Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Kebersamaan


Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Vania terdiam ketika mendengar suara Varo yang bergetar hebat hanya untuk meminta maaf kepadanya. Hal itu semakin membuat Vania penasaran tentang apa yang telah terjadi.


Vania segera merentangkan tangannya yang membuat Varo langsung memeluknya erat. Tangisan Varo semakin terdengar jelas ketika ia merasakan Vania mengelus pucuk kepalanya berkali-kali.


"M-maafkan Varo, Mom.."


Varo hanya bisa mengucapkan kata maaf berkali-kali yang membuat Vania semakin bingung dengan apa yang terjadi. Ini pertama kalinya Varo menangis dihadapan Vania.


"Sayang.. jangan berbicara sebelum Koko tenang" ucap Vania seraya mengelus punggung sang anak.


Setelah beberapa lama akhirnya Varo pun kembali tenang dengan deru nafas yang sudah normal membuat Vania kembali membuka suara.


"Mommy tidak akan memaksa mu untuk bercerita" ucap Vania seraya mengelus pucuk kepala Varo.


"Mommy, maafkan Varo.. Maaf karena Va—"


"Koko, Sayang."


"Varo tidak pantas mengucapkan panggilan itu, Mom.."


"Hei, jangan seperti itu" ucap Vania sedikit panik.


"Mom.. Varo melakukan kesalahan yang sangat besar.. Maaf, Mommy.."


"Apa Mommy boleh tau kesalahan apa itu?" tanya Vania hati-hati.


Varo mengangguk pelan. "Varo meneror balik wanita yang membuat Mommy menderita.."


Deg.


Vania benar-benar terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh anak lelakinya. Ia bahkan tidak pernah menyadari apa yang dilakukan anaknya sungguh diluar dugaan. Bagaimana bisa Varo yang masih sangat kecil seperti ini bisa meneror seseorang.


"Maaf, Mommy.. Varo salah.."


"Bisa ceritakan lebih detail kepada Mommy?" tanya Vania yang berusaha untuk tetap tenang.


Varo kembali mengangguk pelan. "Saat itu Varo tidak sengaja mendengar Om Dion melaporkan kepada Kakek Adi bahwa Mommy diteror, sebelumnya Varo sedikit mengerti tentang komputer karena diam-diam minta diajarkan oleh Om Mike dan Kak Billy. Jadi, saat mendengar bahwa Mommy diteror, Varo meminta foto bukti itu dengan Om Dion dan seharian Varo mencari senjata apa yang bisa Varo berikan kepadanya. Jadilah saat itu Varo mendapatkan semua tentang Aurora, entah itu kebusukannya, simpanan para pengusaha, dan masih banyak lagi.


Awalnya Varo hanya sampai disitu saja, namun karena dia berani bermain-main dengan si kembar, Varo juga melakukan hal yang sama dengan membuat kedua orang tuanya yang di London ikut merasakan penderitaan yang dilakukan oleh anak mereka. Varo mengirimkan paket ke mereka dengan bukti bahwa Aurora menjadi simpanan, ayahnya menjadi pemimpin perusahaan dengan cara yang curang, dan ibunya yang menikmati uang haram.."


Penjelasan Varo benar-benar membuat Vania mematung. Ia tidak bisa menerima fakta bahwa itu semua yang dilakukan oleh anak lelakinya. Beberapa kali Vania menggeleng pelan saat mendengar Varo menceritakan semuanya.


"Maaf, Mommy.."


Varo kembali membuka suara ketika mendengar hanya helaan nafas Vania yang terdengar. Ia sangat takut jika Vania membencinya karena melakukan hal yang sangat luar biasa. Ia tau jika inilah resiko yang akan ia dapat saat ia berani ikut campur dengan urusan orang tua.


"Varo hanya ingin membalaskan siapapun yang berani menyakiti Mommy.."


Vania mengelus pucuk kepala sang anak. "Koko tau kan bahwa setiap apa yang kita lakukan pasti ada resikonya?" tanya Vania yang membuat Varo mengangguk pelan.


"Jadi, itu hukuman yang Varo dapatkan dari Daddy?" tanya Vania yang membuat Varo kembali mengangguk.


"Mommy, tolong jangan hukum Om Dion dan Om Mike karena mereka tidak bersalah. Mereka hanya melakukan apa yang Varo minta. Jika Mommy ingin menghukum Varo silahkan hukum Varo saja."


"No, Mommy tidak ingin menghukum Koko. Koko sudah jadi anak yang berani jujur dan Mommy suka itu. Tapi, Mommy hanya ingin berpesan bahwa Koko jangan melakukan hal seperti itu lagi karena itu sangat berbahaya, Nak. Mommy dan Daddy bisa mengatasinya sendiri, bukan maksud Mommy untuk tidak melibatkan Koko, namun saat ini Koko harus fokus sekolah saja dulu. Jika Koko sudah besar nanti, Mommy yakin bahwa Koko bisa menjadi seperti Daddy yang akan melindungi Mommy dan adik-adik mu."


Varo segera memeluk Vania dengan sangat erat. Ia benar-benar bersyukur diberikan ibu angkat yang sangat mengerti dirinya. Dalam hatinya, Varo berjanji tidak akan mengecewakan Vania dengan sengaja. Ia akan berusaha untuk menjadi anak yang bisa dibanggakan oleh Mommy dan Daddy nya.


Klek


"Koko itu sudah besar, mengapa masih peluk-peluk Mommy?" gerutu Varel yang membuat Vania terkekeh pelan.


"Loh, ini kan anakku" balas Vania sengaja kembali memeluk Varo dengan erat.


"Oh, jadi Cici tidak dianggap?"


Tiba-tiba Lista yang bersembunyi di belakang Varel pun menampakkan diri. Dengan segera ia berlari mendekati Vania dan memeluknya dengan sangat erat.


"Daddy bau jadi tidak perlu ikut" ucap Lista tiba-tiba.


Mendengar hal itu, Varel mendengus kesal lalu berjalan mendekat dan memeluk istri juga anak-anaknya.


"Enak saja Daddy yang wangi seperti ini dibilang bau."


"Hei, harusnya kita membawa si kembar. Astaga kasihan sekali para bontot terlupakan" ucap Lista dengan heboh.


Karena mendengar ucapan sang anak, akhirnya Varel pun beranjak mendekati box bayi dan menggendong baby Al lalu memberikannya kepada Lista, sedangkan baby El diberikan kepada Varo.


"Apa kita harus mengabadikan momen?" usul Vania yang membuat Lista mengangguk bersemangat.


"Mana ponsel Daddy? Cepat!"


Dengan segera Lista pun beranjak untuk mengatur angle agar mereka semua bisa masuk ke dalam frame foto tersebut.


"One! Two! Three! Cheers!"


Setelah beberapa kali take, akhirnya sesi foto dadakan pun selesai.


"Nah seperti ini dong, jangan diam-diam terus. Cici dan Daddy sudah saling meminta maaf?"


Baik Lista maupun Varel langsung mengangguk seolah menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Vania.


"Hei, kenapa Koko diam saja? Ah, Cici tidak heran sih, kan Koko mayat hidup" ucap Lista menghela nafas berat.


"Bagaimana dengan sekolah kalian sekarang?" tanya Varel basa basi.


Lista menggeleng pelan. "Daddy, stop berbicara tentang sekolah. Akan sangat indah jika bisa jalan-jalan saat weekend seperti ini."


Ah, anak perempuannya sedang memberikan kode.


Mendengar hal itu, baik Vania maupun Varel pun sama-sama tertawa hingga gelak tawa mereka memenuhi kamar utama.


"Mengapa tidak menghabiskan uang Ayah?"


"OH IYA AYAH! ASTAGA, KITA MELUPAKANNYA!"


Teriakan Lista membuat kedua adiknya terbangun hingga menangis karena terkejut.


"Cici.."


"I am sorry, Dad.."


"Mulut mu itu perlu diberikan lakban."


Akhirnya, setelah sekian lama Varo membuka suara.


Plak


"Ternyata memang lebih baik Koko diam saja."


*


*


*