
"Kenapa oma ga pernah mau main atau sapa kami ya mba?" Pertanyaan polos aruna kepada pengasuhnya membuat nadia merasa sangat sedih.
Tanpa sengaja nadia mendengar aruna yang sedang bersiap bertanya pada mba marni mengenai perlakuan sang nenek yang tak pernah sekalipun menganggap mereka ada. Aruna kenzo dan hansel tak pernah mendapat perhatian atau sekedar sapaan dari marini. Usia aruna yang sedang sudah menginjak delapan tahun tentu sudah mulai bisa memahami. Ditambah nenek yang merupakan ibu dari nadia begitu menyayangi aruna dan adik-adiknya berbeda sekali dengan wanita paruh baya yang mereka panggil oma.
"Non ayank, ada beberapa pertanyaan ga bisa mba mar jawab bukan karena tidak ada jawabannya tapi karena akan terlalu sulit untuk non ayank mengerti. Tapi mba mar hanya bisa minta, non ayank harus terus berdoa kepada allah agar oma cepat cepat mau membuka pintu hatinya untuk menyayangi non ayank juga kenzo dan hansel. Oke?"
"Hmm" aruna mantap menganggukkan kepala, walau merasa tak puas dengan jawaban yang diperolehnya tapi aruna tak bisa memaksakan kehendaknya untuk mendapat jawaban pasti karena angga dan nadia juga tak pernah bisa memberi jawaban pasti.
Dibelakang, nadia menyeka air matanya yang mengalir. Bersembunyi dibalik pintu lemari diam-diam nadia menangis. Untuk kesekian kalinya aruna mempertanyakan perbedaan sikap yang diperolehnya. Sonya begitu menyayangi ketiga anak nadia dan angga sangat berbanding terbalik dengan marini yang selalu memperlihatkan tatapan permusuhan setiap kali cucunya datang berkunjung.
"Maafkan mama sudah memposisikan kalian di situasi yang membuat kalian merasa tak dianggap. Mama sudah berusaha tapi nyatanya tak pernah berhasil. Jauh sebelum ayank mengerti mama sudah mengupayakan segala cara agar oma bisa menerima kita tapi nyatanya sesulit itu nak."
Nadia membatin menyalahkan dirinya yang sudah melibatkan ketiga buah hatinya. Ikut merasakan perasaan asing, tak dianggap adalah bukti nyata seseorang memang sangat tak menyukai diri kita. Bertahun-tahun nadia berjuang bahkan sampai memantaskan diri secara ekonomi tak juga membuat dirinya dianggap pantas untuk bersanding dengan angga.
Entah sudah berapa banyak air mata yang keluar, sudah berapa banyak luka yang tergores. Tapi saat orangtuanya yang dihina dan anaknya yang mengeluh tak dianggap rasa sakit yang nadia rasakan jadi beribu kali lipat dari hatinya yang dilukai. Menjadi ibu, nadia merasa tak akan kuat jika anak-anaknya yang harus mendapat luka.
"Maafkan saya mba nad."
"Saya ga tau harus bagaimana mba, mba marni tau sudah sepuluh tahun lebih saya berjuang memantaskan diri hanya sekedar mencari pengakuan agar dianggap ada dan diterima."
"Mba nad"
"Kalau hanya saya yang disakiti sudah tak lagi terasa mba, tapi saat orang tua dan anak saya yang mengeluh tidak dianggap perasaan hancur saya menjadi anak dan ibu berkali lipat rasanya."
"Yang sabar mba nad."
"Saya lelah mengupayakan semuanya mba, entah cara apa lagi yang harus saya pakai. Rasanya sudah malu mengeluh sama mas angga, bahkan mas angga pun sebagai anak tak pernah bisa berhasil."
Sudah berada di titik terendah, akhirnya nadia mengeluhkan semuanya pada pengasuh anak-anaknya yang senantiasa menemani perjaanan nadia berumahtangga dengan angga saat aruna masih didalam kandungan. Beruntung nadia bertemu dengan mba marni yang memang orangnya memiliki hati yang tulus serta jujur.
__________