JODOH KU

JODOH KU
MASUK RUMAH SAKIT


Tengah malam angga mendapat telpon dari ayahnya kalau marini ibunya dilarikan ke rumah sakit karena terjatuh di kamar mandi.


"Sayang, sayang. Bangun hei."


"Hmm, ya mas."


"Mas kenapa?"


Nadia terkejut saat mendapati wajah suaminya sudah ketakutan.


"Mas, mas kenapa?"


"Mama, mama masuk rumah sakit tadi terjatuh dikamar mandi. Dan sekarang belum sadar dari pingsan."


"Aa apa? Ayo mas bersiap kerumah sakit."


Dengan langkah yang belum sepenuhnya sadar nadia menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Dan ia menelpon taksi untuk mengantar angga kerumah sakit. Nadia tak akan membiarkan angga berkendara seorang diri ditengah malam apalagi situasinya sedang tidak baik-baik saja.


"Mas, taksinya sudah didepan. Ayo sini pakai ini."


"Kamu pesan taksi?"


"Hmm, aku ga ijinkan mas nyetir sendiri dalam kondisi panik begini. Maaf ya mas ke rumah sakit sendiri?"


"Iya, kamu ga apa mas tinggal dirumah?"


"Hmm" nadia mengangguk mantap.


"Salam untuk papa ya mas."


"Iya"


"Ayo turun, taksinya sudah didepan."


Nadia terus melambaikan tangan sampai taksi yang angga tumpangi keluar gerbang.


"Huft, semoga aja mama ga kenapa-napa."


Sisi kemanusiaan nadia masih normal jadi ia tetap merasa prihatin begitu mendengar kabar atas kecelakaan yang ibu mertuanya alami.


Nadia masih terjaga, ia tak bisa lagi memejamkan mata karena terbangun dengan kabar yang kurang menyenangkan. Mata nadia terus mengawasi jam didinding kamarnya, menunggu kalau kalau angga mengabari tentang kondisi marini.


"Hoam" nadia menguap lebar.


Tanpa aba-aba matanya tertutup rapat dan nadia kembali terbuai kedalam mimpi.


Di rumah sakit.


Angga menuju lobi dengan langkah tergesa, ia ingin segera mengetahui kondisi ibunya.


"Pasien atas nama marini wijaya diruang apa ya sus?"


"Iya itu sus."


"Baru saja dipindah ke ruang VIP anyelir lantai empat pak."


"Baik, terimakasih sus."


Angga memburu langkahnya menuju lift.


"VIP anyelir" gumam angga.


Ceklek, tanpa mengetuk pintu angga langsung masuk.


"Pa"


"Ssttt"


"Mama baru tidur." Bisik bramantyo pada angga.


"Ayo bicara di sofa saja."


"Gimana kondisi mama pa? Apa kata dokter? Ada yabg serius tidak." Angga langsung memberondong ayahnya dengan banyak pertanyaan.


"Sudah sadar, sekitar sepuluh menit sampai disini. Tadi baru selesai ronsen dan cek yang lain. Besok hasil keluar."


"Huft, semoga saja ga ada yang serius."


"Iya semoga saja. Kamu ninggalin nadia dirumah sendirian?"


"Iya, aku panik banget tadi bahkan kesini aja aku dipesankan taksi sama nadia."


"Pulang lah, besok baru kesini lagi."


"Ga, aku ga mungkin biarin papa disini sendirian jagain mama."


"Begini lah yang paling papa tidak suka. Anggota keluarga kita hanya berempat, tapi mama mu keras kepala. Nadia sedang hamil besar dan sekarang mama mu masuk rumah sakit. Entah mana yang harus kita prioritaskan."


Hembusan nafas kasar keluar dari bramantyo.


"Mau bagaimana lagi pa. Aku khawatir sampai tidak ingat apapun lagi, besok pagi-pagi aku pulang untuk lihat nadia."


"Dokter bilang dua minggu kedepan adalah hari perkiraan lahirnya ayank jadi aku juga sedang harap-harap cemas menunggui nadia tapi sekarang aku makin cemas karena mama dirawat."


"Buay anak lebih dari satu, hanya itu permintaan papa. Kontrol anak-anakmu tanpa mengekang mereka."


"Hmm" giliran angga yang menghembuskan nafas beratnya.


Angga pun merasakan kegalauan yang sedang bramantyo rasakan. Keluarga yang harusnya bisa saling mengisi malah terpecah hanya karena ego marini yang terlampau besar.


__________