
Eun membuka mata nya lalu melihat sekitar nya "tap tap tap" kim datang "tuan Kim" kata Eun "hum? Eun" Kim langsung duduk di tepi ranjang "kau tidak papa?" Tanya Kim "kita sampai rumah jam berapa? " tanya Eun "mungkin lebih baik Eun tidak usah tau soal dia di bius" fikir Kim.
"jam dua belas kurang kok " kata Kim "uh.. Rasa nya aku benar-benar lelah" Eun duduk Kim mengusap rambut nya "bagaimana semalam? " tanya Kim "aku tidak begitu ingat terakhir hum.. Kau menemui ku di kamar mandi dan aku gak ingat lagi" kata Eun "tidak papa kau mau sarapan atau langsung mandi? " tanya Kim "ku rasa aku harus mandi tapi kau bisa sarapan duluan pasti kau ingin ke kantor kan? " tanya Eun "kalau tidak aku akan menemani mu sarapan dulu" kata Eun namun Kim hanya menatap nya tanpa bicara, "tuan Kim" kata Eun Kim tersenyum "kau mandi saja dulu "kata Kim dengan lembut " kau akan terlambat nanti "kata Eun " aku bisa datang kapan aja"kata Kim "uhm oke deh" kata Eun sambil berdiri "oh ya, kau pergilah entah kemana aku tidak mau melihat mu saat memakai pakaian" kata Eun sambil berjalan ke kamar mandi Kim tersenyum "bahkan aku pernah melihat semua nya kenapa kau masih malu pada ku" kata Kim "aku mendengar mu!! " seru Eun dari kamar mandi .
"Sayang" kata zela "sayang" kata zela lagi "apa sih" kata nhai "ada orang datang ke rumah kita" kata zela, nhai langsung berdiri "tinggal buka pintu apa susah nya ka--" nhai terdiam melihat milthon ada di depan pintu "dari mana kau tau rumah ku? " tanya nhai "bagaimana tadi malam? " tanya milthon "aku gagal" kata nhai.
Di meja makan para pelayan meletakkan hidangan yang mereka buat "kemana tuan Kim? " tanya Eun "tuan Kim ada di ruang kerja nona" kata hansen "dia sudah makan? " tanya Eun "belum nona" kata hansen "panggil dia suruh ke sini" kata Eun "silahkan nona" kata rei "nona tuan bilang anda makan lah terlebih dahulu tuan ada rapat mendadak" kata hansen "apa sih pagi pagi udah rapat" kata Eun sambil mengambil ponsel nya "carl temani aku sarapan" kata Eun.
Rei yang sedang menyiram bunga seketika mematung melihat seorang pria yang datang, Eun memperhatikan itu dari jendela "rei" carl melambaikan tangan rei kelihatan ketakutan dia melihat kanan kiri "aku membawa kan sesuatu untuk mu" kata carl sambil menghampiri rei "jangan dekat dekat aku lagi kerja nih" kata rei "ini suka gak" kata carl sambil membuka box kecil yang dia bawa. rei terlihat sangat senang "ini untuk ku" kata rei "iya" kata carl "ehem" seorang bodyguard datang "sana pergi" kata rei "aku pergi dulu" kata carl "ehem apa itu tadi" kata Eun "eh Eun kau membuat ku terkejut" wajah carl memerah"aku melihat nya loh" kata Eun "aku membelikan nya hadiah " kata carl "wah.. Asik banget ya" kata Eun "gak terlalu mahal kok, oh ya tuan Kim di mana? " tanya carl "rapat , ayo sarapan kau tadi belum sarapan kan" kata Eun "belum sih" kata carl.
Setelah sarapan Eun dan carl duduk di taman "kita ke kampus hari sabtu gak sih" kata Eun sambil membuka laptop nya "iya berangkat kaya biasa kan? " tanya eun "ya iya lah " kata carl "laporan nya gimana bagus gak" kata carl "bagus sih tapi aku gak tau dosen nya nanti" kata Eun "aman kok nih gak ada yang salah" kata Eun "akhirnya bisa bersantai sejenak" kata carl "rei kemari" kata Eun "iya nona" rei datang "duduk temani carl aku mau ke dalam dulu" kata Eun sambil berdiri dan berjalan pergi .
Carl tersenyum menatap rei "aku dan Eun" kata carl "tidak papa nona Eun sudah menceritakan semuanya kalian sepasang sahabat" kata rei "dimana rumah mu rei? " tanya carl "itu aku tinggal di belakang itu "kata rei " oh.. Rumah yang itu"kata carl "iya itu khusus untuk ku" kata rei.
Eun membuka kulkas mengambil minuman dingin "ahh.. Sangat menyenangkan" kata Eun "leo apa tuan Kim sudah selesai? " tanya Eun "belum nona " kata leo "ya ampun udah melebihi rapat dpr saja" kata Eun sambil melihat dari jendela carl dan rei sedang mengobrol dengan senang hati.
Malam harinya..
Kim melihat Eun sedang duduk di ruang tamu "lain kali kita ngumpul ya" kata vivian "iya pastilah" kata Yuda "ngumpul aja kaya gak ada kerja" kata petir "hahaha.. " carl tertawa "apasih petir" kata Yuda "creek" Eun menoleh ke arah pintu "suara apa itu Eun? " tanya carl "tidak tau mungkin tuan kim datang" kata Eun "memang dia dari mana? " tanya vivian "tadi dia bilang masih ada rapat" kata Eun "kalian tau gak kenapa carl semakin hari semakin terlihat bahagia" kata eun "hum.. " Eun memperhatikan wajah carl malu malu "karena dia lagi jatuh cinta pada gadis yang ada di dekat ku" kata Eun "hum Eun" kata petir "kenapa gak percaya? " kata Eun "bukan gitu" kata vivian "aku bisa panggil gadis itu sekarang" kata Eun "hum.. Eun" kata carl "lihat dia malu malu" kata Eun "hum.. Eun Eun.. Di dekat mu" kata Yuda "iya di dekat ku" kata Eun "ada tuan Kim" kata mereka Eun langsung berhenti tersenyum perlahan melihat ke belakang "tuan Kim" kata Eun Kim diam lalu kembali pergi "huaamm aku pamit dulu aku ngantuk" kata vivian "aku juga nih mau masak dulu" kata Yuda "ya ampun pohon ku bertelur aku harus pergi membantu nya" kata carl "ada apa dengan mereka" kata petir "katakan pada ku kapan pohon bertelur? " kata Eun "pasti alasan mereka, ya sudah aku juga pergi deh " kata petir "bye Eun" kata petir "bye" Eun menutup laptop nya "tuan Kim!! Ini pasti gara gara dirimu" kata Eun "hm? " Kim yang duduk tak jauh dari Eun langsung berdiri mendekati Eun "kau bilang apa? " kata Kim "kenapa muncul tiba tiba mereka jadi pergi padahal aku mau menceritakan sesuatu pada mereka" kata Eun "lalu aku bagaimana" kata Kim "apa nya" kata Eun sambil menatap kim "tuan Kim" Eun mundur sementara Kim terus maju "aku mau pergi menemui rei dulu" kata Eun "apa? " Kim menyudutkan Eun ke dinding tanpa ruang sedikit pun "tuan Kim jangan coba coba untuk menakuti ku" kata Eun "kau selalu mengabaikan ku belakangan ini dan itu membuat ku gila sekarang" kata Kim sambil mencium wajah Eun "tuan Kim" kata Eun sambil memegang lengan atas Kim "tuan Kim aku" kata Eun "aku hampir gila Eun" Kim memegang pinggang Eun perlahan tangan nya masuk ke balik baju Eun "tuan Kim" Eun mencegah nya "jangan bilang kau" kata Eun . nafas Kim naik turun dan lama lama semakin terdengar berat "greb" Kim menarik tubuh Eun ke arah nya lalu mulai mencium bibir Eun "tap" tangan Eun di tahan di dinding "tuan hmmp tuan mmh tuan Kim.. Mmp.. " Kim melepaskan ciuman nya terlihat Eun seperti orang habis menahan nafas di dalam air "aku .. Benar-benar gila" kata Kim "tidak hari ini tuan Kim kita baru saja melakukan nya" kata Eun "itu sudah beberapa bulan yang lewat" kata Kim sambil mulai menciumi leher Eun "tidak... Tuan Kim.. " kata Eun Eun merasakan pakaian bawah nya mulai terbuka "tidak tidak.. Tidak sekarang" kata Eun "hari ini aku akan memaksa sayang" Kim mengangkat tubuh Eun lalu mencium nya lagi "Kim menahan tubuh Eun dengan kakinya lalu dia membuka jas nya " tuan Kim kau kelihatan menakutkan "kata Eun " ahh.. Jangan meng--gigit ku"kata Eun Kim menatap wajah Eun "ku rasa itu tidak masalah" bisik Kim "aku yang merasakan nya tuan Kim" kata Eun "aku akan melakukan lebih pelan" kata Kim sambil mengangkat Eun lebih tinggi Eun terlihat ketakutan menatap Kim "uhh" eun memegang bahu Kim dengan kuat "tuan tuan Kim tu.. Tunggu" kata Eun "tidak ada yang perlu kau takut kan Eun" kata Kim.
"Tapi itu tidak mungkin!! aku tidak ingin membunuh orang" kata nhai "kau ingin gadis itu kan? " kata milthon "kau cukup membawa Kim kehadapan kami" kata milthon lagi "dan gadis itu untuk mu" nhai terlihat sedikit ketakutan melihat orang orang yang mengelilingi nya membawa senjata "sial seharusnya aku gak ikut dengan orang ini" fikir nhai "aku akan dapat Eun dengan usaha ku tidak perlu bantuan kalian" kata nhai
Tubuh Eun di baringkan ke atas ranjang, Eun melihat ada kelopak bunga di dekat tubuh nya "kapan kamar ini jad-" Kim sudah menimpa nya "tuan Kim? Ap-" mata Eun di tutup dengan kain "crek" kedua tangan nya terikat dengan rantai yang telah di siapkan oleh Kim "tua... Tuan Kim.. Tuan Kim.. To.. Tolong jangan begini" kata Eun "tuan Kim.. Dengar.. Dengar kita lakukan.. Kita lakukan seperti biasa ta.. tapi.. tapi jangan begini aku.. aku tak.. aku takut tuan Kim" kata Eun dia merasakan ada rasa dingin dari leher sampai ke perut nya "uh.. Apa " kata Eun "ini hanya es" bisik Kim
Sambil menambah es batu lagi ke dalam baju Eun "uh.. " Eun meremas sprei ranjang nya ketika Kim memainkan es batu itu "tuan Kim.. Hentikan" kata Eun, Kim tersenyum lalu mengambil gunting dan dengan tenang dia menggunting baju Eun.
Kim menunduk menjilat es batu yang tersisa di tubuh Eun "tenang lah Eun aku akan membuat mu merasa nyaman" kata Kim "uhuk.. Apa ini? " tanya Eun dia merasakan ada cairan mengenai tubuh dan wajah nya Kim menunduk "uhh... Tuan Kim.. Ahh" Eun merasa udara sekitar nya menjadi sangat panas "slurup.. Slurup" Kim menyeruput cairan yang baru saja dia tumpah kan sambil memainkan jari jemarinya ke tubuh Eun "tuan Kim... " Kim mengigit leher nya kembali "tuan Kim.. Ahh.. Ahh" Eun meringis "aku mencintai mu" Kim langsung menutup mulut Eun dengan bibir nya sambil perlahan mulai bergerak tangan nya orang pelanggan turun ke bawah menyentuh paha Eun kulit nya terasa sangat halus "ahh.. Tuan Kim" Eun berusaha menggerakkan tangan nya , Kim semakin mempercepat gerakan "sshhh" Kim semakin cepat "ahh.. Ahh.. Tu.. An.. Ki.. m" Kim langsung menutup mulut Eun "uhh" Kim membuka penutup mata Eun terlihat mata Eun sangat merah Kim tersenyum "tuan Kim aku merasa ada sesuatu yang sangat hangat mengalir ke dalam tubuh ku" kata Eun Kim terkekeh mendengar perkataan Eun "aku suka mendengar nya " Kim kembali bergerak "tuan Kim aku tidak ingin di --auh.. Lepaskan ikatan ku" kata Eun. Kim yang sedang memainkan jari nya di dada Eun menatap wajah Eun sambil terus bergerak Kim mengambil kunci yang ada di dekat Eun dan melepaskan satu tangan Eun.
Di tempat lain..
Terlihat di layar laptop di depan carl ada wajah rei yang sudah tidur nyenyak sementara carl masih memandangi nya tanpa berkedip "terimakasih Eun " kata carl dalam hati.
Matahari mulai naik menggantikan bulan yang perlahan menghilang "jrasss" rei menyiram tanaman yang ada di taman "kira kira dia datang gak ya" fikir rei, sementara beberapa pelayan kim sedang membuat kan beberapa makanan untuk sarapan tuan nya.
Eun membuka matanya ketika dia merasakan tangan Kim menyentuh wajahnya "selamat pagi" kata Kim sambil menciumi leher Eun "tuan Kim! " Eun berbalik menatap Kim dengan kesal "tubuh ku benar benar lengket rasanya" kata Eun "aku juga merasa begitu" kata kim "kau tidak berangkat? " kata Eun "aku akan berangkat nanti" kata Kim sambil mengusap wajah Eun dengan lembut
"Mau mandi bersama? " tanya Kim "tidak! Aku tidak mau" kata Eun "kenapa? " tanya Kim "isi kepala mu mesum!! aku tidak mau" kata Eun "itu kan fikiran mu" Kim mempererat pelukan nya "pergilah mandi tuan Kim kau nanti terlambat" kata Eun "hum.. Baik lah" kata Kim "astaga tuan Kim dasar tidak tau malu" Eun menutup wajah nya dengan selimut "apa? " kata Kim sambil menutupi tubuh nya dengan handuk "kenapa kau tidak memakai apapun? " kata Eun "kau sudah melihat nya kan" kata Kim sambil berjalan ke arah kamar mandi "sial kenapa aku melihat nya" kata Eun.
"Hai guys" vivian menepuk punggung Yuda dengan buku "apa lagi? " kata Yuda "eh? Dia kenapa? "Tanya vivian sambil melirik ke arah nhai yang terlihat murung " mana aku tau bodoh amat sih"kata Yuda.
Nhai mengetuk ngetuk meja nya "bagaimana ya caranya membawa Kim" fikir nhai "bukan hanya kematian, pertama tama kau akan mengalami kejadian yang tidak akan pernah kau lupakan mungkin akan mu beri gambaran bagaimana wajah mu ketika melihat tubuh ibu mu tanpa kepala" nhai teringat perkataan milthon "ayo berfikir nhai, ayo berfikir!! sial sekali kenapa aku bisa kacau seperti ini!! Ini semua karena Kim" nhai mengepal tangan nya "kau harus mati Kim! ".