
Pasangan baya yang baru saja resmi menyandang status sebagai kakek dan nenek itu duduk diam tak ada yang membuka suara. Marini diam menatap jalanan dengan terik matahari yang cukup terik. Sedangkan bramantyo matanya penuh binar kebahagiaan. Marini tak tau hal apa yang membuat suaminya sejak tadi begitu fokus pada layar ponselnya. Ingin bertanya tapi gengsi yang sangat besar membuat marini memilih diam.
"Cantik" hanya gumaman itu yang sejak tadi marini dengar.
Setibanya dirumah, marini dibantu turun oleh asisten rumah tangganya sementara bramantyo langsung bergegas pergi dengan alasan ada meeting mendadak yang mengharuskannya segera pergi.
"Kabari saya kalau terjadi apa-apa."
"Baik pak"
"Ingat jam minum obatnya ya bi jangan sampai telat. Mungkin lewat isya saya baru sampai rumah."
"Baik pak."
"Hmm"
Bramantyo keluar rumah dengan menggunakan mobil miliknya dengan disopiri oleh supir pribadinya.
"Sudah tau jalan ke rumah sakitnya pak?"
"Sudah tuan, tadi mas angga sudah share loc ke saya."
"Ya sudah kita langsung kesana. Hadiah dari saya sudah kamu ambil dikantor?"
"Sudah tuan, ini ada di jok sebelah saya."
"Ya sudah biar disana."
Bramantyo duduk dikursi belakang dengan tak sabarannya. Ia ingin sekali segera sampai dirumah sakit. Lelah menunggui istri dirumah sakit tak membuat semangatnya menurun.
.
.
"Pa" nadia berusaha bangkit namun bramantyo langsung melarang.
"Sudah, tiduran saja. Banyak-banyak istirahat. Angga kemana? Kenapa sepi?"
Tak ada satu orangpun didalam ruang rawat nadia saat bramantyo tiba.
"Ya sudah, kamu tiduran saja. Papa mau lihat cucu dulu."
Bramantyo memperhatikan wajah mungil yang sedang memejamkan mata. Wajahnya mirip sekali dengan angga dan sudah pasti juga mirip dengan dirinya karena angga meniru wajah bramantyo bukan marini.
Menjadi seorang kakek merupakan kebanggaan tersendiri bagi bramantyo, keinginannya yang sudah sejak lama akhirnya jadi kenyataan juga. Walau keadaan keluarganya belum membaik karena marini masih keras hati sampai saat ini.
"Pa"
"Hmm, kamu sudah cuci bersih tangan mu?"
"Jangan sampai ada kuman."
"Ingat, kalau dari luar langsung mandi atau cuci tangan yang bersih. Bayi mungil begini biasanya sangat rawan terkena virus."
Angga dan nadia sempat melongo mendengar bramantyo berbicara panjang lebar apalagi ini kali pertama bramantyo terlihat posesif akan suatu hal.
Cucu, bisa membuat seorang bramantyo berubah haluan. Sangat luar biasa pikir angga.
"Mama bagaimana pa?" Angga tak menanggapi ocehan sang ayah.
"Dirumah istirahat papa titip sama bibi. Dokter bilang ga ada hal yang serius jadi mama mu ngotot minta pulang tadi."
"Besok atau lusa baru aku pulang kerumah."
"Kamu jaga saja nadia dan bayi kecil ini. Mama dirumah ada banyak orang yang menemani. Nadia lebih membutuhkan mu."
"Pekerjaan minta agus untuk mengantarnya kerumah. Meeting penting biar papa dulu yang urus."
"Makasih banyak pa."
"Ga masalah."
"Papa mau dipanggil opa."
Bramantyo tak hentinya melihat kearah box bayi yang disana cucunya tertidur pulas. Menggunakan bedong berwarna pastel dan topi merah jambu khas bayi perempuan. Pemandangan semacam ini membuat hati bramantyo membuncah dipenuhi rasa syukur. Suka cita akan kelahiran cucu pertama membuat otak bramantyo sudah merancang sebuah rencana.
__________