
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Sudah selesai, ingat jangan sampai terluka lagi"
ucap Vania saat ia sudah selesai mengobati luka di tangan suaminya
"Huh aku merindukan omelan mu"
ucap Varel terkekeh pelan
"Maafkan aku"
lirih Vania pelan seraya menundukkan kepalanya
"Aku tidak bisa memaafkan mu, kau hampir membuatku gila"
ketus Varel kesal sedangkan Vania hanya menunduk dan diam
Mengapa dia selalu mengatakan itu? Apa wajar dia akan gila jika aku menghilang? Memangnya dia mencintaiku?-Vania
"Ceritakan semuanya dari awal sampai kau menghilang dan tidak pulang semalaman"
"Kau pasti sudah tau semuanya"
ucap Vania pelan
"Kau berani membantahku"
ketus Varel kesal yang membuat Vania terkekeh pelan
Lalu Vania pun menceritakan semuanya dari awal saat Dinda mengajaknya berkenalan dengan teman-teman di bangku SMA, saat Dinda mengatakan bahwa ia akan bertunangan dengan Varel, hingga tentang keluarga Paman Tono dan Bibi Merry yang baru saja ia kenal
Jadi supir taksi itu yang menjaganya? Aku harus berterima kasih kepadanya karena dia tidak meninggalkan istriku sendirian saat di taman.-Varel
"Aku ingin bertanya apa alasanmu menghilang saat mendengar Dinda mengatakan bahwa kami akan bertunangan?"
tanya Varel dengan wajah polosnya
Apa-apaan dia? Mengapa menanyakan itu? Apa dia tidak mengerti? Wanita mana yang tidak sakit hati mendengar suaminya akan bertunangan dengan wanita lain. Dasar Tuan Muda aneh.-Vania
"Hei mengapa kau diam? Oh ya aku baru menyadarinya kau cemburu ya mendengar kabar karena suami tampan mu akan bertunangan dengan wanita lain?"
tanya Varel menggodanya
"Aku tidak cemburu"
kilah Vania menggeleng cepat
"Maling tidak pernah mengaku"
jawab Varel santai
Astaga mengapa dia sangat menyebalkan? Tadi saja menangis seperti anak kecil, sekarang kembali lagi membuatku kesal. Ingin sekali aku menyentil ginjalnya saking gemasnya.-Vania
"Sayang apa kau tidak ke kantor?"
tanya Vania mengalihkan pembicaraan
"Tidak, aku akan selalu di dekatmu agar kau tidak menghilang lagi"
ucap Varel lalu membaringkan kepalanya dipangkuan sang istri
Ya Tuhan mengapa dia sangat manja? Seperti anak kecil saja.-Vania
"Kau ingin tidur?"
tanya Vania lalu mengelus pucuk kepala Varel
"Tidak, oh iya bagaimana kau bisa tidur malam kemarin saat hujan deras disertai petir?"
tanya Varel mengerutkan kening
"Ingin jawaban yang jujur atau bohong?"
goda Vania tersenyum
"Hei memang ada pertanyaan seperti itu?"
protes Varel kesal
Dasar pikun, apa kau lupa dulu kau juga pernah menanyakan itu terhadapku.-Vania
"Aku terbangun dan tidak bisa tidur sampai akhirnya hujan deras dan petir berhenti baru aku bisa tertidur lagi"
jawab Vania menjelaskan
"Kau pasti tidak bisa tidur tanpa memelukku"
ucap Varel dengan yakin
Jujur saja kau sudah candu dengan pelukanku, ya walaupun aku malam kemarin susah tidur tanpamu.-Varel
"Tidak"
jawab Vania singkat
"Apa kau bilang?"
ketus Varel kesal
Dengan segala keberanian, Vania mencium singkat bibir sang suami yang membuat Varel terkejut
"Jadi kau berani menggodaku sekarang?"
ucap Varel menggodanya
"Ti-tidak, aku hanya tidak ingin kau marah"
ucap Vania malu
"Kau harus bertanggung jawab"
Varel pun dengan cepat membaringkan sang istri dan menindihnya
"Sa-sayang ini masih pagi"
ucap Vania terbata
"Aku tidak mengatakan ini malam"
jawab Varel santai
"Bis-"
Ucapan Vania terhenti karena Varel tiba-tiba mencium bibirnya dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi untuk beberapa jam kemudian.
*****
"Sepertinya kau membutuhkan pengawal"
ucap Varel saat mereka telah menyelesaikan pertempuran
Apa? Pengawal? Tidak!!! Mereka pasti akan selalu mengamati ku dua puluh empat jam. Aku tidak menginginkan itu!!!!-Vania
"Pengawal? Untuk apa sayang?"
tanya Vania menatap Varel heran
"Tentu saja untuk mengawal mu kemanapun kau mau agar kau tidak menghilang lagi"
jawab Varel datar
"Tapi aku tidak membutuhkannya"
ucap Vania pelan
"Aku tidak perduli, mereka akan datang besok pagi"
ucap Varel tegas yang mau tidak mau Vania harus menurutinya
Huh kau selalu saja membuatku tidak berani membantah.-Vania
"Atau jika kau ingin bernegosiasi kita bisa melanjutkan itu, kau tidak lelah?"
tanya Varel tersenyum penuh arti
"A-apa jika kita melakukannya kau tidak akan memberikanku pengawal?"
*****
Keesokan harinya, Varel dan Vania sama-sama berjalan menuju halaman rumah karena ingin pergi ke kantor dan ke kampus. Namun langkah Vania terhenti saat ia melihat seorang perempuan dan seorang lelaki yang sedang berdiri disebelah sekretaris Dim
"Mereka siapa sayang?"
bisik Vania saat Varel merangkul pinggangnya
"Perkenalkan diri kalian"
ucap sekretaris Dim memerintah
"Selamat pagi Tuan Muda dan Nona Muda, perkenalkan nama saya Dika, mulai saat ini saya bertugas sebagai supir pribadi Nona Muda"
ucap seorang lelaki bertubuh tinggi tegap berbaju serba hitam
"Selamat pagi Tuan Muda dan Nona Muda, nama saya Ziva, saya bertugas sebagai pengawal pribadi Nona Muda"
Lalu seorang perempuan yang disebelahnya juga memperkenalkan diri
"Apa?"
ucap Vania terkejut yang membuat Varel tersenyum tipis
"Sayang mengapa kau memberikanku supir dan pengawal?"
bisik Vania pelan
"Aku kan sudah mengatakannya kemarin"
jawab Varel santai
"Tapi kau bilang bahwa kau tidak jadi memerintahkan mereka"
jawab Vania tidak mau kalah
"Kapan aku mengatakannya?"
tanya Varel mengerutkan kening
"Kemarin pagi saat kita me-"
Vania menghentikan ucapannya karena hampir saja ia keceplosan mengatakan saat mereka melakukan hubungan suami istri
"Saat kita apa?"
tanya Varel tersenyum saat melihat istrinya menunduk karena malu
"Ti-tidak ada"
jawab Vania pelan
"Oh aku ingat, aku tidak mengatakan bahwa aku tidak jadi memerintahkan mereka saat kita melakukannya. Aku hanya tersenyum"
ucap Varel tersenyum penuh kemenangan
Sial, aku kira dia benar-benar akan menghentikan rencana gilanya bahkan disaat dia sudah melakukan hal itu berkali-kali denganku agar bisa bernegosiasi namun ternyata tidak.-Vania
*
Hahaha lihatlah wajah kesalnya di pagi hari sangat menggemaskan membuatku ingin menerkamnya saat ini juga.-Varel
"Kau tidak ada pertanyaan sayang?"
tanya Varel mendekatnya wajahnya dihadapan sang istri
"Sayang aku tidak memerlukan pengawal"
ucap Vania yang berusaha membujuk Varel agar menghentikan rencananya
"Kau sangat membutuhkan mereka karena aku tidak ingin kau menghilang lagi"
ucap Varel tegas yang membuat Vania mendengus kesal
"Kalian harus selalu bersama Nona Muda, pantau segala aktivitasnya. Mengerti?"
"Siap mengerti Tuan Muda"
jawab Dika dan Ziva bersamaan
"Aku berangkat sekarang sayang"
ucap Varel lalu mencium kening sang istri dibalas Vania yang mencium tangan suaminya masih dengan raut kekesalan diwajahnya
"Kau ingin aku menerkam bibirmu yang cemberut itu?"
bisik Varel yang membuat Vania terkejut lalu tersenyum manis kepada suaminya
Hahaha diancam begitu saja sudah takut.-Varel
Karena melihat Varel tersenyum penuh kemenangan, Vania menggerutu dalam hati
Sial mengapa dia selalu suka mengerjai ku?-Vania
*****
Halaman Rumah Paman Tono
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya, kami utusan dari Tuan Muda Varel ingin memberikan beberapa hadiah kepada Tuan dan Nyonya"
ucap seorang pengawal kepada Paman Tono dan Bibi Merry
"Tuan Muda Varel?"
gumam Paman Tono terkejut
"Tuan Muda ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena Tuan dan Nyonya telah memperlakukan Nona Muda kami dengan sangat baik saat Nona Muda menghilang"
"Nona Muda? Maaf Pak kami tidak mengerti maksud kalian"
ucap Bibi Merry yang masih terkejut mendengar ucapan dari pengawal tersebut
"Tuan dan Nyonya pasti mengenal Vania yang malam kemarin menginap di rumah ini. Vania adalah Nona Muda kami, istri dan Tuan Muda Varel kami yang menghilang dan bertemu dengan Tuan Tono. Maka dari itu Tuan Muda Varel sangat berterima kasih kepada Tuan dan Nyonya yang telah berbaik hati terhadap Nona Muda"
ucap pengawal menjelaskan panjang lebar
"Vania? Ja-jadi Van- astaga"
ucap Bibi Merry menutup mulut dengan tangannya
"A-apa maksud kalian Vania adalah istri dari Tuan Muda Varel?"
tanya Paman Tono yang mulai mengerti dengan situasi
"Benar sekali, jadi kami disini ingin memberikan sedikit hadiah dari Tuan Muda Varel"
Beberapa pengawal pun mulai menurunkan kotak-kotak dari truk pengiriman barang
"Astaga ini banyak sekali"
ucap Paman Tono dan Bibi Merry terkejut
"Ini tidak seberapa dari kebaikan Tuan dan Nyonya yang telah menjaga Nona Muda kami"
"Tapi Pak kami tidak membutuhkan ini"
tolak Bibi Merry halus
"Kami hanya menjalankan perintah dari Tuan Muda Varel dan pesan beliau agar Nyonya Merry membuka usaha toko kue diseberang rumah ini, disebuah ruko kosong yang sudah dibeli Tuan Muda Varel khusus untuk hadiah"
"Astaga. Kami tidak pantas menerimanya Pak"
"Terimalah Tuan dan Nyonya, kami hanya menjalankan perintah mengantarkan hadiah-hadiah ini dengan utuh ke alamat yang benar"
Setelah berpamitan para pengawal pun pergi meninggalkan Paman Tono dan Bibi Merry yang tenggelam dalam pikirannya masing-masing
Astaga, jadi Vania adalah istri dari Tuan Muda Varel? Sungguh aku terkejut mendengarnya. Terima kasih Tuhan kau memberikan berkat melalui Tuan Muda Varel terhadap kami.-Paman Tono
*
Nak, berbahagialah bersama suamimu. Jangan pergi dari rumah tanpa seijin suamimu lagi.
Tuan Muda Varel terima kasih untuk semuanya.-Bibi Merry
*
*
*