gadis reporter dan tuan mafia

gadis reporter dan tuan mafia
keputusan sudah di tentukan


"Aku menyuruh chirs mengatur pertemuan di sebuah apartemen kau tinggal datang saja" ucap ryu "oke" kata kim "aman semua nya kan? " kata ryu "menurut mu" kim memberikan ponsel ke arrayan ,"halo tuan" kata arrayan "kemana kim? " tanya ryu "pergi oh ya bagaimana dengan pertemuan selanjutnya nya bersama transaksi kita" kata arrayan.


Eun kembali mengenakan seragam sekolah bersama dengan carl sementara Yuda dan ade merekam dengan di dampingi beberapa polisi, "halo bang aku butuh permen yang semalam" kata eun "oke serlok saja aku akan datang" kata ken "dengar aku butuh banyak temen temen ku juga mau beli bersama kakak ku. bawa saja yang banyak " kata eun "kau serius? " tanya ken "iya" kata eun "baik kau tunggu di situ" kata ken.


Di dalam pesawat


"Sial sekali sudah beberapa hari aku bahkan tidak sempat menghubungi nya" kata kim dalam hati "ahh.. Akhirnya kembali pulang " kata arrayan "sudah lama tidak bertemu dengan pacar ku" kata arrayan sambil melirik kim "kim kenapa kau selalu terlihat datar ? Jika begitu kau tidak akan menemukan wanita untuk di jadikan istri" kata arrayan "aku bisa menembak mu sekarang jika tidak bisa diam".


Sebuah truk berhenti di depan eun, ken keluar dengan satu orang teman nya " permen mu ada di dalam truk itu mana uang nya? "Tanya ken " ini"eun membuka tas "angkat tangan!!! " polisi langsung mengelilingi mereka "waduh gimana ini? " kata carl "angkat tangan!! " kata polisi "kau ini bagaimana kenapa sampai ada polisi? " tanya ken "aku tidak tau" kata eun "terimakasih nona atas kerjasama nya" kata polisi "ayo eun" kata carl "kau!! " kata ken "bye" kata eun.


"Permisa pelaku penjual barang terlarang kembali tertangkap" vivian melihat berita "polisi berkerja sama dengan dua orang reporter yang menyamar sebagai pembeli" eun menepuk baju vivian ,"hei hei.. " kata eun "ya ampun eun.. Aku sudah panik" kata vivian "gak heran lagi sih" kata petir "nama nya juga vivian kalau gak panik ya.. Cerewet" kata eun yang lainnya tertawa.


"Waduh.. Ponsel ku di mana ya? " eun membuka tas nya "kok gak ketemu sih" kata eun "jangan bilang ketinggalan di kantor ah.. Tidak mungkin " kata eun. Carl melihat sekeliling "aku lupa kamar eun" kata Carl "Carl? " Carl menoleh "Hai kak ade.. Aku mencari eun ponsel nya tertinggal di dalam tas ku" kata Carl " biar aku panggil kan"kata ade "terimakasih" kata Carl.


"Ahhh" eun berbaring "udah capek malah ketinggalan mau ke kantor kan jadi malas" kata eun "tok tok tok tok" eun duduk "kaya ada suara" eun berjalan ke arah pintu "kak ade ya ampun ayo masuk ku fikir siapa? " kata eun "tidak eun di bawah ada Carl mencari mu" kata ade "oh.. Terimakasih kak jadi ngerepotin" kata eun.


Eun berjalan "Carl!! Ayo naik" kata eun "astaga aku lupa kamar mu nomor berapa" Carl menaiki tangga "ada apa? " tanya eun "ponsel mu ketinggalan di tas ku mungkin saat penyamaran tadi ingat gak? " kata Carl "oh.. Ku fikir ketinggalan tadi di kantor, ayo minum dulu kau jauh jauh ke sini " kata eun "aku takut kalau nanti ada yang penting gimana" kata Carl "eh" eun menatap ade sedang bersama seorang pria berpelukan di tangga "kak ade" kata eun "eh eun" kata ade "waduh.. " kata Carl "ini arrayan pacar ku" kata ade "ohh" kata eun "tap"eun terdiam melihat siapa yang berjalan di belakang ade " kau"kata eun "eun! " kata kim "kalian saling kenal? " kata arrayan.


"Ahh.. Tuan kim.. Lepas.. Ah.. Tuan kim kemana kau membawa ku? " kata eun tapi kim terus menarik eun , sampai ke sebuah ruangan tempat kim rapat tadi "kau ini siapa sebenarnya? Mata mata ya kemana aku pergi kau bisa muncul tiba-tiba" kata eun "aku tidak tau kalau kau ada di sini" ujar kim "bohong " kata eun "sungguh aku tadi rapat di sini dan aku melihat mu" kata kim "duuh.. Eun di apain ya" fikir Carl sambil mengintip "kenapa kau tidak mengangkat telpon ku? " kata kim "kau menelpon ku? " kata eun "maaf aku tidak mengabari mu karena sibuk aku menelpon mu saat selesai rapat tapi kau tidak mengangkat nya" kata kim "ponsel ku ketinggalan gimana aku tau kalau kau menelpon ku" kata eun "kau tidak merindukan ku? " tanya kim "ku rasa aku tidak" kata eun "aku merindukan mu sudah lama tidak melihat mu" kata kim "jadi kau pindah ke sini? " tanya kim "iya" kata eun "apa kau datang untuk memaksa ku ikut dengan mu kali ini? " tanya eun "aku tidak akan memaksa aku hanya menunggu keputusan mu" ucap kim "bagaimana jika aku mengatakan tidak ingin dengan mu" kata eun "apa" kim menatap eun "aku tidak mencintai mu tuan kim" kata eun "tapi bukan berarti aku tidak mencinta mu, kau memberi ku kesempatan untuk mengenalmu mu. ku fikir kau memberiku harapan dan waktu untuk suatu saat kau akan bersama ku" kata kim "sekarang bagaimana aku sudah terlanjur mencintaimu dan ingin bersama mu" kata kim eun menatap ada yang mengintip di pintu "kenapa aku jadi merasa bersalah ya? " fikir eun "kenapa kau membiarkan aku jatuh cinta pada mu? dari awal seharusnya kau mengatakan nya. kalau dari awal kalau cinta ku dan cinta mu tidak akan pernah bertemu" kata kim "tuan kim" kata eun "apa? " kata kim "hum.. Aku akan.. Akan ikut dengan mu" kata eun kim langsung menoleh ke arah eun.


Carl memberikan ponsel milik eun "kau yakin ikut dengan nya? " tanya Carl "iya" kata eun "dia tidak mengancammu kan? Atau melakukan hal macam macam sampai kau takut dan jadi ikut dengan nya? " kata Carl "tidak kok" eun tersenyum lalu menatap kim yang sudah berdiri di dekat mobil "eun kau baik baik saja kan? " tanya Carl "iya jangan kawatir kita akan bertemu di kantor" kata eun lalu dia berjalan ke arah kim "ayo" kata kim eun masuk ke dalam mobil "kok jadi menakutkan ya" fikir eun "kok aku jadi kawatir ya" kata Carl "eun benar-benar pergi? " kata ade sambil menatap arrayan "kawan mu itu apa benar-benar bisa menjaga eun? " kata ade "entah lah, aku masih sedikit terkejut saja" kata arrayan "ini aneh tapi nyata kim belum pernah menyentuh seorang gadis seperti ini" kata arrayan.