
Nadia duduk memperhatikan kenzo dan hansel yang sedang fokus pada tugas sekolah yang mereka kerjakan. Tatapan mata nadia terlihat kosong, akhir-akhir ini nadia memang lebih banyak diam dan sering melamun. Seperti ada beban berat yang mengganjal sampai membuat perubahan besar pada diri nadia. Tentu saja marini adalah satu-satunya beban terberat bagi nadia. Tak ada hentinya marini terus merusuhi kehidupan keluarga kecil sang putra sampai kerap kali menimbulkan masalah dan membuat malu di khalayak ramai.
"Kita bikin kejutan untuk mama yuk kak."
Angga yang baru saja pulang bersama aruna langsung menyusun rencana untuk sekedar mengembalikan senyum di wajah pujaan hatinya.
"Kejutannya apa?"
"Papa mau pesan makan malam untuk kita sekeluarga dan belikan mama mawar merah."
"Hmm, terserah papa dan akan jadi tugas ku mengatur dua perusuh kecil disana untuk nanti malam supaya tidak mengganggu papa dan mama."
Tersenyum senang karena ayank kecilnya sudah paham apa yang harus dilakukan jika angga memberi sinyal sedang ingin berduaan bersama sang istri.
Menelpon agus yang ternyata kembali kekantor setelah tadi angga tinggalkan di resto.
"Baik pak, semuanya sesuai pesanan bapak. sebelum jam makan malam saya pasti semuanya sudah siap."
"Ya."
Tut
Angga mematikan sambungan telpon setelah agus memastikan semuanya akan berjalan sesuai permintaan angga.
"Mandi yang wangi biar nanti malam macam betinanya semangat."
Dengan menaiki tangga angga menuju ke kamarnya bersama nadia.
Ceklek
"Kok sudah mandi duluan." Raut kecewa tercetak jelas di wajah angga karena ternyata nadia baru saja selesai membersihkan diri.
"Memangnya mas ada titip pesan kalau mau mandi bareng." Ledek nadia dengan cuek memakai baju ganti didepan angga.
"Aku belum nyiapin meja makan mas."
"Itu tugas mba mar, sekarang tugas mu ada dikamar ini bersama mas."
Pasrah, nadia mengalungkan tangannya dileher angga saat angga membawanya ketengah peraduan. Angga berhasil mencuri satu ronde dengan permainan cepat. Usia pernikahan mereka memang sudah lama tapi keduanya sepakat untuk terus memupuk rasa cinta karena mereka sadar lambat laun rasa jenuh dan bosan akan muncul ditambah banyaknya kerikil yang mengganggu ketentraman cinta mereka.
Huft
"Rasanya masih tetap sama."
Angga mengusap peluh di keningnya setelah menyelesaikan permainan pertama sore menjelang malam.
"Cepetan bangun mas, aku mau mandi lagi. Anak-anak pasti udah nungguin dan aku belum lihat dimeja makan menunya apa aja."
Dengan malas angga menggulingkan tubuhnya kearah samping.
"Ayo cepetan mandi mas, jam makan malam udah sebentar lagi. Kasihan anak-anak kalau sampai kelaparan nungguin kita."
"Iya sayang iya."
Hanya butuh waktu setengah jam angga sudah rapih dan turun kelantai satu untuk makan malam bersama keluarganya. Begitu sampai dimeja makan, nadia dibuat tersenyum sumringah pasalnya malam ini semua menu makan malam adalah masakan kesukaannya.
"Mas yang pesan semua ini?"
"Hmm, tentu. Malam ini kita makan dengan menu masakan sunda kesukaan mu."
"Makasih banyak ya mas, nanti malam aku kasih mas service tambahan." Bisik nadia ditelinga angga dan berlalu kemeja makan untuk menyiapkan malam bramantyo terlebih dahulu.
"Asik banget, itu baru dikasih masakan sunda belum nanti buket mawar merah pasti bakalan dapet jatah triple ini." Bisik batin angga sambil menahan senyum karena tak ingin orang lain atau bahkan anak-anaknya tau jika dirinya sedang memikirkan hal kotor saat ini.
_________