
Di atas lantai yang dingin tubuh nhai terbaring tanpa alas, dengan wajah nya pucat nhai perlahan membuka mata nya seluruh tubuh dan kepala nya terasa sangat sakit "ah.. apa yang terjadi? " seperti nya nhai tidak ingat apa yang terjadi semalam. dengan susah payah dia berusaha untuk berdiri dengan memegang bak mandi, "uh? " nhai mendorong pintu namun seperti nya pintu kamar mandi terkunci dari luar .
"kenapa aku di sini? " kim menatap eun yang sudah sadar, seketika kim langsung menghampiri eun "eun" kim duduk di dekat eun "tuan kim bagaimana bisa kau ada hum.. ini kamar kita? " tanya eun "kau ada di rumah sekarang" kata kim "tuan kim ada akh" eun kesakitan ketika ingin duduk "hati hati.. tidak papa kau bisa bicara sambil berbaring" kata kim "tuan kim mereka ingin membunuh mu" kata eun "mereka mengatakan pada ku kalau mereka akan membunuh mu setelah membunuh ku da--" kata eun "tenang lah, ini minum dulu " kata kim sambil membantu eun meminum segelas air mineral.
"kau sekarang aman, kau ada di rumah bersama ku" kata kim sambil meletakkan gelas yang dia pegang "tapi bagaimana mungkin aku masih hidup? mereka melempar ku dari ketinggian" kata eun "itu artinya kau tidak jadi jatuh " kata kim "tidak tuan kim mereka benar-benar melempar ku" eun ingin betul kejadian semalam,"setidaknya sekarang kau baik baik saja" kata kim "apa kau baik baik saja? apa mereka melukaimu? " tanya eun sambil memegang wajah kim "mereka melukai mu? kenapa kau diam saja aku sedang bertanya " kata eun "mereka tidak akan bisa melukai ku, sekarang aku akan bertanya pada mu apa yang terasa sakit? "
"aku tidak merasakan apapun saat ini kecuali rasa takut"
"takut? " kim mengerutkan kening nya "bagaimana jika mereka membunuh mu? " "terimakasih sudah mengkhawatirkan ku" kim mencium tangan eun "boleh aku meminta sesuatu hari ini? " eun menatap mata kim "kau bisa meminta apapun pada ku" kata kim sambil mengusap tangan eun.
"jangan pergi kemana pun hari ini tetap lah bersama ku aku tidak mau sendirian saat ini" kata eun, kim langsung tersenyum dan mengusap rambut eun "baik" kim langsung melepaskan sepatu nya dan naik ke atas ranjang "apa kau tidak merasakan rasa sakit? kau terluka kan?" kata kim "ya, tapi tidak terlalu sakit sekarang uh? " eun yang bersandar di dada kim langsung kembali duduk dan menatap kim dengan wajah cemas "ada apa? " tanya kim "tuan kim aku.. kemarin mereka menyuruh kak ai melakukan hal buruk pada ku, dan aku menipu kak ai dengan berpura-pura ingin ke kamar mandi lalu aku berhasil menipu nya dan mengurung nya di kamar mandi waktu itu dia sedang mabuk aku memblokir pintu dengan meja dan kursi serta benda lain nya, pasti saat ini dia masih di sana" kata eun "kau memikirkan nya? " kim langsung mengalihkan pandangan nya "hum.. bukan tapi aku mengurung nya, jika tidak ada yang tau dia bisa tewas di sana lebih baik kita tolong dia dan kita bawa ke kantor polisi" kata eun
kim melirik eun "kau marah? aku tidak mencintai kak ai, aku cuma takut dia tewas karena aku yang mengurung nya dan itu artinya aku seorang pembunuh. aku mencintaimu tidak mencintai yang lain" kim langsung menatap eun "coba ulangi kalimat terakhir mu" pinta kim "aku mencintaimu tidak mencintai orang lain " kata eun "kalau begitu aku akan pergi keluar sebentar menyuruh seseorang untuk menolong bajingan itu sambil mengambil makanan untuk mu" kata kim "ya" eun mengangguk "jangan kemana mana" kim pergi keluar kamar, eun mengambil ponsel nya "halo carl" kata eun "Hai kawan bagaimana kabar mu? aku ada di lantai bawah ingin menemui mu dan aku juga membawa makanan dari vivian" kata carl "kau bisa naik ke atas aku ada di kamar" kata eun "sebentar ya tapi kau baik baik saja? " tanya carl "tentu oh ya kabari yang lain kalau aku baik baik saja agar mereka tidak cemas " kata eun "siap aku akan segera menemui mu aku mau minta izin dulu pada suami mu " carl mematikan telpon nya ketika melihat kim berjalan menuruni tangga.
semua orang langsung berdiri ketika melihat seorang pria berjas hitam berjalan menuruni tangga, pria itu berjalan dengan wajah yang terlihat sangat tenang "tuan" kata rack sambil membungkuk "bicara lah" pria itu mengangkat gelas nya yang telah di isi dengan minuman.
"orang orang kita banyak yang gugur" kata rack "cukup! " kata milthon, lalu dia menatap rack dengan tatapan marah "aku akan memberikan kalian kesempatan terakhir untuk membuat rencana membunuh kim jika kesempatan ini kalian sia sia kan kalian akan tau akibatnya! . "
seorang pelayan mengetuk pintu kamar eun "maaf nona tuan carl ingin menemui anda" kata pelayan itu "oh tidak papa suruh saja masuk" eun berjalan ke arah ruangan di dekat ranjang nya, "eun! " carl datang "Hei kemari, duduk !" kata eun "wah ada ruang tamu juga di sini" kata carl "jangan sok kaget ya" kata eun sambil tersenyum "oh ya ini kue dari vivian dan ini dari teman teman yang lain" kata carl "lalu kau membawa apa? " tanya eun "aku? " kata carl "bercanda" eun tertawa kecil "aku juga membawa sesuatu untuk mu ini buatan aku dan rei" carl membuka kotak yang dia bawa dan terlihat biskuit dengan aneka bentuk dan warna seketika eun tersenyum senang dan mulai mencoba nya.
suara teriakan terdengar dari sebuah gedung yang terlihat usang dan jauh dari keramaian. dua mobil berhenti di dekat gedung itu "cepat cepat " kata arrayan yang baru keluar dari mobil , beberapa orang langsung berjalan mendekati gedung sambil membawa Jerigen besar "pastikan jangan ada yang terlewat" kata azka sambil memasang peledak di depan gedung itu.
"tolong!!! " nhai kehilangan banyak tenaga, suara nya juga sudah serak karena berteriak terus
"bagian sini juga" nhai mendengar suara orang dari luar kamar mandi "Hei... ada orang? tolong aku ada di dalam sini! " kata nhai dengan penuh harapan "ayo jalan" ujar calvin "Hei tolong aku!! " kata nhai "dia ada di sana" kata dario "ayo cepat" calvin melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, arrayan mengambil korek api dari saku nya "bau apa ini? " batin nhai.
dia perlahan melihat ada cairan mengalir ke kaki nya "ku harap ini yang terakhir" korek api itu jatuh ke lantai, seketika api yang semula kecil itu langsung menjadi sangat besar. api terus berjalan membakar setiap sudut ruangan itu "halo kim, semua nya beres" kata arrayan "terimakasih sudah membantu ku" kata kim sambil mematikan telpon nya lalu berdiri membawa nampan berisi makanan yang sudah di siapkan pelayan untuk eun.
asap masuk melalui celah yang ada, nhai yang ada di kamar mandi langsung panik ketika melihat asap semakin banyak . api terus semakin membesar melahap tiap inci bagian gedung itu, nhai mulai merasa kepanasan "TOLONG!!! TOLOOONG!! SIAPAPUN TOLONG AKU"arrayan masuk ke dalam mobil dan perlahan dia menurunkan kaca mobil agar bisa melihat gedung itu terbakar.
"duaaarr!! " ledakan terdengar keras nhai semakin panik karena tiba tiba dari celah bawah pintu kamar mandi muncul api kecil "tidak tidak tidak!! " api itu mengikuti aliran minyak di lantai "gawat" nhai langsung melepaskan kaos kakinya yang sudah terkena minyak namun di saat melempar kaos kakinya tangan nhai malah terkena api "ahh"nhai memasukan tangan nya ke dalam bak " duaaarr!! "ledakan kembali terjadi membuat nhai semakin ketakutan " aku suka bagian ini"kata arrayan.
ledakan beruntun terjadi membuat gedung itu bergetar hebat "hancurlah!! " kata arrayan dan benar saja setengah dari gedung itu perlahan hancur karena ledakan terus terjadi "aku terjebak bagaimana ini" kata nhai sambil berdiri di atas bak mandi "duaaarr!! " gedung itu berguncang seperti terkena gempa membuat tubuh nhai terguncang dan tidak dapat menahan dirinya lagi dia pun terjatuh ke lantai dengan keras, suara jeritan nhai bagaimana petir di tengah badai. arrayan pergi dengan yang lainnya meninggalkan gedung itu yang terlihat akan hancur sebentar lagi, suara ledakan tidak berhenti tiap menit suara ledakan terus terdengar menenggelamkan suara jeritan nhai yang sangat menyedihkan.
"tidak "
"ku fikir kaumengursir nya"
"sekarang ayo makan kau belum makan tadi kan" "kau sudah makan? " eun mengambil tisu untuk mengelap tangan nya, setelah makan kue buatan vivian.
"aku sudah makan, sekarang kau makan aku akan melihat mu"
"ah.. aku sudah kenyang makan kue"
"kau mau makanan dari mereka tapi tidak makan makanan dari ku? " kim langsung membuka jas nya dan melempar kan nya sembarangan "aku akan pergi" kata kim "kau marah? " kata eun namun kim diam saja "tuan kim" kata eun "aku ada kerjaan" kata kim "ya sudah pergi sana" kata eun kim berdiri "akh" eun memegang perut nya, seketika kim langsung menoleh "pergi sana! kenapa masih di situ aku akan menelpon dokter tampan untuk merawat ku" kata eun dengan ketus "kau bilang apa? " eun terkejut ketika kim sudah ada di atas nya "coba ulangi! " tekan kim "aku sedang kesakitan tuan kim, geser"
"kau bilang apa tadi? "
"aah.. tuan kim tangan ku sakit jangan menekan tangan ku"
"kau mau dokter tampan? "
"kenapa? kau tidak suka? " tantang eun "kau tau aku sedang lapar" kata kim dengan tatapan luar nya.
"la..lapar? " eun langsung terdiam "um.. aku aku cuma bercanda" kata eun dengan cepat karena dia sangat mengerti makna lapar dari kim, "katakan lagi? aku mau melihat keberanian mu" kim menantang balik "apa yang kau katakan? aku tadi cuma bercanda" ucap eun sambil mengalihkan pandangan nya.
"tapi aku tidak sedang bercanda"
"tuan kim aku lapar eh.. lepas kan aku biarkan aku makan"
"lalu aku? "
"aku akan menyuapi mu um.. aku sangat kesakitan sekarang " kata eun, kim langsung melepaskan tangan eun "selamat aku" batin eun "kau tidak jadi pergi? " tanya eun "kau mengusir ku? ku saran kan pada mu jangan bangunkan seekor singa yang sedang tidur dalam kondisi lapar" kim langsung berdiri "kau mau kemana? tidak mau makan bersama ku? " tanya eun "aku mau ke kamar mandi! kau mau ikut?" eun menggeleng kan kepala nya sambil tersenyum dia menatap kim yang pergi masuk ke dalam kamar mandi.