JODOH KU

JODOH KU
SEKERAS BATU


Perkembangan aruna memang sangat bagus, semua tahap tumbuh kembangnya terlewati dengan sempurna. Diusianya yang akan menginjak tahun kedua, putri tunggal angga dan nadia itu sudah lancar berjalan. Bahkan aruna juga sudah mulai bisa berbicara walau masih dengan bahasa khas bayinya. Cadel dan sangat sulit untuk dimengerti.


Setiap pagi, aruna akan selalu menangis jika tidak berada dalam dekapan sang ayah. Angga harus selalu setia mendekap tubuh mungilnya sampai ia membuka mata.


"Papa" panggil aruna sambil mencubiti pipi ayahnya.


Angga yang masih terlelap nyenyak tak sadar jika putri kecilnya sudah terbangun dan mencubiti pipinya.


"Papa" panggil aruna kembalj.


Cup


Pada akhirnya kecupan hangat dikening angga membangunkannya. Tentu saja angga tau siapa pelakunya. Dengan mata masih enggan terbuka tapi angga tersenyum menyambut aruna yang sebentar lagi pasti akan memeluk erat lehernya.


"Ayank nya papa sudah bangun, hmm."


"Papa"


"Ya sayang, mama mana ya?"


"Mama?"


"Hmm, mamanya aruna dan papa."


"Acak" (masak)


"Hmm, kita cari mama kedapur yuk."


"Yuk"


Sambil menggendong aruna angga menuruni anak tangga untuk mencari keberadaan istrinya yang setiap pagi pasti berada didapur untuk sekedar membuat roti atau susu hangat sebagai sarapan mereka.


"Mama" tunjuk aruna saat melihat sang ibu yang berdiri memunggungi mereka.


"Iya itu mama"


Angga berjalan mendekat dan langsung mendekap nadia dari arah belakang.


"Mama" seru aruna begitu berhasil memeluk leher nadia.


"Kalian sudah bangun?"


Walau hanya sarapan bertiga saja tapi suasana diruang makan rumah milik angga begitu hidup. Celotehan aruna selalu menjadi penghias tawa paling indah. Nadia dengan sabar menyuapi buah hatinya, dengan rayuan serta candaan akhirnya aruna menyelesaikan sesi sarapannya.


"Sekarang kita mandi yuk." Ajak nadia begitu berhasil membersihkan wajah aruna yang penuh dengan sisa makanan.


"Dak au" lagi-lagi aruna menolak jika diajak mandi.


"Mandi nak, ayank bau acem ini."


"Dak au"


Dengan menghembuskan nafas berat nadia mendudukkan kembali dirinya dikursi. Melihat hal itu angga hanya mengulas senyum.


"Mandinya tunggu anaknya mau aja, jangan terus dipaksa."


"Tapi kan bau mas, bekas iler belum lagi pampersnya pasti udah penuh."


"Pampersnya udah mas ganti kok tadi, sekarang biar aja dia main dulu."


"Hmm"


"Jangan ngambek dong mama. Mas keruang kerja dulu ya? Ada berkas yang harus diperiksa."


"Mas ga kekantor lagi hari ini?"


Angga hanya menggeleng sambil berlalu menuju ruang kerjanya. Tanpa mandi dan masih mengenakan celana tidur dan kaos oblong angga memulai pekerjaannya dengan perut kenyang.


Masih setia menemani aruna bermain diruang tengah dengan mainan yang berserakan. Nadia hanya bisa tersenyum saat melihat dan mendengar tawa riang aruna yang asik bermain padahal belum mandi.


"Sehat-sehat nak, mama harap kamu terus bisa tertawa dan bahagia. Maafkan mama belum bisa meluluhkan hati oma sampai sekarang sampai kamu belum pernah merasakan hangatnya pelukan oma. Padahal papa dulu selalu cerita kalau oma adalah orang yang baik hati dan penyayang."


Menetes lagi air mata nadia saat teringat bagaimana kerasnya hati marini. Bertahun-tahun menolak bahkan sampai detik inipun marini masih enggan menerima dirinya dan aruna.


"Akan tiba nanti waktunya, kesabaran mu akan membuahkan hasil."


Ternyata sonya mendengar apa isi hati putri tertuanya dan langsung mendekap nadia penuh sayang. Sonya tiba tepat saat nadia sedang bergumam seorang diri dan ia mendengar semuanya.


___________