
Dua jam mendekap aruna dalam pelukannya dan nadia ikut terpejam, akhirnya aruna bisa diletakkan didalam box bayinya karena nadia ingin pergi buang air kecil.
Ceklek
"Sayang" angga masuk tepat saat nadia baru keluar dari kamar mandi.
"Mas sudah makan malam?" Tanya nadia dalam bisikan.
Angga hanya mengangguk.
"Mau mas ambilkan makan?"
"Aku masih kenyang, nanti aja. Itu dimeja juga ada camilan." Nadia menunjuk kearah meja tempat biasa dirinya mengasihi aruna.
Angga melongok ke dalam box, aruna tertidur dengan sesekali terdengar suara isakan.
"Masih nangis ya?" Tanya angga sambil menoleh kearah nadia yang berdiri disampingnya.
"Kayaknya sisa nangis tadi mas."
"Nangisnya kenceng banget? Kok sampai kebawa mimpi gitu."
"Lumayan kenceng, lama juga tadi nangisnya. Emang dari pagi mas tingga dia udah rewel banget ga mau ditaruh maunya di gendong terus."
"Mas siapin air hangat buat berendam ya?"
Angga berinisiatif menyiapkan air mandi untuk istrinya, karena saat ini tampilan nadia sangat berantakan sekali. Rambut yang tidak di ikat rapih bahkan pakaiannya pun masih yang tadi pagi.
"Boleh deh mas, badan ku pegel banget gendong ayank seharian."
"Kamu tunggu disini ya."
"Hmm, makasih banyak mas."
"Sama-sama sayang."
"Ayank mama, cepet sehat nak. Jangan lama-lama sakitnya. Mama sedih," Nadia menghapus air matanya yang menetes dipipi. Rasa sedih dan takutnya masih bercokol didalam hati.
"Ayank pasti sembuh, kata ibu bayi demam biasa jangan takut berlebih." Angga memeluk nadia dari arah belakang.
"Tadi aku takut banget mas, untung mba marni ada disini dia yang kasih tau supaya aku sama ayank skin to skin kalau ga gitu mungkin ayank bakalan terus nangis."
"Maaf ya kamu capek jagain ayank sendirian."
Nadia menggeleng, bukan salah angga. Angga harus bekerja dan tidak bisa menemaninya berasa aruna selama dua puluh empat jam. Ada tanggung jawab lain yang harus angga lakukan.
"Kita tidur yuk, mumpung ayank masih nyenyak. Soalnya tadi papa bilang bisa aja nanti ayank rewel lagi dan begadang."
"Tapi tidur beneran ya mas, ga tidur ala mas. Badan ku capek banget soalnya."
"Iya sayang, kita tidur beneran ini." Janji angga, melihat wajah lelah istrinya mana mungkin angga tega untuk meminta dilayani.
Benar saja, jam sebelah malam aruna terbangun dan rewel kembali. Angga dan nadia bergantian menggendong tapi tetap saja tangis aruna tak kunjung reda. Serba salah, pasti itulah yang aruna rasakan. Walau suhu tubuhnya sudah berangsur normal tapi tetap saja rasa tak nyaman menghinggapi tubuh bayi gembul itu.
"Cup cup sayang, mama disini nak." Nadia terus berusaha menangkan putrinya yang terisak sambil menyedot kantung asinya.
"Apa yang salah ya?" Tanya angga frustasi. Angga yang baru melihat aruna rewel dan menangis dalam waktu lama jadi ikut merasa bingung serta khawatir.
"Badannya ga enak kali mas."
"Mungkin, tapi nangisnya bikin kita ikutan bingung."
"Hmm, ini udah mulai tenang lagi."
"Jangan ditaruh ya. Biar mas siapin bantal untuk ganjal."
Angga langsung menyusun bantal agar nadia bisa bersandar sambil memangku aruna yang mulai memejamkan matanya lagi.
__________