gadis reporter dan tuan mafia

gadis reporter dan tuan mafia
pindah


Suara ketukan terdengar keras wanita berambut panjang itu langsung menghapus air matanya lalu berdiri melihat sekeliling nya cahaya matahari mulai menyusup di antara tirai jendela "tok.. Tok.. Tok" wanita itu menatap ke arah pintu "iya sebentar" kata wanita itu sambil berjalan ke arah pintu "klik" dia membuka pintu itu seorang pria berdiri sambil memperhatikan wanita itu "aku datang untuk mengambil barang barang ku" kata pria itu wanita itu mengangguk pria itu langsung masuk ke dalam rumah "kau masih pakai baju yang semalam? Kenapa tidak ganti? " tanya pria itu wanita itu tidak menjawab pria itu membuka lemari memasukan beberapa baju "kau tidak usah pergi" kata wanita itu pria itu langsung menatap wanita itu "ku fikir kau sudah menerima semua yang terjadi" kata pria itu "kita sudah putus tiada hubungan lagi apa kau masih belum menerima semuanya? Keluarga ku lebih setuju aku dengan nya" kata pria itu "aku mengerti" wanita itu berjalan mengambil koper yang ada di samping ranjang "rumah ini aku tidak mau kau bisa ambil aku yang pergi" wanita itu langsung pergi "apa kau serius hei" pria itu mengejar wanita itu "aku akan pergi melupakan semuanya, bukan kah kita sudah berakhir? anggap saja rumah ini hadiah dari ku semoga kau bahagia dengan nya" kata wanita itu lalu dia berbalik dan keluar dari pintu.


Seorang wanita berambut pendek melambai ke sebuah taxi "sini!! Sini" seru wanita itu taxi itu pun menghampiri nya "xie " seorang wanita keluar "kau lama sekali, apartemen ku ada di lantai lima ini kuncinya" kata wanita itu "kapan kau kembali? " kata wanita berambut dongker "jangan kau fikir kan aku mungkin akan lama datang ke sini karena aku akan menikah di China" kata xie "kenapa mata mu sangat sembab? Kau habis menangis? Katakan apa yang terjadi sampai kau pindah rumah" kata xie wanita itu tersenyum "tidak ada apa apa aku hanya ingin menenangkan diri" xie menepuk bahu temannya "baiklah pesawat akan pergi setengah jam lagi aku harus ke bandara kau tinggal lah sesuka mu jangan fikir kan apapun jika ada sesuatu telpon aku" kata xie wanita berambut dongker itu mengangguk lalu melambaikan tangan ke arah xie yang pergi dengan taxi.


"Griit" pintu di buka wanita melihat apartemen milik xie sangat rapi dia langsung menutup pintu dan segera menyusun barang barang miliknya ponsel nya berdering "ya carl" kata wanita itu "hum.. Berita kita akan segera di cetak dan akan di beritakan di TV" kata carl rekan kerjanya semalam "iya" kata wanita itu "eun kau baik baik saja? " tanya pria bernama carl itu "ya aku senang mendengar nya, hum.. Bisa katakan pada bos aku sedang tidak enak badan aku butuh istirahat sebentar" kata eun "baik semoga lekas sembuh" kata carl.


Siang hari...


Malam harinya...


Eun menangis terisak isak di dalam kamarnya meluapkan semua rasa sakit yang sedang ia rasakan saat ini dia menatap foto foto nya bersama kekasihnya air matanya semakin turun dengan deras.


Vivian menatap petir "eun tidak mengangkat telpon nya" kata vivian "aku juga sudah menelpon nya tapi tidak di angkat" kata Yuda "mungkin dia sedang bersedih" kata petir "iya lah kalau aku jadi dia pun kurasa aku sudah membuat rumah jadi lautan baru" kata vivian "kejam banget tuh si nhai kurang apa lagi juga si eun dia baik, pemberani, tegas, lengkap deh cantik juga" kata Yuda "besok kalau dia gak datang kita jenguk yuk kasihan tau" kata vivian "iya deh gue ikut" kata petir.