
"Mama semalem pelgi sama papa buat adik bayi ya?"
Dengan tatapan polosnya aruna menanyakan hal itu pada nadia. Entah siapa yang memberi pengajaran seperti itu pada si kecil yang sedang aktif dan banyak ingin tau.
"Siapa yang bilang begitu sama ayank?" Tanya nadia hati-hati.
"Tante, papa juga. Katanya ayank mau punya adik bayi. Sudah ada adiknya dipelut mama?"
Astaga, kenapa dua orang yang memang begitu kompak itu tak berfikir panjang dulu sebelum memberitahukan sesuatu pada anak seusia aruna pikir nadia dengan perasaan jengkel.
"Belum, adiknya belum ada. Memang ayank mau punya adik?"
"Hmm, mau mau. Kata papa supaya ayank ada teman main."
Nadia memaksakan senyumnya sambil mengelus surai hitam putri kesayangannya itu. Nadia yakin, anak seusia aruna ini belum begitu paham tentang apa yang sedang dimintanya. Jadi nadia hanya berusaha menanggapi sekedarnya dan tidak menanggapi serius akan permintaan aruna barusan.
"Ma, jangan lama lama kelualin adik bayinya ya. Aku mau main sama adik,"
Tak menjawab, nadia lebih memilih segera mengalihkan pikiran aruna dari adik bayi yang sedang dimintanya.
"Kita lihat cake didapur yuk? Mama tadi ada beli cake pandan susu kesukaan ayank."
"Cake hijau?"
"Hmm, cake hijau rasa pandan susu kesukaan ayank."
"Mau ma, boleh ayank minta dua potong?" Jawab aruna semangat dengan menunjukkan kelima jari kanannya sambil mengatakan dua.
"Hahahaha, oke oke. Dua potong untuk ayank kesayangan mama."
Dengan menggandeng tangan putrinya nadia dan aruna menuruni anak tangga. Keadaan rumah besar ini selalu sepi jika disiang hari karena bramantyo lebih banyak menghabiskan waktunya dibelakang rumah untuk mengurus kebun dan burung serta ikan peliharaannya. Jangan tanyakan angga, sudah pasti ia kekantor dan marini selalu berada didalam kamarnya.
"Sepi sekali" gumam aruna dengan mulut penuh cake.
"Hmm"
Ibu dan anak itu duduk diruang televisi lantai bawah sambil menonton film kartun kesukaan aruna. Sesekali aruna mengajukan pertanyaan-pertanyaan khas anak kecil dengan rasa ingin tau nya yang begitu besar.
"Ma, kenapa ayam makannya sepelti itu? Kenapa tidak pakai tangan sepelti ayank."
Penuh kesabaran nadia menjelaskan dengan sederhana setiap pertanyaan putrinya. Beruntung aruna selalu mudah paham dengan apapun yang ibunya jelaskan.
Kedatangan bramantyo akhirnya menghentikan pertanyaan aruna. Nadia langsung memiliki waktu untuk menggambar desain jika aruna sudah berada ditangan opanya. Sejak bayi, aruna akan sangat betah berlama-lama bermanja bermain bersama kakeknya jadinya nadia merasa tenang tak terganggu.
"Opa, tante dila bilang semalam papa sama mama buat adik bayi untuk ayank."
"Oh ya?"
"Hmm, ayank sudah tanya papa."
"Terus papa jawab apa?"
"Papa bilang iya."
"Ayank mau punya adik bayi?"
"Hmm, mau. Tapi mama bilang adik bayinya belum ada."
Bramantyo selalu dibuat terpana dengan cerita yang aruna sampaikan. Anak seusia aruna sudah bisa menceritakan setiap hal yang dilihatnya atau didengarnya dengan sangat jelas. Bersyukur sekali bramantyo masih diberi kesempatan untuk menikmati menjaga dan bercengkrama dengan cucunya.
"Terimakasih ya allah atas nikmat yang telah kau ciptakan ini. Dibalik nestapa masih terselip pengobat luka yang selalu bisa memberi energi positif bagi hamba mu yang sudah semakin renta ini."
__________