gadis reporter dan tuan mafia

gadis reporter dan tuan mafia
Bahaya di sekitar rumah


Eun memperhatikan wajah kim yang sedang memakai jas nya "kau sudah siap dengan resiko nya jika menatap ku begitu? " kim berbalik menatap Eun "aku melihat kau berbeda kali ini" kata Eun "berbeda? " tanya kim "iya kaya.. Hum.. Tidak seperti biasa nya. kau terlihat seperti sedang merasa keberatan" kata Eun "kau benar" kim mengangguk.


"ada apa? "


"aku harus pergi keluar kota selama tiga hari besok harus berangkat"


"uh? Lalu dimana letak kesalahan nya yang membuat mu keberatan? "


"meninggal kan mu"


"hah? " Eun terlihat seperti tidak percaya dengan jawaban kim,"eh tunggu bukan kah itu tanda baik, tuan kim akan pergi dan kak ai serta ken tidak akan menemukan tuan kim dan tuan kim aman tinggal kak zela" kata Eun dalam hati.


"kau kelihatan senang aku akan pergi"


"huh? Aku.. Tidak.. Aku aku harus apa? Kau kan pergi untuk kerja lagian cuma tiga hari, "tenang saja aku akan membantu mu berkemas"


"kau akan berpaling dari ku? " tanya kim, Eun berdiri lalu berjalan ke arah kim dan merapikan dasi kim.


"kenapa kau berfikir buruk pada ku? "


"karena aku tidak bisa mengawasi mu kau akan pergi dengan siapapun"


"sial! Kau meragukan ku? Aku akan kirim foto kemana pun aku pergi" kim menarik Eun ke arah nya .


"uh?? Hehe kau masih khawatir ya? Gini saja kita bisa telponan terus agar kau yakin"


"berjanjilah kau tidak akan berpaling dari ku"


"um"


"aku tidak dengar"


"aku tidak akan berpaling dari mu, "aku berjanji atas nama Tuhan ku" kata Eun kim tersenyum dan langsung menunduk untuk mencium Eun.


Satria new center tertulis di gedung berwarna biru di depan Eun "nona kenapa kita ke sini? " tanya leo "ada tema yang harus ku temui jangan kawatir" kata eun.


"Halo aku Eun mau bertemu dengan ... " Eun melirik ke arah meja terlihat ada beberapa nama di sebuah kertas "Gita dan mita" kata Eun "oke sebentar" Eun mengangguk tak lama kemudian dua wanita datang menemui Eun "kau siapa? " tanya mita "stt.. Aku teman zela bisa aku bicara dengan kalian sebentar saja" .


Penjaga di depan gerbang memperhatikan dua pria yang datang dengan pakaian seperti seorang tukang servis "tuan nona Eun menyuruh kami datang untuk memperbaiki ac kamar nya tadi dan nona Eun menyuruh kami masuk " kata pria itu "oh bentar" penjaga menelpon leo "apa ada bukti nya? " tanya penjaga karena leo tidak bisa di hubungi "ada " mereka menunjukkan pesan singkat dari Eun "baik masuk lah" kata penjaga itu pelayan pria datang membawa dua pria itu ke kamar Eun.


"Keluarga zela setahu ku ada di bandung tapi dia punya kakak di riau katanya sedang kerja di perusahaan besar di pekanbaru" kata mita "memang nya kenapa kau bertanya begitu? " tanya Gita "kak zela menyuruh ku menghubungi keluarga nya dia lupa kontak nya" Eun berbohong "tapi kenapa zela berhenti berkerja? " tanya mita "dia sibuk mengurus kursus nya" kata Eun "tapi nhai punya kontak kakak zela" kata mita "nhai? " kata Eun "iya kau bisa cari dia, tapi bukan nya zela tinggal dengan nhai? " kata Gita "iya juga ya ku rasa mereka tidak ingat" kata Eun "kenapa nona lama sekali" fikir leo di luar pintu.


Pintu terbuka setelah beberapa menit kemudian Eun mengajak leo pergi "aku mau kesana, tapi leo ikut dengan ku bagaimana cari alasan nya ya" fikir Eun "ada apa nona? " tanya leo "tidak ada aku ingin membeli Camilan" kata Eun "baik nona" kata leo "ku rasa aku ada ide" gumam Eun "aku..aku ingin membeli sesuatu di toko pakaian sekalian membelikan tuan kim pakaian tebal" kata Eun "jadi kita kemana dulu? " tanya leo "ke toko pakaian" kata Eun.


Dua tukang servis AC tersebut pamit "berapa biaya nya? " tanya dila "nona Eun sudah transfer biaya nya" dila mengangguk "baik silakan" kata dila.


Leo berdiri di luar pintu ruang ganti "bentar ya ini terlalu banyak aku akan coba satu satu" kata eun dari dalam "iya nona" kata leo.


Taxi berhenti


"Kita sudah sampai nona" kata supir taxi "oh kau tunggu sini ya, pak aku masuk sebentar ke sana " kata Eun "siap nona" kata supir taxi.


Nhai membuka pintu terlihat zela sedang duduk di tepi ranjang "makan lah aku membawakan mu makanan" kata nhai "terimakasih" kata zela "kedepan nya kau harus benar-benar patuh" kata nhai sambil membuka jas nya "aku akan menemui ken" Nhai pergi.


"Kak zela.. " Eun melihat sekitar nya namun seperti tempat itu sudah tidak di gunakan "kak zela aku datang" ponsel Eun berbunyi "kak nhai jangan jangan" Eun mengangkat nya "Eun.. Eun kau dimana? " tanya zela "kak zela aku sudah masuk tapi tidak ada siapapun di sini kau dimana nya? " tanya Eun "kau sudah datang? " tanya zela "iya aku sudah masuk " kata Eun "kau dengan siapa. Hati hati Eun nhai ada dengan ken" kata zela dengan cemas.


"kak zela katakan kau di sebelah mana, aku tidak tau apa ini rumah ken tapi ini alamat yang ku dapat kan da--gawat ada orang"


"hei siapa itu" tanya wara


"lari Eun"


"iya, gawat kak zela aku ketauan"


Pintu di ketuk "nona apa sudah selesai? " tanya leo "sebentar lagi leo masih ada beberapa lagi" terdengar suara Eun dari dalam.


"Eun? " kata zela "akhh" Eun memegang lengan atas nya yang terluka "kak zela gak ada lukisan di sini " kata Eun "jangan jangan kau salah" kata zela "serlok kak zela" kata Eun "dimana gadis itu? " tanya devan"tadi dia di sini"kata wara, Eun menutup mulut nya di bawah meja dia bersembunyi "cari di sana" kata wara "aku akan segera serlok bagaimana dengan mu? " tanya zela "aku sedang berusaha keluar dari sini" kata Eun "zela!! " Nhai merebut ponsel nya "kak zela? " ucap Eun "berani nya kau" terdengar suara pukulan dan telpon langsung terputus .


"pak pak jalan" Eun berhasil lari "siap nona" kata supir taxi "siapa yang kau telpon? " tanya nhai sambil menjambak rambut zela "aku tidak menelpon siapapun, aku cuma ingin melihat foto kita aku merindukan masa masa kita bersama" kata zela "sungguh" nhai melihat zela menagis, dia langsung duduk di tepi ranjang sebentar lalu pergi ke kamar mandi. zela dengan cepat menghapus riwayat panggilan dan pesan nya "duakk" ken menendang pintu dan langsung memukul zela "ken? " nhai melihat itu selintas ada rasa iba di hati nya "wanita ini pasti menelpon gadis reporter itu!! Karena gadis reporter itu mendatangi markas ku" kata ken, nhai mengambil ponsel nya dan melihat riwayat terakhir aplikasi yang di gunakan "tapi tidak ada tanda tanda" kata nhai "gadis reporter itu memangggi manggil nama nya" kata ken sambil menendang zela tubuh zela kembali terlempar ke dinding namun kali ini kesadaran nya hilang "peringat kan dia" kata ken lalu dia pergi.


Eun tersenyum menatap leo "ponsel mu kenapa bisa pada ku? " tanya Eun "ah? " leo meraba saku nya "oh mungkin saat saya membantu mu tadi nona " kata leo "benar juga tolong bawakan baju nya" kata Eun "ada guna nya juga, untung aku sudah menghapus rekaman suara yang aku buat tadi aku deg deg kan" Eun pergi.


Di depan cermin kim berdiri sambil memakai kan vitamin ke rambut nya sementara itu Eun memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper "akhh" Eun meringis kesakitan dia melihat lengan atas nya "oh.. Tuan kim aku sudah mengkemas pakaian mu, apa kau mau memasukkan pakaian lain atau kau mau lihat dulu apa kau menyukai pakaian yang aku siapkan" kata Eun sambil menutup koper.


"apapun yang kau siapkan untuk ku. aku akan menyukai nya"


"eh? Kenapa aku menciun aroma yang sangat harum"


"kau pakai apa? Tuh kan aroma wangi ini berasal dari mu" Eun memegang tangan kim dan menghirup aroma nya perlahan.


"kau akan pergi sekarang?"


"tidak"


"lalu kenapa kau memakai hal yang membuat tubuh mu jadi wangi"


"kau tidak suka? "


"oh.. Suka"


"kau tidak mengatakan apapun lagi? "


"tidak, aku harus menyiapkan keperluan mu dulu" Eun meletakkan sebotol parfum ke dalam koper dan juga beberapa berkas "oke semua nya sudah aman" kim memeluk Eun dari belakang.


"ada apa lagi? Apa ada yang kurang? "


"tubuh ku sekarang panas dingin"


"kau sakit" Eun berbalik memegang kening kim "tapi tidak hangat" kata Eun, kim makin memperat peluk kan nya "aih" Eun terkejut "ah.. Kau menipu ku bilang saja kau mau beralasan sakit biar gak pergi kerja" kata Eun "aku tidak berbohong aku benar benar panas dingin" kata kim dia langsung mengangkat tubuh Eun .


"tuan kim?? " Eun kaget ketika kim meletakkan tubuh nya ke atas meja "kau mau apa? Jangan bilang kau ingin memakan ku? " kim langsung menarik wajah Eun "akh" kim melepaskan Eun "ada apa? " tanya kim "tidak papa" kata Eun menahan rasa sakit karena luka saat jatuh tadi. "kau sakit? " tanya kim "tidak tidak.. Aku" kim memegang lengan Eun "apa aku meremas nya terlalu kuat? " tanya kim "tuan kim aku.. Aku belum siap melakukan nya malam ini" kim menatap mata Eun "nanti pasti tuan kim bertanya pada ku kenapa tangan ku memar aku harus jawab apa" fikir Eun "aku tidak akan memaksa mu" kata kim sambil menurunkan Eun dari atas meja, Eun menatap kim pergi meninggalkan nya "huf.. Selamat aku.. Bagaimana jika dia tau tangan ku sedang sakit da-??" Eun melihat kim sudah ada di dekat nya sambil membawa segelas wine "tangan mu terluka? " kata kim "sial aku lupa dia masih ada di dalam kamar" kata Eun "coba lihat" kata kim "tidak tuan kim tidak papa aku, aku" kim membuka baju Eun dengan paksa "kenapa ini? " kim memperhatikan lengan atas Eun "ahh.. Jangan di pegang" kata Eun "siapa yang melakukan nya? " tanya kim "jawab aku Eun!! Kau menyembunyikan nya dari ku apa maksud mu? " Eun diam "jawab aku! " pinta kim "sebenarnya aku tadi mau berenang tapi aku malah terpeleset dan lengan ku mengenai pinggiran kolam " kim langsung berdiri dan pergi "tuan kim" kata Eun "dia marah tidak ya? " fikir Eun "nona" dila datang "aku akan mengobati luka mu" kata dila "tuan kim kemana? " kata Eun "pergi ke bar di lantai tiga" kata dila .


Gelas kembali di isi sampai penuh, kim langsung kembali meneguk nya "kenapa tuan kim gak kembali" kata Eun di dalam kamar "leo" Eun keluar dari kamar "leo" kata Eun "iya nona" leo datang "aku ingin kau membawa tuan kim ke kamar, dia harus tidur karena besok dia harus pergi" kata Eun "siap nona" leo pergi dan Eun kembali ke kamar.


"Masuk" kata kim "tuan maaf, nona ingin anda kembali ke kamar untuk tidur" kata leo "pergilah" kata kim.


Zela membuka mata nya rasa sakit di sekujur tubuh nya membuat dia benar-benar menderita, dia tidak melihat nhai ada di dekat nya "bagaimana dengan Eun apa dia selamat? " fikir zela sambil berusaha untuk berdiri "uhuk" darah keluar dari mulut nya "tolong aku Tuhan".


Pintu kamar di buka, kim masuk dia melihat Eun duduk di sofa. kim langsung melepas alas kakinya dan naik ke atas ranjang " dia dia saja? Menyebalkan "kata Eun dalam hati " tidur lah"kata kim "aku tidak ngantuk" ucap Eun kim memejamkan matanya sementara Eun berdiri dari sofa "lebih baik aku periksa apa kak zela mengirim alamat nya" Eun melirik ke arah kim "tap" Eun terkejut tangan nya di tahan oleh Kim di saat dia hendak mengambil ponsel nya.


"sial kau membuat jantung ku hampir pindah tempat" kata Eun "mau menghubungi siapa? " tanya kim "tidak ada tuan kim aku cuma mau lihat lihat saja" kata Eun "kau bahkan tidak mengatakan sesuatu pada ku" kata kim "good night" kata Eun "aku sedang kesal pada mu" kata kim "aku minta maaf" kata Eun "kenapa kau tidak percaya pada ku? Aku selalu mengatakan semua nya pada mu" kata kim "e.. Aku minta maaf aku akan katakan semua nya pada mu, aku tidak akan sembunyikan apapun lagi " kata Eun "aku tidak pernah memaksa mu dan tidak akan! tapi rasa nya itu menyakiti ku" kata kim "jangan marah lagi oke aku akan katakan pada mu yang sebenarnya kala--" Eun melihat ke arah pintu "ada apa? " tanya kim "tuan maaf kan aku! tuan tapi ada masalah yang harus kita bahas" kim menatap Eun "kita bisa bicarakan besok" kata kim "tidak bisa tuan, ini sangat penting tuan kita tidak bisa menunda nya" Eun memegang lengan kim "baik aku akan pergi kau bisa pergi duluan" kata kim "baik tuan" kim mengusap pipi Eun "kau bisa tidur duluan, aku harus pergi" kata kim "tapi tuan kim aku belum selesai bicara" kata Eun "seperti nya ada masalah yang cukup serius sehingga mereka tidak mengizinkan aku untuk menunda nya kita akan bicara besok pagi ya" kata kim "oh.. " Eun menunduk "hei" kim mengangkat wajah Eun "tidak papa kan? " tanya kim "baik lah " kata Eun "jika kau keberatan aku tidak akan pergi" kata kim "tidak! tidak pergilah kita akan lanjut kan besok pagi" kata Eun "terimakasih sudah mengerti" kim menarik Eun dan mencium nya "tidur dan istirahat lah aku akan segera kembali" kata kim "iya" kata Eun kim kembali mencium nya lalu pergi.


Di ruang rapat.


Raut wajah kim berubah mendengar penjelasan para pengawal nya "lihat tuan" kim melihat apa yang di tunjukkan pengawal nya "waktunya hanya tersisa beberapa jam lagi" wajah kim langsung panik.


Sayup sayup terdengar suara yang memanggil nama nya "Eun" Eun membuka matanya "tuan kim? " Eun duduk "Eun bangun.. Ayo ayo " kata kim "hum? Ada apa? " tanya Eun dengan setengah sadar "kita harus pergi " kata kim "kemana? " Eun menatap kim "ayo Eun" kim menarik Eun .


"Kemana kita sebenarnya? " tanya Eun "aku akan menjelaskan nya nanti" kata kim, mobil memasuki halaman rumah "ini tempat tinggal kak ade? " kata Eun "iya" kim keluar dari mobil "akhirnya kau datang" arrayan berdiri di samping ade "apa ini? " kata Eun "kau akan tinggal dengan mereka" kata kim.


Eun terkejut dia langsung menatap kim "tuan kim apa..apa yang kau katakan? " kata Eun "dengar Eun ini hanya sementara" kata kim "kau.. Kau mengusir ku? " air mata Eun menetes "aku tidak mengusir mu aku ter--" kata kim "apa?kau membuang ku bersama mereka? " suara Eun bergetar "tidak Eun, aku tidak membuang mu tidak seperti itu" kim menatap eun "kau bohong.. Seharusnya aku tidak mempercayai mu, jika kau tidak menginginkan ku lagi kau bisa katakan pada ku tanpa harus membuang ku" kata Eun "aku akan menjelaskan semuanya pada mu tapi tidak sekarang" kata kim "aku bisa kembali ke apartemen ku, tidak perlu menyusahkan orang lain untuk menampung ku " kata Eun "Eun" kim mencoba menarik tangan Eun namun Eun langsung mundur "aku tidak bisa melihat mu begini" kata kim, Eun mengusap air mata nya "kau bohong.. Kau pembohong ku fikir kau peduli, kau menyayangi ku tapi fakta membuktikan nya sekarang.kau membuang ku kau tidak menginginkan ku lagi" isak Eun "tidak Eun dengar ini benar--" kata kim "aku benar-benar memiliki perasaan pada mu.. Aku.. Aku mencintai mu tapi seharusnya aku tidak mencintai mu" kata Eun "Eun" kata kim "aku tidak mau melihat mu" Eun berbalik dan pergi "tidak papa kim kami akan menjaga nya" kata arrayan "aku benar-benar tidak ingin dia jauh dari ku, tapi situasi nya mendesak" kata kim "dia akan mengerti" kata ade "tolong jaga dia" kim pergi "aku aku temui eun" kata ade "iya, kau temui Eun aku akan ke rumah kim untuk membantu nya sebentar" ucap arrayan "kembali lah dengan cepat" kata ade.


Penjinak bom terlihat berada di sekitar rumah kim "sudah aman? " tanya kim "belum tuan masih banyak lagi bom nya" kata Justin "bahkan di kamar anda ada lima bom" kata Liam "dimana yang lain? " tanya kim "Mattew pergi menyelamatkan para pelayan dan membawa mereka ke tempat yang aman" kata mirzha "kim" arrayan datang "ada lebih dari seratus bom terdeteksi oleh azka " kata kim.


Ade menyodorkan sebotol air minum ke Eun yang duduk di lantai "kau bisa tinggal di kamar ku" kata ade "tidak aku akan menyewa kamar lain ini cuma sebentar besok aku akan pergi" kata Eun "Eun.. Tuan kim tidak membuang mu, dia begitu karena ada alasan nya" kata ade "tinggal bersama ku ya kamar nya ada banyak kok" ade mencoba menenangkan Eun yang masih terlihat sedih "tidak kak" tolak Eun "Eun" petir datang bersama vivian "Eun" vivian memeluk nya "kak ade terimakasih sudah menjaga Eun" kata petir "tidak masalah aku bisa menjaga nya dengan baik" kata ade "ini sudah hampir subuh kau mau pulang bersama ku? " kata petir "iya" kata Eun "kak ade aku pergi dulu ya" kata eun sambil menatap ade lalu pergi bersama petir "kak ade tenang saja tuan kim sudah menceritakan nya pada kami" kata vivian "iya jaga dia ya" ade tersenyum "kalau begitu aku pergi dulu kak, sampai jumpa di kantor nanti pagi" kata vivian "bye" kata ade sambil melambaikan tangan nya.