
Tika tertegun mendengar percakapan Yudhoyono dengan Fernando. Entah anak siapa yang suaminya maksud.
Tika tidak sengaja melewati ruangan Fernando. Terlihat kedua nya tengah berbicara serius mengenai hal itu.
Tika tidak mengerti apa maksud suami nya, siapa yang akan mendonorkan sum sum tulang belakang nya untuk Adzkia?
Tika tidak tahu apa apa tentang masa lalu suami nya, Apa ada yang Fernando sembunyikan dari nya?
Lekas Tika meninggalkan tempat tersebut saat melihat Yudhoyono pamit pada Fernando.
**
Yudhoyono menghampiri kedua perempuan yang sama sama terdiam duduk termenung menatap jendela.
"Sudah siap ? Kita berangkat sekarang ya !"
Ujar Yudhoyono menghampiri keduanya.
Tika mengangguk kecil lalu membantu Adzkia beranjak dari duduknya.
Ia tidak ingin gegabah menanggapi permasalahan itu, ia harus mencari informasi sebenarnya terkait anak yang Yudhoyono maksud.
Dan saat ini Tika memilih untuk diam dan berjalan seperti adanya.
Ia juga memikirkan keadaan Adzkia yang semakin melemah.
Yudhoyono mendorong kursi roda dengan semangat, berharap Fatih cepat sadar agar ia bisa memberikan pertolongan untuk adiknya.
Ia sudah menyiapkan apartemen untuk mereka tinggal sementara di Canada. Yudhoyono juga sudah menghubungi dokter yang akan menangani putri nya.
**
Sore itu Alexa tiba di rumah sakit, tubuh nya sedikit kurus karena kurang tidur dan banyak pikiran.
Bukan hanya tentang Fatih yang tidak kunjung sadar, tapi juga keadaan keluarga nya yang terpecah belah.
Kegiatan siang ini di kampus cukup menguras tenaga. Ia ingin sekali bercerita tentang aktivitas nya di kampus pada Fatih seperti dulu ia selalu bercerita tentang kegiatan nya di sekolah.
entah bagaimana kabar Fatih dan Zahra di Indonesia. Alexa mengulas senyum mengingat permasalahan nya dengan salah satu siswi sok cantik di sekolah.
dan hal itu tidak akan ia lupakan karena hal itu ia di skor beberapa hari, padahal saat itu ia baru masuk sehari tapi sudah membuat masalah.
Teringat wajah Fatih yang geram mendapati ia yang berseteru dengan temannya itu.
Alexa masuk ke dalam ruang perawatan dimana suaminya masih terlelap. Merina menyembul keluar dari kamar mandi.
"Alexa kamu sudah pulang ?"
Terlihat wajah nya yang lesu.
"Ya mah, gimana perkembangan bang Fatih ?"
tanya Alexa menatap wajah Fatih tak lagi terlalu pucat. Ada darah yang mengalir pada wajah tampannya.
"Dokter mengatakan kalau keadaan nya semakin membaik. Kita tinggal menunggu ia sadar saja."
Jawab Merina tak henti berdoa untuk kesembuhan Fatih.
"Ya sudah Nama boleh pulang kalau mau pulang, ada Alexa yang tunggu bang Fatih !"
Cakap Alexa dan di anggukan oleh Merina.
"Ya sudah, di meja ada makanan untuk kamu. Jangan lupa makan dan istirahat dekat Fatih !"
cetusnya lalu pamit meninggalkan ruangan itu.
Merina tahu kalau Alexa anak yang baik, selama ini ia setia menunggu Fatih di rumah sakit tanpa mengeluh.
"Bang, aku mandi dulu. Seharian ini lelah sekali dan aku ingin bercerita seperti dulu. Kau tahu aku selalu menunggu mu membuka mata."
Ujar Alexa berbicara sendiri lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lekas ia keluar setelah berganti pakaian kemudian menunaikan ibadah sholat ashar, perut nya sudah kericuhan karena lapar.
Gegas ia menghampiri makanan setelah selesai sholat.
"Bang, apa kamu sudah makan ? Aku lupa bertanya pada ibu apa kamu sudah minum susu ?"
Alexa menghela nafas berat lalu duduk di hadapan Fatih.
"Aku mau kita makan bersama seperti dulu bang, ayolah jangan biarkan aku seperti ini !"
Alexa terisak menggenggam tangan Fatih yang hangat, suhu tubuhnya mulai normal dan dokter mengatakan bahwa keadaan Fatih berangsur pulih.
Samar namun jelas terdengar Fatih merasakan suara Isak tangis yang begitu pilu mendayu.
Ia berusaha bangkit dari rasa sakit yang mendera kepala nya, sedikit demi sedikit ia mencoba untuk bergerak dan merasakan sebuah tangan menggenggam nya erat.
Alexa tertegun saat merasakan tangan Fatih bergerak gerak. lekas Alexa mengangkat tubuh nya dan seketika itu ia membeku saat netra nya menangkap Fatih yang membuka mata nya.
"bang, kamu sudah bangun ?"
Tanya Alexa mengusap air matanya.
Fatih terdiam menatap wajah cantik yang berada di hadapannya, entah siapa Fatih benar benar lupa dan tidak mengingat sosok indah yang beradab di hadapannya.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar bang !"
Ujar Alexa begitu senang melihat Fatih membuka mata nya.
"Kamu siapa ?"
Tanya Fatih membuat Alexa terpaku sejenak.
"Aku...apa Kamu tak ingat siapa aku ?"
Fatih menggeleng kan kepala nya dan saat itu juga pria itu menunjukkan sikap dingin.
Merina dan Alfat langsung ke rumah sakit saat Alexa memberi kabar kalau Fatih sudah sadar.
Alexa tertegun saat dokter mengatakan bahwa sebagian ingatan Fatih tidak muncul akibat benturan keras tersebut.
Merina menoleh ke arah Alexa dengan iba, Alexa terlihat murung dengan sendu karena Fatih tidak mengingat kebersamaan mereka.
"Fatih apa yang kamu ingat nak ?"
Tanya Merina duduk di samping Fatih yang memperhatikan Alexa.
Michel juga langsung datang setelah tahu kalau Fatih sudah sadar.
"Ibu, ayah dan Adzkia !"
jawab Fatih membuat langkah Micel terhenti mendengar jawaban pria itu.
"Ya, tapi sekarang kamu sudah menikah dan ini Alexa istri kamu !"
Ujar Merina membuat Fatih tertegun.
"tapi bagaimana bisa Fatih menikah dengan nya ? Seingat Fatih Adzkia adalah calon istri Fatih Bu !"
Deg...
Jawaban itu begitu menohok hati Alexa, ran dan bulir bening itu kembali jatuh tanpa izinnya.
Lekas Michel menghampiri Alexa, dan putri nya itu langsung mendekap pinggang ibu nya.
Bukan ini yang Alexa harap kan, mengapa saat Fatih sadar justru ia tidak mengingat sama sekali masa indah yang mereka lalui bersama.
Apa Alexa harus bercerita semua nya pada Fatih ?
Fatih tertegun melihat Alexa menangis memeluk perempuan yang menggunakan seragam perawat.
Ia berusaha mengingat semua nya, namun justru ia merasakan pusing dan nyeri di bagian kepala nya.
"jangan terlalu di paksakan untuk mengingat semua nya, sebab semua akan muncul sendiri seiring berjalannya waktu. jika memaksa maka hal itu akan berimbas pada keadaan Fatih yang baru sadar. Untuk saat ini sabar saja dulu dan utamakan pemulihan !"
Cakap dokter lalu meminta Fatih untuk kembali beristirahat setelah di berikan obat.
Tak lama Fatih kembali memejamkan mata nya dengan terlelap tanpa kata.
"Kamu harus sabar ya Alexa !"
Ujar Merina mengusap punggung Alexa.
Alexa ingin kan pelukan hangat Fatih melepas rasa rindu yang membuncah dalam hati. Namun keadaan justru semakin dingin. Fatih tidak mengingat sedikit pun kebersamaan mereka ? lalu apa yang harus ia lakukan? Sedangkan masa ini begitu ia nantikan.
Bersambung.
Terima kasih yang sudah mampir, jangan lupakan like and komentar ya 😍😍😍