yang menatap Varel dengan tajam


Namun Varel tidak menanggapi ucapannya bahkan Varel dengan sengaja menariknya untuk keluar bersama hingga membuat banyak orang diparkiran menatap mereka dengan penuh tanda tanya


"Berhentilah bertingkah Varel"


ucap Vania yang menundukkan kepala


"Hei apa yang kau takutkan?"


tanya Varel seraya menatap sekelilingnya


Dia benar-benar bodoh bahkan berani menampakkan dirinya didepan umum seperti ini.-Vania


"Aku ke kelas sekarang"


ucap Vania lalu berbalik dan berjalan cepat agar Varel tidak mengejarnya


"Semangat belajarnya sayang"


teriak Varel yang membuat Vania semakin mempercepat langkahnya


"Bodoh, bodoh, bodoh"


gerutu Vania sepanjang jalan


Tiba-tiba langkah Vania terhenti saat ada seseorang yang menariknya


"Bukannya yang tadi sama lo itu Tuan Muda Varel?"


Ternyata yang menarik lengan Vania itu adalah Kasih


"Ada hubungan apa lo sama Tuan Muda Varel?"


ketus Kasih yang masih menahan lengan Vania


"Gue gak ada urusan sama lo"


ucap Vania penuh penekanan seraya menepis kasar tangan Kasih yang menahan lengannya


"Lo cuma pelakor jadi jangan sombong"


"Pelakor?"


gumam Vania pelan yang terdengar oleh Kasih


"Yap, lo sudah tau kan bahwa Tuan Muda Varel sudah menikah dan dengan gak tau malunya lo dekat dengan Tuan Muda bahkan Tuan Muda Varel manggil lo dengan panggilan sayang. Bukannya itu yang dinamakan P.E.L.A.K.O.R Vania sayang?"


ucap Kasih tersenyum seraya memainkan rambut Vania


Berhentilah berbicara Kasih, aku tidak tau apa ada mata-mata Varel disini.-Vania


"Jaga ucapan anda Nona Kasih"


ucap seorang pria yang tiba-tiba berjalan mendekati Vania.


*


Siapa kah pria tersebut?


*


*


*