Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Menambah Cucu


Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Varo segera beranjak dari tempat tidur dan berlari keluar ruangan ketika mendengar Dion dan Mike pergi hanya dengan berjalan kaki.


Langkah Varo semakin mendekat dengan kamar rawat baby Al dan baby El.


Tok tok tok


"Masuk."


Terdengar suara berat Varel menjawab dari dalam ruangan.


Klek


Varo pun segera masuk ke dalam kamar dan berjalan mendekati Varel tanpa basa-basi.


"Daddy, apa Daddy memerintahkan Om Dion dan Om Mike untuk pergi hanya dengan berjalan kaki? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa jangan melibatkan mereka dengan semua ini?! Aku sudah mendapatkan hukumanku, lalu mengapa mereka juga ikut dihukum?!"


Varo benar-benar pintar membuat Varel bahkan Vania terdiam seketika. Ia juga tidak memberikan kesempatan untuk Varel menyanggah ucapannya.


"Aku akan berangkat ke sekolah hanya dengan berjalan kaki, tidak mengambil uang jajan dan tidak berbelanja di luar, tidak bermain apapun, berada di perpustakaan seharian, dan tidak ikut makan bersama. Apakah belum cukup?"


"Hei, apa yang Koko katakan?!" tanya Vania terkejut.


Ia tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi, tentang Dion dan Mike yang berjalan kaki, tentang hukuman yang Varel berikan kepada Varo, bahkan tentang hukuman tambahan yang Varo terapkan sendiri untuknya. Vania benar-benar tidak mengetahui itu semua.


Varel yang mendengar semua ucapan keluar dari mulut Varo pun menghela nafas berat sebelum membuka suara. "Om Dimas yang mengurus itu. Daddy tidak tau tentang hal itu" ucap Varel jujur.


Memang, Sekretaris Dim yang menawarkan diri untuk memberikan hukuman kepada Dion dan Mike, walaupun Varel tidak menjawab apa-apa, ia yakin bahwa Sekretaris Dim lah yang membuat kedua pengawalnya pulang hanya dengan berjalan kaki.


"Apa?! Daddy, maaf.."


Setelah mengatakan itu, Varo segera berlari keluar tanpa memperdulikan Vania yang meneriaki namanya berkali-kali.


Ia hanya ingin mencari Sekretaris Dim dan mungkin akan memarahinya lalu menyusul Dion dan Mike yang sudah cukup jauh dari area rumah sakit.


"Om!" teriak Varo ketika melihat Sekretaris Dim dari kejauhan.


Varo pun segera berlari mendekat dengan nafas yang masih ngos-ngosan. "Mengapa Om Dimas menghukum Om Dion dan Om Mike?! Jarak rumah Om Dion dari rumah sakit itu sangat jauh."


Tanpa basa-basi, Varo segera melontarkan pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan sejak tadi.


"Maaf, Tuan Kecil. Kedua pengawal itu memang pantas dihukum" jawab Sekretaris Dim santai.


"No! Aku sudah katakan untuk tidak menghukum mereka. Kejadian ini memang real dari aku sendiri."


Sekretaris Dim mengerutkan keningnya heran. "Mengapa Tuan Kecil sejak tadi membela mereka?" tanya Sekretaris Dim penasaran.


Varo menghela nafas. "Karena Om Dimas sudah menghukum orang yang salah. Mereka tidak bersalah namun rela mendapat hukuman atas perbuatan yang tidak mereka lakukan. Tolong minta siapapun untuk menjemput mereka sekarang. Aku yang akan menerima hukuman itu. Aku dan hanya aku."


Sekretaris Dim tau jika ia tidak akan bisa menang melawan Varo dalam hal berdebat sehingga ia hanya bisa menghela nafas berat dan mengalah.


Ah, Tuan Kecil memang turunan dari Tuan Muda.-Sekretaris Dim.


*****


"Sayang?" panggil Vania pelan seraya menatap Varel yang pura-pura sibuk mengecek ponselnya.


"Sebentar, Sayang. Aku harus memeriksa laporan penting."


"Memeriksa apanya menggunakan ponsel yang terbalik? Jangan menghindar dariku."


Astaga, Varel sepertinya sudah bodoh atau memang terlalu gugup menghadapi singa betina yang akan mendiaminya setelah tau kejadian itu.


Varel tertawa canggung seraya mendekatkan dirinya kepada sang istri untuk mengelus pucuk kepala Vania. "Jangan memikirkan apapun. Tugas Mommy hanya menjaga Al dan El" ucap Varel pelan.


Vania menggeleng pelan. "Kesalahan apa yang Koko lakukan sehingga ia bahkan menawarkan diri untuk dihukum dengan hukuman seperti itu?" tanya Vania mengerutkan keningnya heran.


Varel tersenyum tipis seraya mengelus kening Vania yang masih berkerut. "Itu berarti Koko sudah dewasa dan dia sudah bisa mengimbangi antara kesalahan dan resiko yang akan didapatkannya. Jangan memikirkan apapun, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja."


Vania hanya bisa menghela nafas berat ketika melihat Varel yang seolah sengaja tidak ingin memberitahukan kepadanya.


Dalam hatinya, Vania hanya berdoa kejadian apapun itu semoga semuanya kembali normal dan baik-baik saja. Ia juga tau jika Varel menyembunyikan darinya, pasti ada alasan.


"Baiklah. Aku hanya minta apapun itu jangan sampai membuatmu jauh dari anak-anak."


Cup.


"Oke, Mommy."


*****


"Langsung pulang sekarang?" tanya Varel kepada Vania yang sedang melipat pakaian kedua anaknya.


Vania mengangguk pelan. "Pulang sekarang saja agar sekalian menyambut kedatangan bapak dokter" ucap Vania terkekeh pelan.


"Oh iya, Vandi pulang hari ini?"


"Astaga, Rel. Apa ini karena faktor u?"


"Sayangg.."


Tentu saja melihat raut wajah Varel yang kesal mengundang gelak tawa Vania.


Tiba-tiba ponsel Varel berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari Sekretaris Dim.


"Aku angkat sebentar ya."


"Tuan Muda."


"Hal penting, Dim?"


Sekretaris Dim diseberang sana mengangguk pelan. "Ini tentang pengkhianat yang ada di dalam rumah utama."


Ah, Varel hampir lupa tentang orang dalam yang berkhianat dengan membuat kedua anaknya keracunan ASI.


"Aku akan menemui mu malam ini."


"Baik, Tuan Muda."


Tut tut tut.


"Ada apa?" tanya Vania saat melihat Varel kembali mendekat.


Varel menggeleng pelan. "Hanya masalah kecil, Sayang."


"Jika kau sibuk, aku bisa mencari taksi online agar mengantarkan ku dan anak-anak kembali ke rumah."


Vania masih seperti dulu yang tidak akan mau mengganggu pekerjaan Varel atau merepotkan suaminya.


"Hei, tidak-tidak! Bagaimana jika supir taksinya tiba-tiba jatuh cinta dengan mu?!"


Ah, Vania sudah lama tidak melihat wajah cemburu si Tuan Muda.


"Mengapa tersenyum seperti itu?!" gerutu Varel dengan kesalnya.


Tentu saja hal itu membuat Vania tertawa seketika. "Kau itu sudah tua, jangan suka marah-marah nanti keriput."


"Sayanggg" rengek Varel manja.


"Apa? Aku hanya mengatakan faktanya, perut mu saja sudah buncit."


"Hei?! Buncit apanya? Ini pegang."


Seolah tidak terima dikatakan buncit, Varel segera membuka bajunya dan meletakkan tangan Vania diatas perutnya yang masih rata dan kotak-kotak.


"Aku hanya bercanda" ucap Vania panik lalu menarik kembali tangannya.


"Tidak, itu bukan bercanda. Itu namanya fitnah."


"Astaga."


"Sayang, Varel kecil lama tidak menyapa sarangnya.."


Plak


"Masih ada anak-anak" gerutu Vania dengan kesalnya.


Bagaimana tidak? Varel berbicara dengan santai padahal kedua anaknya masih terjaga dan menatapnya. Astaga Varel, jangan merusak otak kedua anak mu.


"Hei, aku benar. Dia sudah berpuasa hampir tiga bulan."


Vania hanya bisa menghela nafas berat ketika mendengar Varel yang masih membahas hal itu.


"Sayang, apa sudah bisa? Bagaimana jika kita meminta Mama untuk tidur bersama si kembar malam ini? Mama juga pasti akan setuju jika menambah cucu untuknya."


Plak


"VAREL!!"


*


*


*