gadis reporter dan tuan mafia

gadis reporter dan tuan mafia
di culik


Seperti biasa, setiap pagi eun berangkat kerja ke kantor nya dengan taxi sesampainya di kantor. vivian langsung berlari ke arah nya dengan raut wajah kawatir vivian memperhatikan tubuh eun dari atas sampai bawah "eun kau baik baik saja kan? "Tanya vivian " iya kan aku sudah bilang aku baik baik saja lagian aku itu sudah dewasa bisa melindungi diri sendiri "kata eun " bagaimana dengan kim apa saja yang dia lakukan? "Tanya vivian " dia memaksa ku pergi makan malam bersama nya"kata eun "jika aku tidak pergi dia tidak akan mau di wawancarai" kata eun "carl kemarin menelpon ku nada nya terdengar panik" kata vivian "siapa pun yang berhadapan dengan nya pasti panik kau fikir aku tidak aku cuma selalu memakai gaya ku yang sok berani" kata eun "hahah ya ya ya aku percaya pada mu" kata vivian "eun " carl datang "udah di ketik? " tanya eun "belum masih setengah nya tapi bos memanggilku" kata carl "berikan pada ku " kata eun "kenapa? " kata carl "biar aku yang melanjutkan nya kau pergilah mungkin ada hal lain yang ingin di bicarakan bos" kata eun "baik lah terimakasih" kata carl.


Kim berdiri menghadap jendela sambil meletakan telpon nya di telinga nya "masih tidak mau mengangkat telpon ku" kata kim "tuan kim" liam datang "rapat sebentar lagi di mulai" kata liam "hum" kim mengangguk liam langsung pamit pergi kim kembali berusaha menelpon eun.


Eun terlihat kesal dia mengambil ponsel nya yang ada di samping laptop nya "apa kau tidak ada pekerjaan lain? Kenapa kau masih mengganggu ku! Aku sedang sibuk tau!! Pergilah cari kesibukan lain dasar bajingan" eun mematikan telpon dari kim. "Pembisnis apanya? Mana ada pembisnis yang kerja nya mengganggu seorang wanita" kata eun sambil kembali mengetik "eun!!!! " eun menatap ke arah pintu "apa? " kata eun "ada enam pria berpakaian rapi dan kaku di depan mereka bilang mereka utusan kim" kata Yuda "kim? " kata eun sambil berdiri "benar mereka menakuti semuanya" kata petir eun berjalan dan benar ada enam pria yang terlihat seperti robot "hei.. Siapa kalian? " kata eun "nona eun kami utusan tuan kim yang di beri tugas untuk menjaga mu" kata hansen "siapa nama mu? " tanya eun "hansen" jawab hansen "telpon kim sekarang" kata eun.


"Sudah kami putuskan" kata seorang pria di sebuah ruangan "kami tidak akan berkerjasama dengan mu lagi kim! Kami akan belok berkerjasama dengan tuan al mereka menawarkan harga jauh lebih tinggi" kata pria itu "itu keputusan mu" kata kim "kau sudah dengar kan" pria itu berdiri "sekarang kita berlawanan kita bukan satu golongan yang sama" pria itu berjalan ke arah pintu "dorr!! " pria itu terjatuh yang teman pria itu yang lain langsung panik kim terlihat tenang sambil meniup ujung pistol nya "aahh... Dasar brengsek kau kim!! " kata pria itu "ini keputusan ku" ucap kim sambil memberi isyarat ke anak buahnya untuk membunuh rekan pria itu berserta pria itu "kau sendiri yang bilang kalau kita berlawanan. Dan aku tidak membiarkan lawan ku bergerak jauh dari ku" kata kim "DORR DORR DORR DORR DORR!! " kim berdiri "tuan ada telpon dari hansen untuk anda" kata aron "apa katanya? " tanya kim "kenapa lama sekali mana tuan mu yang gak waras itu " kim mendengar suara eun langsung mengambil ponsel itu dari aron "kim!! Aku sangat sangat marah pada mu kau dengar aku dasar sialan!! Kenapa kau menyuruh hei siapa nama mu tadi? Ha.. Kau menyuruh hansen ke sini apa gunanya dia!! " omel eun kim tersenyum "mereka akan menjaga mu" kata kim "kau fikir aku anak kecil hah? Cepat suruh mereka pulang!! " kata eun "mereka akan tetap bersama mu" kata kim "aku akan membunuh mu" seru eun "eun.. Hei eun" kata kim "nona tuan kim masih memanggil mu" kata hansen "aku tidak dengar" kata eun "eun aku akan datang nanti" kata kim "datang lah kau tidak akan menemui ku aku mau ke luar negeri kau tau itu buang sana ponsel mu! " eun pergi dengan kesal.


Di sebuah tempat terlihat ada beberapa orang sedang duduk berhadapan "aku kenal gadis ini" kata salah satu dari mereka.


"Menurut informasi dia adalah anak magang dari perusahaan berita chanzie "


"Namanya eun aku pernah bertemu dengan nya waktu dia dia mewawancarai ku sekarang kita fikir kan bagaimana cara nya menyingkirkan nya berita kita sudah terbit nama ku sekarang sangat jelek sebagai menteri ekonomi "


"Dia juga sudah membongkar kegiatan kita"


"Tangkap dia dan kita suruh dia membuat klarifikasi "


"Bagaimana caranya menangkap nya? Mau lihat bagaimana cara dia lari waktu itu? "


"Jika ada senjata dia akan kalah".


Keesokan harinya...


Eun menoleh ke belakang hansen dan rekannya masih mengikuti nya "mereka masih mengikuti mu" kata vivian "iya aku juga heran apa mereka manusia atau tidak aku ke toko mereka ikut, ke taman, ke pasar, ke kantor, ke rumah, kemana aja bahkan dalam beberapa hari ini pulang kerja aku sengaja pergi ke tempat yang jauh tapi mereka tetap ikut" kata eun "mereka aneh apa kim itu seorang bos besar? " tanya Yuda "bos apa nya mukanya aja kaya permen pasar minta uang" kata eun.


Eun dan carl menghadapi Eliezer "kami sudah menyelesaikan nya pak" kata eun "terimakasih kalian memang terbaik" kata Eliezer "terimakasih pak" kata carl "kalian bisa pergi" kata Eliezer eun dan carl langsung berdiri menunduk lalu pergi "eun kak nhai datang" kata petir "dia ingin bertemu dengan mu" kata Yuda "tidak papa" eun berjalan ke arah sofa "kak ai" kata eun nhai memperhatikan eun "eun aku dengar kau berhasil mewawancarai seorang pembisnis ternama" kata nhai "iya kak " kata eun "kau kenal kan ini dia teman ku dia juga seorang pembisnis" kata nhai "halo" eun menyapa nya "kau terlihat sangat berbakat dalam bidang jurnalis aku ingin kau bergabung dengan perusahaan di saat masa magang mu sudah selesai" kata pria di samping eun "terimakasih tuan.. Hum.. Tuan Eliezer sudah mengajak ku lebih dahulu" kata eun "kenapa kau begitu bodoh" ucap nhai "dia ini bisa jauh lebih hebat dari Eliezer" kata nhai "kak ai.. Aku yang berhak memutuskan apa yang terbaik untuk ku bukan dirimu" kata eun "mati lu nhai" fikir Yuda "oh ya.. Ngomong ngomong kenapa anak buah tuan wein kenapa ada di sini? " tanya pria itu "tuan wein? " kata nhai "itu yang di depan pintu" kata pria itu "siapa tuan wein" tanya nhai "pembisnis yang di wawancarai eun beberapa hari lalu" kata pria itu "oh.. Kenapa wein namanya bukan nya kim" kata eun "iya kami Iya kami memanggilnya wein lebih sering nya begitu dia pengusaha terkenal "kata pria itu " ngomong ngomong apa tuan wein ada di sini sehingga anak buah nya ada di sini"kata pria itu eun melirik ke arah Yuda "aku harus jawab apa? " fikir eun "eun dia sedang bertanya" kata nhai "hum.. Mereka" kata eun "hum.. " eun kebingungan "astaga" kata pria itu ketika ponsel eun berbunyi "hum.. Ma.. Maaf" kata eun sambil mematikan ponsel nya namun tetap saja ponsel itu terus berbunyi "masih belum mau mengangkat telpon ku? " semuanya menoleh ke arah suara eun membeku di tempat "kenapa? " kata kim "tuan.. " kata eun "Hai tuan wein" pria di samping nhai berdiri mengulurkan tangan tapi kim tetap berjalan lurus ke arah eun "mati aku" kata eun kim menatap mata eun "kenapa kau ada di sini" kata eun dengan suara yang sangat pelan "kenapa kau berbisik? " kata kim sambil berbalik menatap nhai dan pria di samping nya "apa mereka mengganggu mu? " tanya kim "hum.. " eun terlihat canggung "jangan bicara sembarangan ayo" eun menarik kim "tunggu" kata kim "tuan jangan cari masalah dengan teman ku" kata vivian "aku cuma mau bilang" kata kim sambil menarik eun ke arahnya "aku tidak suka kalian mendekati istri ku" kata kim "kau bicara apa? " kata eun "hum.. Dia.. Dia berbohong" kata eun "aku tidak berbohong" kim menatap eun "hei apa apaan ini" nhai berdiri kim langsung menarik eun ke belakang tubuhnya ketika nhai mau menarik eun "aku sudah bilang" kim menatap nhai "aku tidak suka kau dekat dengan eun ku! " kata kim "hei.. Jangan sok berkuasa di sini kau tau siapa aku? " kata nhai "aku tidak peduli" kata kim dengan penuh tekanan "tuan kim" eun memegang tangan kim "ayo kita bicara di luar" kata eun "tunggu dulu" kata kim sambil maju selangkah ke arah nhai "kau tidak boleh ada di dekat mereka" kata kim sambil menatap eun "kau" kata nhai "tuan wein maafkan teman ku" kata pria di samping nhai "jangan minta maaf pada nya" kata nhai "tuan kim.. Tuan kim" eun menarik kim terus "ayo" kata eun "crek"semua pengawal kim mengacungkan pistol ke arah nhai " bahkan jika kau seorang raja aku tidak akan takut "kata kim nhai terdiam melihat banyak senjata ke arahnya " tuan kim!! "Kata eun " apa yang kau lakukan "eun menarik dirinya lalu berdiri di antara kim dan nhai " awas eun"kata nhai "kau membela siapa? " tanya kim eun terdiam di sisi lain dia masih menyayangi orang yang sudah menyakiti namun di sisi lain dia juga benci dengan nhai "aku mewakili kak ai.. Meminta maaf pada mu" eun menunduk "tolong jangan buat kekacauan tuan kim" kata eun "ayo keluar" kata eun kim memberi isyarat agar anak buahnya menurun kan senjatanya "ayo tuan kim" kata eun sambil menarik tangan kim. Nhai terlihat sangat marah "kau harus lebih hati hati nhai.. Wein atau kim bisa menjadikan seorang pengusaha menjadi gelandang apalagi ceo seperti mu" kata pria itu sambil berdiri dan pergi.


"Tuan kim.. Apa yang lakukan? Kau membuat ku dapat masalah baru" kata eun "apa? " kata kim "kau melakukan apa ke kak ai dia itu ceo di sini satu kata saja magang ku bisa kacau dan aku akan mengulang lagi. Dia juga ikut menanam modal di perusahaan ini kau bisa mengacau kan kehidupan ku lagi" kata eun kim hanya diam "kenapa? Aku rasanya sekarang ingin memukul mu" kata eun "pukul saja! " kata kim "kau senang! " kata eun "seharusnya aku yang berkata begitu" kata kim eun mengerutkan dahinya "kau senang di dekat mereka? Kau senang melihat ku begini? " kata kim "memang nya apa dampak nya dengan mu? Aku yang dapat masalah di sini" kata eun "intinya aku tidak suka kau ada di dekat pria lain" kata kim "apa? " kata eun "jika aku melihat nya kau akan tau akibatnya" kata kim "eun tuan nhai memanggil mu" kata salah satu rekan kerja nya"iya sebentar" kata eun "mau apa lagi dia" kata kim "hei" eun menahan kim "kenapa kau datang! Aku kan sudah mengatakan kalau kau tidak boleh datang ke sini" kata eun "lalu aku harus datang ke rumah mu? " tanya kim "iya eh.. Tidak juga" kata eun "aku mau menjemput mu untuk pulang" kata kim "itu tidak perlu, dan bisakah kau bawa anak buah mu untuk pergi rasanya tidak nyaman saat pergi kemana mana kalau di ikuti mereka" kata eun "kau akan terbiasa ayo pulang" kata kim "apa kau tidak waras? Aku masih kerja kau pergilah sebelum aku di usir dari sini ayolah tuan kim ku mohon" kata eun "pergilah biarkan aku kerja dengan tenang" kata eun "tapi aku ingin pergi dengan mu" kata kim "ayolah.. Dewasa sedikit, kau ini siapa ku? Aku bahkan tidak mengenal mu" kata eun "kau tau aku? " kata kim "tau kau tuan kim cuma itu yang aku tau" kata eun "lalu tentang tidur bersama ku? " kata kim "hei" eun melihat kanan dan kiri "itu juga karena kita sama sama mabuk" kata eun "jadi kapan kau akan ikut dengan ku? "Tanya kim " jangan harap! "Kata eun " aku memaksa mu"kata kim "ayolah ini bukan waktu nya membahas itu sekarang ku mohon pergi lah tuan kim" kata eun "aku mau kerja dengan tenang" kata eun "bagaimana jika dia--" kata kim "dia siapa? Ayolah ini hanya masalah kecil cepat lah pergi aku akan berlutut sekarang" kata eun "eun" kim menahan eun di saat eun ingin berlutut "ku mohon tuan kim" kata eun "aku akan pergi" kata kim "terimakasih" kata eun kim menarik eun lalu mencium dahi eun "angkat telpon ku nanti" kim pergi masuk ke dalam mobil eun menatap ponsel nya "halo kak ai.. Iya aku akan datang aku sedang berjalan" kata eun sambil berbalik melangkah masuk ke kantor nya namun dia berpas pasan dengan seorang pria "kelihatan nya tuan kim benar-benar jatuh cinta pada mu" kata pria teman nya nhai "hum.. Ini tidak seperti yang Anda lihat" kata eun "aku belum pernah melihat tuan wein begitu pada seorang wanita"


"Hum.. Ini "


"Percaya lah dia benar-benar menyukai mu"


"Tap--"


Eun terdiam ketika ada seseorang menyentuh bahunya "nona eun" kata pria di belakang eun "iya aku sendiri" kata eun "ikut kami" kata pria itu sambil menarik eun "hei" eun terkejut "hei lepas kan dia" teman nhai berlari hendak menolong eun "nona eun!! " hansen langsung lari "DORR DORR DORR DORR" hansen menghindari peluru yang di lepaskan pria asing itu "astaga apa yang terjadi? " kata petir "apa? Kenapa berisik sekali? " kata nhai "nona eun!! " seru hansen "cepat ambil mobil kita kejar" kata leo "hei hei" nhai melihat temannya terkapar "nhai.. Uhuk.. " pria itu terlihat sedang sekarat "nhai.. Gadis jenius itu.. Di.. Cu.. Culik"


"Siapa eun? "


"Iya.. Orang asing.. Mem.. Ba.. Ba.. WA.. Nya" pria itu tewas "astaga eun!? " vivian pingsan ketika mendengar eun di culik.