
Kata-kata cinta yang angga ucapkan tempo hari ternyata menjadi sebuah pertanda yang tak disadari oleh nadia. Pagi tadi agus menelpon untuk mengabari jika angga ditemukan pingsan dikamar hotel tempat mereka menginap karena kemarin sore angga dan agus pergi keluar kota untuk menghadiri sebuah rapat penting.
"Terus sekarang suami saya sudah sadar?" Nadia bertanya dengan menahan tangis.
"Sudah non, baru saja sadar."
"Lalu saran dokter bagaimana? Apa bisa dibawa saja pulang kemari dan dirawat dirumah sakit disini?"
"Bisa, sekarang semuanya sedang disiapkan."
"Makasih banyak pak agus."
"Sama-sama non, maafkan atas kelalaian saya ini."
"Ga, pak agus ga salah. Mas angga berangkat memang sedang kurang enak badan."
Tut
Nadia meremas ponsel ditangannya saat sambungan telponnya sudah terputus. Perasaan khawatir menghinggapi hatinya, angga sakit bahkan sampai pingsan sementara jarak mereka sedang berjauhan. Walau agus sudah mengurus semuanya tetap saja nadia belum merasa tenang sebelum angga bisa dilihatnya secara langsung.
"Mas."
Tok tok tok
Ceklek
Aruna masuk dengan wajah basah, si sulung yang begitu perasa selalu paham jika kedua orangtuanya sedang tidak baik-baik saja.
"Ma"
"Ya nak, sini. Kenapa nangis?"
"Aku kangen papa, boleh video call papa?"
Berdenyut hebat, dada nadia langsung serasa diremas. Sedang dilanda bingung dengan kondisi angga sekarang malah putrinya menanyakan ayahnya. Nadia tak tega jika harus memberitahu aruna tentang kondisi angga yang sedang terbaring sakit.
"Ma"
"Ya nak"
"Aku mau video call papa."
"Sibuk banget ya?"
"Lumayan, papa buru-buru selesaikan semua pekerjaannya supaya bisa pulang lebih cepat."
Aruna memasang wajah sedih, kekhawatiran bocah cantik itu terpancar jelas diwajahnya. Seperti memiliki ikatan batin yang kuat, aruna bisa ikut merasakan.
.
.
"Nad, angga sebentar lagi sampai dirumah sakit. Anak-anak titip ke mba marni dulu nanti kalau semua sudah aman papa yang akan pulang duluan untuk jaga mereka."
"Iya pa, ibu sama indira juga sebentar lagi sampai. Nanti anak-anak biar sama ibu aja,"
"Ya sudah kalau begitu lebih bagus jadi papa bisa lebih lama dirumah sakit."
"Hmm"
Setengah jam kemudian, nadia bersama dengan bramantyo dan indira sudah sampai dirumah sakit tempat angga akan dirawat. Angga datang dengan gips dileher dan memar dikening. Melihat kedatangan ayah dan istrinya, angga berusaha memberikan senyum walau sambil menahan sakit dan rasa tak nyaman karena lehernya yang terpasang gips.
"Mas"
"Sayang"
"Pulang pulang malah kayak gini."
"Tadi pagi pas keluar kamar mandi mas ngerasa pusing dan ternyata malah pingsan."
Tak menjawab nadia terus mengusap lelehan air mata yang terus keluar. Melihat suami terbaring diranjang rumah sakit membuat luka lama yang dulu pernah terjadi kembali terbuka. Angga sakit dan nadia yang disalahkan oleh marini. Bukan hanya karena takut akan kembali disalahkan, nadia juga takut jika seandainya agus tak cepat datang entah apa yang akan terjadi pada angga.
"Jangan nangis terus. Mas ga kenapa-napa."
"Ish, anak-anak pada nanyain mas. Aku bingung harus jawab apa kalau kondisi mas begini."
"Ya bilang saja papa sakit, mereka pasti ngerti. Ga usah khawatir, anak-anak kita pintar."
"Hmm" fokus nadia terus kearah leher angga yang dipasang gips karena terjadi benturan saat angga jatuh pingsan.
___________