
"Oma jahat" jerit kenzo marah.
"Memangnya ada nenek yang seperti itu, tega menyakiti cucunya. Mempermalukan kakak ditempat umum."
"Kalau memang tidak suka sudah disimpan saja jangan diumbar sampai seluruh dunia tau."
Mendapati aruna bersedih ditambah mendengar cerita mang udin yang menyampaikan kejadian di toko buku membuat anggota keluarga lainnya dilanda kesal.
"Nak" nadia berusaha merangkul aruna sekaligus hansel yang napasnya sudah memburu.
"Memang oma ga bisa ya bersikap baik kepada kami didepan umum walau hanya sandiwara saja." Keluh hansel yang sejak tadi duduk diam.
"Oma memang tidak menyukai kita dan mama." Isak tangis aruna pecah.
"Aku sudah diam tapi oma tidak berhenti menjelekkan mama dan kami jadi tontonan seisi toko. Aku benar-benar merasa malu."
"Ayank" angga merengkuh tubuh gadis kecilnya.
"Maafkan papa, memposisikan kalian pada situasi yang seperti ini."
"Aku capek dengan oma. Oma terlalu jahat untuk disebut sebagai nenek." Aruna mengeratkan pelukannya pada sang ayah.
Pelukan angga memang selalu berhasil memberi ketenangan untuk anak dan istrinya. Terbukti aruna sampai tertidur dalam pelukannya karena lelah menangis.
"Mas bawa ayank ke kamarnya dulu."
Nadia mengangguk sambil masih mengusap kepala kenzo yang berbaring di pangkuannya sementara hansel duduk bersandar disampingnya. Meredam emosi demi mendamaikan perasaan anak-anak sangatlah sulit bagi angga dan nadia, tapi mereka harus bisa melakukan hal itu.
Pasangan suami istri ini berbaring ditengah ranjang tanpa ada obrolan padahal mereka masih sama-sama terjaga. Apa yang aruna alami sore tadi berhasil menyentil hati mereka. Yang terluka bukan lagi angga dan nadia saja tapi anak-anak juga sudah terkena imbasnya. Nadia dalam diamnya menahan diri untuk membuka suara bagaimana caranya mengambil tindakan tegas untuk marini tapi rasa malasnya membuat nadia memilih diam.
"Sayang."
"Hmm" mendengar angga memanggil, nadia langsung menoleh kearah samping.
"Bagaimana sekarang? Mas sudah benar-benar kehabisan akal. Mama sudah keterlaluan sekali, sampai ayank mendapat perlakuan semacam itu dimuka umum. Apalagi tadi dia sendirian tidak ada salah satu diantara kita yang menemani."
Sebagai seorang ayah, angga merasa sangat gagal dalam menjaga putri tunggalnya. Ditambah yang menyakiti aruna bukanlah orang lain melainkan nenek kandungnya. Bisa dibayangkan betapa hancurnya perasaan aruna sekarang, bisa saja mentalnya terganggu akan hal itu.
"Aku ga bisa ngomong apa-apa mas. Dia ibumu, jangan kamu tanyakan bagaimana perasaan ku sekarang. Aku sudah hancur tak berbentuk lagi. Kalau saja aku yang mendapat perlakuan seperti yang ayank alami aku tak akan mengapa, tapi ini putri ku anak yang aku lahirkan."
Leleh air mata membasahi pipi nadia. Melihat nadia menangis angga hanya bisa berdiam diri, ia merasa maafnya tak akan berguna lagi tak akan mengubah keadaan yang ada. Bertahun-tahun bertahan berjuang dengan harapan akan bisa meluluhkan hati marini.
"Mas akan putus komunikasi dengan mama, ini cara terakhir yang bisa mas lakukan."
"Titipkan mama pada pekerja dirumah utama. Kita ga mungkin begitu saja lepas tangan pada mama, kesehatannya juga tidak baik-baik saja."
Nyes, angga tersentuh dengan apa yang nadia katakan. Dibalik rasa sakitnya ternyata nadia masih sangat perduli pada keadaan marini.
Bukannya menjawab, angga malah merengkuh nadia untuk masuk kedalam pelukannya. Tentu saja rasa syukur yang sangat besar angga panjatkan karena sudah berhasil menikahi nadia menjadikan nadia sebagai pendampingnya.
___________