
"Permisa dua orang reporter mendapatkan serangan dari seseorang yang di duga adalah orang yang pernah mereka terbit kan berita nya" ade melihat ke arah televisi "kenapa? " tanya Arrayan "reporter itu mahasiswa yang magang di kantor tempat aku kerja " kata ade "apa kau takut? " Arrayan melingkar kan tangan nya ke tubuh ade "aku tidak takut aku cuma kasihan pad--" kata ade sambil menoleh ke arah ponsel yang menyala "ah.. Kim mengganggu saja" kata arrayan "angkat siapa tau penting aku akan bereskan sisa sarapan kita" kata ade "baik lah" arrayan mencium ade "halo" kata arrayan "datang ke tempat biasa".
Tangan eun perlahan bergerak membuat vivian yang ada di samping nya terjaga dari tidur " eun"kata vivian "ya" suara eun terdengar sangat pelan "kau sadar ya ampun" kata vivian dengan wajah senang "aku" kata eun "tidak tidak papa jangan bicara dulu aku akan panggil dokter" kata vivian,tak lama kemudian dokter datang "Hai nona eun selamat pagi" dokter tersenyum ramah "aku akan memeriksa mu" kata dokter.
"Tuan nhai"Bimo menunduk di saat nhai lewat " kenapa tuan nhai duduk di situ"kata ade dalam hati "aneh" fikir Yuda "kenapa? Kerja sana jangan lihat lihat" kata nhai dengan ketus seperti biasanya "kaya nya dia turun jabatan" bisik petir "iya" kata Yuda.
"Makanan mu nona silahkan" perawat datang membawa makanan "nona kondisi mu tidak akan menentu karena racun nya belum sepenuhnya hilang, kita bisa menghilang kan nya sedikit demi sedikit karena itu kau akan dalam perawat kami selama beberapa hari ke depan" kata dokter "demi memastikan racun di tubuh mu benar-benar hilang kau akan dalam pantauan kami. kalau begitu jangan lupa makan dan minum obat kami permisi dulu" vivian tersenyum menatap eun "apa yang kau rasa kan sekarang? " tanya vivian "tidak sesakit yang pertama kali, waktu itu benar-benar membuat ku ingin mati saja, karena sakit yang begitu menyiksa tapi sekarang tidak terlalu" kata eun "kau benar-benar menyebalkan kau membuat ku panik saat dokter mengatakan kau ingin menyerah " kata vivian sambil membuka makanan eun "kemarin sakit banget vivian" kata eun "ayo makan ini kata dokter. ini harus di makan sampai habis untuk mengurangi racun dan menambah stamina mu" kata vivian "bagaimana dengan mu? " tanya eun "aku tadi sudah makan tuan kim membeli kan ku makanan " kata vivian "tuan kim? " kata eun "iya dia juga yang membawa mu ke tempat ini karena rumah sakit yang waktu itu seperti nya tidak mampu menangani mu" kata vivian "kau yakin? " eun tidak percaya "iya dia langsung membawa mu dengan tangan nya sendiri karena aku takut dia berbuat salah aku bilang aku ingin ikut makanya sekarang aku ada di samping mu ayo makan lagi" kata vivian sambil menyuapi eun "lalu di mana tuan kim? " tanya eun"dia bilang ada rapat penting jadi dia pergi "kata vivian.
" aku jelas kenal pria ini, benar bernama ken kau tau dia yang waktu itu meledak kan apartemen ku"kata arrayan "dia anak buah milthon" kata ryu "aku tidak mau tau aku menginginkan nya" kata kim "kau bisa mendapatkan nya di acara yang di adakan Arthur " kata ryu "acaranya di luar ruangan" kata ryu "apa yang di lakukan ken sampai membuat mu benar-benar marah? " kata arrayan "dia melukai eun ku" kim berdiri lalu pergi.
Beberapa hari kemudian...
Matahari bersinar semakin terik, asap dan debu terlihat begitu jelas suara kendaraan juga terdengar di mana mana "ya ampun panas nya" kata ade "ku rasa di masa depan akan lebih panas cuaca nya " kata carl "waduh main bawa masa depan aja nih" kata ade "lihat aja mereka baru menebang beberapa pohon dan itu langsung mengubah cuaca lihat di ponsel mu kak. pasti tiga puluh derajat lebih" kata carl "kau benar ini tiga puluh enam derajat dan panas nya waw banget" kata ade sambil menyeka keringat nya "dan jika makin banyak yang menebang pohon mungkin di masa depan akan sampai empat puluh derajat lebih, apa lagi ada penambangan baru bara ilegal yang kaya kita lihat tadi" kata carl "kau benar juga alam kita bisa makin rusak" kata ade "iya namun semua orang hanya menutup mata tanpa mau melakukan apa apa" kata carl "ayo kita jalan" kata ade carl langsung menjalan kan mobil nya "ngomong ngomong bagaimana dengan eun? "Tanya ade " masih di rumah sakit kak"kata carl "aku ingin menjenguk nya eh malah dapat tugas" kata carl dengan wajah sedikit kesal "aku juga ingin menjenguk nya" kata ade "dia benar-benar butuh perawatan maka nya sampai beberapa hari dia harus dalam pantauan dokter " kata carl "kenapa kau cepat sembuh nya? " kata ade "aku cuma mendapatkan pukulan dan luka tembak beda dengan eun dia mendapatkan pukulan plus di paksa minum racun" kata carl "ya ampun" ade meringis membayangkan betapa ngerinya di paksa minum racun "ternyata berat juga ya kak jadi seorang reporter" kata carl "tergantung juga" kata ade "aduh.. Eun menelpon" carl mengambil ponsel nya "halo eun bagaimana kabar mu? " tanya carl "makin membaik kok tadi aku baru di periksa lagi oh ya siapa patner mu sekarang? " tanya eun "kak ade" carl menatap ade "Hai eun" kata ade "Hai kak, maaf kan aku bila teman ku merepotkan mu" kata eun "aih tidak kok dia ini sangat cerdas malah aku yang merepotkan nya" kata ade "eun aku ingin menjenguk mu" kata carl "buat apa? Beberapa hari lagi aku juga akan kembali kerja" kata eun "tapi aku ingin melihat mu" tekan carl "tuan kim? " carl mendengar ada suara pria "kau sudah minum obat mu? " tanya kim "uh.. Sudah kenapa kau datang? " tanya eun "siapa? " bisik ade "pasti tuan kim" kata carl "carl nanti kita sambung" kata eun.
Di rumah sakit
Kim menatap eun "kita akan pulang" kata kim "apa? Tapi dokter bilang--" kata eun "kau akan di rawat di rumah" kata kim "a.. Tuan kim" kata eun "hm? " kim masih berdiri "um.. Terimakasih" eun tersenyum "terimakasih? " kim mendekati eun "terimakasih karena kau sudah menolong ku, aku dengar juga dari carl kalau kau membayar pengobatan nya" kata eun kim diam "cuma itu? " kata kim "apa? " kata eun "kau cuma mengatakan itu? " kata kim "i.iya" kata eun "dengar eun--" kim menoleh ke arah pintu "tuan semua nya sudah siap" ada suara leo dari luar "ayo berangkat" kata kim "tuan kim tadi kau ingin bilang apa? " tanya eun "nanti saja" kim mengulurkan tangan nya "kau ngapain? " tanya eun kim menghela nafas lalu memegang tangan eun lalu pergi jalan.
Di dalam mobil
Kim masih memandang lurus sementara eun menatap wajah kim sampai memakan waktu yang lama "sudah puas? " tanya kim "dia bicara dengan siapa? " fikir eun "sudah puas menatap ku? " tanya kim "uh? " eun terkejut "dia sadar ya ku lihat dari tadi" kata eun dalam hati "apa kau sudah jatuh cinta pada ku? " kim menatap eun tiba tiba "uh.. Jangan sok tau, aku.. Aku dari tadi menunggu mu bicara" eun mencoba mencari alasan "kau mau aku bicara? " kata kim "hum.. Di rumah sakit tadi kau ingin bicara apa? " kata eun "nanti di kamar" kata kim "kenapa tidak sekarang? " fikir eun "aku sudah menunggu dari tadi" kata eun sambil memandang ke luar jendela mobil "greb" kim tiba tiba menarik eun ke dekat nya lalu menatap mata eun "kenapa? " kata eun "tidak ada" kata kim tanpa melepaskan tangan nya yang melingkar di pinggang eun kim kembali melirik ke arah eun yang melihat ke luar jendela .
Di rumah kim
"Tuk" eun mengecas ponsel nya "uh" eun memegang perut nya "aduh.. Kok sakit lagi aku kan udah minum obat nya" fikir eun kim memperhatikan eun "eun" eun berbalik menatap kim duduk di sofa "iya" kata eun "jangan terlalu lama berdiri duduk lah kondisi mu belum membaik" kata kim "tuan kim" eun duduk "kau mau bertanya apa? " kim menatap eun "bagaimana kau tau kalau aku mau bertanya? " tukas eun "dari mata mu" kata kim "aku pernah membaca koran tentang pembunuhan yang menyeret nama mu" kata eun "jadi" kata kim "jadi apa kau pernah membunuh seseorang? " tanya eun "aku mendengarkan perkataan seseorang kalau kau bukan.. bukan seorang pembisnis" kata eun,kim menyipitkan mata nya sambil menarik dasinya "hum.. Apa aku salah bertanya? Hum aku tidak akan bertanya lagi" kata eun sambil berdiri "tap" kim menarik eun "tuan kim?" eun menatap mata kim dengan dekat "kenapa dia sekarang terlihat menakutkan? " fikir eun "aku akan jawab pertanyaan mu" kata kim sambil memeluk pinggang eun "sungguh? " kata eun "apapun itu akan aku jawab" kata kim sambil tersenyum tipis "berita itu berita yang menjebak ku beberapa tahun lalu "kata kim " apa kau terjebak? " eun ingin tau " tidak " kim menggeleng kan kepala nya " aku tidak akan terjebak semudah itu mereka waktu itu menuduh ku membunuh wakil presiden "kata kim " meledakkan gedung "kata kim lagi " tapi kau tidak melakukan nya kan? "Kata eun dengan wajah penasaran" aku tidak melakukan nya tapi wakil presiden itu tewas"kata kim "kenapa? " tanya eun "anak buah milthon" yang membunuh nya"kata kim "siapa itu? " tanya eun "seorang penjahat yang memiliki beberapa anak buah salah satunya pria yang memaksa mu meminum pestisida" jelas kim "dari mana kau tau aku di paksa minum pestisida? " kata eun "teman mu" kata kim "lalu apa kau pernah membunuh seseorang? " tanya eun "aku--" kata kim "huk.. Uhuk" eun terbatuk "kau kenapa? " kim langsung menyentuh pipi eun "lagi lagi aku merasa mual dan sakit perut" kata eun sambil menyingkirkan tangan kim dan pergi ke kamar mandi "uhuk.. Uhuk.. Huek" terlihat eun memuntahkan sedikit darah "uhuk uhuk" eun menoleh kim sudah ada di belakang nya kim mengelap darah yang menempel di bibir eun.
Pintu kamar terbuka "tuan kim" eun terlihat terkejut kim menjadi bingung "kenapa tidak ketuk dulu? " kata eun dengan tubuh masih mengenakan jubah mandi "ini kan kamar ku" kata kim sambil melangkah masuk "aku membawa kan minuman untuk mu" kim berjalan ke ruang tamu "tetap di sana jangan ke sini" kata eun sambil membuka lemari memilih baju yang akan dia kenakan "akhirnya selesai" kata eun sambil menggantung jubah mandi nya "astaga" eun kaget melihat kim berdiri menatap nya "masih lama? " tanya kim "memang nya mau kemana? " kata eun "ikut aku" kata kim eun segera mengikuti kim ke ruang tamu yang ada di kamar "minum lah" kata kim "minuman apa ini? " tanya eun "bukan pestisida" kata kim eun tersenyum "aku juga tau" kata eun sambil mengambil mangkuk yang ada di meja "wah.. Enak " kata eun "dulu aku pernah keracunan dan mama ku meracik minuman ini untuk mengurangi dampak racun nya" kata kim "kau tidak mencoba ini? " kata eun. kim menatap eun "racikan mama mu luar biasa apa dia koki? " kata eun "bukan" kata kim "hum.. " eun mengunyah kelapa muda itu dengan senang "makan lah sesuap" eun menyodorkan sesendok kepala muda "kau mau menyuapi ku? " kim menatap eun tanpa ekspresi "tidak sih" eun memakan kelapa muda itu kim langsung membuang pandangan nya dan terlihat kesal "hari ini rasa aneh" kata eun "karena kau ada di rumah" kata eun .kim kembali menatap eun "maksud mu? " kata kim "dari aku datang kau jarang di rumah dan pulang larut atau pulang besok dan sekarang kau ada di rumah ya.. Aneh aja rasanya" kata eun "kau suka aku menemani atau aku pergi tidak menemanimu? " tanya kim "uh.. m.. Aku leb--" kata eun "tuan makan malam susah siap" kata pelayan di luar kamar "baik lah" kata kim "lanjutkan" kata kim "apa? " kata eun "kau tadi bilang apa? " tanya kim "tidak jadi aku sudah malas melanjutkan nya" kata eun dia ingin melihat ekspresi kim "kalau begitu ayo kita makan malam" kata kim dengan tenang "makan? Tapi bagaimana ini? aku sudah kenyang " kata eun "kau harus tetap makan" kim menarik eun .
Para pelayan langsung menyiapkan segalanya eun diam memperhatikan hidangan di meja "kaya pernah lihat hidangan kaya gini.. Dimana ya.. Oh ya saat aku meliput kegiatan hari kesehatan Nasional" kata eun dalam hati "silahkan nona, tuan" pelayan pergi menjauh "kenapa? " kata kim "hm? " eun menatap kim dengan canggung "kau tidak suka? " kata kim "hum.. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu" kata eun "oh bagus lah" kim mengetuk ngetuk piring nya "aku sudah lapar" kata kim "ya sudah makan lah" kata eun kim menatap eun yang sedang meminum jus buah "kenapa? " eun tidak mengerti bahwa kim sedang menunggu nya, kim ingin eun menyiapkan makanan untuk nya "tidak ada" kata kim "sini" eun mengambil nasi untuk kim "kau mau apa? " kata eun "apa saja" kata kim "baik lah" eun mengambil kan beberapa lauk untuk kim "makan lah aku takut kau mati kelaparan nanti" kata eun kim tersenyum lalu mulai makan.
Vivian menatap pesan yang di kirim eun "bagaimana hari mu? " vivian tersenyum "padahal seharusnya aku yang bertanya demikian pada nya tapi ini malah sebaliknya " kata vivian "tapi ku rasa.. Membiarkan eun dengan tuan kim tidak ada salah nya kelihatan tuan kim orang yang menyayangi eun dan dia juga bertanggung jawab semoga aja pemikiran ku gak salah" kata vivian pada diri nya sendiri.
"Hum" eun mengambil tisu "kau tidak makan salad nya? " tanya eun "aku sudah kenyang" kata kim. Pelayan langsung datang membereskan semuanya "kau bisa melakukan hal lain atau pergi ke kamar untuk tidur" kim berbalik lalu mulai berjalan "tuan kim" kim langsung menghentikan langkah nya "kau mau kemana? " tanya eun "ada perkerjaan yang belum ku selesai kan" kata kim "oh.. Kau mau ke kantor malam malam begini? " kata eun "aku menyelesaikan pekerjaan ku di ruang kerja eun bukan ke kantor" kata kim "oh.. Oke" kata eun.
Kim duduk dan membuka laptop nya terlihat tangan nya mulai mengetik sementara eun dia pergi melihat langit malam di lobi, baca buku di perpustakaan, melihat foto foto kim di dinding, melihat bar mini milik kim, melihat film, makan camilan sampai akhir nya dia kembali ke kamar nya untuk tidur.
Milthon meneguk Wine nya dengan santai dan tenang "kau ada aku tidak perlu gelisah" kata milthon "aku tidak gelisah" kata axzon "aku sedang memikirkan dari mana aku mendapatkan anggota lagi, kau lihat saja tersisa empat orang" kata axzon "Arthur akan mengadakan acara di sana kau bisa merekut siapapun yang mau di ajak bergabung sebagai anggota mu" kata milthon "aku akan memberimu orang orang ku,dua puluh cukup untuk mu" kata milthon "ya ku harap aku bisa mendapatkan anggota yang baik dan berguna" kata axzon.
"Hai babe" arrayan memeluk ade "Hai juga.. Kau sudah pulang" ade menatap pria di depan nya "baru saja pulang kau lanjut tidur saja aku mandi dulu" kata arrayan "baik lah" kata ade.
Sementara itu..
Kim terlihat masih melakukan pekerjaan nya seorang diri "sial! " kim cepat cepat mengetik lalu menutup laptop nya "kenapa aku bisa lupa" para pengawal melihat kim berjalan dengan cepat setelah keluar dari ruang kerja nya .
Pintu kamar di buka kim segera melihat ke atas meja "dia belum meminum nya" kim segera berjalan ke ranjang "eun eun.. Eun bangun lah sebentar ayo" kata kim "eun.. Eun... Hei" eun membuka matanya "tuan kim" kata eun "ayo duduk dulu" kim membantu eun duduk "ini minum obat dulu" kata kim "kau pasti lupa kan? Ayo cepat minum baru pergi tidur lagi" kata kim eun terdiam menatap kim "jangan menatap ku ini pegang obat nya,ini air nya, segera minum biar efek racun nya cepat menghilang" kata kim eun segera meminum obat nya "maaf aku lupa" kata eun "tidak papa tidur lah lagi" kata kim "kau belum selesai? " tanya eun "sudah kok aku mau cuci muka dulu baru tidur" kata kim sambil menarik selimut untuk eun "tidur lah duluan" kim berdiri membuka kemeja nya lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah nya.
Eun kembali duduk melihat ke arah pintu yang ada tak jauh dari nya "dia datang" eun kembali berbaring, kim mengganti pakaian nya lalu naik ke atas ranjang menatap eun sejenak "kenapa kau tidak tidur? " kata kim sambil berbaring "dari mana kau tau? " eun terlihat terkejut "dari wajah mu" kata kim "apa ada rasa yang tidak nyaman lagi? " tanya kim dia ingin memastikan eun merasa nyaman "tidak kok aku mau tidur" kata eun sambil memiringkan tubuh nya membelakangi kim "kau tidak mengatakan sesuatu pada ku? " kata kim namun eun tidak menjawab kim langsung memeluk eun "tuan kim! " kata eun "aku ngantuk biarkan aku memeluk mu" bisik kim "selamat malam" kata kim sambil melihat eun yang sudah tidur.