gadis reporter dan tuan mafia

gadis reporter dan tuan mafia
kejutan


"Hum.. "


Eun membuka matanya "astaga ini jam berapa? " Eun menggerakkan tangan nya untuk mengambil ponsel nya, "Eun hari ini dosen tidak datang kita free" Eun langsung bernafas lega setelah membaca pesan dari carl "bagus lah" Eun memiringkan tubuh nya menatap Kim yang masih memejamkan mata nya "jangan jangan dia pura pura tidur, karena dia selalu begitu" batin Eun.


dia menggerakkan jarinya ke depan wajah Kim namun Kim tidak bereaksi sedikit pun Eun tersenyum dia menyentuh rambut Kim "terus menatap ku begitu aku akan mencium dan memeluk mu lebih lama " seketika Eun berhenti tersenyum, Kim perlahan membuka mata nya "kenapa kau selalu menjebak ku? " tanya Eun. Kim memeluk eun "jika tidak dengan menjebak mu bagaimana cara lagi agar aku bisa mendapatkan mu? "Kata Kim sambil menatap Eun yang tersenyum " biarkan seharian ini aku memeluk mu"kata Kim "kau tidak ke kantor? " tanya Eun "hari ini jadwal ku sedikit, tidak ada jadwal di pagi hari" kata Kim "aku juga gak ada jadwal, singkirkan tangan mu aku ingin ke bawah, " kata Eun "tetap di sini" kata Kim "aku ingin memasak sesuatu untuk mu" kata Eun "di bawah ada pelayan" kata Kim sambil mencium kening Eun "aku tidak mau bermalas malasan, kau bisa memeluk ku nanti biarkan aku memasak dulu" kata eun. Kim perlahan melepaskan pelukan nya "aku mencintai mu" Eun mencium pipi Kim lalu pergi ke kamar mandi.


Carl memejam kan mata nya "csss" dia menyemprotkan sesuatu ke cermin "selagi libur aku ingin membereskan semua nya" kata Carl dengan wajah sumringah, "dia pasti senang, oh ya aku juga mau memberinya kejutan tapi apa ya.. Yang harus ku berikan pada nya. Oh telpon Eun nanti deh" kata Carl.


Eun mengeluarkan bahan bahan yang akan dia pakai untuk memasak, Eun mulai memotong sayuran dan beberapa bahan lainnya "tek" kompor di nyalakan .


Eun memasukkan minyak ke dalam sebuah pan, dengan tenang dia memasukan udang ke dalam pan "tik"Eun memasukan ayam ke dalam pemanggang " tuan Kim"Eun berbalik ketika Kim kembali memeluk nya "aku sedang masak jangan ganggu " pinta Eun "kalau begitu biarkan aku membantu mu" kata Kim "aku bisa mengerjakan nya sendiri" kata Eun sambil mengangkat undang yang telah masak .selanjutnya Eun memasukan ikan "aku tidak pernah belajar masak jadi jika tidak enak katakan saja pada ku" kata Eun "ku fikir masakan mu adalah masakan terbaik yang pernah ku coba" Kim terus memperhatikan gadis berambut dongker itu "jika tangan mu begini terus aku akan sangat kesulitan" keluh Eun.


Kim melepaskan pelukan nya Eun langsung melihat ikan nya "ahh" Eun terkejut ketika ikan yang dia masak bergerak dan memercikkan minyak, Eun menatap dada kim yang sudah memeluk nya.


Kim mematikan kompor lalu menatap Eun, untung dia langsung menarik Eun dengan cepat "kau baik baik saja? " tanya Kim namun Eun malah tersenyum "aku sangat terkejut ketika kau tiba-tiba menarik ku" Eun melihat punggung Kim yang terkena percikan minyak panas "itu pasti panas biar aku periksa" kata Eun "tidak masalah aku tidak merasakan apapun" kata Kim dengan wajah datar nya "aku akan lanjut memasak dulu" kata Eun "aku bisa menggoreng ikan" Kim menyalakan kompor nya "aku tidak yakin kau bisa masak" Eun terkekeh "lihat saja" kata Kim dengan yakin.


Eun berjalan mengeluarkan ayam dari pemanggang kemudian memotong nya setelah agak dingin, lalu meletakkan ke atas meja bersama hidangan yang lainnya terlihat Kim masih membolak balik ikan di dalam pan. Eun membuat jus dan juga memotong beberapa buah buahan "tek" Kim mematikan kompor kemudian mengangkat ikan itu, "Biar aku saja, kau duduk lah ini yang terakhir kok" kata Eun kim setuju "ika kemari lah!" kata Eun "iya nona" kata ika "bawa puding buah ini ke kulkas kalian dan juga salad buah nya kalian bisa memakan nya saat beku" kata Eun "terimakasih nona" kata ika.


Kim melihat hidangan yang ada di meja "ayo coba lah" kata Eun, Kim mengambil sepotong daging ayam panggang dan juga sedikit sayur namun pandang mata Eun terfokus ke tangan Kim yang merah "pasti terkena minyak panas" kata Eun dalam hati.


Di kantor


Terlihat semua nya sangat sibuk "ini sudah jadi" zeyi memberikan dokumen ke Bimo "aku akan cek dan memberikan nya ke petir" kata Bimo "ini sudah benar semua kok" kata petir "syukur lah" kata wong "vivian ini bagaimana? " tanya atika vivian berdiri menghampiri meja atika, "ini ada yang salah nih, makanya gak bisa" kata vivian "ade Coba lihat hasil laporan kita ada yang salah gak? " tanya zizie "berikan pada ku" kata ade. Nhai berjalan ke arah meja vivian membuka ponsel vivian sebentar lalu kembali pergi ke tempat nya semula.


Dengan hati hati Eun menempel kan kapas putih ke tangan Kim "apa kau tidak merasakan apapun? " kata Eun "tidak" kata Kim dengan ciri khas wajah datar nya "dasar tidak waras" kata Eun "karena apapun itu jika ada kau di samping ku, tidak akan ada lagi rasa apapun kecuali kebahagiaan" Kim menatap Eun "tuan" Azka datang "rapat dengan mitra new jaya akan di mulai, mobil sudah siap" kata Azka "aku akan pergi dulu" kata Kim "iya hati hati ya" .


"Tok Tok tok" Eun mengetuk pintu "griittt" carl membuka pintu "biar aku cek" Eun masuk ke dalam vila melihat sekeliling lalu menatap carl "ayo kita hias buat rei senang!!" kata Eun "terimakasih sudah mau membantu ku" kata carl.


"Kim! " kata ryu "aku akan menyelesaikan semua nya sebelum pergi" kata Kim "aku cuma ingin hidup bersama Eun setelah nya, tidak ingin yang lain" kata Kim "Kim apa kau serius? Kita sudah lama bersama" ryu menggoyang kan wine yang ada di gelas nya "sangat serius" tegas Kim "kau juga arrayan? " tanya ryu "iya tuan" kata arrayan seketika ryu langsung meletakkan gelas nya.


Carl mendorong troli sementara Eun memilih milih barang sambil memasukkan nya ke dalam troli "ini dia! ini juga, ini dan ini! oh ya, bom hias juga perlu oke ayo ke sana" kata Eun.


Yuda memperhatikan vivian sedang mengipas-ngipasi ponsel nya "kenapa? " tanya petir "ponsel ku terasa sangat panas, padahal aku belum menggunakan nya tadi" kata vivian "mungkin konslet" kata petir sambil mengambil ponsel vivian seketika petir terdiam melihat sekeliling nya "ada yang membajak ponsel vivian!! mau apa orang itu membajak ponsel vivian?" fikir petir "kira kira kenapa ya? " tanya vivian "aku akan perbaiki kau tunggu saja" kata petir.


Di dalam vila...


Bodyguard langsung turun membuka pintu mobil ketika mobil Kim berhenti, Kim masuk ke dalam rumah dan melihat sekitar dengan tatapan dingin nya "bruummm.. " ada suara mobil.Kim menoleh terlihat Eun turun dari mobil "pertemuan kita beberapa jam lagi tuan" kata Azka "ya" kata Kim singkat sambil menatap Eun yang baru datang, "tuan Kim" Eun berhenti menatap Kim yang sudah duduk di sofa "tap " Kim menepuk sofa di samping nya tanpa menoleh ke arah Eun.


Eun melangkah ke dekat Kim lalu duduk "aku dari tempat carl membantu dia mempersiapkan kejutan untuk rei" kata Eun Kim masih diam "aku tidak tau kalau kau cepat pulang ku fikir kau akan lembur" kata Eun "kau suka aku lembur? " Kim menatap Eun "tidak" Eun menggelengkan kepala nya "nanti malam tidur lah di kamar, jangan di sofa aku mungkin akan pulang terlambat. ada pertemuan di bar dengan seseorang" seketika Eun terdiam dia kembali teringat pemandangan di mana dia melihat nhai dengan gadis lain "tidak!! tidak. ini gak akan terjadi lagi!!" kata Eun dalam hati "kau dengar tidak? " kata Kim "hum.. Iya" kata Eun dengan gelagapan "jika kau keberatan aku tidak akan pergi" kata Kim "hum.. Pergilah, aku tidak papa kok " kata Eun Kim langsung merangkul pinggang Eun dan menatap mata nya.


Malam harinya...


Sambil meremas jari jemari nya Eun berjalan ke sana ke sini "kenapa aku tidak tenang, ayolah! tuan Kim tidak akan melakukan itu" kata Eun sambil berjalan ke luar kamar "mungkin jika aku bersantai di taman aku akan sedikit tenang" kata Eun "triing"dila mengangkat telpon " halo"kata dila "berikan pada ku" kata Eun "baik nona" kata dila "halo dengan Eun di sini" kata Eun "tuan Kim" kata orang di sebrang.


beberapa saat kemudian


"Nona nona tenang lah. kita harus pastikan dahulu" kata hansen "tapi di telpon dokter bilang tuan Kim celaka dan lu..luka parah" kata Eun dengan sedih "kita akan hubungin tuan Kim terlebih dahulu" kata leo, dila memberi Eun segelas air mineral.


Di bar..


"Ya ku harap ini sudah selesai" kata Kim "benar tuan Terima kasih atas kerja sama nya selama ini" kata pete "mari kita bersulang" kata gin "bersulang" kata cary.


Azka berjalan mendekati Kim "kita pergi" kata Kim sambil berdiri "tuan Kim kenapa tidak bersantai? " tanya pete "ada urusan" kata Kim.


Nhai memukul dinding di sebelah Zela "kenapa kau sama sekali tidak mengerti!! Kau cukup jalan dan pura pura terjatuh dan memeluk Kim sebentar" kata nhai "kenapa aku!!! Apa kau benar-benar tidak waras!!! Aku itu calon istri mu" Zela terdiam ketika merasakan pipinya panas karena tamparan kekasih nya sendiri, "sia sia semuanya!!" kata nhai "calon istri yang tidak berguna" celetuk ken "aahh!! Mulai sekarang kita tidak ada hubungan apapun" kata nhai "aku juga tidak mau dengan mu lagi" Zela pergi "hei.. Mau kemana" ken menghalangi nya "mau apa kau? " kata Zela "tahan wanita ini dan bawa dia" kata ken "lepas.. Lepas.. Tolong.... " kata Zela tapi nhai hanya diam saja tidak bergerak sedikit pun.


begitu melihat Kim muncul dari pintu Eun berlari ke arah Kim dengan mata berair, "greeb"Kim menangkap tubuh Eun yang melompat ke arah nya " jangan kawatir "bisik Kim.


Carl membuka penutup mata rei " kejutan! "Kata Carl " boom"bom hias meledak rei terlihat tersenyum dan memeluk Carl "kau menyiapkan ini semua? " kata rei "tentu ayo " mereka mendekati kue yang ada di atas meja . dengan semangat rei mengambil pisau "dalam rangka apa ini? " tanya rei "aku ingin saja melakukan nya untuk mu" kata Carl "makan kue nya" kata rei sambil menyuapi Carl "kau juga coba" Carl menyuapi rei dengan sepotong kue "terimakasih" kata rei sambil memeluk, Carl "eh? " rei melepaskan pelukan nya "ada apa? " tanya Carl "ada sesuatu" rei mengambil tisu dan mengeluarkan benda asing yang ada di mulut nya dan terlihat sebuah cincin yang sangat indah yang membuat rei langsung tersenyum "mau menjadi istri ku? " rei langsung memeluk nya sambil menangis haru.


Kim melepaskan pelukan nya "kau sudah tenang? " tanya Kim "sial banget aku ketipu aku benar benar tidak tenang tadi" Kim menaikan dagu Eun, "jika ini kembali terulang! tanam kan yang ada di fikiran mu kalau aku aman, aku bersama banyak pengawal tidak ada yang bisa menyentuh ku" kata Kim "aku akan mengingat nya" kata Eun "aku terlalu lelah hari ini, bisa lakukan sesuatu untuk ku" kata Kim "kau mau apa? " tanya Eun "bantu aku mandi" kata Kim "aih.. Kau gila.. Mandi sana sendiri aku akan bermain game" ujar Eun "oh kau sudah tidak mencintai ku" kata Kim "bukan begitu" kata Eun "kalau begitu bantu aku" kata Kim "hum.. Aku akan mandikan dirimu tapi dengan satu syarat" kata Eun.


Kim terlihat sedang mengeluh sementara Eun sudah menyalakan air "apa ini adil? " tanya Kim "sangat adil" Eun membasahi tubuh Kim dengan air "kau bahkan belum melepaskan celana pendek ku" kata Kim "diam lah" Eun mengambil spon mandi dan mulai menggosok tubuh Kim "bisa lepas dulu tangan ku" kata Kim dengan tangan terikat "tangan mu tidak akan diam jika tidak di ikat" Eun mulai memandikan pria yang ada di bathup itu.


Eun membuka ikatan di tangan Kim "sekarang bereskan sisa nya aku mau ke bawah" Eun pergi "kau!!" Kim menatap eun yang pergi dia akhirnya berdiri melepaskan celana nya lalu memakai handuk "apa ini pelayanan yang baik? damn it!!" setelah selesai kim langsung duduk di atas sofa, "nona" dila menatap Eun menuruni tangga "aku ingin alpokat kocok dengan es yang banyak" kata Eun "oh,oke nona" dila langsung bergegas ke dapur untuk membuat apa yang di inginkan oleh gadis kesayangan tuan mafia itu .


"kenapa cuacanya jadi panas ya? "