
"Halo pak angga"
"Ya tan ada apa?"
"Ada bu dewi mau ketemu bapak katanya."
"Bilang saya lagi sibuk ga bisa ditemui."
"Tapi maksa pak, orangnya malah duduk katanya mau nunggu."
Intan berbicara dalam bisikan sambil matanya sesekali melirik kearah wanita dengan tampilan glamor yang sedang duduk disofa depan meja kerjanya. Sudah hampir setengah jam lamanya wanita bernama dewi itu menunggu angga dengan tenang.
"Suruh agus yang urus tan, saya males ketemu sama orang itu."
Tut
Angga menutup telpon secara sepihak membuat intan melirik tak nyaman kearah tamu yang sedang menunggu angga.
Tak berselang lama, agus datang dengan wajah datarnya. Terkadang wajah datar yang agus tunjukkan sangat sering membuat orang lain disekitarnya berdecak tak percaya. Seperti saat ini, agus mendekati dewi yang agus ketahui adalah rekanan bisnis baru di perusahaan.
"Selamat siang bu dewi."
"Wah, pak agus asisten pribadinya pak angga wijaya yang tampan paripurna." Dewi memasang wajah kemayu khas wanita penggoda namun tampilan yang disajikan sangat berkelas.
"Benar, saya agus bu asistennya pak angga. Ngomong-ngomong bu dewi ada keperluan apa ya sampai datang kemari setau saya jadwal pertemuan kita kan sekitar dua mingguan lagi."
"Hahahaha, pak agus ini ingatannya tajam sekali. Seperti tidak tau cara pendekatan dengan rekanan baru saja pak." Dengan mengedipkan sebelah matanya dewi berlaga merayu agus.
"Wah, ini hal pribadi pak ga bisa kalau saya titip sampaikan begini."
"Dalam pekerjaan biasanya tidak menyelipkan hal pribadi bu dewi, seperti yang sudah diketahui dan banyak orang yang bekerja sama dengan perusahaan kami baik pak tyo maupun pak angga tidak akan mau bila dalam pekerjaan dikaitkan dengan urusan pribadi."
Nada suara agus berubah seketika, suasana yang tadinya santai tiba-tiba menjadi tegang. Bahkan intan yang duduk dibalik laptopnya bisa mendengar dan merasakan aura yang langsung berubah.
"Hmm, memangnya pak angga sedang tidak ada ditempat?"
Masih berusaha, dewi tetap mencari celah agar bisa bertemu dengan angga yang entah kenapa begitu menarik perhatian wanita pebisnis ini.
"Pak angga sedang di ruangannya bu, hanya saja sedang tidak bisa ditemui karena sedang sibuk. Ada banyak pekerjaan dan beberapa meeting online yang harus pak angga lakukan. Jadi jika memang bukan urusan pekerjaan ibu bisa pulang saja. Lagi pula jadwal pembahasan kelanjutan kerjasamanya masih sekitar dua mingguan lagi."
Agus masih berusaha sopan dan menjaga nada suaranya. Tapi sepertinya lawan bicara agus kali ini tak mudah gentar dan memiliki tingkat kepercayaan diri yang lumayan besar.
"Coba tolong ditanyakan dulu pak agus, mungkin saja saat waktu break nya pak angga bisa mengobrol dengan saya sambil ngopi cantik di kafetaria kantor ini."
Dengan menghela nafas, agus masih terus menolak dan mengusir tamu pengganggu ini dengan cara halus.
"Maaf bu dewi, tidak bisa. Sesuai pesan pak angga tadi, hari ini sedang tidak bisa diganggu dan tidak mau menerima tamu karena memang tidak ada jadwal bertemu siapapun."
"Duh, ternyata benar perkataan orang tentang bagaimana pak agus sulit untuk memberi kelonggaran ya. Hmm baiklah kalau hari ini saya ditolak, saya harap dilain waktu pak agus akan memberi saya kesempatan untuk bisa bertemu dengan pak angga yang tampan paripurna ya."
Berjalan pergi menuju lift, dewi sama sekali tak lagi menoleh kearah belakang. Ia berjalan tegap dengan wajah diangkat, khas sekali bagaimana wanita berkelas bersikap walau sejatinya barusan ia sudah melakukan sikap genit.
____________