gadis reporter dan tuan mafia

gadis reporter dan tuan mafia
undangan wisuda


pagi ini para pelayan terlihat benar benar sibuk. mereka mengkemas beberapa barang lalu memasukkan nya ke dalam mobil, eun terlihat sangat ceria "mama mu akan sangat senang dengan kedatangan mu" kata carl "ah.. itu benar anak nya yang nakal akan pulang membawa undangan spesial" kata eun "nona tuan memanggil anda" eun langsung menatap carl "pergilah dia pasti membutuhkan mu, aku akan membantu pelayan menyiapkan barang barang ini" kata carl "terimakasih".


eun masuk ke dalam kamar dia tersenyum melihat kim berdiri di depan cermin dengan jas berwarna navi " ada apa? "tanya eun " apa aku terlihat rapi? apa ada yang kurang? bagaimana penampilan ku"eun langsung tertawa melihat kim "uh? ada yang aneh dari penampilan ku ya? "


"ada apa dengan mu ? kau sudah terlihat baik tuan kim cuma wajah mu terlihat jauh lebih tegang dan kaku dari biasanya, papa dan mama ku akan berfikir aku membawa seorang pejabat yang mau mencalonkan diri ke pemilu haha.. kau terbaik"


"aku sedang serius coba lihat lagi ada yang kurang baik tidak"


"baik, baik aku akan melakukan nya" eun memperhatikan kim dari atas "baik seperti nya aman " eun merapikan jas dan dasi kim "tap"eun menatap kim yang menahan tangan nya " apa lagi? "tanya eun " aku mencintai mu"kim langsung mencium eun dengan lembut "hei" eun menarik diri nya "jangan sekarang nanti pakaian mu berantakan, sekarang ayo ke bawah semua nya sudah siap"


"kau terlalu sibuk sampai sampai kau tidak ingin mengatakan apapun pada ku"


"aku mencintaimu" kata eun sambil berjalan keluar dari kamar nya.


Mobil kim memasuki halaman rumah yang sederhana dan tidak ada penjaga yang menyambut mereka "rumah ku jauh lebih kecil dari rumah mu"


"rumah ku juga dulu seperti ini"


"silahkan nona " leo membuka pintu mobil "silahkan tuan" kata azka, kim menatap rumah tembok ber cat hijau muda "siapa itu? " seorang pria berkemeja hitam keluar dari rumah "papa! " kata eun "oh.. mama anak mu pulang! " seru pria itu "papa" eun memeluk papa nya "anak ku" kata mama eun "ma, pa itu tuan kim dan tuan kim ini papa ku, ini mama ku" kata eun "halo paman halo tante" kim tersenyum "gak sia sia latihan senyum dari semalam" batin kim "selamat datang kim mohon maaf rumah nya sederhana seperti ini, tidak bertingkat dan tidak ada ac nya" kata sisy mama eun "ayo bawa semua nya! " kata kim "baik tuan" kata para pengawal "apa itu? " tanya rudy papa eun "itu hadiah dari tuan kim" kata eun "astaga kenapa repot repot ayo masuk kim" kata sisy sambil menarik tangan kim "semangat! " bisik eun "eun kenapa kau" kata rudy "papa tuan kim kekasih ku".


Di ruang makan


beberapa makanan terhidang di atas meja, eun mengambil piring untuk kim " kau mau ini? "tanya eun " ya"kim mengangguk dengan canggung "oke ini makan lah" kata eun "ini makanan kesukaan mu" kata sisy "iya, ma" kata eun "mama juga makan yang banyak" kata eun sambil menambahkan beberapa lauk ayam ke piring sisy "ini pa" kata eun "jangan repot repot" kata rudy "oh ya, tuan kim apa kesibukan mu? " tanya rudy "papa makan saja dulu" kata eun "tidak papa" kata kim "saya kerja di perusahaan saya sendiri paman" kata kim dengan sopan .


setelah selesai makan eun langsung membantu mama nya membereskan piring yang ada di atas meja "tuan kim kau mau apa? " tanya eun "membantu mu" jawab kim "tidak perlu" sahut sisy "kau lihat lihat saja barang yang kita bawa tadi" kata eun "kau " rudy menatap kim, "ya paman" kim menunduk "aku ingin mengajak mu melihat lihat sekeliling " kata rudy dengan dingin "baik paman" kata kim sambil mengikuti rudy dari belakang .


"melihat lihat apa? memang ada pemandangan apa di sini"


"jadi dia yang kau ceritakan pada mama? "


"iya ma bagaimana menurut mama? " tanya eun sambil menyalakan keran, "biar mama saja yang mencuci piring nya, kau cerita kan saja pada mama tentang nya"


"mama Jawab dulu menurut mama dia bagaimana? "


"aku sudah dengar semua nya kau tidak perlu mengatakan apapun kau hanya perlu menjawab pertanyaan ku" rudy melihat lihat sekeliling nya "baik paman"kim mengangguk " di mana kau tinggal bersama keluarga mu? "


"saya tinggal di jalan mahakali nomor 340 keluarga saya sudah tidak ada paman, dari usia sepuluh tahun saya di besarkan oleh seorang pengasuh"


"berapa usia mu? "


"35 tahun paman"


"apa kau tau, perbedaan usia kalian sangat jauh? putri ku baru akan beranjak dua puluh satu tahun"


"mohon maaf paman apakah anda mempermasalahkan perbedaan usia kami? " rudy menggelengkan kepala nya.


Sambil membuka kotak di depan nya. eun melihat kanan kiri dengan muka cemas karena kim dan papa nya belum kembali juga, sisy langsung mengusap rambut eun "ada apa sayang? " tanya sisy "ma, kenapa mereka belum kembali memang nya mereka melihat apa sih? " tanya eun "mama juga tidak tau" kata sisy.


"kau kelihatan nya orang yang sangat penting kau membawa bodyguard kemana mana, itu menandakan bahwa kau sangat tidak aman " "tidak begitu penting paman, saya cuma pekerja keras di kantor saya dan mereka hanya membantu saya . saya jamin eun akan aman tidak ada yang akan terjadi pada nya karena saya akan menjaga nya dengan nyawa saya sebagai jaminan nya"


"apa kau seorang mafia? " kim menelan liur nya "saya fikir tidak paman" kata kim "kau orang terpandang kim, kau yakin mau bersama anak ku? kau lihat saja kondisi di sini" rudy memperhatikan bodyguard kim yang sedang berdiri di dekat mobil "aku yakin dia bukan hanya pekerja biasa tidak mungkin jika pekerja biasa memiliki banyak bodyguard, dia memang memiliki perusahaan tapi seperti nya dia" fikir rudy "apapun itu paman tidak akan menjadi masalah saya mencintai anak mu dan begitu sebaliknya " ujar kim .


eun makin terlihat cemas bahkan dia tidak bisa bernafas dengan tenang, apalagi memikirkan bagaimana jika orang tua nya tau kalau kim adalah seorang mafia pasti kedua orang tua nya langsung cemas bagaimana nanti dengan cinta nya? dia mencintai kim dan begitu sebaliknya namun bagaimana jika kim mengatakan yang sebenarnya .


orang tua nya akan terkejut ketika tau calon menantu nya seorang mafia yang di takuti orang orang "Hai" eun menoleh "tuan kim " eun melihat sekeliling nya "apa yang kalian bahas kenapa lama sekali? apa papa tau kau seorang mafia? " "bagaimana menurut mu? "


"malah balik bertanya" eun kesal "apa yang terjadi kenapa kau marah pada nya? " tanya sisy "undangan apa ini? " rudy datang "um.. tidak ada yang terjadi. oh ya, papa itu adalah kejutan aduh kenapa kau sudah menemukan nya" kata eun sambil menepuk kepala nya sendiri "kau meletakkan nya di atas kulkas" kata rudy "hehehe lupa" kata eun "undangan wisuda? kau akan wisuda? " rudy terlihat bangga "iya, apa kalian senang? " eun menatap kim "astaga putri ku sudah dewasa" sisy memeluk eun dengan erat "oh ya paman, bagaimana jika kau mencoba ini" kim memberikan sebuah kotak ke rudy "apa ini? " tanya rudy "pakaian untuk acara wisuda " kata kim "ini punya mama" kata eun "ayo coba pa!" kata eun "baik" rudy dan sisy pergi. eun langsung mendekati kim "kau mengatakan apa tadi pada papa ku? jangan jangan kau mengaku lagi kau pernah melenyapkan seseorang" kata eun, kim tersenyum sambil memeluk eun.


di dalam kamar


rudy membuka kemeja nya. terlihat dengan jelas tubuh nya penuh dengan bekas luka "apa yang kau katakan pada kim? " tanya sisy "dia hampir mirip dengan ku" kata rudy, dia langsung teringat pembicaraan dengan kim tadi "apa dia seorang gengster? " rudy menggeleng kan kepala nya "lalu apa? bagaimana dengan putri ku? " sisy cemas "bukan apa apa, dia mirip dengan ku seorang pekerjaan keras, konsisten, dan bersikap tenang" rudy tersenyum lebar.


"apa dia tidak tau siapa papa nya sebenarnya? " fikir kim sambil melepaskan pelukan nya "jadi tahan dirimu ya. jangan marah pada anak buah mu, jangan keluar kan senjata mu karena papa akan terkejut. aku akan membuatkan minuman untuk mu" eun pergi sementara kim menggeleng kan kepala nya "calon mertua ku ternyata mantan ketua gengster langit gelap" kim terasa kecil.


ini sangat tidak terduga dalam hidup nya, waktu kecil dia sering mendengar kelompok gengster langit gelap di mana mereka selalu menolong rakyat biasa dari kelicikan pejabat dan mafia tanah. mereka akan berkerja tanpa sepengetahuan siapa pun. mereka akan membawa target lalu melenyapkan dan tidak akan ada yang tau terkadang mereka juga berperang dengan polisi dan yang lain nya namun cara kerja mereka penuh ke misteriusan tidak akan meninggalkan jejak sedikit pun mereka hanya melenyapkan orang yang pantas di lenyap kan bukan sembarangan orang. "kau kenapa? " eun menatap kim yang senyum senyum sendiri "tidak papa aku terlalu senang" kata kim "aku juga senang" kata eun "lihat" sisy datang "ah.. cantik nya" kata eun "itu sangat cocok untuk mu tante" kata kim "kenapa masih memanggil ku tante panggil mama saja" kata sisy sambil tersenyum "uh.. papa bekas luka terlihat di dada mu kenapa tidak di kancingn kan dengan benar" kata eun "kan cuma percobaan" kata rudy "tuan kim.. papa mantan tentara laut jadi tubuh nya ada beberapa bekas luka karena perang jaman dulu" kata eun "oh papa mu pejuang hebat" kata kim "rudy abu bakar Ash-Shiddiq aku melihat nya sosok legenda ketua gengster di depan mata ku" kata kim dalam hati "apa yang ingin kau tanyakan pada ku? " rudy menatap eun "papa tau saja, hum.. bagaimana pa? apa papa menerima nya? " tanya eun "lalu kenapa dia masih di sini? " eun kebingungan mendengar jawaban papa nya. "itu artinya papa menerima kim sebagai kekasih mu" kata sisy "maaf ta- mama bukan kekasih tapi calon suami karena secepatnya kami akan menikah" kata kim sambil menatap eun, "ya penting datang dulu saat aku wisuda, nikah nya nanti" kata eun yang membuat semua nya langsung tertawa "kami tidak mungkin tidak datang sayang" kata sisy "mereka begitu mencintai mu jadi tidak mungkin mereka melewati undangan wisuda anak nya sendiri" kata kim "benar itu" sahut sisy "ya, ya baik lah ayo minum dulu aku akan panggil mereka dulu" eun pergi memanggil semua pengawal untuk minum di dalam rumah nya.