
malam harinya di rumah petir..
sambil tersenyum Eun melambaikan tangan nya ke arah zela yang akan pergi dengan ali "bye bye" kata Eun, sementara kim terus melirik ke arah nya "Eun kau benar-benar luar biasa" vivian kagum "bagaimanapun dia tidak sepenuhnya salah" kata Eun sambil tersenyum "anak yang bijak" puji petir "kenapa lihat lihat" kata Eun di saat di sadar kim menatap nya.
"kita pulang" kata kim "siapa yang mau pulang dengan mu? " tanya Eun "Eun biarkan tuan kim menjelaskan nya jangan marah dulu" kata carl "oh kau membela nya ya?" kata Eun kesal "ayo pulang" kata kim "tuan kim bagaimana kalau Eun sehari lagi di sini" saran petir "eh.. nanti kalau tuan kim menghancurkan rumah petir gimana ya" fikir Eun "Eun" kata kim "uhm.. iya aku pulang" Eun menatap petir dan vivian "aku akan pulang dengan nya nanti malam balik lagi ke sini" bisik Eun "hahaha" carl tertawa kecil.
"aku pulang" rei langsung berdiri menyambut carl yang baru pulang "tumben lama sekali" kata rei "kau tau ada kejadian luar biasa hari ini, kau tau Eun menolong zela padahal zela selingkuhan nhai" carl langsung menceritakan semua nya yang terjadi.
Eun duduk di sofa sambil melepaskan sepatu nya lalu dia menatap ke arah pintu "kemana dia? astaga kenapa aku gugup padahal ini rumah pacar ku sendiri" kata Eun "pacar? " kim masuk sambil membawa tas milik Eun "lupa aku, kita kan sudah putus" kata Eun dengan cepat "apa yang putus? " kim menatap Eun "kau membuang ku waktu itu dan itu artinya kita putus, lalu kenapa kau menjemput ku kembali? memangnya aku sampah daur ulang" gerutu Eun
"kemari" kata kim "tidak mau" kim langsung menyipitkan mata nya "jangan memerintah ku" kata Eun dengan judes.
"apa yang terjadi pada mu? kau betingkah seolah-olah aku memang harus melakukan pemaksaan"
"katakan saja apa yang mau kau katakan"
"duduk di sini"
"demi Tuhan! " Eun berdiri dan berjalan ke arah kim.
"sudah selesai, sekarang tolong jangan salah paham aku tidak mengatakan semuanya waktu itu karena aku tidak mau kau banyak fikiran, apalagi kau harus mengerjakan skripsi mu"
"yang benar saja, muka mu tidak meyakinkan kan" "apa yang harus ku lakukan ? "
"kau benar benar seperti tidak membutuhkan ku waktu itu"
"aku ingin membawa mu kembali agar kau tidak menangis namun arrayan melarang ku karena itu sangat bahaya"
"jadi aku tidak di buang? jadi.." kata Eun dalam hati "buang lah fikiran buruk mu soal aku membuang mu, karena aku tidak akan pernah melakukan itu" kata kim sambil melingkar kan tangan nya ke pinggang Eun.
"lalu saat itu kau tinggal dimana? "
"di apartemen,sekarang boleh aku bertanya? " "kau mau tanya apa? "
"kenapa kau terus memperhatikan pria bernama ali itu"
"astaga pertanyaan mu sangat kedengeran bodoh, kak ali itu kakak kak zela dia mencari kak zela yang di sekap sama kak ai waktu itu. aku mau cerita pada mu tapi kau malah pergi dan menyuruh ku tidur seolah-olah aku tidak penting" "baik lupa kan " kim membuka jas nya "sekarang bisa aku melakukan satu hal lagi sebagai suami mu? " tanya kim "suami? suami apa nya. aku tidak mau punya suami brengsek" kata Eun sambil pergi ke kamar mandi "baik lah dia membantah lagi seperti nya" kim melempar kemeja nya ke atas sofa lalu membuka sepatunya "nikah aja belum udah suami suami dasar gak waras" Eun mematikan keran lalu meletakkan sikat gigi nya "astaga? " Eun langsung memalingkan wajahnya dan buru buru menutupi tubuh nya dengan selimut "kenapa kau cuma pakai celana pendek benar-benar tidak tau malu" kata Eun "aku ingin melanjutkan yang tadi pagi" kata kim "apa? " kata Eun dalam hati "eh!! " Eun menahan selimut nya "kau mau apa? jangan ganggu aku, aku sekarang mau tidur!! tidak ingin melakukan apapun apalagi dengan mu" kata Eun "kau menolak ku? " kata kim tanpa ekspresi "pergi sana gosok gigi mu bersihkan wajah mu dan tidur" perintah Eun kim langsung mengigit bibir nya lalu pergi ke kamar mandi dengan langkah yang frustasi.