
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_ 😘
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Disinilah Vania berada didalam jet pribadi yang akan membawanya pergi dari Indonesia meninggalkan kesalahpahaman bahkan meninggalkan suami dan anak perempuannya
Vania sedang duduk tepat disebelah Daniel yang selalu menemaninya sedangkan Varo sudah tertidur nyenyak tak jauh dari tempat Vania berada
"Vania"
panggil Daniel saat melihat Vania yang lagi dan lagi termenung
"Eh-kenapa Kak?"
"Jangan selalu memikirkannya, sayang. Kasihan bayi kembar"
ucap Daniel lembut seraya mengelus pucuk kepala Adik kesayangannya
"Vania boleh bersandar, Kak?"
tanya Vania pelan dan menatap Daniel intens
"Kemari lah"
Vania pun mulai menyandarkan kepalanya di bahu Daniel untuk merasakan perlakuan lembut dan nyaman yang dilakukan oleh Kakak lelakinya
"Salah tidak Kak jika Vania meninggalkannya? Vania terlalu sakit mendengar tuduhannya bahkan ucapannya yang menolak anak ini. Apa Vania terlalu murahan dimatanya? Vania tidak pernah berniat untuk mengkhianatinya bahkan untuk memikirkannya saja Vania tidak pernah, Kak"
Air mata jatuh mengalir dengan deras membasahi wajah cantik Vania membuat Daniel semakin erat merangkul sang Adik dan mencium pucuk kepala itu berkali-kali
"Dia sangat baik terhadap Vania, jadi bagaimana bisa Vania berpikir untuk mengkhianatinya? Kenapa dia memikirkan hal yang tak pernah Vania pikirkan?"
"Sayang, sudahlah tenangkan dirimu dan jangan memikirkannya"
"Terima kasih ya Kak sudah tetap bersama Vania di hari yang sangat terburuk ini. Maaf juga jika Vania selalu merepotkan Kak El, Mama dan Papa"
"Hei, jangan katakan itu. Kau itu bagian dari keluarga Airlangga dan kau adik Kak El"
"Sekarang tidurlah"
*****
Apartemen Sebastian
"Mas, kita harus menjelaskan pada Tuan Muda"
ucap Tika saat mendengar semua cerita Sebastian tentang kesalahpahaman itu
"Mas tidak yakin jika Varel mau menemui Mas"
"Setidaknya berusaha Mas. Mas tidak kasihan dengan Mba Vania yang harus menanggung resikonya? Lihatlah, dimana Tuan Daniel membawa Mba Vania? Rumah tangga mereka diambang perpisahan, Mas"
"Sayang, kau tidak mengenal Varel dengan baik. Dia tidak akan bisa menemui Mas jika dia masih dikendalikan oleh emosi. Mau bagaimana pun caranya tetap tidak bisa Mas berbicara bahkan berhadapan langsung dengannya karena tidak mudah menerobos masuk ke dalam gedung Fernandez jika Varel yang memberi perintah"
"Ya Tuhan, lalu bagaimana dengan Mba Vania? Kasihan sekali Mba Vania yang tidak tau apa-apa tapi dituduh dengan sangat tidak adil"
"Tenanglah, nanti Mas telpon Daniel untuk menanyakan keberadaan mereka dan keadaan Vania tapi sekarang kepala Mas masih pusing"
"Ya sudah Mas istirahat saja dulu. Aku pulang ya, Mas"
"Sayang, kok Mas ditinggal?"
"Aku juga tidak mungkin menginap disini kan, Mas?"
"Setidaknya temani Mas dulu"
rengek Sebastian dengan manja membuat Tika menghela nafas berat lalu kembali berjalan mendekati Sebastian
Tika pun duduk di kursi yang ada disebelah tempat tidur membuat jaraknya dan Sebastian yang berbaring tidak terlalu jauh bahkan Sebastian menikmati wajah Tika dihadapannya hingga mungkin Sebastian tidak ingin berkedip karena takut keindahan ini hilang
"Mas tidur sekarang atau mata Mas mau dicolok?"
ketus Tika karena risih saat Sebastian selalu menatapnya
"Ampun, Bunda Ratu"
ucap Sebastian sopan lalu mulai memejamkan matanya karena benar-benar takut dengan ancaman Tika sedangkan wanita yang mengancam itu langsung terkekeh melihat tingkah Sebastian.
*****
Rumah Mewah Keluarga Airlangga
"Astaga, kenapa kalian tiba-tiba ada disini? Mengapa tidak menghubungi Mama?"
tanya Mama Kusuma terkejut
Beberapa menit yang lalu, ada pelayan di rumah tersebut yang memberitahukan kepada Mama Kusuma bahwa kedua anaknya ada di lantai bawah dan baru sampai setelah perjalanan kurang lebih satu hari penuh dari Indonesia
"El, angkat Varo dan bawakan ke kamar mu dahulu"
ucap Mama Kusuma saat melihat cucunya tertidur dipangkuan Daniel
Tanpa disuruh dua kali, Daniel pun membawa Varo ke lantai atas dimana letak kamarnya
"Mama"
ucap Vania pelan lalu mendekati sang Mama dan memeluknya erat membuat Mama Kusuma mengerti bahwa Putri nya sedang tidak baik-baik saja bahkan berkunjung ke Amerika mengunjungi mereka
"Ada masalah apa dengan Varel?"
tanya Mama Kusuma lembut
Melihat raut wajah terkejut dari sang anak, Mama Kusuma pun kembali membuka suara
"Kau tidak akan kemari tanpa Varel dan Lista jika tidak ada masalah apapun"
"Ma, maaf jika Vania merepotkan-"
"Kau tidak merepotkan, sayang. Kau kan anak Mama dan Papa, jadi bisakah kau jelaskan apa yang terjadi?"
"Daniel akan menjelaskannya, Ma"
Tiba-tiba terdengar suara Daniel yang baru saja kembali ke ruang keluarga dan duduk tepat disebelah Vania
"Mama ingin mendengar dari Vania dahulu, baru setelah itu darimu"
Vania mulai menceritakan semuanya, dari awal dirinya yang meminta izin menemani Tika untuk mengunjungi Sebastian di apartemen karena sedang sakit, saat dirinya meminta Dika dan Ziva turun ke klinik untuk mencari obat Sebastian, Tika dan Varo yang di dapur sedang membuat bubur, dan saat Vania yang merasakan kram hingga Sebastian memintanya untuk beristirahat di sofa bahkan saat Varel yang mengira mereka memiliki hubungan gelap lalu meragukan buah hati mereka
Ditambah dengan penjelasan Daniel yang mengatakan bahwa Varel memang sedang pusing mengalami kekacauan perusahaan lalu Daniel juga menjelaskan apa yang didengarnya secara langsung bahkan tentang pukulan keras yang Varel dapatkan dari tangan Daniel
Tentu saja hal itu membuat Mama Kusuma benar-benar terkejut hingga dirinya tidak menyangka bahwa menantu nya akan melakukan hal bodoh itu
"Ya Tuhan, bagaimana bisa terjadi? Apa yang dipikirkannya?"
"Ada apa ini?"
Tiba-tiba terdengar suara berat Papa Lyno yang baru masuk ke dalam rumah karena mendapat laporan dari anak buahnya bahwa Daniel dan Vania sedang berada di Amerika bersama Varo
"Papa"
lirih Vania pelan dengan air mata yang sudah mengalir di wajahnya membuat Papa Lyno mendekat dan memeluknya erat
Setelah memastikan bahwa Putri kesayangannya sudah merasa agak tenang, Papa Lyno pun meminta Daniel menceritakan apa yang terjadi
Ada guratan raut kekecewaan dan menahan amarah yang terlihat dari wajah Papa Lyno saat Daniel menjelaskan semuanya
"Tinggal disini dan jangan merasa canggung karena ini rumahmu, sayang"
ucap Papa Lyno menatap Vania intens
"Maaf, Vania merepotkan"
lirih Vania menunduk
"Jangan katakan hal itu, hati Papa sakit mendengarnya. Kau anak Papa dan Mama jadi berhenti mengatakan seolah kau hanya orang asing disini"
ucap Papa Lyno tegas.
*
*
*
Maaf banget ya pendek, author masih nyempetin up tengah malam disela-sela tugas menumpuk😢.
*
*
*