
Selalu terlihat tampan walau tidak dengan pakaian mahal tapi tampilan angga selalu terlihat berkelas dan mampu menarik perhatian kaum hawa. Siang menjelang sore, angga harus menghadiri sebuah pertemuan dengan rekan kerjanya. Angga datang hanya dengan celana jeans dan kemeja casual serta sepatu kets saja. Pandangan banyak wanita langsung mengarah pada angga setiap ayah satu anak itu melewati mereka.
Sikap cuek dan terkesan jutek memang menjadi ciri khas angga jika keluar ditempat ramai. Ia bukan pria yang suka tebar pesona mencari perhatian orang sekitar apalagi lawan jenis. Cintanya hanya untuk nadia saraswati wanita yang begitu diperjuangkan sampai akhirnya mereka bisa bersama dan memiliki seorang anak perempuan.
"Selamat siang pak angga."
"Selamat siang pak robin. Maaf saya sedikit terlambat, sekarang jika ingin keluar rumah satpam cilik saya susah sekali dikelabui."
"Hahaha, saya dulu juga begitu. Sekarang sudah bebas setelah mereka semua sibuk ke sekolah."
Keduanya lalu sibuk membahas mengenai rencana kerjasama yang akan mereka lakukan. Sesekali obrolan mereka membahas mengenai anak. Tak terasa saat sedang asik mengobrol ponsel angga berdering. Tertera nama "istriku" dilayar ponsel yang menyala.
"Maaf pak robin, saya angga telpon sebentar."
"Ya pak, silahkan."
"Ya halo sayang, ada apa?"
"Mas, maaf ganggu. Ayank ga berhenti nangis udah sejam."
"Astaga, ajak kesini aja gimana? Minta sopir antar."
"Takut ganggu."
"Coba ke panggilan video ya."
"Iya"
"Papa, au papa. Papa uyang."
Suara tangis aruna mengisi panggilan yang masih tersambung antara nadia dan angga.
"Au papa"
"Mas"
"Mas pulang sekarang, coba alihkan dulu sebentar ya."
"Iya, mas hati-hati dijalan ya."
Aruna masih saja mengatakan ingin ayahnya membuat angga merasa tak tega.
"Maaf pak robin, sepertinya saya harus segera pulang. Putri saya kalau sudah menangis sedikit sulit untuk diredakan."
"Ya baik pak angga, semuanya juga sudah kita bahas. Tapi saya penasaran, bagaimana rupa istri dan putri pak angga. Jujur saja, santer terdengar pak angga adalah duren sawit tapi malah yang bersangkutan bilang sudah menikah lagi dan memiliki seorang putri."
"Hahaha, baik pak robin. Mungkin lain waktu kita bisa rencanakan untuk mengadakan makan malam bersama keluarga masing-masing."
"Ide yang bagus pak, semoga saja bisa terealisasi seperti kerjasama kita ini."
"Amin, semoga saja. Mari pak robin saya duluan, maaf harus buru-buru."
"Baik pak, senang bisa mengobrol santai dengan anda."
Keduanya berjabat tangan dan angga segera pergi dari restoran untuk pulang karena aruna tak kunjung berhenti menangis.
Angga melajukan mobilnya sedikit agak cepat karena ingin segera memeluk putri kecilnya yang sedang menangis meminta dirinya. Aruna memang selalu ingin dekat dengan dirinya apalagi dengan sang kakek. Jika bramantyo sudah berkunjung maka jangan harap bramantyo akan bisa pulang dengan mudah. Sang kakek akan ditawan paling sebentar selama dua malam jika sudah datang berkunjung. Karena bramantyo sangat menyayangi cucu semata wayangnya itu.
Pernah, bramantyo datang hanya sekedar menjemput angga untuk pergi keacara makan malam dan aruna mengamuk sampai bramantyo batal untuk menghadiri acara makan malam tersebut. Tetap saja keluarga adalah yang utama bagi pria baya itu, senyum cucu kesayangannya adalah yang paling penting. Akhirnya angga harus datang seorang diri dengan agus yang menemani.
__________