
"Mau gulali opa."
"No"
"Mau kelinci opa, dua boleh?"
"Yes"
"Bakso goleng opa"
"Oke"
"Jus mangga"
"Mau boneka itu."
Sudah banyak barang yang aruna dan kenzo dapatkan tapi mereka berdua belum juga merasa lelah dan bosan. Tenaga dua bocah itu rasanya tak pernah habis, mereka begitu semangat meminta ini dan itu serta mencoba banyak wahana. Bramantyo yang tubuhnya sudah tak sekuat dulu hanya bisa menarik napas panjang saat merasa lelah. Beruntung mba marni dan fitri selalu menemani kemana pun aruna dan kenzo pergi.
"Pak, duduk dulu."
Pak syarif memberikan kursi kepada bramantyo yang sudah terlihat lelah karena mengikuti kedua cucunya sejak tadi.
"Makasih ya."
"Iya pak, sama-sama."
Melihat bagaimana senyum bahagia aruna dan kenzo membuat bramantyo merasa tenang. Bisa menjaga kedua cucunya saat angga sedang menjaga nadia yang dirawat dirumah sakit sudah pasti memberi rasa tenang untuk nadia yang harus banyak beristirahat dikehamilannya yang ketiga ini.
"Kirim pesan dulu ke angga ngasi tau kalau anak-anaknya aman sama opa."
Mengambil banyak foto dan video, bramantyo langsung mengirim semua itu ke angga tapi lima menit sepuluh menit tak kunjung ada balasan membuat bramantyo kembali menyimpan ponselnya disaku celana.
"Kok si angga ga bales bales. Ga mungkin banget tu anak tidur jam segini."
.
.
"Ga usaj terus dimanjain, ini itu dibelikan diturutin. Emangnya mereka itu udah bisa cari uang sampai papa terus terusan ngeluarin uang banyak tanpa berfikir panjang."
Pulang kerumah malah bramantyo disambut teriakan melengking dari marini.
"Ck" bramantyo menghindar dan masuk kedalam kamar tanpa berniat menjawab.
"Apa? Kamu tanya mereka siapa? Untuk apa papa ngeluarin uang itu mereka?"
"Hahaha, konyol."
"Mereka itu cucu papa, uang papa uang mereka. Jadi dari sana mama harusnya sudah mengerti dan jangan lagi tanyakan hal ini."
"Pa, jangan lupa mama tidak pernah menyetujui pernikahan angga jadi mereka bukan cucu kita."
"Terserah mama, mereka adalah darah daging angga dan darah papa pun mengalir didalam tubuh mereka. Kalau mama cuma mau ngoceh mending sana keluar bicara sama tembok. Papa mau istirahak capek."
Setelah membersihkan diri baramantto masih mendengar gerutuan marini yang ternyata tak juga berhenti.
"Nenek lampir." Guamam bramantyo melangkah pergi keluar kamar.
"Papa mau kemana lagi? Ini sudah malam."
"Papa mau tidur sama ayank dan kenzo, disini mana bisa papa tidur kalau ada radio butut yang tak berhenti mengoceh."
Brak
Sedikit membanting pintu kamar bramantyo menaiki tangga untuk menemui kedua cucunya yang sudah terlelap karena kelelahan.
"Kalian tidur saja dikamar sebelah. Saya mau tidur sama mereka."
"Baik pak, nanti kalau ada yang terbangun ingin susu pak tyo bisa bangunkan saya." Pamit mba marni dan fitri yang tadi sudah bersiap untuk tidur.
"Ya, terimakasih banyak."
"Mari pak"
"Hmm"
Setelah mba marni dan fitri keluar kamar, bramantyo dengan leluasa memperhatikan wajah polos kedua cucunya. Keduanya memiliki kemiripan dan wajah mereka jauh lebih mirip angga ketimbang nadia. Angga memiliki kemenangan atas fisik kedua anaknya bahkan beberapa sikap dan sifat aruna dan kenzo lebih condong mirip angga.
"Kalian begini lucunya begini menggemaskannya bagaimana bisa oma kalian sama sekali tak tersentuh hatinya. Apa jangan-jangan oma kalian sebenarnya sudah tidak memiliki hati lagi?"
Tanpa sadar bramantyo sedang membicarakan istrinya seorang diri.
__________