
Eun membuka matanya, terlihat kim sudah ada di depan nya dia bahkan memeluk kim. dengan buru buru dia menyingkirkan tangan nya "ya ampun kok bisa aku peluk dia? " batin eun "greb" kim mempererat pelukan "tuan kim.. Kau sudah bangun? " tanya eun "hm" kim membuka matanya menatap eun "pelukan mu hangat" kata kim tanpa ekspresi "apa? Pelukan ku? Kapan aku memeluk mu? " eun pura-pura tidak tahu "sepanjang malam" kata kim, ponsel eun berbunyi "awas" kata eun "halo ma" kata eun sambil duduk kim hanya menatap nya "aku baik ma, jangan kawatir aku bisa jaga diri" kata eun "hum.. Carl selalu ada bersama ku kami juga bentar lagi selesai masa magang " kata eun sambil menghindari kim yang mencium nya .
"Aih tuan kim" kata eun "kau bicara apa? " tanya mama eun "tidak ma, aku " eun ingin berdiri tapi kim menahan nya "aku sendirian ini mau mandi dan berangkat " kata eun "ya sudah siap siap lah mama mau menyiapkan bekal papa mu" eun menyingkirkan tangan kim "iya ma bye" kata eun lalu dia menatap kim "bisa tidak, untuk tidak menyentuh ku" kata eun "bagaimana mandi bersama? " kata kim sambil mencium leher eun "kau tidak waras" kata eun "minggir aku mau mandi" kata eun "bagaimana dengan ku? " tanya kim "kau mandi setelah aku selesai mandi" kata eun sambil mencoba melepaskan tangan kim yang melingkar di pinggang nya "aku bilang kita mandi bersama" kata kim "aku tidak mau" kata eun "aku akan terlambat" kata eun "kau tidak mengatakan sesuatu pada ku pagi ini? " kata kim "aku akan katakan, aku tau apa yang kau fikir kan" kata eun "katakan" kata kim "tapi ada syarat nya kau harus lepaskan aku" kata eun "oke" kata kim sambil menyingkirkan satu tangan nya "selamat pagi tuan kim" kata eun "cuma itu? " tanya kim "iya ayo singkirkan tangan mu! " kata eun "katakan yang lain" kata kim "hum.. Seb-- tidak jadi aku harus segera mandi, tuan kim" eun menatap kim dari cermin "bos ku akan memberi nilai buruk cepat awas" kata eun namun kim hanya tersenyum sambil menatap eun "demi apa? " kata eun dalam hati dia langsung memiringkan sedikit kepalanya "aku ingin mengatakan sesuatu" kata eun dengan berbisik sambil memegang wajah kim dan melepaskan tangan kim dari pinggang nya "aku ingin" kata eun. kim menelan liur nya melihat wajah eun begitu dekat bahkan dia dapat merasakan nafas eun begitu hangat "aku ingin mandi bye" eun pergi "hah? " kim terlihat kecewa "jangan harap aku mau melakukan nya!! " eun pergi ke kamar mandi "jadi menipu ku? " kata kim dalam hati, beberapa menit kemudian ponsel eun berbunyi kim segera mengambil nya "eun kau sudah berangkat? " tanya vivian di telpon "eun sedang mandi" kata kim "haaa... Tuan kim.. Dari mana kau tau di sedang mandi? Kalian tidak.. Tidak satu kamar kan? " tanya vivian "iya" kata kim "i.. i.. iya apa? " vivian gugup "tuan kim? Kau kau bicara pada siapa? Ya ampun ponsel ku" eun keluar dari kamar mandi "teman mu menelpon" kata kim "halo" eun mengambil ponselnya "eun kau baik baik saja? Apa kau tidur sekamar dengan tuan kim" kata vivian dengan nada khawatir "hum.. Dari mana kau tau? " tanya eun dengan enteng "jadi kau benar benar sekamar dengan nya? " tanya vivian "iya.. Tapi tapi.. Tapi aku tidak melakukan apapun" kata eun "kau yakin? " kata vivian "apa dia tidak memaksa mu melakukan sesuatu? " tanya vivian "tidak vivian, kau tau dia bahkan tidur seperti babi dia juga jarang di rumah" eun mencoba menenangkan vivian "jadi kau sendirian eh tunggu bagaimana kalian bisa sekamar? " tanya vivian "saat pertama datang dia bilang ini kamar ku. ku fikir benar, ternyata ini kamar nya juga jadi kami satu kamar tapi aman dia tidak melakukan hal macam macam jangan berisik kaya nya dia sudah selesai mandi" kata eun "kau dia astaga kau melihat dia? " kata vivian "vivian.. Kamar nya ini lebih luas ibarat kata kamar nya ini sama dengan rumah kita, dia mandi di sana kamar mandi nya luas dan agak jauh jadi aman" kata eun "baik baik lah kita bicarakan di kantor" kata vivian "oke" kata eun.
Kim memakai kemeja nya sambil sesekali melirik eun yang sedang merapikan penampilan nya "ehem" eun menoleh menatap kim "kau kenapa? " tanya eun "kau tidak mengerti? " tanya kim "tidak, kau terlihat seperti orang bodoh" kata eun "lihat bagaimana kerah kemeja ku" kim sengaja tidak merapikan kerah leher nya "ku fikir pembisnis bisa merapikan pakaian nya lihat kerah mu itu, terlihat berantakan" eun mencoba merapikan kerah kemeja kim "menunduk lah kau terlalu tinggi" kata eun, kim patuh eun langsung merapikan kemeja kim "kau tidak pakai dasi? " tanya eun "pakai ini dasinya" kata kim "sini sini aku pasang kan kau sangat payah " kata eun kim memperhatikan wajah eun tanpa bicara sepatah kata pun.
Justin turun membuka pintu mobil untuk eun, dan eun langsung ke luar dari mobil begitu pintunya terbuka "dengar lain kali aku mau berangkat deng--" eun menatap kim keluar dari mobil
"Kau tidak berangkat langsung? " kata eun "aku ingin ikut masuk" kata kim "kau mau apa? " kata eun dengan wajah panik "bicara dengan bos mu" kata kim tanpa merasa bersalah "apa!! " kata eun "ayo" kata kim "tidak !! tidak, kau mau bicara apa pada nya? " kata eun "jangan jangan dia mau bicara aneh aneh lagi, bagaimana kalau dia bicara sembarangan? aku dan carl bisa terancam punah" kata eun dalam hati "ada yang perlu ku bicara pada nya" kata kim "katakan kau mau bicara apa pada nya? Jangan jangan" kata eun. kim menatap eun "ayo katakan" kata eun "tentang apa yang ingin kau bicara kan pada bos ku? Kau tau jika ini menyangkut aku dan carl salah bicara atau sembarangan bicara kami berdua bisa mendapatkan nilai rendah mau tau kan selanjutnya " kata eun "ini tidak akan membuat nilai mu rendah tapi menambah nilai mu" kata kim "tentang apa? " eun benar benar ingin tau "pekerjaan baru aku butuh bos mu" kata kim "ini tentang pekerjaan tidak lebih kau bisa ikut mendengar kan" kata kim dengan wajah yang cukup menyakinkan "tunggu dulu aku tidak percaya pada mu" kata eun, lalu dia menatap kim "ayo berjanji lah kalau kau tidak akan membuat kekacauan, ayo berjanji! " kata eun sambil mengangkat jari kelingking nya "ayo" kata eun "apa ini? " kim menautkan alis nya "ikatan janji" kata eun sambil menarik tangan kim "nah gini oke katakan" kata eun "aku janji" kata kim "bagus" kata eun "sekarang antar kan aku bertemu bos mu" kata kim.
"Yang ini tolong di rapikan lagi" kata nhai "siap tuan" kata Bimo "eun" kata nhai "ah.. Kak ai.. Tuan kim" kata eun "kenapa kau membawa nya ke sini? " nhai keliatan tidak suka melihat kim "kak ai.. Tuan kim ingin bertemu bos" kata eun "ada urusan apa? " kata nhai "ada yang ingin ku bicara kan" kata kim, nhai melihat sekeliling "ikut aku" kata nhai "kau tidak ikut" kata nhai sambil menatap eun "iya" kata eun sambil mengangguk. kim berjalan mengikuti nhai "ada apa? " tanya ade "tidak tau kak" kata eun sambil berjalan ke arah sebuah ruangan "apa!! " terdengar suara nhai "tidak bisa aku sudah memberi nya tugas lain! " kata nhai "kenapa kau menguping tuan nhai" bisik carl "sstt" kata eun "eun" kata putri "iya" kata eun "kau sedang apa? " tanya putri "hum.. Tuan kim datang ingin bertemu tuan Eliezer" kata eun sambil menatap putri "siapa yang mau bertemu dengan ku? " tanya Eliezer "ah pak bos" kata carl "hum.. Tuan--" eun terkejut melihat eliezer"pergi dari kantor in--" nhai terdiam saat membuka pintu "tuan kim! Astaga kapan anda datang" kata Eliezer "baru saja tapi ini membuat ku sangat kesal" kata kim "mohon maaf atas ketidaknyamanan nya tuan kim um. .. Tuan kim sebentar" kata Eliezer di saat kim ingin pergi "apa yang kau lakukan? " bisik Eliezer pada nhai "cepat minta maaf" kata Eliezer "tap--" kata nhai "cepat" kata Eliezer dengan nada penuh tekanan "maaf kan kami tuan kim" kata Eliezer "apa yang terjadi" kata Eliezer sambil membungkuk beberapa kali di depan kim "dia ingin membawa anak magang" sahut nhai "aku tidak mengizinkan nya karena anak magang sudah ada tugas nya" kata nhai sambil melirik tajam ke arah kim "bukan membawa" tukas kim "hum.. Tuan kim mari duduk dulu" kata Eliezer. kim menatap eun yang kelihatan cemas "aku datang membutuhkan seorang reporter untuk mempromosikan produk ku, sekaligus membuat perusahaan berita mu semakin maju tapi apa? " kata kim dengan dingin "mohon maaf tuan kim saya sungguh menyesal" kata Eliezer sambil menunduk "saya mohon maaf sekali lagi" Eliezer merasa tidak enak sekaligus takut "ee tuan kim" kata Eliezer saat kim ingin pergi "anda bisa membawa beberapa reporter ku" kata Eliezer "sungguh tuan kim siapa saja terserah anda mohon maaf atas kejadian yang membuat anda tidak nyaman" kata Eliezer lagi "aku ingin mengatakan sesuatu pada mu" kim menatap Eliezer "iya tuan saya mendengarkan" kata Eliezer "aku tidak suka pria ini" kata kim "iya iya tuan, mohon maaf tuan" kata Eliezer "jadi anda ingin reporter yang seperti apa? karyawan ku sangat banyak" kata Eliezer "aku tidak butuh yang lain aku sudah memilih " kata kim sambil menatap eun "hum.. Iya tuan hum.. Eun juga reporter yang terbaik beberapa bulan ini" kata Eliezer "aku mau dia" kata kim dengan datar "iya tuan tidak masalah" kata Eliezer "kapan anda perlu nya" kata Eliezer "malam jam 21.30" kata kim "baik tuan baik" kata Eliezer kim langsung berbalik dan pergi "nhai ikut aku" kata Eliezer.
Di ruangan Eliezer
Nhai terlihat tidak percaya dengan apa yang baru di ucapkan oleh Eliezer "maaf Pak? " kata nhai "aku ulangi! Kau sekarang turun jabatan menjadi karyawan biasa! " kata Eliezer dengan marah "pak.. Sal--" kata nhai "kesalahan mu barusan hampir membuat perusahaan ini dalam masalah besar!! kau tidak tau siapa tuan kim? Dia itu tokoh terkenal!! " kata Eliezer "tapi pak" kata nhai "keluar" kata Eliezer.
Setelah nhai pergi Eliezer terlihat bentar benar kesal "cari seseorang yang bisa menggantikan posisi nhai sebagai pemimpin redaksi" kata Eliezer "siap pak" kata putri "panggil eun dan carl ke sini" kata Eliezer.
"Tapi kau tidak seharusnya berkata seperti itu" kata eun "jadi kau marah? " kata kim "bukan begitu" eun merasa serba salah "dia benar-benar pria buruk " kata kim "iya iya aku tau tapi setidaknya jangan katakan hal seperti tadi, pasti nanti ada masalah" kata eun "aku benar benar tidak suka dengan nya" kata kim "oke oke aku tau da--" kata eun "dan dia meremehkan mu itu membuat ku semakin kesal" kim menaikan nada bicara nya membuat eun terdiam sesaat "jika aku tidak memiliki janji pada mu, aku pasti sudah menghabisi nya" kata kim "apa? Hei kau bilang apa? " eun tegang "aku ingin menghajar nya" kata kim dengan pasti "uh.. Lebih baik kau berangkat sekarang aku tidak mau ada keributan" kata eun "eun! Sekretaris putri mencari mu" kata ade "iya kak" kata eun "pergilah tuan kim" kata eun sambil mendorong kim "selesai magang jangan mau kerja di sini" kata kim "iya iya pergilah sekarang kau akan terlambat" kata eun "kau tidak mendengar kan ku" kata kim "aku dengar ayolah masuk ke mobil" kata eun .kim masuk ke dalam mobil "aku katakan pada mu" kata kim "apa? " kata eun "lelaki sejati tidak akan meremehkan seorang wanita" kata kim "eun" kata vivian "iya iya" kata eun sambil menoleh ke arah vivian beberapa detik "eun" kata kim "iya pergilah" kata eun "kau tidak mengatakan apapun pada ku? " kata kim "hum.. Sampai ketemu nanti" eun melambaikan tangan "jangan buat keributan ya" kata eun lalu dia berbalik pergi.
Carl dan eun masuk ke dalam ruangan atasan mereka "tuan anda memanggil kami" kata carl "iya duduk lah" kata Eliezer "ada apa pak? " tanya eun "kalian akan berkerja dengan tuan kim nanti, aku harap kalian tidak melakukan kesalahan usahakan jangan ceroboh" kata Eliezer.
Nhai mengepal tangan nya dengan emosi yang sedang meledak ledak "hanya karena hal kecil kau langsung menurunkan jabatan ku, hal semudah itu bagimu hanya karena pria Brengsek itu" kata nhai "awas aja aku akan menuntut balas pada mu kim".
Eun menatap carl " kami akan berusaha sebisa mungkin pak"kata carl "benar pak" kata eun "bagus lah aku senang mendengar nya oh ya, masa magang kalian sebentar lagi habis siapa di antara kalian yang mau menggantikan posisi nhai anggap saja sebagai penghargaan" kata Eliezer "uh.. Bagaimana dengan kak ai uh tuan nhai? " tanya eun "dia sekarang karyawan biasa posisi pemimpin Redaksi kosong siapa di antara kalian yang mau" Eliezer menatap dua karyawan magang di depan nya "carl mungkin mau" kata eun "uh. Tidak kau saja" kata carl "tidak kau saja, aku tidak bisa ini terlalu berat" kata eun "pak kami tidak bisa. kami sudah biasa kerja berdua seperti ini kalau boleh kasih saran pak bagaimana kalau petir saja pak dia tegas, bijaksana cocok banget pak" kata carl "kalian serius tidak mau? " tanya Eliezer "bentar pak" eun menarik carl "ini posisi yang bagus untuk mu kau tidak mau? " bisik eun "tidak lah ini terlalu berat" kata carl "jika tidak bisa tidak papa.. Panggil kan petir ke mari" kata Eliezer "pak izin meberikan saran" kata eun "silahkan" kata Eliezer "kita bisa lakukan vote bersama rekan kerja yang lain agar adil pak" kata eun "hum.. kau benar juga tapi kita juga harus melihat kemampuan orang itu" kata Eliezer "iya Pak sekalian di lihat kemampuan nya juga bisa" kata eun "benar pak" sahut carl "oke terimakasih saran nya" kata Eliezer.
Sementara itu di tempat lain mark mencuci wajah nya dan juga tangan nya "ahh.. Perih banget cakaran anak kecil sialan tadi" kata wara "anak kecil pun kau ladeni tinggal tembak saja kan beres" kata ken sambil membuka bajunya dan berganti memakai pakaian yang bersih "aku tadi pagi melihat berita salah satu rekan kita yang tertangkap mengakui barang terlarang itu milik tuan milthon dan dia juga bersedia menjadi saksi" kata mark "karena itu kita di utus ke tempat jelek ini" kata ken "tapi untuk apa? Kita cuma membunuh orang orang seperti ini" kata wara "ini keluarga nya" kata ken "sekarang kita tinggal temui dia di penjara menyuruh dia mengakui perbuatan nya tanpa menyebut kita ataupun bos kita kalau tidak kita habisi dia " kata ken "oke lah ayo" kata wara.
"Aku tidak menyangka kalau tuan nhai akan turun jabatan kali ini" kata carl di mobil "aku juga" kata eun "tapi jujur sih kali ini aku sependapat dengan tuan kim" kata carl "tuan kim? " eun mengerutkan kening nya "iya dia kan mengatakan aku benci pria ini nah aku juga sama" kata carl "haha kau ini tidak boleh begitu" kata eun "tapi sesekali tidak papa, dia juga tidak pantas memegang jabatan tinggi karena dia juga tidak peduli pada rekan yang lainnya" kata carl "mungkin dia bisa belajar dari keegoisan nya nanti" kata eun, mobil berhenti ketika lampu merah "udah jam berapa? " tanya carl "jam 19.12 gak terasa ya udah malam" kata eun "kita dari tadi bergerak terus bagaimana kita sadar" kata carl "tapi aku senang melihat pak polisi itu sudah membaik polisi kaya gitu yang harus di lestarikan dalam negri. dia tidak takut apapun untuk menyatakan kebenaran dan keadilan bukan yang di kasih uang selembar langsung membungkuk " kata eun "haha kau benar tapi kebanyakan polisi yang membungkuk sekarang" kata carl. "Ken.. Ken lihat itu mobil di sebelah kita" kata wara "itu kan gadis reporter itu" kata wara "kau benar" kata ken "kali ini kita mau apa? " tanya mark "beri gadis itu pelajaran" kata ken, "ayo cepat kita tidak boleh terlambat" kata eun saat lampu bergerak hijau "iya kan ini baru jalan" kata carl "bruugg" mobil carl bersentuhan dengan mobil lain "hei" kata carl "Hai" terlihat ken muncul di jendela mobil sambil menunjukkan senjata nya "pepet terus" kata ken "ya ampun carl" kata eun "mereka mengenal kita" kata eun
"hahahaha"
"Lagi lebih dekat"
"Hajar terus"
"Sial" kata carl "aku akan telpon bantuan" kata eun namun dengan mobil yang tidak seimbang membuat eun kesulitan menelpon seseorang untuk meminta bantuan, "halo" kata eun "brugg" mobil terus di tabrak "ah.. Ponsel ku jatuh" kata eun sambil berusaha memungut kembali ponsel nya "dorr dorr" carl terlihat panik "eun awas jaga kepala mu" kata carl "bruuuaggg!!! " mobil kehilangan keseimbangan sehingga menabrak pembatas jalan .terlihat ban mobil carl sudah hancur "ahh" eun memegang kepala nya "eun eun kau tidak papa? " tanya carl "turun!! " wara menarik carl dengan kasar, "lari eun lari!! " kata carl "jangan harap!! " mark menarik eun keluar dari mobil terlihat ada darah yang mengalir di dahi eun "bawa mereka" kata ken.
Di kantor green park
Deon melihat persiapan untuk pertemuan nanti "aman kan? " tanya leo "aman tinggal menunggu reporternya saja" kata Deon "ini sudah jam 20.56 kenapa eun belum muncul " fikir kim sambil melihat jam tangan nya "justin hubungi eun" kata kim "baik tuan" kata justin.
Kim melempar ponselnya "kenapa kau tidak mengangkat telpon ku" kata kim "tuan mereka belum juga datang" kata Deon.
Carl berusaha berjalan ke arah eun "eun.. Eun.. " kata carl "eun.. Bangun eun.. Eun" kata carl "carl.. " eun membuka mata nya "eun.. Ayo ayo kita pergi" kata carl "aku merasa tenggorokan ku terbakar" bisik eun ,carl langsung melihat ke arah botol yang lempar ken dan mengambil botol itu seketika carl panik dia mengikat luka di lengan nya "ayo eun kita pasti bisa kawan" carl membantu eun berdiri "ayo eun semangat. sial mereka memberi mu pestisida" kata carl.
"Tuan kim nona sama sekali tidak bisa di hubungi kemungkinan ponsel nya mati" kata justin "pergi cari vivian tanya dia apa dia melihat eun pergi" kata kim.
Carl masuk ke dalam taxi "ke rumah sakit pak, cepat pak! " kata carl "uhh" eun memegang dada nya "bertahan lah" kata carl mobil melaju di jalanan.
Vivian mendengar kan leo bicara "jadi eun belum sampai? Astaga kemana dia " vivian buru buru mencari ponsel nya "dia sudah berangkat dari tadi" kata vivian.
"Huuekk" eun memuntahkan darah segar dari mulut nya "oh.. Tidak tidak" carl memegangi tubuh eun yang masih muntah "pak tolong cepat sedikit" kata carl.
"APA!!" kata petir dan Yuda bersamaan "iya eun juga tidak bisa di hubungi aku kawatir" kata vivian "coba hubungi carl" kata Yuda "iya iya" kata petir.
Orang orang melihat carl berteriak sambil membawa eun "tolong.. Tolong teman ku" kata carl "carl" eun menatap carl "letakan di sini" kata perawat yang datang dengan ranjang dorong "ah" eun mulai mengalami sesak nafas "ayo kawan... Kau bisa!!kau bisa!! " kata carl, terlihat eun ingin mengatakan sesuatu namun tidak ada suara yang keluar dari mulut nya "akhirnya.. " carl menatap eun di bawa ke ruang rawat "uh?? " dia merasakan sesuatu di punggung nya dia menatap tangan nya yang sudah basah karena darah "hei nak kau mengeluarkan darah yang sangat banyak di belakang" kata seorang wanita tua "oh" tiba-tiba carl jatuh tak sadarkan diri.
"Carl aktif tapi tidak menjawab" kata Yuda "kita ke kantor polisi saja" kata vivian "percuma" kata leo "apa maksud mu? " kata vivian "polisi tidak akan mau mencarinya karena ini belum ada 24 jam mereka menghilang" kata leo "carl menelpon" kata petir "angkat" kata Yuda "halo carl" kata petir "permisi dengan keluarga pasien atas nama carl" petir menatap yang lainnya.
Kim berjalan dengan cepat setelah mobil berhenti. dia masuk ke gedung putih di depan nya sambil melihat sekitar nya "itu tuan kim" kata Yuda "tuan" kata leo "dimana eun? " kata kim semua nya terdiam.
Di dalam ruang rawat
Terlihat pernafasan eun semakin melemah "dokter dia semakin melemah" kata perawat "racun nya tidak bisa kita keluar kan semua nya" kata dokter "panggil keluarga pasien" kata dokter.
Vivian menoleh melihat pintu yang terbuka "keluarga pasien" kata perawat , kim langsung mendekat "bagaimana? " kata kim "anda keluarga pasien? " tanya perawat "iya bagaimana dia!!! " seru kim "kami butuh anda untuk masuk ke dalam " kata perawat "aku aku bagaimana" kata vivian tapi terlihat kim sudah masuk duluan "aku aku ikut ya" kata vivian "silahkan hanya dua orang saja" kata perawat.
"Eun" kim mendekati eun, sesekali terdengar eun menarik nafas nya yang terasa berat "eun" air mata vivian mengalir deras "pasien ingin menyerah" kata dokter "apa maksud mu? " kata kim "eun.. Eun.. Hei kau ini kenapa? Eun kau dengar aku kan? " vivian cemas "kau pasti selamat kita akan bersama lagi" kata vivian "eun" vivian terus memanggil eun "kau harus bertahan" kata vivian "eun kenapa kau jadi lemah!!! Ayo buka mata mu!!! "seru vivian " jangan diam saja tuan kim panggil eun!! "Kata vivian " eun.. Eun.. Jangan begini"kata vivian dengan air mata yang tidak dapat terbendung lagi "huk huk huek" eun kembali memuntah kan darah. "dokter" kim menatap dokter "ini karena racun nya sudah berkerja tuan" kata dokter "racun apa? " kata kim "pestisida" kata dokter "dia butuh penyemangat untuk kelangsungan hidup nya " kata dokter "eun" kim menatap eun "huek" eun duduk dan kembali memuntah kan darah nya "ohh.. " vivian benar benar sedih "hei" kim memegang punggung eun terlihat eun seperti ingin bicara tapi tidak mampu mengatakan apapun "eun.. Berjuang lah" kata vivian "kau akan sembuh" kata kim "jika kau menyerah bagaimana dengan nya dan aku" kata kim "hah" eun terlihat mengatur nafas "kau akan terus bertahan" kata kim "kau bukan penakut kan" kata kim eun mengangguk "kau akan tetap hidup kau dengar itu" kata kim dengan yakin "jika kau menyerah aku tidak akan mengampuni mu " kata kim "eun.. " vivian menangis "eh? " kim menahan tubuh eun yang sudah tidak sadarkan diri "dokter jangan biarkan dia begini" kata vivian "kau tolong dia selamat kan dia" kata kim dengan nada tinggi "kau bisa kerja kan? " kata kim "kami sedang berusaha tuan" kata dokter "jangan hanya berusaha!! " kim mengangkat tubuh eun "tuan kim kau mau bawa dia kemana ? dia sekarat" kata vivian "ke rumah sakit yang lebih terpercaya" kata kim sambil membawa eun pergi "tuan kim" kata vivian sambil mengejar kim "eun" kata Yuda "kau mau bawa eun ke mana? " kata petir "hei" Yuda lari mengejar kim "berani menghalangi ku akan ku akhiri Hidup mu" kata kim sambil masuk ke dalam mobil "tuan kim!! " kata vivian "aku cuma mau eun cepat sadar" kata kim "kau bisa ikut" kata kim sambil menatap vivian "pergilah kau akan mengurus carl" kata petir "iya" vivian masuk ke dalam mobil "kabari kami" kata petir "tapi ingat tuan kim!! Sampai eun kenapa kenapa atau lebih parah aku tak akan segan melukai mu" kata Yuda mobil kim melaju pergi.
Kim mengusap darah di wajah eun "jangan pergi" bisik kim sambil memeluk eun, vivian memperhatikan itu dari cermin di atas nya.
Di rumah sakit..
"Uhm? " carl membuka matanya "eun.. " kata carl "dia bangun" kata Yuda "kau benar" kata petir "hei bro" kata Yuda "kalian" kata carl dengan suara yang sangat lemah "kau akhirnya bangun juga" kata petir "bagaimana dengan eun? Dia dia sek--" petir mengetuk kepala carl "dia di bawa oleh kim bersama vivian" kata petir.
Vivian melihat sekitar nya "rumah sakit ini benar benar luas" kata vivian dalam hati "griit" pintu terbuka kim yang masih berdiri segera menoleh "apa yang terjadi? " tanya kim "pasien masih kritis tuan dia butuh perawatan yang maksimal di sini " kata dokter "iya lakukan saja" kata kim dengan cepat "deon urus biaya nya" kata kim "uh.. Tuan kim aku aku boleh ikut masuk" kata vivian saat melihat kim hendak masuk ke kamar rawat eun. "hm" kim mengangguk halus lalu masuk ke dalam ruang rawat eun, terlihat ruang rawat nya berkali lipat lebih besar dan luas dari rumah sakit sebelum nya tempat tidur eun juga lebar dan terlihat sangat nyaman eun berbaring terlihat seperti orang yang sedang tidur. kim duduk di dekat eun "dari tatapan tuan kim ke eun kelihatan nya tuan kim memang mencintai eun sungguh-sungguh" kata vivian dalam hati "ada yang harus ku urus kau bisa menjaga nya kan? " kata kim "uh.. I.. Iya" kata vivian "kalau ada apa apa bicara lah dengan bodyguard ku di depan pintu " kim langsung berdiri lalu menatap eun sejenak "kau akan aman di sini" kata kim sambil perlahan membungkuk mencium eun lalu pergi "apa aku salah lihat? " kata vivian.
Gelas di letakan ke atas meja "bagaimana? " tanya Yuda "aku merasa semakin baik" kata carl "bagus lah aku akan cari sesuatu aku sudah lapar lagi" kata petir "tumben sekali" kata Yuda "bukan urusan mu" petir berjalan ke arah pintu "oh ya carl ap--" Yuda menoleh ke arah petir yang membuka pintu "kenapa ka terkejut aku jadi ikut terkejut" kata Yuda "kim" kata petir, kim langsung masuk ke dalam "kau mau apa? bagaimana dengan eun? " tanya petir "siapa yang menyerang kalian berdua? " tanya kim "eh apa ini? " Yuda dan petir di tarik keluar oleh bodyguard kim "hei " kata Yuda "aku butuh pembicaraan empat mata" kata kim dengan dingin "aku akan jawab apapun tapi bagaimana dengan teman ku eun? " tanya carl "dia masih kritis bagaimana dia bisa minum pestisida? " kim ingin tau apa yang terjadi,bagaimana bisa eun meminum pestisida? "kami di serang oleh pengedar barang terlarang kami tidak tau bagaimana dia bisa muncul karena seharusnya dia di penjara, nama pengedar itu kalau tidak salah ken yang memiliki bos bernama mil.. Mil.. Mil.. Aku lupa tuan kim yang pasti bos nya itu orang ternama juga " kata carl "ken itu yang mencekoki eun dengan pestisida, aku tidak bisa apa apa mereka menahan ku dan memukuli serta menembak ku" kata carl "kami mencoba menghubungi bantuan tapi ponsel eun jatuh dan mati sebelum kami tertangkap" kata carl sambil mengambil ponsel nya "ini orang yang mencekoki eun dengan pestisida" kata carl "ini kan? Anggota milthon" batin kim "deon! " kata kim deon langsung masuk "kirim semua foto foto yang kau kenal saat kejadian" kata kim "kirim lewat email" kata deon "oh oke" kata carl "tuan kim.. Eun benar-benar selamat kan? " carl ingin memastikan bahwa teman nya benar benar selamat "deon! " kata kim "saya mengerti" deon segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukan foto eun berbaring dengan vivian di samping nya "aku lega" kata carl "kau bisa menghubungi bawahan ku jika hal ini terjadi lagi " kata kim sambil berbalik "uh.. Tuan kim" kata carl "terimakasih sudah menolong teman ku" kata carl kim langsung pergi.