Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
S2 : Amerika


Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


"What if I get married first?" (Bagaimana jika saya menikah dulu?)


"Who is your lover?" (Siapa kekasihmu.)


'There isn't any." (Tidak ada.)


"Lalu, kau ingin menikah dengan siapa jika kekasih saja tidak punya?"


"Echy."


Uhuk uhuk


Ucapan Varo cukup membuat Varel terkejut, entah bercanda atau serius namun anak tertuanya itu bahkan baru saja lulus sekolah dan sudah memikirkan untuk menikahi anak orang.


"Hei, apa Daddy harus terawa dengan lelucon ini?" tanya Varel dengan raut wajah bingung.


Varo menggeleng pelan. "Why? Apakah Daddy tidak setuju jika wanitanya itu Echy?" tanya Varo mengerutkan kening.


"Bukan begitu, hanya saja jawaban mu membuat Daddy terkejut terlebih ketika anak yang baru saja lulus sekolah sudah memikirkan nikah. Kau mencintai Echy? Mengapa tidak mencoba untuk pendekatan dulu?"


"Tidak, Koko tidak ingin pendekatan atau pacaran, ingin langsung menikah saja" ucap Varo bersikeras.


"Hei, kenapa seperti itu?"


"Kalau berpacaran nanti Echy mempunyai kesempatan untuk mencintai pria lain."


Varel tidak menyalahkan alasan Varo, namun tetap saja hal tersebut membuatnya cukup terkejut.


"Koko akan menyelesaikan pendidikan, lalu menikahi Echy, dan memimpin perusahaan Opa."


"Jangan bermain-main dengan yang namanya pernikahan. Kau hanya bisa menikah sekali seumur hidup dan menjadikan orang asing sebagai teman cerita seumur hidup mu."


"Koko tau, karena itu Koko memilih Echy karena Koko hanya ingin menghabiskan waktu bercerita seumur hidup bersama Echy."


Sebenarnya, Varel sangat ingin bertanya mengapa Varo bersikeras ingin menikahi Echy mengingat hubungan mereka tidak sedekat atau seakrab itu. Varel bahkan jarang melihat keduanya mengobrol saat di rumah sehingga membuat Varel bertanya-tanya apa yang terjadi.


"Kau akrab dengannya? Maksud Daddy, walaupun satu rumah sejak kecil namun Daddy melihat kalian hampir tidak pernah mengobrol" tanya Varel yang membuat Varo menggeleng pelan.


"Tidak akrab, tapi Koko tau semua kebiasaan Echy setiap saat karena Koko selalu memperhatikannya."


"Oh ada yang mencintai dalam diam rupanya."


*****


Hari ini pun tiba, hari dimana semua keluarga besar mengantarkan kepergian Varo dan Tian yang akan menempuh pendidikan di luar negeri tepatnya di Amerika.


Lista tak henti-hentinya menangis karena ia akan melepaskan kepergian Varo yang sudah menemaninya sejak kecil. Ia bahkan enggan melepaskan pelukan perpisahan tersebut.


"Hei, aku akan pulang setiap tahunnya" ucap Varo tertawa.


Lista kembali mengeratkan pelukannya. "Nanti aku bercerita dengan siapa kalau kau pergi jauh? Aku malas dengan Al dan El karena mereka ember."


Walaupun bersedih, Lista tetap masih sempat-sempatnya menjelekkan kedua adiknya yang kembar.


"Cici benar-benar menangisi Koko atau Kak Tian?"


Pertanyaan singkat dari mulut Xavier cukup membuat Lista menatapnya tajam. Memang, semenjak kejadian Xavier yang memecahkan skincare pemberian Tian, tak jarang bocah itu selalu menggoda Lista disaat ada Tian bersama mereka.


"Cici, tolong cepatlah dan berikan kesempatan untuk yang lain. Lihat kami ini sudah seperti mengantri sembako" gerutu Elvano ketika melihat Lista yang masih enggan melepaskan pelukannya.


Setelah beberapa saat, akhirnya satu per satu dari seluruh keluarga merangkul Varo dan Tian secara bergantian lalu melepaskan kepergian mereka.


*****


Rumah Keluarga Fernandez


"Huh, rasanya bosan sekali. Apa Koko sudah sampai?" gumam Lista pelan seraya menatap layar ponselnya.


Bugh


Bantal kecil pun sukses mendarat di wajah cantiknya akibat dari lemparan hebat si bontot.


"What are you doing now?!" (Apa yang kamu lakukan sekarang?!)


Oke, Lista memilih untuk tidak menjawab pidato dari Elvano.


*****


2'Generations


Hei, aku bosan. Bagaimana dengan jalan-jalan sore?-Lista.


Ini hampir malam, letakkan ponsel dan buka buku.-Alvino


Aku tidak berbicara denganmu. @Lorra dan @Joyline ayo bagaimana? Aku dan Echy akan menjemput kalian.-Lista.


Girl's time ceritanya?-Raja.


Jika kau ingin ikut bersiaplah.-Lista.


Boleh, aku akan membawa Ricko karena Mama dan Papa sedang tidak ada di rumah.-Raja.


Memang hanya Raja yang bisa mengambil predikat saudara idaman.-Lista.


Aku ikut!-Elvano.


Ya.-Lista.


Dengan Raja saja bisa mengetik lebih dari satu kata.-Elvano.


Ya oke.-Lista.


🏳️.-Elvano.


*****


Dua generasi tersebut benar-benar jalan-jalan sore hari ini dan pergi ke mall untuk sekedar mencuci mata. Pantas saja suasana di mall terlihat sangat indah, kapan lagi kau akan melihat rombongan anak muda yang cantik dan tampan?


"Hei, bukankah itu penerus Fernandez Group?"


Mereka mendengar bisik-bisik tersebut namun benar-benar enggan menanggapinya. Sebenarnya, anak-anak Varel sangat malas jika harus berhubungan dengan media karena seolah membatas gerak gerik mereka. Untuk melakukan segala sesuatu pun mereka harus berpikir dua kali karena media akan dengan senang hati memberitakan berita tentang penerus Fernandez Group tersebut.


Untungnya saja sampai sekarang tidak pernah ada berita buruk tentang keluarga Fernandez tersebut karena memang hingga sekarang tidak ada masalah yang tercium oleh media.


"Cici" panggil Elvano yang membuat Lista segera menoleh kearahnya.


"Jaga diri baik-baik."


Bukan hanya Lista saja yang heran mendengarnya, semua orang pun heran mendengar ucapan itu keluar dari mulut Elvano secara tiba-tiba.


"Hei, kau menghamili anak orang?!"


Plak


"Jangan macam-macam" tegur Alvino setelah memukul pelan lengan Lista.


"Ya, itu dia kenapa tiba-tiba seperti itu? Cici merinding" ucap Lista jujur.


Elvano menatap Lista dengan tatapan yang sulit diartikan. "Media."


Ah, semua orang akhirnya mengerti maksud ucapan Elvano yang meminta Lista untuk menjaga dirinya dengan baik.


*****


Satu bulan sudah berlalu dan hari ini semua orang terkejut mendengar kabar dari Varo yang berada di Amerika.


"Apa?!"


"Semuanya sudah Koko urus disini. Daddy dan Mommy tenang saja. Koko akan kabari jika sudah mengobrol dengan dokternya" ucap Varo selama panggilan berlangsung.


Varo baru saja menelepon Varel yang saat itu sedang mengobrol bersama Vania di kamar mereka. Varo mengabari bahwa Papa Lyno tiba-tiba tak sadarkan diri di kamar mandi hingga membuat semua orang yang ada di Indonesia panik mendengarnya, terlebih saat ini dokter pun belum keluar dari ruangan Papa Lyno.


"Kabari Daddy dengan segera jika terjadi sesuatu."


"Tentu."


*


*


*