
"Yang tadi itu siapa mas?" Nadia sedang dalam mode senggol bacok karena kemarin sore ia baru mendapatkan tamu bulanannya.
"Teman kuliah dulu."
"Teman kuliah? Aku kok ga kenal ya? Perasaan hampir semua teman kuliah mas aku kenal. Tapi yang ini belum pernah sekalipun aku tau namanya pun mas ga pernah sebut."
Astaga, jika sudah mengaum nadia akan sangat mengerikan sekali. Menjaga angga seperti menjaga kertas yang rawan sobek apalagi semakin hari angga terlihat semakin matang sehingga nadia cukup was-was mengenai keseharian suaminya yang pasti akan bertemu banyak orang apalagi kaum hawa.
"Dia itu teman yang cuma sekelas satu semester aja. Usianya satu atau dua tahun diatas mas, mata kuliah yang sekelas sama mas itu dia ngulang karena nilainya jelek. Jadi kalau mas ga cerita sama kamu itu artinya hanya sekilas kenal ga akrab kayak yang lainnya."
Mengerti dengan penjelasan yang angga berikan tapi nadia masih menunjukkan wajah kesal tak bersahabat. Sepanjang perjalanan pulang dari berbelanja bulanan keperluan pribadi nadia hanya diam tak mau berbicara sama sekali. Angga yang mendapat perlakuan seperti itu dari istrinya tentu saja jadi gemas bercampur kesal. Tidak melakukan kesalahan apapun tapi harus disuguhkan dengan pemandangan wajah cemberut.
"Loh, kenapa berhenti lagi."
"Kamu cemberut terus bikin mas ga enak lihatnya."
"Oh, aku udah ga enak dilihat sekarang? Terus cewek yang tadi itu baru enak dilihat."
Kan wanita kalau sudah cemburu jadi merembet kemana-mana kesalnya.
"Dia itu bukan cewek bukan gadis, pasti dia sudah punya anak seperti kamu jadi ga usah cemburu sama istri orang. Lagian mas kuga baru ketemu dia lagi tadi, bareng sama kamu."
"Ih" nadia berdecak sebal.
"Ayo turun. Mas mau jajan,"
"Ya sudah AC nya mas matikan biar kamu terpanggang disini."
"Mas tega? Biar bisa kencan sama cewek lain. Iya?"
"Jaga bicaramu nad, jangan jadi merembet kemana-mana. Hal sepele seperti tadi saja kamu besar-besarkan, bagaimana kalau mas benar melakukannya."
Brak
Angga membanting pintu dan menyalakan mesin mobil. Kini giliran angga yang menunjukkan wajah masam, bahkan wajah angga sampai memerah karena emosi. Terkadang nadia tak bisa dikontrol jika sudah marah, entah apa penyebabnya tapi sekarang nadia jadi sedikit berbeda.
Sebagai orang tua, baik nadia maupun angga tak pernah menunjukkan emosi mereka didepan ketiga anak-anaknya. Jadi pertengkaran mereka barusan hanya mereka berdua lah yang mengetahui karena begitu sampai dirumah dan turun dari mobil mereka akan mengesampingkan ego demi keharmonisan keluarga. Anak adalah segalanya bagi nadia dan angga, mereka akan selalu mempertontonkan hal-hal baik agar aruna kenzo dan hansel bisa tumbuh dilingkungan harmonis.
"Mama" hansel si bungsu yang terkadang masih suka menangis saat nadia pergi sudah lebih dulu mendekat dan meminta pelukan.
"Tadi bobok siang ga?" Tanya nadia sambil mengecup gemas pipi si bungsu.
"Iyah, sama abang zo."
"Pintar."
Setibanya dirumah nadia langsung direpotkan dengan urusan anak-anak dan angga hanya duduk diam memperhatikan setiap gerak nadia yang kesana kemari. Dari sana angga bisa menyimpulkan jika sebenarnya perubahan sikap yang madia tunjukkan adalah karena fisik dan pikirannya yang lelah. Mengurusi anak-anak dan pekerjaannya tentu menguras energi yang tak sedikit. Akhirnya tanpa babibu angga menyiapkan sebuah kejutan kecil untuk sang istri.
__________