JODOH KU

JODOH KU
LAGI


Bramantyo menemani langkah perawat yang mendorong brankar marini kearah ruang operasi. Marini kembali jatuh dikamar mandi dan kali ini ia sampai harus dioperasi karena benturan yang terjadi dikepalanya. Saat diperjalanan kerumah sakit bramantyo sudah mengabari angga mengenai kecelakaan yang menimpa ibunya.


Lampu merah diatas pintu ruang operasi sudah menyala, pertanda operasi sudah dimulai. Menatap gusar kearah pintu, pikiran bramantyo melalang buana entah kemana. Pertama kalinya berada dalam situasi yang begitu mencekam, membuat bramantyo merasa hampa.


"Pa" angga datang dengan langkah tergesa. Nadia mengikuti langkah angga yang berjalan sedikit lebih cepat dengan aruna berada dalam gendongannya.


"Operasinya baru saja dimulai."


Mendengar jawaban ayah mertuanya membuat nadia langsung menjatuhkan dirinya dikursi tunggu yang ada disana. Kali ini nadia pun ikut merasakan perasaan hampa seperti yang bramantyo rasakan.


Sambil menggendong aruna, angga terlibat obrolan serius dengan ayahnya. Nadia tak begitu menyimak apa yang ayah dan anak itu bicarakan. Fokus nadia hanya pada lampu yang berada diatas pintu ruang operasi berharap lampu berwarna merah itu segera mati.


Satu jam dua jam tiga jam terlewati, semua yang menunggu didepan ruangan operasa menanti dengan gusar. Waktu tiga jam terasa begitu panjang sampai membuat aruna kelelahan dan tertidur dalam gendongan sang ibu.


"Masih lama mas?" Bisik nadia tepat ditelingan angga.


"Belum tau, kamu capek? Mau mas antar pulang? Kasihan juga ayank pasti ga nyaman tidurnya digendong begitu."


"Aku mau disini aja mas, mah nemenin mama walau cuma dari sini."


"Iya, makasih ya kamu masih mau perduli sama mama."


"Mama juga orang tua ku mas."


"iya sayang."


Agus intan sonya marini bahkan beberapa pekerja rumah angga dan bramantyo ikut kerumah sakit menunggui marini yang sedang berjuang dimeja operasi.


Berkeliling membagikan nasi kota beserta minumannya. Agus dibantu oleh intan berinisiatif membeli makanan dan minuman untuk orang-orang yang ada disana. Segala sesuatunya agus sudah paham dan tau jadi ia bisa dengan mudah mengambil keputusan jika situasinya memang sedang sangat urgent.


"Pak angga, makan dulu."


"Sama-sama pak."


Semua pasang mata terus menatap kearah lampu yang masih menyala merah. Bahkan nadia tak beranjak sama sekali dari tempat duduknya. Didalam hati, nadia tak putus memanjatkan doa untuk mukjizat atas kesembuhan marini.


"Pa, makan dulu ya?"


"Ga laper"


"Harus makan walau tiga suap, papa harus punya tenaga ekstra."


Menuruti perkataan nadia, dengan malas bramantyo membuka box nasinya dan susah payah ia menelan makannya. Tak ada tangis dan air mata, namun hati bramantyo kali ini sungguh merasa hancur dan ada ketakutan yang sesekali melintas.


Manusia yang hidup pasti akan menemukan ajal, kematian adalah sesuatu yang pasti. Tapi tetap saja, bramantyo angga maupun nadia terus mengucap doa dalam diam mereka.


"Ayo pa, makan. Mama butuh kita."


Bramantyo hanya mengangguk, sejak belahan jiwanya masuk keruang operasi. Bramantyo lebih banyak diam, belahan jiwanya sedang tidak baik-baik saja.


"Ayo pa." Nadia berusaha membujuk dan memberi semangat.


"Hmm, kita semua harus sehat. Mama butuh kita." Dengan suara bergetar bramantyo akhirnya membuka suara.


"Mama pasti baik baik aja pa, percaya allah akan menyembuhkan mama." Giliran angga yang menyemangati ayahnya.


"Terimakasih kalian masih mau menemani papa disini."


__________