
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Pagi-pagi sekali Varel dan keluarganya sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju bandar udara karena hari ini mereka akan kembali ke Indonesia.
Perjalanan kali ini memakan waktu sekitar 15 jam sehingga ia memilih penerbangan pagi agar setelah sampai di negaranya tidak terlalu tinggi malam.
Sebenarnya, Varel ingin mengajak keluarganya untuk berlibur lebih lama namun mengingat Varo dan Lista yang harus bersekolah dan mendengar kabar pernikahan Bram yang akan dilaksanakan. Akhirnya, Varel memilih untuk segera kembali ke Indonesia.
"Harus pulang hari ini?" gumam Billy yang tidak terima.
Vania terkekeh pelan karena sejak kemarin adik ipar dan keponakannya tersebut selalu mengekori kemana pun Varel pergi seolah tidak rela jika Tuan Muda itu pulang.
Varel yang melihat kelakuan keduanya hanya bisa menghela nafas berat.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Cherry mengerutkan keningnya heran.
"It will take a long time to meet Kak Varel" ucap Bryan mengeluh.
"What's so special about my Daddy?" Varo tidak mengerti mengapa paman dan kakaknya tersebut seolah tidak ingin berpisah dari Daddy nya.
Billy menatap Varo dengan kesal. "Kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya membuat Uncle Varel marah."
"Hal spesial nya ketika melihat wajah Kak Varel yang sedang kesal" celetuk Bryan ikut menanggapi.
Varo menatap keduanya seraya mengerutkan kening. "There is nothing special about my Daddy. It's just, he really loves my mommy" jawab Varo santai yang membuat semua orang tertawa sedangkan Bryan dan Billy hanya menatapnya dengan tatapan aneh.
Tidak ada orang yang bisa mengerti bagaimana jalan pikiran Varo. Ia akan memberikan jawaban-jawaban yang diluar akal sehat manusia sehingga orang-orang sungguh kagum dengan cara kerja otak bocah itu.
*****
Di dalam pesawat, baik Varel maupun Lista tidak ada yang bersuara membuat Vania harus berkali-kali menghela nafas karena tau suaminya sedang marah terhadap anak perempuannya.
Flashback on
Saat Lista baru saja pulang berjalan-jalan, Varel tiba-tiba menuju kamar mereka membuat Varo yang sedang membaca buku heran.
"Why, Dad?" tanya Varo mengerutkan keningnya.
Ketika melihat sang Daddy berjalan menuju ke arah Lista yang sedang bermain boneka, Varo tidak berbicara lagi.
"Evalista!"
Deg.
Keduanya benar-benar terkejut karena jika nama lengkap mereka disebutkan berarti tandanya kesalahan mereka benar-benar fatal.
"Ada apa denganmu? Mengapa kau tidak bisa mengerti keadaan?"
Baik Varo dan Lista hanya bisa diam dan berhenti melakukan aktivitas masing-masing ketika mendengar Varel membuka suara.
"Kau tidak lihat cuaca malam yang sangat dingin? Bagaimana bisa kau ingin memaksa Mommy dan adik-adik mu untuk keluar? Daddy mengerti jika kau ingin keluar berjalan-jalan, namun besok pagi atau besok sore kan bisa. Lalu mengapa kau bersikeras untuk pergi malam ini? Bagaimana jika kedua adik mu sakit dan merepotkan Mommy? Lihat kedua adik mu sangat rewel malam ini."
Ada jeda sebentar sebelum Varel kembali melanjutkan ucapannya. "Daddy sudah berkali-kali mengatakan pada kalian untuk jangan merepotkan Mommy karena adik kalian sudah sangat rewel. Daddy juga tidak pernah mengajari mu seperti itu. Apa yang terjadi pada mu? Kau sangat cerewet malam ini."
Varel benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada anak perempuannya yang tiba-tiba merengek seperti tadi. Istrinya sudah sangat lelah mengurus kedua bayi mereka, jika ditambah dengan mendengar Lista yang cerewet, bagaimana jadinya? Ia saja cukup kesal mendengarnya.
"Renungkan apa kesalahan yang kau lakukan."
Varel segera beranjak dari kamar kedua anaknya tanpa ingin mendengar jawaban dari mulut kecil Lista.
"Dasar bodoh!" ketus Varo menatapnya tajam.
Semua ucapan Varel terdengar oleh Vania yang saat itu keluar untuk mengisi botol minum. Namun, Vania hanya diam seolah tidak terjadi apa-apa. Karena jika ia ikut campur, Varel akan merasa bahwa dirinya tidak dibutuhkan. Varel juga berhak untuk menegur anak-anak mereka karena nasehat dan teguran nya dapat berguna untuk pertumbuhan mereka.
Flashback off.
Vania berpikir keras apa yang harus ia lakukan untuk membuat suami dan anak perempuannya tidak saling mendiami lagi sehingga satu ide muncul dalam benaknya.
"Aw" ucap Vania seraya memegang perutnya membuat suami dan kedua anaknya panik sendiri.
"Sayang, ada apa?!"
"Mommy, kenapa?!"
"Mommy sakit perut?!"
Akhirnya, mereka semua membuka suara.
"Ah, tidak. Hanya saja perut Mommy sakit karena tidak ada yang berbicara membuat suasananya menjadi menyeramkan" ucap Vania terkekeh pelan.
Varo menatap Vania dengan malas. "Lebih baik seperti itu agar tidak berisik."
Oke, percobaan pertama gagal.
Vania kembali memikirkan percobaan apa lagi yang harus ia lakukan sehingga tanpa sadar ia tertidur.
Varel yang saat itu sedang sibuk menonton video di ponsel nya pun tidak sadar melihat istrinya yang tertidur.
"Sayang, coba lih—"
Ucapan Varel terhenti ketika ia menyadari sang istri tertidur. Dengan segera, ia memperbaiki letak kepala istrinya agar bisa tidur dengan nyenyak.
Varel menatap wajah teduh yang sedang tertidur tersebut. Tak lama, senyumnya mengembang ketika menatap wajah istrinya yang selama ini berhasil merubah kehidupan kelamnya.
Varel tak akan pernah bisa membayangkan bagaimana kehidupannya jika ia tidak bertemu Vania saat itu.
Flashback on
Seminggu sebelum kedatangan Bram dan Tya ke kantor Fernandez Group, Varel sedang dalam perjalanan menuju ke salah satu proyek yang sedang dibangun bersama Sekretaris Dim.
Saat itu traffic light sudah berwarna hijau namun mobil belum juga bergerak membuat Varel mendongak dan melihat seorang wanita sedang berjalan sangat pelan berdampingan dengan seorang nenek-nenek tua yang sedikit susah untuk jalan.
Varel segera mengetahui alasan wanita itu berjalan sangat pelan adalah karena ia ingin menemani nenek tersebut agar tidak ada mobil yang melaju dengan seenaknya walaupun traffic light sudah berwarna hijau.
Tidak sampai disitu saja, saat sudah ada di pinggir jalan, wanita tersebut berbalik dan menunduk hormat kepada para pengemudi mobil yang sabar menunggu hingga ia dan nenek tersebut berhasil sampai di seberang jalan. Dan semua itu disaksikan oleh Varel.
Setelah kejadian itu, Varel memerintahkan Sekretaris Dim untuk mencari tau semua tentang wanita yang tiba-tiba membuatnya tertarik pada pertemuan pertama hingga akhirnya ia mengetahui bahwa wanita tersebut adalah keponakan dari Bram yang datang ke kantornya seperti takdir yang sangat kebetulan.
Flashback off.
Varel terkekeh pelan seraya mengelus pipi sang istri dengan penuh kasih sayang. "Terima kasih sudah mau bertahan dengan suami yang masih banyak kurangnya" ucap Varel tersenyum tipis.
Momen itu ditangkap jelas oleh kedua mata Varo sehingga ia mengerutkan keningnya heran.
"Jangan bilang Daddy ingin membeli miniature toy story lagi" ucap Varo menyelidik.
Varo cukup curiga ketika melihat Varel yang memperlakukan istrinya sangat lembut karena biasanya ia akan seperti itu jika membeli sesuatu dengan harga fantastis.
"Koko selalu saja berpikiran negatif tentang Daddy" ucap Varel yang membuat Varo terkekeh pelan.
"Entahlah, sepertinya memang selalu begitu."
*
*
*