JODOH KU

JODOH KU
MARINI MENGGADUH


Tak ada yang bisa melarang nada untuk melenggang masuk kedalam perusahaan milik bramantyo karena kedatangannya bersama marini. Security yang bertugas dibuat kebingungan, antara ingin melarang nada masuk tapi juga takut karena mereka tau marini adalah istri pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.


Dengan menaiki lift khusus marini menggandeng nada untuk naik kelantai dimana angga berada. Kebetulan hari ini angga sedang berada dikantor karena ada beberapa meeting penting yang juga dihadiri oleh bramantyo.


"Tante, mas angga ada dikantor kan?" Nada bertanya dengan wajah cemas. Ia masih ingat bagaimana dulu ia diusir dengan kasar oleh beberapa security atas perintah angga.


"Ada, sudah kamu tenang saja. Ikuti tante, jangan bicara berlebihan ya nanti di dalam."


"Iya tante."


Keluar dari lift, marini langsung menuju ruangan angga dan lagi lagi intan yang bertugas didepan pintu tak bisa menghadang kedatangan ibu dari bosnya itu


Ceklek


Angga menoleh karena mendengar pintu dibuka padahal angga belum mempersilahkan untuk masuk.


"Mama" gumam angga.


Marini masuk diikuti nada dibelakangnya.


"Ada apa ma? Tumben mama dateng kekantor? Papa ada di ruangannya."


"Mama mau ketemu kamu, bukan ketemu papa."


"Owh, ada perlu apa ma?"


"Soal nada."


"Kenapa lagi?" Angga langsung menggertakkan rahangnya saat mendengan marini menyebut nama nada.


"Kapan kamu mau menikahi nada?"


"Menikah?"


"Ya, menikah dengan nada. Nada tidak keberatan kalau harus jadi istri kedua, dia bisa tinggal sama mama nanti. Mama perlu teman,"


"Angga"


"Jangan terus memperkeruh suasana ma. Aku lelah berdebat hal yang sama berulang ulang dan tak akan menemukan tutik terang."


"Lebih baik mama bawa dia pergi, aku sedang sangat sibuk sekali hari ini."


Tak berbohong, angga sedang dikejar deadline pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Jadi dengan berat hati ia mengusir ibunya.


"Kamu ngusir mama?" Marini meradang.


"Apapun menurut mama, tapi aku benar-benar sedang sibuk. Banyak pekerjaan mendesak yang harus selesai hari ini. Jadi tolong ma, kali ini saja."


"Mama ga akan pergi sebelum kamu pastika kapan tanggal pernikahan mu dengan nada."


Marini tetap bersikeras dengan keinginannya.


Mendapati situasi yang membuat kepalanya pusing angga memutuskan untuk membawa barang pentingnya keluar ruangan dan mencari tempat aman agar ia bisa menyelesaikan pekerjaannya. Meladeni ibunya adalah hal yang paling membuat emosi angga meletup letup.


"Angga, kemana kamu?"


"Mama bisa saja mencelakai perempuan itu dan membuat anaknya mati."


Jeder


Angga melongo dengan kata-kata yang lagi-lagi menyakiti hatinya. Kali ini marini ibu kandungnya dengan tega mengancam akan menyakiti istri dan anaknya. Tak terasa buliran bening menetes dipelupuk matanya, angga menangis. Ia tak habis pikir apa yang merasuki ibunya bisa sampai hati berucap demikian.


"Sekalian saja mama bunuh aku. Aku rela mati untuk anak dan istriku. Supaya mama puas, supaya tak ada lagi beban yang selalu membuat hati mama ditumbuhi kebencian."


Angga berbalik setelah mengusap matanya yang berair. Berusaha tetap tegar walau kali ini hatinya benar-benar telah hancur. Hancur lebur tak bersisa lagi, angga sudah tak bisa mengartikan kebencian yang marini miliki. Kenapa bisa sampai mendarah daging seperti ini.


Angkuh, angga bisa melihat tak ada penyesalan yang terlihat dari wajah ibunya. Marini berbicara demikian seolah-olah semua yang dikatakan bukanlah hal yang serius.


__________